{"id":23563,"date":"2014-01-30T20:13:12","date_gmt":"2014-01-30T13:13:12","guid":{"rendered":"http:\/\/businesslounge.co\/?p=23563"},"modified":"2014-03-10T07:58:39","modified_gmt":"2014-03-10T00:58:39","slug":"evaluasi-strategi-bisnis-dan-penggunaan-analisis-swot","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2014\/01\/30\/evaluasi-strategi-bisnis-dan-penggunaan-analisis-swot\/","title":{"rendered":"Evaluasi Strategi Bisnis Dan Penggunaan Analisis Swot"},"content":{"rendered":"<div style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge &#8211; Strategic) &#8211; Strategi bisnis merupakan rangkaian tujuan, kebijakan dan perencanaan, yang semuanya secara bersamaan menentukan ruang lingkup suatu usaha dan pendekatan yang diaplikasikan untuk kelangsungan (<em>survival<\/em>) dan keberhasilan usaha tersebut (Michael Porter,1994). Strategi bisnis dapat diuji kelemahan dan kekurangannya, namun semuanya harus memenuhi kriteria berikut ini:<br \/>\n&#8211;\u00a0\u00a0 Konsistensi<br \/>\nSuatu strategi tidak boleh menerapkan sasaran-sasaran dan kebijakan-kebijakan yang satu sama lain tidak konsisten<br \/>\n&#8211;\u00a0\u00a0 Keserasian<br \/>\nSuatu strategi mampu memberikan respons adaptif (menyesuaikan diri) terhadap perubahan lingkungan eksternal dan semua\u00a0 perkembangan mendasar yang terjadi di sana.<br \/>\n&#8211;\u00a0\u00a0 Keunggulan<br \/>\nSuatu strategi bisnis harus mampu menciptakan dan mempertahankan keunggulan kompetitif pada bidang aktivitas yang dilakukan<br \/>\n&#8211;\u00a0\u00a0 Fisibilitas<br \/>\nSuatu strategi tidak boleh terlalu membebani sumber-sumber yang ada atau tidak boleh menciptakan sub-sub persoalan lain yang tak dapat dipecahkan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Hasil akhir evaluasi strategi bisnis yang dilakukan harus merupakan jawaban yang tepat terhadap tiga pertanyaan mendasar berikut ini:<br \/>\n1.\u00a0\u00a0\u00a0 Apakah tujuan-tujuan yang hendak dicapai dalam usaha tersebut tepat?<br \/>\n2.\u00a0\u00a0\u00a0 Apakah kebijakan-kebijakan dan rencana-rencana pokok usaha tersebut tepat?<br \/>\n3.\u00a0\u00a0\u00a0 Apakah hasil yang dicapai benar-benar memperkuat atau membatalkan asumsi-asumsi pokok yang menjadi pondasi dasar strategi yang diterapkan?<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Analisis SWOT adalah identifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi perusahaan.\u00a0 Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan lingkungan internal: kekuatan (Strengths) dipadukan dengan peluang eksternal (Opportunities), namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (Weaknesses) internal,\u00a0 dan mengatasi lingkungan eksternal berupa ancaman (Threats).<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nTabel Peraga:<\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\"><input type=\"image\" height=\"235\" src=\"http:\/\/managedaily.co.id\/UserFiles\/Image\/strategic\/Pic%20VBM%2003.jpg\" width=\"455\" \/><\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\">Kuadran 1\u00a0\u00a0\u00a0 :<br \/>\nIni merupakan\u00a0 situasi\u00a0 yang\u00a0 sangat\u00a0 menguntungkan. Perusahaan\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 tersebut\u00a0\u00a0\u00a0 memiliki peluang\u00a0 dan kekuatan,sehingga dapat\u00a0 memanfaatkan\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 peluang\u00a0\u00a0 yang\u00a0 ada.\u00a0\u00a0\u00a0 Strategi yang harus diterapkan dalam kondisi ini akan\u00a0\u00a0 mendukung kebijakan\u00a0\u00a0 pertumbuhan\u00a0\u00a0 yang\u00a0 agresif (<em>Growth Oriented Strategy<\/em>).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kuadran 2\u00a0\u00a0\u00a0 :<br \/>\nMeskipun\u00a0\u00a0\u00a0 menghadapi\u00a0 berbagai\u00a0\u00a0 ancaman,\u00a0 perusahaan\u00a0\u00a0 ini masih memiliki\u00a0\u00a0 kekuatan\u00a0 dari\u00a0\u00a0 segi\u00a0\u00a0 internal.\u00a0\u00a0 Strategi\u00a0 yang harus\u00a0\u00a0 diterapkan\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 adalah\u00a0\u00a0\u00a0 menggunakan\u00a0 kekuatan untuk\u00a0 memanfaatkan\u00a0 peluang\u00a0 jangka\u00a0 panjang\u00a0\u00a0 dengan\u00a0 cara\u00a0\u00a0 strategi diversifikasi (produk\/pasar).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kuadran 3\u00a0\u00a0\u00a0 :<br \/>\nPerusahaan\u00a0\u00a0 menghadapi\u00a0 peluang\u00a0\u00a0 pasar\u00a0\u00a0 yang\u00a0 sangat besar, tetapi\u00a0 di\u00a0 lain\u00a0 pihak,\u00a0\u00a0 ia menghadapi\u00a0\u00a0 beberapa\u00a0\u00a0\u00a0 kendala \/kelemahan\u00a0 internal. Kondisi\u00a0\u00a0 bisnis\u00a0\u00a0\u00a0 pada\u00a0\u00a0 kuadran\u00a0 3\u00a0 ini\u00a0 mirip\u00a0 dengan Question\u00a0 Mark\u00a0 pada\u00a0 BCG\u00a0 matrik.\u00a0\u00a0\u00a0 Fokus strategi perusahaan ini adalah\u00a0 meminimalkan\u00a0\u00a0 masalah-masalah internal perusahaan, sehingga\u00a0 dapat merebut peluang pasar yang lebih baik.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kuadran 4\u00a0\u00a0\u00a0 :<br \/>\nIni\u00a0 merupakan\u00a0 situasi\u00a0\u00a0\u00a0 yang\u00a0\u00a0 sangat\u00a0 tidak\u00a0 menguntungkan, Perusahaan tersebut menghadapi berbagai ancaman dan kelemahan internal.<\/p>\n<p>(vh\/IC\/bl)<\/p>\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Foto: bisnisukm.com<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge &#8211; Strategic) &#8211; Strategi bisnis merupakan rangkaian tujuan, kebijakan dan perencanaan, yang semuanya secara bersamaan menentukan ruang lingkup suatu usaha dan pendekatan yang diaplikasikan untuk kelangsungan (survival) dan keberhasilan usaha tersebut (Michael Porter,1994). Strategi bisnis dapat diuji kelemahan dan kekurangannya, namun semuanya harus memenuhi kriteria berikut ini: &#8211;\u00a0\u00a0 Konsistensi Suatu strategi tidak boleh menerapkan sasaran-sasaran dan kebijakan-kebijakan yang satu sama lain tidak konsisten &#8211;\u00a0\u00a0 Keserasian Suatu strategi mampu memberikan respons adaptif (menyesuaikan diri) terhadap perubahan lingkungan eksternal dan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":24985,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[17],"tags":[235,334,69,302,346],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/23563"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=23563"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/23563\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":173439,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/23563\/revisions\/173439"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/24985"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=23563"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=23563"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=23563"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}