{"id":2663,"date":"2014-01-14T10:10:02","date_gmt":"2014-01-14T03:10:02","guid":{"rendered":"http:\/\/themanagerslounge.com\/?p=2663"},"modified":"2014-03-10T07:58:58","modified_gmt":"2014-03-10T00:58:58","slug":"why-we-need-coach-and-to-be-coached","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2014\/01\/14\/why-we-need-coach-and-to-be-coached\/","title":{"rendered":"Mr.\/Mrs. Coach"},"content":{"rendered":"<h1 style=\"text-align: justify;\">Mr.\/Mrs. Coach<\/h1>\n<h3 style=\"text-align: justify;\">&#8211; How to make a winner out of your employee<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge &#8211; Leadership) Coaching adalah <em>&#8220;a process that enables learning and development to occur and thus performance to improve. To be a successful, a Coach requires a knowledge and understanding of process as well as the variety of styles, skills and techniques that are appropriate to the context in which the coaching takes place&#8221; <\/em>(Eric Parsloe, 1999). Dalam arti lain, <em>coaching<\/em> adalah salah satu sarana dimana <em>coach<\/em> mentransfer skill dan <em>knowledge<\/em> yang mereka dapat kepada <em>coachee<\/em>.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kenapa kita perlu melakukan <em>coaching<\/em>? Menurut saya, ini salah satu langkah untuk membangun dan menemukan sampai dimana <em>skills<\/em> setiap pribadi orang. Dalam bimbingan seorang <em>Coach<\/em>, kita dapat belajar lebih banyak, mengembangkan dan mengevaluasi skill-skill yang ada, memilih mana yang perlu dan tidak. <em>Coaching<\/em> juga membantu dalam pembentukan karakter dan cara bekerja.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut <em><strong>Coach Meg &amp; Wellcoaches<\/strong><\/em> (2008), ada 5 langkah dalam <em>coaching<\/em>:<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em><strong>Stage One: Meet<\/strong><\/em><br \/>\nTahap awal dimana <em>Coach<\/em> and <em>Coachee<\/em> bertemu dan memperkenalkan diri masing-masing. Ditahap ini, <em>coachee<\/em> sharing tentang dirinya, masalah yang ia hadapi, dan pengalaman yang didapat. Tahap ini juga pengenalan akan karakter masing-masing antara <em>coach<\/em> and <em>coachee<\/em>. Karena setiap orang memiliki kepribadian yang berbeda-beda, coach juga harus mengenal kepribadian masing-masing <em>coachee<\/em> untuk menentukan <em>coaching style<\/em> yang digunakan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em><strong>Stage two: Vision<\/strong><\/em><br \/>\n<em>Coachee sharing<\/em> tentang <em>visions<\/em> yang ia buat. <em>Coach<\/em> akan memperlengkapi <em>coachee<\/em> dalam mencapai vision tersebut. Coach membimbing untuk membuat langkah-langkah yang harus diambil. Dan juga dalam langkah ini, <em>coach<\/em> membantu menemukan <em>\u201cthe best self\u201d<\/em> dari <em>coachee<\/em> dan membantu menuju visions mereka. Terkadang, didalam langkah ini juga, <em>coach<\/em> dan <em>coachee<\/em> sepakat membuat <em>vision<\/em> untuk <em>coach<\/em> dan <em>coachee<\/em>, apa yang ingin mereka capai bersama.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em><strong>Stage Three: The Plan<\/strong><\/em><br \/>\nMembuat planning dan target-target yang ingin Anda capai dan bagaimana untuk mencapai target-target tersebut. Diskusikan juga dengan <em>Coach<\/em> Anda dalam pembuatan plan. Seperti kebanyakan pepatah, two heads better than one. Banyak masukan yang bisa dipakai dalam perjalanan menuju tujuan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em><strong>Stage Four: Journey<\/strong><\/em><br \/>\nIni dimana adalah proses perjalanan Anda dalam mencapai target-target Anda. Seiring perjalanan Anda, Anda pasti akan menemui tantangan dan hambatan. Dilain pihak, Anda juga akan mendapat gambaran yang lebih jelas lagi dalam menjalani plan Anda. Coach akan mendukung dan bersedia membantu bila terjadi yang tidak diinginkan. Jika Anda gagal atau melakukan kesalahan, <em>Coach<\/em> akan membimbing kembali dan membantu mencari alternatif yang lain.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em><strong>Stage Five: Success<\/strong><\/em><br \/>\nIni dimana saat <em>coachee<\/em> berhasil mencapai target-target yang telah dibuat. Target tersebut bisa jangka pendek ataupun jangka panjang. Sebagai tambahan, selalu berusaha untuk mengevaluasi apa yang sudah dilakukan untuk referensi kedepan dan dapat dibagikan kepada <em>coachee-coachee<\/em> yang lain.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Masih ada satu lagi tahap yang menurut saya juga penting dalam <em>coaching<\/em> yaitu saling memberikan <em>feedback<\/em> dan evaluasi. Kebanyakan orang tidak suka dikritik, apalagi ditumpahkan kesalahan. Sebagai seorang coach juga bisa dibilang seperti seorang pemimpin dan pemimpin juga bisa melakukan kesalahan. Jadilah seseorang yang terbuka akan kritikan dan teguran karena itu bagus untuk perubahan yang akan datang. Seperti yang dikatakan diatas, coaching adalah suatu proses untuk mengembangkan <em>performance<\/em>. Tanpa <em>feedback<\/em> dan evaluasi, kita juga tidak bisa berkembang. Kita harus semakin naik dan memperlengkapi diri dengan hal-hal yang baru seiring dengan perkembangan dunia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Coaching<\/em> tidak hanya berbicara tentang pengembangan diri saja. Berdasarkan <strong><em>Eileen Rachman &amp; Sylvina Savitri<\/em><\/strong> (2012), ada hal yang lain selain memberikan kompensasi dan remunerasi yaitu \u201chati\u201d dan \u201crasa\u201d. Dimana kita juga harus memperhatikan \u201crasa\u201d yang dipunya dari setiap <em>coachee<\/em>. Setiap orang pasti memiliki rasa tertentu pada tempat dan situasi tertentu dimana ini berbicara tentang lingkungan kerja dan orang-orang sekitar. Eileen Rachman &amp; Sylvina Savitri (2012) mengungkapkan bahwa coach memiliki peran penting dalam hal ini. Coach harus sering berinteraksi dengan para coachee nya sehingga mereka merasakan apa yang diberikan oleh coach. Contohnya setiap perusahaan ingin membentuk nilai-nilai seperti kejujuran, kepercayaan, terbuka dan sebagainya. Inilah dimana coach berperan untuk mengkomunikasikan itu semua.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Komunikasi juga berperan penting dalam coaching dimana coach harus \u201cmenyetel frekuensi\u201d yang sama dengan para coachee (Eileen Rachman &amp; Sylvina Savitri, 2012). Coach yang turun kebawah bukan sebaliknya.\u00a0 \u201cDasar dari komunikasi ini adalah &#8220;hati&#8221; dan &#8220;keyakinan&#8221; yang digunakan untuk mengolah &#8220;rasa&#8221;, yang dihasilkan dari observasi intens seluruh panca indera.\u201d\u00a0 (Eileen Rachman &amp; Sylvina Savitri, 2012). Jadi, intinya dimana <em>coach<\/em> selain berkata-kata, juga berkomunikasi melalui tindakan dimana coachee dapat merasakan apa yang disampaikan dan mungkin dapat mencontoh apa yang telah diajarkan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Oleh karena itu sebagai <em>coach<\/em> atau pemimpin, kita harus memiliki skill yang signifikan untuk membangun <em>coachee<\/em> yang kita pegang dan proses dalam <em>coaching<\/em> tersebut. Sebagai coach atau pemimpin juga harus belajar untuk kebawah bersama <em>coachee<\/em> sehingga proses <em>coaching<\/em> juga berjalan dengan lancar dan dapat memaksimalkan apa yang dia punya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">(ss\/IC\/bl-tml)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mr.\/Mrs. Coach &#8211; How to make a winner out of your employee (Business Lounge &#8211; Leadership) Coaching adalah &#8220;a process that enables learning and development to occur and thus performance to improve. To be a successful, a Coach requires a knowledge and understanding of process as well as the variety of styles, skills and techniques that are appropriate to the context in which the coaching takes place&#8221; (Eric Parsloe, 1999). Dalam arti lain, coaching adalah salah satu sarana dimana coach [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":6,"featured_media":24983,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[15],"tags":[187,258,61,231,114],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2663"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/6"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2663"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2663\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":29007,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2663\/revisions\/29007"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/24983"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2663"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2663"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2663"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}