{"id":23807,"date":"2014-02-05T07:05:27","date_gmt":"2014-02-05T00:05:27","guid":{"rendered":"http:\/\/businesslounge.co\/?p=23807"},"modified":"2014-03-10T07:58:39","modified_gmt":"2014-03-10T00:58:39","slug":"how-to-develop-our-leadership-skills-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2014\/02\/05\/how-to-develop-our-leadership-skills-2\/","title":{"rendered":"&#8220;Look Over Your Shoulder&#8221;"},"content":{"rendered":"<h1>&#8220;Look Over Your Shoulder&#8221;<\/h1>\n<h2>&#8211; to be sure others following you<\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge &#8211; Leadership) &#8211; Apakah kita terlahir sebagai seorang pemimpin? Pertanyaan itu sering terbersit dalam hati hampir semua orang.\u00a0 Dan itu adalah hal yang wajar. Bahkan banyak ahli kepemimpinan yang berpendapat bahwa manusia dilahirkan untuk menjadi seorang pemimpin. Tapi bila kita telusuri lagi maka yang kita lebih lagi mengerti adalah bahwa manusia itu\u00a0 dilahirkan dengan memiliki ciri-ciri seorang pemimpin didalam dirinya, tetapi untuk mengembangkan keterampilan kepemimpinannya maka manusia itu sendirilah yang\u00a0 harus mengembangkannya dengan di dukung suatu dorongan dari dalam yang kuat untuk mengembangkan keterampilan kepemimpinan yang ada didalam dirinya.\u00a0 Hal ini bukanlah merupakan persoalan yang mudah tapi bukan juga merupakan persoalan yang sulit. Di perlukan suatu semangat dan gairah yang akan membawa kepada pengaruh yang positif baik bagi kita sebagai pemimpin maupun orang lain sebagai anak buah\/karyawan kita.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selain itu di sisi yang lain adanya\u00a0 mitos mengenai pemimpin yaitu pandangan-pandangan atau keyakinan-keyakinan masyarakat yang dilekatkan kepada gambaran seorang pemimpin. Mitos ini disadari atau tidak telah\u00a0 mempengaruhi pengembangan pemimpin dalam suatu organisasi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ada 3 (tiga) mitos yang berkembang di masyarakat, yaitu mitos <em>the Birthright<\/em>, <em>the For All &#8211; Seasons<\/em> , dan <em>the Intensity<\/em>. Pertama,\u00a0 <em>Mitos the Birthright<\/em> berpandangan bahwa pemimpin itu dilahirkan bukan dihasilkan (dididik). Mitos ini berbahaya bagi perkembangan regenerasi pemimpin karena yang dipandang pantas menjadi pemimpin adalah orang yang memang dari sananya dilahirkan sebagai pemimpin, sehingga yang bukan dilahirkan sebagai pemimpin tidak memiliki kesempatan menjadi pemimpin<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kedua, <em>Mitos the For All &#8211; Seasons<\/em> berpandangan bahwa sekali orang itu menjadi pemimpin selamanya dia akan menjadi pemimpin yang berhasil. Pada kenyataannya keberhasilan seorang pemimpin pada satu situasi dan kondisi tertentu belum tentu sama dengan situasi dan kondisi lainnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketiga, <em>Mitos the Intensity<\/em> &#8211;\u00a0 berpandangan bahwa seorang pemimpin harus bisa bersikap tegas dan galak karena pekerja itu pada dasarnya baru akan bekerja jika didorong dengan cara yang keras. Pada kenyataannya kekerasan mempengaruhi peningkatan produktivitas kerja hanya pada awal-awalnya saja, produktivitas seterusnya tidak bisa dijamin. Kekerasan pada kenyataannya justru dapat menumbuhkan keterpaksaan yang akan dapat menurunkan produktivitas kerja.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Yang sering terjadi\u00a0 adalah bahwa sebagai seorang pemimpin\u00a0 kita telah berusaha untuk menjadi seorang pemimpin yang baik, tetapi ternyata kita ada pada titik-titik tertentu dan tidak berkembang. Kita melihat bahwa mulai terjadi keluhan atau pemberontakan-pemberontakan kecil yang dilakukan oleh bawahan\/anak buah kita. Kita mendapatkan sepertinya kita tetap berhadapan dengan tembok yang sulit untuk di tembus dan kita ada pada titik jenuh untuk berkembang sebagai seorang pemimpin. Sering kali sebagai seorang pemimpin sadar atau tidak sadar kita\u00a0 telah melakukan kesalahan fatal dengan berubah menjadi pemimpin yang mau-maunya sendiri. <strong>Robert K. Greenleaf<\/strong>, seorang\u00a0 ahli leadership menyatakan :\u00a0 \u201d<em>The only test of leadership is that somebody follows<\/em>.\u201d Satu-satunya tolak\u00a0 ukur\u00a0 dapat dilihat apakah kita seorang pemimpin yang baik adalah ketika kepemimpinan kita itu dapat di ikuti oleh orang lain, yang dimaksud disini adalah karyawan\/anak buah kita tunduk dan mentaati ketetapan yang telah kita tetapkan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada kenyataannya, ada banyak kesempatan untuk mengembangkan keterampilan kepemimpinan kita, baik di dalam perusahaan\u00a0 dan diluar perusahaan kita.\u00a0 Seperti misalnya pengembangan dari luar dimana\u00a0 kita dapat mengikuti seminar-seminar atau workshop-workshop dan bila yang dari dalam sendiri kita dapat belajar dari situasi yang ada, hanya yang diperlukan adalah di mana kita mau untuk belajar\u00a0 dan mau untuk di kembangkan. Dalam hal ini sebagai seorang pemimpin sangatlah perlu untuk mengembangkan ketrampilan kepemimpinan didalam dirinya. Dan sebagai manusia tidak pernah ada kata terlambat, sekalipun mungkin kita telah lama menjadi seorang pemimpin atau baru menjadi seorang pemimpin dalam sebuah perusahaan. Tetapi paling tidak kita dapat berkembang dalam\u00a0 hal memimpin akan diri kita sendiri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tentunya menjadi pemimpin tidak dapat dengan tiba-tiba. Menjadi pemimpin harus melalui proses mulai belajar cara menjadi pemimpin yang baik dan bermanfaat. Untuk itu, kita harus mempelajari apa saja sifat kepemimpinan secara umum yang sangat\u00a0 berguna bagi pemimpin. Sehingga kita dapat belajar memahami dan mulai mempraktekkan diri sebagai pemimpin serta mengembangkannya sebagai calon pemimpin masa yang akan datang. Sifat-sifat kepemimpinan yang perlu kita kembangkan adalah sebagai berikut :<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>1. Keinginan untuk menerima tanggung jawab<\/strong><br \/>\nSeorang pemimpin harus menerima tanggung jawab. Oleh sebab itu, seorang pemimpin harus mengetahui apa saja yang harus dilakukan, apa saja yang dipunyai dan mengetahui setiap resiko dari setiap pekerjaan. Belajarlah menjadi pemimpin dengan tidak mengulang kesalahan yang sama, dan mulai sekarang belajar menerima tanggung jawab.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>2. Mencapai tujuan yang realistis<\/strong><br \/>\nSeorang pemimpin dalam menetapkan tujuan harus wajar dan dapat dilaksanakan. Pengertian wajar dan dapat dilaksanakan adalah keinginan tersebut masih dalam kemampuan untuk dilaksanakan. Kita harus membuat tujuan yang realistis, dapat dicapai dan terus ditingkatkan. Mulailah belajar memimpin dengn membuat tujuan yang realistis sesuai dengan kemampuan dan keinginan Anda.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>3. Bekerja keras dan bekerja cerdas<\/strong><br \/>\nSeorang pemimpin harus bekerja keras dan rajin. Pemimpin pasti menjadi contoh, apabila dia malas, sering terlambat, maka anak buahnya akan mengikuti. Bagi pemimpin, bekerja keras tidak cukup. Seorang pemimpin juga harus bekerja dengan cerdas, yaitu bekerja dengan strategi dan otak, bukan dengan otot saja.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>4. Bersikap obyektif<\/strong><br \/>\nSeorang pemimpin harus bersikap obyektif yaitu mengambil keputusan berdasarkan fakta, dan data serta rasioanl, dan bukan emosional serta bias. Seorang pemimpin tidak boleh gampang marah dan pilih kasih, memihak salah satu dan lain-lain. Pemimpin harus mengayomi seluruh anak buahnya, dan harus menempatkan setiap anak buahnya dalam kedudukan yang sama. Pemimpin harus mempunyai alat ukur yang sama untuk menentukan keberhasilan dan kegagalan setiap anak buahnya dan tidak menggunakan standar ganda.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>5. Dapat menentukan skala prioritas<\/strong><br \/>\nKita mengetahui bahwa apa yang kita miliki sangat terbatas, dan keinginan kita tidak terbatas. Oleh sebab itu kita harus menentukan prioritas. Dalam kehidupan sehari-hari, tidak semua keinginan dapat dilaksanakan. Yang terpenting dari seorang pemimpin adalah dapat membuat keputusan yang dapat diterima semua pihak. Bagaimana membuat skala prioritas, yaitu yang terpenting bagi organisasi dalam jangka panjang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>6. Kemampuan untuk komunikasi<\/strong><br \/>\nSeorang pemimpin mencapai tujuan melaui orang lain. Oleh sebab itu, setiap pemberian informasi, perintah atau permintaan harus dapat dimengerti dengan baik oleh orang lain. Seorang pemimpin harus dapat menyampaikan gagasannya kepada orang lain dengan jelas baik lewat tulisan, ucapan atau perbuatan.. Mulailah menjadi pemimpin dengan belajar berkomunikasi dengan orang lain. Jangan takut berbicara, tetapi berbicaralah dengan baik dan benar, sehingga orang suka kepada Anda.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>7. Berorientasi ke masa depan<\/strong><br \/>\nSeorang pemimpin tidak boleh hanya berorientasi jangka pendek. Seorang pemimpin harus berpikir jangka panjang, berpikir bagaimana kondisi untuk 5 \u2013 10 tahun mendatang. Seorang pemimpin dengan menggunakan data dan fakta dapat memprediksi keadaan masa mendatang, dan untuk menang, seorang pemimpin mempersiapkan dari sekarang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>8. Mampu membimbing<\/strong><br \/>\nSeorang pemimpin harus mempunyai sifat untuk membimbing dan mengarahkan anak buah. Ketrampilan ini sangat dibutuhkan karena kemampuan anak buah dan masalah yang dihadapi berbeda-beda. Kemampuan membimbing dan mengarahkan perlu dikembangkan dan ditingkatkan sehingga setiap anak buah mempunyai kualifikasi dan kompetensi yang memadai. Seorang pemimpin juga harus mampu memberikan motivasi kepada anak buahnya sehingga anak buahnya ingin bekerja keras setiap hari.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>9. Berlaku secara bijak dengan kekuasaan<\/strong><br \/>\nBanyak pemimpin besar yang akhirnya jatuh karena tidak bijak menggunakan kekuasaan. Kekuasaan yang besar cenderung sewenang-wenang dan korup. Inilah awal keruntuhan dari kepemimpinan. Apabila kita ingin menjadi orang sukses, sudah sepantasnya kita mengendalikan nafsu untuk tidak sewenang-wenang dan korup. Mulailah belajar dengan bijak terhadap kekuasaan pada diri sendiri dan organisasi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selain itu berikut adalah\u00a0 7 daftar check list untuk kita dapat mengetahui\u00a0 apakah kita sebagai seorang pemimpin telah mengembangkan jiwa kepemimpinan kita kearah yang lebih baik, menurut\u00a0 <strong>Robert K. Greenleaf<\/strong> :<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">1.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Mengetahui apa yang orang pikirkan tentang gaya manajemen. Maksudnya disini adalah Biarkan tim\/anak buah\u00a0 kita memberikan pendapat\/kritikan yang membangun.\u00a0 Sebuah lingkungan yang santai dan terbuka yang kita berikan akan membantu menarik keluar pendapat jujur mereka.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">2.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Dengarkan\u00a0 dengan baik-baik:\u00a0 ketika anggota tim\/anak buah\u00a0 kita berbicara kepada\u00a0 kita tentang semua kekhawatiran kerja atau masalah yang ada di dalam kehidupannya dimana terkait mereka, mendengar mereka mengungkapkannya keluar dari hati mereka. Kita bisa menunjukkan rasa empati kita, menyarankan alternatif\/ memberikan solusi bila diperlukan dan menciptakan harmoni dalam lingkungan kerja.\u00a0 <strong>PEMIMPIN BESAR<\/strong> adalah pendengar yang\u00a0 baik bagi orang lain.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">3.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Komunikasi\u00a0 efektif. Membiasakan berkomunikasi dengan efektif sehingga menghasilkan kekompakan yang positif dilingkungan kita, dan bertanggung jawab penuh untuk keputusan yang telah disepakati bersama. Seringkali disinilah letak kelemahan seorang pemimpin yaitu tidak terjalinnya komunikasi yang baik dengan anak buah\/anggota timnya. Sebagai seorang pemimpin kita harus dapat mengkomunikasikan apa yang ada didalam pikiran kita karena tidak semua orang dapat mengenal dan memahami akan jalan pemikiranpemimpinnya. Selalu ulangi pesan yang hendak kita sampaikan untuk membuatnya terdengar positif. Miliki prinsip bahwa Komunikasi yang efektif adalah seni.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">4.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Miliki sikap low profle:\u00a0 Sikap low profile merupakan sebuah bagian integral dari keterampilan kepemimpinan yang berkembang dengan cara belajar untuk menghormati kemampuan anak buah \/ anggota tim kita. Biarkan anggota tim\/anak buah kita\u00a0 mengambil keputusan atas masalah-masalah tertentu. Memberikan kepercayaan kepada mereka untuk mengerjakan pekerjaan mereka, jangan menjadi pengawas mereka.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">5.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Memimpin dengan memberi contoh: Kita sudah sering membaca\/mendengar akan pendapat ini. Tetapi memang ini adalah cara yang paling tepat untuk membuat anak buah\/tim kita menjadi percaya penuh pada integritas kita, dan bahwa kita benar-benar melaksanakan apa yang kita katakan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">6.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Kepemimpinan berbagi: Maksudnya disini adalah sebagai pemimpin kita dapat mendistribusikan tugas-tugas di antara anggota tim\/anak buah kita tergantung pada situasi dan kekuatan masing-masing individu. Kita akan\u00a0 menjadi pemimpin yang lebih baik dengan melibatkan lebih banyak orang dalam proses kepemimpinan kita.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">7.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Evaluasilah akan keberhasilan kita sebagai seorang pemimpin\u00a0 bersama-sama dengan anggota tim\/anak buah kita: tanggung jawab utama kita adalah untuk memastikan keberhasilan dan pengembangan anggota tim\/anak buah kita. Fokuslah\u00a0 pada membangun keterampilan mereka karena ini akan meningkatkan motivasi dan kinerja mereka. Ingat, kesuksesan mereka adalah milik kita juga.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kepemimpinan kita tidak dapat bekerja tanpa adanya saling menghormati satu sama lain. Sebagai seorang pemimpin kita harus mau memberikan untuk mendapatkannya kembali. Saya yakin kita semua pernah mendengar itu sebelumnya. Apa yang memisahkan seorang pemimpin yang baik dari seorang pemimpin besar, yaitu apabila pemimpin itu menghormati\u00a0 keberadaan dari anak buah\/ anggota timnya.\u00a0 Ingatlah akan hal ini, sebuah kepemimpinan tidak semuanya\u00a0 tentang kita, jika kita tidak memiliki siapapun untuk mengikuti kita, maka kita tidak dapat memimpin.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Beberapa sifat yang diperlukan seorang pemimpin dan\u00a0 7 check list\u00a0 diatas dapat menjadi acuan yang baik untuk men-check apakah kita telah menjadi seorang pemimpin yang mau untuk berkembang dan menjadi pemimpin yang profesional atau kita lebih memilih untuk menjadi pemimpin yang kolot atau tidak mau berkembang sesuai dengan perkembangan jaman yang ada.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Setiap orang dilahirkan untuk menjadi pemimpin baik skala kecil maupun skala besar, kepercayaan itu ada dibahu kita apakah kita mau terus menopangnya dan memastikan bahwa ada pengaruh baik yang dapat diberikan sehingga membangkitkan kepercayaan orang lain untuk mengikutinya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">(ic,ik\/IC\/bl)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&#8220;Look Over Your Shoulder&#8221; &#8211; to be sure others following you (Business Lounge &#8211; Leadership) &#8211; Apakah kita terlahir sebagai seorang pemimpin? Pertanyaan itu sering terbersit dalam hati hampir semua orang.\u00a0 Dan itu adalah hal yang wajar. Bahkan banyak ahli kepemimpinan yang berpendapat bahwa manusia dilahirkan untuk menjadi seorang pemimpin. Tapi bila kita telusuri lagi maka yang kita lebih lagi mengerti adalah bahwa manusia itu\u00a0 dilahirkan dengan memiliki ciri-ciri seorang pemimpin didalam dirinya, tetapi untuk mengembangkan keterampilan kepemimpinannya maka manusia [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":24983,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[15],"tags":[812,692,61,231,263],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/23807"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=23807"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/23807\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":28963,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/23807\/revisions\/28963"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/24983"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=23807"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=23807"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=23807"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}