{"id":31283,"date":"2014-03-31T21:45:33","date_gmt":"2014-03-31T14:45:33","guid":{"rendered":"http:\/\/businesslounge.co\/?p=31283"},"modified":"2014-03-31T21:48:53","modified_gmt":"2014-03-31T14:48:53","slug":"anakku-sayang-anakku-malang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2014\/03\/31\/anakku-sayang-anakku-malang\/","title":{"rendered":"Anakku Sayang, Anakku Malang"},"content":{"rendered":"<p>Anakku.. anakku.. kasihan kau..<br \/>\nTerbujur kaku diantara sampah , tanganmu tertekuk memegang lutut, bibirmu membiru dan berbusa..wajahmu pucat tertekan ..<br \/>\nSebenarnya, apakah yang terjadi padamu?<br \/>\nSeolah sebuah suntikan racun sudah memasuki nadimu..<br \/>\nAtau sebuah batu bata menimpa kepalamu..<\/p>\n<div>\n<div>\n<div>Anakku&#8230; tak terkatakan kepedihan hatimu..<br \/>\nMeregang nyawa hanya sendiri&#8230;<br \/>\nMenyesali hidup hanya sendiri..<br \/>\nDan menangis pilu hanya sendiri..<\/div>\n<div>Ya, sendiri di tengah dunia yang tersepi diantara yang sepi..<\/div>\n<div>Ya..<br \/>\nEngkau sendirian dan sekarang engkau telah meninggal didalam kesendirianmu..<br \/>\nTanpa ada yg perduli apa yang terjadi padamu anakku .. anak Indonesia..<br \/>\nSiapakah sayang yang meracuni engkau?<br \/>\nSiapakah yang begitu keji menjerumuskanmu pada kematian sunyi ini?<\/div>\n<div><\/div>\n<div>Anakku&#8230; Anakku, bisakah engkau kembali?<br \/>\nBisakah engkau mengenakan seragam sekolahmu lagi ?<br \/>\nBisakah engkau lagi berbaris dan menyanyikan Indonesia Raya dan mengibarkan bendera dengan senyum manismu?Angin berkata..Nak, engkau tidak akan pernah kembali lagi..<br \/>\nAnginpun berbisik..Nak, kasihan kau..engkau tidak akan pernah menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan seragam sekolahmu lagi..<br \/>\nEngkau telah pergi.. pergi dalam kesunyian..Siapa yang perduli dengan engkau anakku?<br \/>\nSiapa yang \u00a0pergi mencari orang jahat yang meracunimu?<br \/>\nSiapa yang mau pergi \u00a0mencari yang membunuh engkau?<br \/>\nSiapa?<\/p>\n<p>Sementara dikejauhan, terlihat yg meracunimu sedang berpesta dansa..<br \/>\nDan pada waktu engkau meregang nyawa, maka yang membunuhmu sedang menikmati lagu kematianmu sambil \u00a0mengangkat minuman ringan karena kematianmu adalah sebuah senandung \u00a0baginya..<\/p>\n<p>Ah&#8230;.<br \/>\nSeandainya&#8230;<br \/>\nSeandainya angin taufan melanda di tempat pembunuhmu berada<br \/>\nDan tsunami menenggelamkan ditempat yang meracunimu berada..<\/p>\n<p>Mengapa gerangan berharap kepada alam untuk menolong?<br \/>\nMengapa gerangan mengharapkan badai dan tsunami untuk melepaskan anakku dari kematian?<br \/>\nSebab teriakanku tak terdengar oleh jutaan orang<br \/>\nTeriakanku tidak membuat orang perduli akan nasib anakku..<\/p>\n<p>Semua diam .. diam dan tak perduli<br \/>\nDan.. engkau \u00a0terbaring sepi di ketidakperdulian..<\/p>\n<p>Engkau tidak\u00a0 akan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan mengibarkan bendera lagi sambil tersenyum<br \/>\nEngkau telah pergi di kesendirian yang sunyi<br \/>\nDan barisan ini akan semakin sepi karena satu persatu anak bangsa ini menghadapi kematiannya akibat narkoba<br \/>\nSiapa yang perduli?<\/p>\n<\/div>\n<p>Jackie Ang\/VM\/BL<\/p>\n<\/div>\n<div><\/div>\n<div>Editor : Fanya Jodie<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Anakku.. anakku.. kasihan kau.. Terbujur kaku diantara sampah , tanganmu tertekuk memegang lutut, bibirmu membiru dan berbusa..wajahmu pucat tertekan .. Sebenarnya, apakah yang terjadi padamu? Seolah sebuah suntikan racun sudah memasuki nadimu.. Atau sebuah batu bata menimpa kepalamu.. Anakku&#8230; tak terkatakan kepedihan hatimu.. Meregang nyawa hanya sendiri&#8230; Menyesali hidup hanya sendiri.. Dan menangis pilu hanya sendiri.. Ya, sendiri di tengah dunia yang tersepi diantara yang sepi.. Ya.. Engkau sendirian dan sekarang engkau telah meninggal didalam kesendirianmu.. Tanpa ada yg perduli [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":13,"featured_media":29736,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[1972,1044,52],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31283"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/13"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=31283"}],"version-history":[{"count":6,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31283\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":31332,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31283\/revisions\/31332"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/29736"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=31283"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=31283"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=31283"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}