{"id":220910,"date":"2026-11-06T09:52:15","date_gmt":"2026-11-06T02:52:15","guid":{"rendered":"https:\/\/www.blj.co.id\/?p=220910"},"modified":"2026-11-06T09:52:15","modified_gmt":"2026-11-06T02:52:15","slug":"goodyear-siapkan-transformasi-bisnis-efisiensi-biasa-tak-lagi-cukup","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2026\/11\/06\/goodyear-siapkan-transformasi-bisnis-efisiensi-biasa-tak-lagi-cukup\/","title":{"rendered":"Goodyear Siapkan Transformasi Bisnis, Efisiensi Biasa Tak Lagi Cukup"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge Journal \u2013 News &amp; Insight)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perusahaan global tidak selalu dapat memperbaiki kinerja hanya dengan memangkas biaya operasional atau meningkatkan produktivitas secara bertahap. Ketika tekanan pasar berlangsung cukup lama dan struktur bisnis yang ada tidak lagi menghasilkan tingkat keuntungan sesuai harapan, perubahan yang lebih mendasar sering kali diperlukan. Kondisi tersebut tengah dihadapi Goodyear Tire &amp; Rubber Company, salah satu produsen ban terbesar di dunia. Perusahaan asal Amerika Serikat ini mulai menyiapkan langkah transformasi bisnis yang lebih luas setelah mencatat penurunan penjualan dan masih menghadapi tekanan terhadap profitabilitas. Melalui pembentukan unit khusus bernama <em>transformation office<\/em>, Goodyear ingin mempercepat perubahan operasional sekaligus memperkuat kemampuan perusahaan menghasilkan arus kas secara berkelanjutan.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\">Penjualan Turun, Profitabilitas Masih Menjadi Tantangan<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam laporan kinerja kuartal ketiga yang diumumkan pada 4 November 2026, Goodyear mencatat penjualan bersih sebesar US$4,5 miliar, turun 2,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Volume penjualan ban juga mengalami penurunan 3,3% menjadi 38,6 juta unit. Pelemahan terutama berasal dari pasar ban pengganti atau <em>replacement market<\/em>, sementara penjualan kepada produsen kendaraan atau <em>original equipment<\/em> (OE) menunjukkan perkembangan yang lebih baik di sejumlah wilayah. Setelah memperhitungkan dampak pelepasan bisnis kimia dan merek Dunlop, penjualan organik perusahaan sebenarnya tumbuh 1,6%, terutama didukung oleh kombinasi harga dan komposisi produk yang lebih menguntungkan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun, pertumbuhan organik tersebut belum cukup untuk memperbaiki keseluruhan kinerja keuangan perusahaan. Goodyear membukukan kerugian bersih sebesar US$238 juta pada kuartal ketiga 2026. Sementara itu, kerugian bersih yang telah disesuaikan mencapai US$31 juta, berbanding terbalik dengan laba bersih disesuaikan sebesar US$82 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan operasional segmen juga turun menjadi US$174 juta dari US$287 juta. Penurunan ini menunjukkan bahwa tantangan perusahaan bukan hanya berkaitan dengan kemampuan menjual produk, tetapi juga bagaimana menjaga margin keuntungan ketika volume penjualan melemah dan biaya produksi meningkat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tekanan tersebut terlihat di wilayah Amerika, yang masih menjadi kontributor penjualan terbesar Goodyear. Pendapatan segmen Amerika mencapai US$2,7 miliar, tetapi laba operasionalnya turun menjadi US$96 juta dari US$206 juta pada tahun sebelumnya. Perusahaan menyebut pemanfaatan kapasitas pabrik yang belum optimal, inflasi, tarif, dan berbagai biaya lainnya sebagai faktor yang menekan kinerja. Di Eropa, Timur Tengah, dan Afrika (EMEA), pendapatan turun 3,7%, sedangkan laba operasional segmen hanya mencapai US$12 juta. Sebaliknya, Asia Pasifik menunjukkan perkembangan yang relatif lebih baik dengan pendapatan US$510 juta dan laba operasional US$66 juta, meningkat dari US$51 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\">Transformation Office: Mengubah Cara Perusahaan Bekerja<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menghadapi kondisi tersebut, Goodyear membentuk sebuah <em>dedicated transformation office<\/em> yang bertugas mempercepat evaluasi dan pelaksanaan berbagai peluang perubahan bisnis. Unit ini dirancang untuk mengidentifikasi langkah-langkah strategis dan operasional yang dapat memperbaiki tingkat pengembalian bisnis serta meningkatkan kemampuan perusahaan menghasilkan kas. Pembentukan unit khusus ini menjadi sinyal bahwa manajemen tidak lagi hanya mengandalkan perbaikan operasional secara bertahap. Perusahaan ingin melihat kembali bagaimana proses bisnis dijalankan, bagaimana sumber daya digunakan, dan bagian mana dari organisasi yang perlu mengalami perubahan struktural.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">CEO Goodyear Mark Stewart mengakui bahwa berbagai langkah perbaikan yang telah dilakukan perusahaan memang memberikan kemajuan, terutama dalam memperkuat portofolio produk dan mengoptimalkan jaringan manufaktur. Namun, menurutnya, perbaikan tambahan atau <em>incremental improvements<\/em> saja tidak akan cukup untuk membawa perusahaan mencapai target yang diharapkan. Karena itu, Goodyear membutuhkan pendekatan yang lebih luas melalui perubahan strategis dan operasional agar dapat menghasilkan arus kas bebas yang lebih konsisten. Pernyataan tersebut memperlihatkan adanya perbedaan antara efisiensi jangka pendek dan transformasi bisnis yang menyentuh fondasi operasional perusahaan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebenarnya, Goodyear telah menjalankan program Goodyear Forward sebagai bagian dari upaya memperbaiki kinerja dan meningkatkan efisiensi. Program tersebut memberikan kontribusi positif terhadap hasil operasional perusahaan, termasuk manfaat sekitar US$90 juta pada kuartal ketiga 2026. Namun, manfaat tersebut belum mampu sepenuhnya mengimbangi tekanan dari penurunan volume penjualan, inflasi, serta kenaikan tarif dan biaya lainnya. Hal ini memperlihatkan bahwa program efisiensi tetap diperlukan, tetapi perusahaan juga harus mengevaluasi apakah model operasional yang digunakan masih sesuai dengan kondisi pasar. Pembentukan transformation office diharapkan dapat mempercepat identifikasi peluang yang lebih besar daripada sekadar penghematan biaya rutin.<\/p>\n<p>Transformasi semacam ini juga menunjukkan bahwa tantangan perusahaan besar tidak selalu terletak pada kemampuan menjual produk, tetapi pada bagaimana seluruh organisasi bekerja secara terintegrasi. Perubahan portofolio produk, kapasitas pabrik, pengelolaan biaya, hingga keputusan investasi perlu bergerak dalam arah yang sama. Tanpa koordinasi yang kuat, program efisiensi berisiko hanya menghasilkan penghematan sementara. Karena itu, pembentukan Transformation Office menjadi langkah penting untuk memastikan perubahan operasional dan strategi bisnis berjalan lebih terarah, terukur, serta memberikan dampak nyata terhadap kinerja keuangan perusahaan.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\">Transformasi Struktural untuk Menjaga Daya Saing Jangka Panjang<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Langkah Goodyear memberikan gambaran mengenai tantangan yang dihadapi perusahaan manufaktur global. Dalam industri yang memiliki biaya produksi tinggi, perusahaan tidak cukup hanya mengandalkan peningkatan penjualan untuk memperbaiki keuntungan. Pemanfaatan kapasitas pabrik, pengelolaan persediaan, efisiensi rantai pasok, strategi harga, dan komposisi produk turut menentukan seberapa besar pendapatan dapat dikonversi menjadi laba dan arus kas. Ketika beberapa faktor tersebut mengalami tekanan secara bersamaan, perbaikan pada satu bagian bisnis belum tentu mampu mengangkat keseluruhan kinerja perusahaan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Goodyear juga terus berupaya menggeser portofolio produknya ke arah ban konsumen dengan nilai lebih tinggi. Produk ban berukuran 18 inci ke atas kini mencakup 44% dari total volume penjualan, meningkat dari 39% pada tahun sebelumnya. Pergeseran ini penting karena strategi produk bernilai lebih tinggi dapat membantu perusahaan memperbaiki komposisi pendapatan dan memperkuat posisi di segmen pasar tertentu. Namun, strategi tersebut harus berjalan seiring dengan kemampuan perusahaan mengelola biaya produksi dan memastikan permintaan pasar tetap terjaga.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bagi manajemen perusahaan, transformasi struktural pada akhirnya bukan sekadar program penghematan atau perubahan organisasi. Transformasi harus mampu menghasilkan model bisnis yang lebih adaptif, memiliki struktur biaya yang sehat, serta memberikan ruang bagi investasi dan inovasi. Goodyear kini menghadapi pekerjaan untuk memastikan bahwa perubahan yang direncanakan dapat diterjemahkan menjadi perbaikan nyata dalam profitabilitas dan arus kas. Keberhasilan transformation office nantinya tidak hanya diukur dari jumlah inisiatif yang dijalankan, tetapi dari dampaknya terhadap kinerja keuangan dan daya saing perusahaan dalam jangka panjang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pengalaman Goodyear menunjukkan bahwa perusahaan besar pun harus berani mengevaluasi kembali cara mereka menjalankan bisnis ketika pendekatan lama tidak lagi menghasilkan kinerja yang diharapkan. Efisiensi tetap menjadi bagian penting dari manajemen, tetapi dalam situasi tertentu, perusahaan membutuhkan perubahan yang lebih mendasar agar dapat keluar dari tekanan operasional. Tantangan sesungguhnya bukan sekadar melakukan transformasi, melainkan memastikan perubahan tersebut benar-benar menciptakan nilai bisnis yang berkelanjutan.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge Journal \u2013 News &amp; Insight) Perusahaan global tidak selalu dapat memperbaiki kinerja hanya dengan memangkas biaya operasional atau meningkatkan produktivitas secara bertahap. Ketika tekanan pasar berlangsung cukup lama dan struktur bisnis yang ada tidak lagi menghasilkan tingkat keuntungan sesuai harapan, perubahan yang lebih mendasar sering kali diperlukan. Kondisi tersebut tengah dihadapi Goodyear Tire &amp; Rubber Company, salah satu produsen ban terbesar di dunia. Perusahaan asal Amerika Serikat ini mulai menyiapkan langkah transformasi bisnis yang lebih luas setelah mencatat [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":26,"featured_media":220911,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[1050],"tags":[13604,13905,13899,10769,13876,6089,13901,13903,13902,13904,13906],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/220910"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/26"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=220910"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/220910\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":220912,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/220910\/revisions\/220912"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/220911"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=220910"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=220910"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=220910"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}