{"id":25486,"date":"2014-02-19T14:26:14","date_gmt":"2014-02-19T07:26:14","guid":{"rendered":"http:\/\/businesslounge.co\/?p=25486"},"modified":"2014-03-10T07:58:06","modified_gmt":"2014-03-10T00:58:06","slug":"keep-selling-in-crisis-why-not","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2014\/02\/19\/keep-selling-in-crisis-why-not\/","title":{"rendered":"Keep Selling In Crisis, Why Not?"},"content":{"rendered":"<h1 style=\"text-align: justify;\">Keep Selling In Crisis, Why Not?<\/h1>\n<h2 style=\"text-align: justify;\"><em>This 3 companies, did that way, and they succeed !<\/em><\/h2>\n<style type=\"text\/css\"><!--\nP { margin-bottom: 0.08in; }\n--><\/style>\n<p align=\"JUSTIFY\">Pada saat krisis ekonomi melanda Amerika Serikat dan Eropa di waktu yang lalu, hal ini menyebabkan dampak negative untuk setiap perusahaan. Sebab konsumen menahan diri untuk berbelanja barang. Sehingga banyak perusahaan mengalami kerugian. Dan ini membuat mereka berusaha untuk menciptakan strategi marketing yang luar biasa, termasuk perubahan-perubahan slogan perusahaan mereka. Semua itu bertujuan supaya produk mereka tetap terjual di saat kondisi krisis sekalipun.<\/p>\n<p align=\"JUSTIFY\">Berikut adalah strategi yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan di masa krisis :<\/p>\n<p align=\"JUSTIFY\"><b>Burger King : Spreading Wallet<\/b><\/p>\n<p align=\"JUSTIFY\">Strategi pemasaran yang dilakukan oleh Burger King di Amerika cukup unik dan \u2018<em>out of the box<\/em>\u2019. Strategi promosi yang dilakukan adalah dengan menyebarkan dompet di berbagai area \u00a0secara random. Sejumlah pelanggan menemukan dompet yang jatuh di jalan, dan mereka menemukan bahwa didalamnya terdapat catatan supaya mereka menyimpan dompet dan seluruh isinya. Ketika dompet tersebut dibuka, isinya beraneka ragam, mulai dari uang cash senilai $1 hingga $100, maupun gift card dari Burger King senilai $5 hingga $20, sebuah lisensi SIM milik \u2018The King\u2019 dan peta Burger King untuk wilayah Chicago atau Orlando.<\/p>\n<p align=\"JUSTIFY\">Strategi ini dinilai smart dan cukup unik, karena mendorong orang untuk datang dan menggunakan gift card dan cash yang dimilikinya untuk mengkonsumsi Burger King. Apalagi pada masa krisis\u00a0 dimana\u00a0 sedikit uang nilainya menjadi berharga. Strategi ini dinilai cerdas, karena selain bertujuan untuk mendorong pelanggan datang ke counter Burger King maka pemasaran ini juga turut mengangkat brand image Burger King.<\/p>\n<p align=\"JUSTIFY\"><b>Wal Mart: Save Money, Live Better<\/b><\/p>\n<p align=\"JUSTIFY\">Wal-Mart yang dikenal dengan slogan mereka \u201c <em>Always Low Prices<\/em> \u201c, dengan kondisi perekonomian yang melemah maka para konsumen yang memangkas pengeluarannya. Sehingga Wal-Mart mengubah kampanye pemasaran mereka. Slogan Wal-Mart berubah menjadi \u201c <em>Save Money, Live Better<\/em> \u201c yang berarti dengan menghemat pengeluaran, maka keluarga bisa hidup dengan lebih baik. Secara implisit, arti pesan tesebut adalah \u201c berbelanjalah di Wal-Mart, karena lebih murah \u201c. Hal ini bukan hanya sekedar slogan, karena Wal-Mart memang melakukan pemangkasan lebih jauh lagi terhadap harga jualnya. Hasilnya, hingga kuartal 3 ini Wal-Mart masih mencatatkan hasil yang cukup kuat, yakni laba yang naik menjadi $3.03 miliar dibandingkan dengan $2.85 miliar pada kuartal yang sama tahun lalu. Hal ini menandakan bahwa meskipun konsumen memangkas pengeluaran, maka ketika mereka melakukan konsumsi, mereka beralih kepada Wal-Mart.<\/p>\n<div><strong><br \/>\nGaruda Indonesia Airline : Quantum Leap<\/strong><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<div style=\"text-align: justify;\">Maskapai penerbangan Garuda Indonesia pernah dilanda krisis pada saat Krisis Finansial melanda Asia yang terjadi pada\u00a0 tahun 1997.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Tetapi di tahun 2000- an maskapai ini\u00a0 membuat sebuah strategy yang dinamakan\u00a0 Quantum Leap. Dimana Lompatan Quantum yang dilakukan oleh Garuda Indonesia\u00a0 adalah\u00a0 Garuda Indonesia mengubah\u00a0 tampilan maskapainya seperti mengubah livery maskapai, seragam staf dan logo.\u00a0 Garuda Indonesia menambahkan\u00a0 armadanya dari\u00a0 62 menjadi 116 pesawat.\u00a0 Strategi Pemasaran Garuda Indonesia Airline adalah\u00a0 memberikan Kepuasan kepada Pelanggan. Konsep pemasaran yang digunakan adalah konsep\u00a0 \u201ckenyamanan\u201d\u00a0 untuk meraih konsumen. Untuk itu Garuda Indoneia melakukan beberapa strategi pemasaran seperti, meningkatkan\u00a0 Frekuensi\u00a0 penerbangannya,\u00a0 menyediakan snack\u00a0 di pesawat yang lengkap dengan berbagai pilihan\u00a0 minuman dimana anggur dan bir juga ditawarkan dalam penerbangan internasional,\u00a0 melayani penumpang dengan\u00a0 penuh keramahan , meningkatkan\u00a0 safety \/ keamanan bagi penumpangnya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Dalam kurun\u00a0 waktu\u00a0 5 tahun, Garuda Indonesia menambahkan\u00a0 armadanya dari\u00a0 62 menjadi 116 pesawat. Quantum Leap yang dilakukan juga\u00a0 untuk menaikkan jumlah penumpang per tahun menjadi 27.6 juta. Dan dalam periode yang sama, jumlah penumpang bertambah sebanyak 10.1 juta dari sewaktu awal program ini dijalankan<\/div>\n<p>Strategi Quantum Leap dari Garuda Indonesia ini sanggup membuat\u00a0 Garuda Indonesia meraih penghargaan sebagai\u00a0 \u2018<em>The Worlds Most Improved Airline\u2018<\/em>\u00a0 yang dapat mensejajarkan diri dengan penerbangan-penerbangan berkelas Internasional lainnya.<\/div>\n<div>\n<style type=\"text\/css\"><!--\nP { margin-bottom: 0.08in; }\n-->Maskapai penerbangan Garuda Indonesia pernah dilanda krisis pada saat Krisis Finansial melanda Asia yang terjadi pada \u00a0tahun 1997. Tetapi di tahun 2000- an maskapai ini \u00a0membuat sebuah strategy yang dinamakan Quantum Leap. Dimana Lompatan Quantum yang dilakukan oleh Garuda Indonesia \u00a0adalah\u00a0 Garuda Indonesia mengubah\u00a0 tampilan maskapainya seperti mengubah livery maskapai, seragam staf dan logo. \u00a0Garuda Indonesia menambahkan\u00a0 armadanya dari\u00a0 62 menjadi 116 pesawat. \u00a0Strategi Pemasaran Garuda Indonesia Airline adalah \u00a0memberikan Kepuasan kepada Pelanggan. Konsep pemasaran yang digunakan adalah konsep\u00a0 \u201ckenyamanan\u201d\u00a0 untuk meraih konsumen. Untuk itu Garuda Indoneia melakukan beberapa strategi pemasaran seperti, meningkatkan\u00a0 Frekuensi\u00a0 penerbangannya,\u00a0 menyediakan snack\u00a0 di pesawat yang lengkap dengan berbagai pilihan\u00a0 minuman dimana anggur dan bir juga ditawarkan dalam penerbangan internasional, \u00a0melayani penumpang dengan\u00a0 penuh keramahan , meningkatkan \u00a0safety \/ keamanan bagi penumpangnya.Strategi Quantum Leap dari Garuda Indonesia ini sanggup membuat \u00a0Garuda Indonesia meraih penghargaan sebagai\u00a0 \u2018The Worlds Most Improved Airline\u2018\u00a0 yang dapat mensejajarkan diri dengan penerbangan-penerbangan berkelas Internasional lainnya.\n--><\/style>\n<p style=\"text-align: justify;\" align=\"JUSTIFY\">Meskipun ada krisis yang melanda, tetapi perusahaan-perusahaan yang sukses tidak akan menyerah dengan kondisi yang ada.\u00a0 Dengan smart mereka membuat strategi yang baru maupun mengubah slogan mereka.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" align=\"JUSTIFY\">(Debbie Kusuma\/FJ\/BL)<\/p>\n<p align=\"JUSTIFY\">\n<\/div>\n<style type=\"text\/css\"><!--\nP { margin-bottom: 0.08in; }\n-->Maskapai penerbangan Garuda Indonesia pernah dilanda krisis pada saat Krisis Finansial melanda Asia yang terjadi pada \u00a0tahun 1997. Tetapi di tahun 2000- an maskapai ini \u00a0membuat sebuah strategy yang dinamakan \u00a0Quantum Leap. Dimana Lompatan Quantum yang dilakukan oleh Garuda Indonesia \u00a0adalah\u00a0 Garuda Indonesia mengubah\u00a0 tampilan maskapainya seperti mengubah livery maskapai, seragam staf dan logo. \u00a0Garuda Indonesia menambahkan\u00a0 armadanya dari\u00a0 62 menjadi 116 pesawat. \u00a0Strategi Pemasaran Garuda Indonesia Airline adalah \u00a0memberikan Kepuasan kepada Pelanggan. Konsep pemasaran yang digunakan adalah konsep\u00a0 \u201ckenyamanan\u201d\u00a0 untuk meraih konsumen. Untuk itu Garuda Indoneia melakukan beberapa strategi pemasaran seperti, meningkatkan\u00a0 Frekuensi\u00a0 penerbangannya,\u00a0 menyediakan snack\u00a0 di pesawat yang lengkap dengan berbagai pilihan\u00a0 minuman dimana anggur dan bir juga ditawarkan dalam penerbangan internasional, \u00a0melayani penumpang dengan\u00a0 penuh keramahan , meningkatkan \u00a0safety \/ keamanan bagi penumpangnya.Strategi Quantum Leap dari Garuda Indonesia ini sanggup membuat \u00a0Garuda Indonesia meraih penghargaan sebagai\u00a0 \u2018The Worlds Most Improved Airline\u2018\u00a0 yang dapat mensejajarkan diri dengan penerbangan-penerbangan berkelas Internasional lainnya.\n--><\/style>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Keep Selling In Crisis, Why Not? This 3 companies, did that way, and they succeed ! Pada saat krisis ekonomi melanda Amerika Serikat dan Eropa di waktu yang lalu, hal ini menyebabkan dampak negative untuk setiap perusahaan. Sebab konsumen menahan diri untuk berbelanja barang. Sehingga banyak perusahaan mengalami kerugian. Dan ini membuat mereka berusaha untuk menciptakan strategi marketing yang luar biasa, termasuk perubahan-perubahan slogan perusahaan mereka. Semua itu bertujuan supaya produk mereka tetap terjual di saat kondisi krisis sekalipun. Berikut [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":24990,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[1044,1051,16],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25486"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=25486"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25486\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":28947,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25486\/revisions\/28947"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/24990"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=25486"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=25486"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=25486"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}