{"id":31732,"date":"2014-04-05T15:16:01","date_gmt":"2014-04-05T08:16:01","guid":{"rendered":"http:\/\/businesslounge.co\/?p=31732"},"modified":"2014-04-05T15:17:41","modified_gmt":"2014-04-05T08:17:41","slug":"kajian-terbaru-atas-kelas-menengah-asia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2014\/04\/05\/kajian-terbaru-atas-kelas-menengah-asia\/","title":{"rendered":"Kajian Terbaru Atas Kelas Menengah Asia"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge &#8211; World News) &#8211; Saat ini jumlah kelas menengah Asia\u2013 berdasarkan kajian terbaru yang dirilis Eden Strategy Institute di Singapura jumlahnya sudah mencapai 565 juta orang dan\u00a0 jumlah uang yang dibelanjakan adalah sebesar $2 hingga $20 per hari.\u00a0 Budaya membeli konsumen kelas menengah\u00a0 Asia jauh berbeda dengan konsumen kelas menengah di Barat. Dengan anggaran belanja $2 per hari, mereka kelas menengah Asia ini tidak mungkin\u00a0 membeli kendaraan atau peralatan dapur.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kajian terbaru ini\u00a0 berusaha menyingkapkan kebutuhan dan kebiasaan berbelanja kelas menengah Asia\u2013dimana jumlahnya ditaksir akan mencapai 3,5 miliar orang pada tahun 2030 dengan tingkat pertumbuhan sebesar 85% di antaranya terjadi di Cina, India, Indonesia, Malaysia, Myanmar, Filipina, Thailand, dan Vietnam. Pertanyaan yang diberikan berkaitan dengan penghasilan dan belanja harian, yang diberikan para responden dari Indonesia, Vietnam, Filipina dan India.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Melalui serangkaian pertanyaan yang bersinggungan dengan penghasilan rumah tangga dan belanja harian, kajian itu menemukan sejumlah hal menarik yang didapatkan dari responden dari Indonesia, India, Filipina, dan Vietnam.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Beberapa contoh dari hasil responden ini adalah bagi mereka persahabatan dinilai lebih tinggi dari rumah. Hal yang paling membuat kuatir ketika jatuh sakit, sekitar 70 % tidak memiliki asuransi. Selain itu masih banyak responden yang memilih tidak punya telepon seluler daripada tidak bisa menikmati\u00a0 makanan cepat saji.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Untuk pertanyaan barang apa yang akan dibeli jika penghasilan bertambah, maka untuk India akan memilih barang elektronik dan telepon seluler. Sedangkan untuk Indonesia, ada 20 % responden yang menjawabnya obat.\u00a0 Kalau hal apa yang tidak mungkin ditinggalkan, hampir semua negara menjawab internet. Sekalipun sebagian tetap memiliki ketergantungan pada Coca Cola dan french fries.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Survei ini diberikan kepada pemakai telepon genggam di Indonesia, Filipina, India dan Vietnam. Dimana responden yang pria ada sekitar 70 % dan berusia cukup. Menurut Eden Strategy Institute, perlu usaha\u00a0\u00a0 untuk memperbaiki survei lebih akurat lagi\u00a0 dengan ditambahkan wawancara tatap muka dengan konsumen\u00a0 misalnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Arum\/Journalist\/VM\/BL-wsj<br \/>\nEditor: Iin Caratri<br \/>\nImage: wikimedia.org<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge &#8211; World News) &#8211; Saat ini jumlah kelas menengah Asia\u2013 berdasarkan kajian terbaru yang dirilis Eden Strategy Institute di Singapura jumlahnya sudah mencapai 565 juta orang dan\u00a0 jumlah uang yang dibelanjakan adalah sebesar $2 hingga $20 per hari.\u00a0 Budaya membeli konsumen kelas menengah\u00a0 Asia jauh berbeda dengan konsumen kelas menengah di Barat. Dengan anggaran belanja $2 per hari, mereka kelas menengah Asia ini tidak mungkin\u00a0 membeli kendaraan atau peralatan dapur. Kajian terbaru ini\u00a0 berusaha menyingkapkan kebutuhan dan kebiasaan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":31733,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[1044,120],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31732"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=31732"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31732\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":31736,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31732\/revisions\/31736"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/31733"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=31732"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=31732"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=31732"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}