{"id":220787,"date":"2026-10-28T08:35:24","date_gmt":"2026-10-28T01:35:24","guid":{"rendered":"https:\/\/www.blj.co.id\/?p=220787"},"modified":"2026-10-28T08:36:10","modified_gmt":"2026-10-28T01:36:10","slug":"kabel-di-dasar-laut-infrastruktur-yang-menentukan-masa-depan-internet","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2026\/10\/28\/kabel-di-dasar-laut-infrastruktur-yang-menentukan-masa-depan-internet\/","title":{"rendered":"Kabel di Dasar Laut, Infrastruktur yang Menentukan Masa Depan Internet"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge &#8211; Entrepreneurship) Hampir setiap foto, pesan singkat, panggilan video, hingga transaksi bisnis lintas negara bergantung pada infrastruktur yang tidak pernah terlihat oleh sebagian besar pengguna internet. Jauh di bawah permukaan laut, ribuan kilometer kabel serat optik menghubungkan benua, membawa arus informasi yang menjadi fondasi ekonomi digital dunia. Tanpa jaringan ini, aktivitas yang terasa begitu sederhana di layar ponsel akan menghadapi hambatan besar, mulai dari komunikasi internasional hingga pengoperasian pusat data dan layanan kecerdasan buatan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di tengah perlombaan membangun infrastruktur digital, kabel bawah laut justru menjadi salah satu aset strategis yang semakin diperebutkan. Perusahaan teknologi raksasa seperti Google, Meta, Amazon, dan Microsoft membutuhkan kapasitas jaringan yang terus meningkat untuk menghubungkan pusat data mereka di berbagai negara. Kebutuhan tersebut mendorong pembangunan sistem kabel baru, dengan biaya jutaan hingga miliaran dolar, sekaligus membuka persoalan tentang kapasitas produksi, keamanan jalur komunikasi, dan ketahanan internet global.<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\">Jalan Raya Digital yang Membentang di Dasar Samudra<\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kabel bawah laut atau <em>subsea cable<\/em> bekerja dengan prinsip yang relatif sederhana, tetapi penerapannya membutuhkan teknologi dengan presisi sangat tinggi. Data digital diubah menjadi pulsa cahaya yang bergerak melalui serat kaca sangat tipis, bahkan diameternya dapat dibandingkan dengan rambut manusia. Pulsa cahaya tersebut melintasi kabel yang membentang di dasar laut dan dapat membawa informasi dalam jumlah sangat besar dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam sistem ini, serat optik berfungsi sebagai jalur utama pengiriman informasi, sedangkan perangkat penguat sinyal yang disebut <em>repeater<\/em> dipasang pada jarak tertentu untuk menjaga kualitas transmisi. Dalam sistem yang diproduksi SubCom, perangkat tersebut ditempatkan kira-kira setiap 55 mil atau sekitar 89 kilometer. Lapisan tembaga pada kabel membantu menyalurkan listrik untuk mengoperasikan perangkat tersebut, sementara lapisan baja dan bahan pelindung lainnya dirancang untuk menghadapi tekanan serta risiko kerusakan di lingkungan laut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kabel tersebut bukan sekadar kumpulan serat kaca yang dibungkus pelindung. Setiap sistem dirancang sesuai karakteristik rute yang akan dilaluinya. Jalur yang melewati kawasan berbatu atau perairan dangkal membutuhkan perlindungan tambahan karena lebih rentan terhadap jangkar kapal, alat penangkapan ikan, serta gangguan fisik lainnya. Sebaliknya, pada perairan yang lebih dalam, kabel umumnya dapat diletakkan di atas dasar laut tanpa harus selalu dikubur.<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\">SubCom dan Bisnis Infrastruktur yang Tidak Banyak Terlihat<\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\">Salah satu perusahaan yang memainkan peran penting dalam industri ini adalah SubCom, yang memiliki fasilitas manufaktur di New Hampshire, Amerika Serikat. Perusahaan tersebut dikenal sebagai satu-satunya perusahaan di Amerika Serikat yang, menurut laporan yang menjadi dasar artikel ini, mampu memproduksi sekaligus memasang kabel komunikasi bawah laut. Kemampuannya mencakup proses manufaktur, pengujian, pemuatan kabel ke kapal khusus, hingga pemasangan di dasar samudra.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pabriknya mampu menghasilkan lebih dari 40.000 mil kabel setiap tahun, setara dengan hampir dua kali keliling Bumi. Produksi berlangsung melalui serangkaian proses yang menuntut pengawasan ketat. Serat optik harus dijaga agar tidak tergores atau tertekuk berlebihan, lapisan tembaga harus tertutup rapat, dan setiap bagian kabel menjalani pengujian untuk mendeteksi kemungkinan gangguan. Kesalahan kecil yang lolos dari pemeriksaan dapat berubah menjadi persoalan besar setelah kabel berada ribuan meter di bawah permukaan laut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kabel-kabel tersebut dirancang untuk memiliki masa pakai setidaknya 25 tahun. Angka itu menunjukkan bahwa investasi di sektor ini tidak dapat dinilai hanya berdasarkan biaya pembelian atau panjang kabel yang dipasang. Kualitas manufaktur, ketepatan perencanaan rute, keandalan perangkat, serta kemampuan pemeliharaan turut menentukan nilai ekonominya. Perbaikan di laut sangat rumit dan mahal, bahkan dapat menghabiskan lebih dari satu juta dolar untuk satu kejadian, sementara pelanggan harus menghadapi risiko terganggunya layanan.<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\">Dari Telepon Internasional ke Ledakan Kecerdasan Buatan<\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\">Industri kabel bawah laut sebenarnya sudah berkembang jauh sebelum internet menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Pabrik yang kini terkait dengan SubCom mulai beroperasi pada 1953 ketika dimiliki Simplex Wire and Cable Company. Perusahaan tersebut turut berkontribusi dalam pembangunan kabel telepon transatlantik pertama yang mulai beroperasi pada 1956. Pada masa itu, kabel tembaga digunakan untuk mengirimkan sinyal listrik yang membawa percakapan telepon melintasi samudra.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perkembangan kebutuhan komunikasi kemudian mendorong perubahan teknologi. Pada akhir 1980-an, kabel serat optik transatlantik TAT-8 menjadi tonggak penting karena menggunakan pulsa cahaya untuk mengirimkan informasi dengan kapasitas jauh lebih besar dibandingkan teknologi tembaga. Ketika World Wide Web berkembang pada 1989, kebutuhan kapasitas internet meningkat dengan cepat. Kapasitas kabel yang semula diperkirakan cukup untuk memenuhi kebutuhan jangka panjang ternyata terisi jauh lebih cepat daripada perkiraan awal.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pertumbuhan internet berikutnya didorong oleh layanan yang membutuhkan bandwidth besar, seperti video streaming, komputasi awan, dan berbagai aplikasi digital. Kini, kecerdasan buatan atau <em>artificial intelligence<\/em> menjadi pendorong baru. Pelatihan dan pengoperasian sistem AI membutuhkan pertukaran data dalam jumlah besar di antara pusat-pusat data yang tersebar di berbagai kawasan. Semakin besar model AI dan semakin luas layanan yang dijalankan, semakin penting pula jaringan yang dapat memindahkan data secara cepat, stabil, dan konsisten.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perubahan ini juga menggeser pola investasi industri. Pada masa lalu, perusahaan telekomunikasi kerap berbagi biaya pembangunan kabel dan membagi kapasitasnya di antara para pemilik. Sekarang, perusahaan teknologi besar semakin tertarik membangun jaringan privat untuk menghubungkan pusat data mereka sendiri. Dalam laporan yang menjadi dasar artikel ini, diperkirakan lebih dari separuh permintaan terhadap kabel bawah laut baru berasal dari empat perusahaan teknologi besar tersebut. Artinya, investasi kabel kini semakin berkaitan dengan strategi bisnis perusahaan digital global, bukan hanya kebutuhan komunikasi masyarakat.<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\">Investasi Miliaran Dolar dan Tantangan Kapasitas Produksi<\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\">Salah satu gambaran besarnya kebutuhan baru tersebut adalah Project Waterworth yang diumumkan Meta. Proyek itu direncanakan menghubungkan Amerika Serikat, Brasil, Afrika Selatan, India, Malaysia, dan Australia. Nilai investasinya diperkirakan mencapai 10 miliar dolar AS, dengan ambisi membangun jaringan kabel bawah laut yang sangat panjang. Proyek ini memperlihatkan bahwa jaringan komunikasi kini diperlakukan sebagai bagian dari infrastruktur strategis yang menopang pertumbuhan bisnis digital lintas benua.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun, peningkatan permintaan tidak otomatis membuat kabel baru bisa tersedia dalam waktu singkat. SubCom menyatakan produksinya telah meningkat dua kali lipat sejak 2018, tetapi pesanan yang belum terselesaikan masih tumbuh lebih cepat daripada kemampuan perusahaan mengirimkan hasil produksi. Tantangan ini muncul karena kabel bawah laut bukan barang yang dapat diproduksi, diangkut, dan dipasang seperti komoditas biasa. Setiap proyek memerlukan desain sesuai rute, pengujian menyeluruh, kapal khusus, serta koordinasi dengan negara-negara yang wilayah perairannya akan dilalui.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kapal pemasang kabel sendiri merupakan investasi yang sangat besar. Harga sebuah kapal khusus dapat melampaui 200 juta dolar AS, belum termasuk biaya operasional, pemeliharaan, dan kebutuhan tenaga kerja. SubCom memiliki delapan kapal pemasang kabel dalam gambaran yang disampaikan laporan tersebut. Proses pemuatan kabel ke kapal saja dapat berlangsung hingga satu bulan, sedangkan perjalanan pemasangan di laut dapat memakan waktu sekitar dua bulan. Dalam kondisi normal, keseluruhan proses pembuatan hingga pemasangan sebuah sistem kabel bisa berlangsung sekitar satu tahun.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hambatan geopolitik dapat memperpanjang jadwal tersebut. Ketegangan keamanan di Laut Merah, misalnya, membuat sebagian rute lebih sulit dan berisiko untuk dikerjakan. Perusahaan juga perlu memperoleh izin dari setiap negara yang akan dilalui kabelnya, sebuah proses yang dalam beberapa kasus dapat berlangsung hingga lima tahun. Ketika kebutuhan jaringan meningkat, persoalannya bukan semata-mata seberapa cepat perusahaan mampu memproduksi kabel, melainkan juga seberapa cepat proyek dapat melewati tahapan perizinan dan memperoleh akses yang aman ke dasar laut.<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\">Ketika Satu Kabel Putus, Dampaknya Bisa Mendunia<\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di balik besarnya kapasitas kabel bawah laut, terdapat risiko yang tidak dapat diabaikan. Laporan tersebut menyebutkan sekitar 100 kabel mengalami kerusakan atau terputus secara tidak sengaja setiap tahun, sering kali akibat jangkar kapal. Kerusakan juga dapat terjadi karena aktivitas penangkapan ikan, kondisi geologis, maupun gangguan lain di dasar laut. Di wilayah perairan dangkal, risiko tersebut lebih besar karena kabel berdekatan dengan berbagai aktivitas manusia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perbaikan membutuhkan kapal khusus dan proses yang tidak sederhana. Awak kapal harus menemukan lokasi kabel, mengangkat bagian yang rusak dari dasar laut, lalu menyambungkan kembali serat optik menggunakan perangkat <em>fusion splicer<\/em>. Mesin tersebut menyelaraskan kedua ujung serat dengan ketelitian sangat tinggi sebelum menyatukannya melalui proses pemanasan. Selain memerlukan keahlian teknis, pekerjaan ini dapat berlangsung berminggu-minggu dan menimbulkan biaya yang sangat besar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dampaknya bisa meluas hingga ke tingkat nasional. Pada 2022, kabel yang menghubungkan Tonga dengan dunia luar terputus akibat letusan gunung berapi. Pemulihan konektivitas internet ke kondisi normal membutuhkan waktu sekitar 18 bulan. Peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa gangguan pada satu jalur komunikasi dapat memengaruhi akses informasi, kegiatan usaha, dan layanan masyarakat, terutama di negara atau wilayah yang hanya memiliki sedikit jalur alternatif.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Risiko lain berkaitan dengan dugaan gangguan yang disengaja. Sejumlah insiden kerusakan kabel di kawasan Laut Baltik dan Selat Taiwan memunculkan kekhawatiran bahwa infrastruktur komunikasi bawah laut dapat menjadi sasaran dalam konflik geopolitik. Namun, laporan yang menjadi dasar artikel ini juga menegaskan bahwa penyelidikan atas insiden tertentu belum membuktikan adanya perintah pemerintah asing untuk melakukan sabotase. Karena itu, persoalan keamanan kabel perlu dipahami sebagai tantangan nyata yang membutuhkan pengawasan, tanpa terburu-buru menyimpulkan siapa yang bertanggung jawab atas setiap gangguan.<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\">Ketahanan Internet Bergantung pada Banyak Jalur<\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\">Salah satu pendekatan untuk mengurangi risiko adalah memperbanyak jalur kabel agar lalu lintas data dapat dialihkan apabila satu sistem mengalami kerusakan. Prinsip ini mirip dengan jaringan transportasi: semakin banyak rute alternatif yang tersedia, semakin besar peluang perjalanan tetap berlangsung ketika salah satu jalur terputus. Meski demikian, pembangunan kabel berkapasitas lebih besar juga menghadirkan dilema. Jika terlalu banyak lalu lintas terkonsentrasi pada satu sistem, kerusakan kabel tersebut berpotensi mengganggu porsi komunikasi yang lebih besar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sejumlah teknologi baru mulai digunakan untuk membantu mendeteksi aktivitas di sekitar kabel. Salah satunya adalah sistem yang memanfaatkan <em>Distributed Acoustic Sensing<\/em> atau DAS. Dengan perangkat pendeteksi yang sesuai, kabel serat optik dapat dimanfaatkan sebagai sensor getaran untuk mengenali aktivitas tertentu di sekitarnya. Teknologi semacam ini berpotensi membantu pengawasan, meskipun tidak menggantikan kebutuhan terhadap patroli, koordinasi internasional, dan jaringan alternatif.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bagi dunia yang semakin bergantung pada komputasi awan dan kecerdasan buatan, keamanan kabel bawah laut tidak lagi semata-mata menjadi urusan perusahaan telekomunikasi. Infrastruktur ini berhubungan langsung dengan ketahanan ekonomi digital, keamanan nasional, dan kelangsungan layanan lintas negara. Pemerintah, operator jaringan, dan perusahaan teknologi perlu memperhatikan bukan hanya kapasitas pengiriman data, tetapi juga keragaman rute, kecepatan pemulihan, dan kemampuan mendeteksi ancaman.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Masa depan internet tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan perangkat yang digunakan manusia atau besarnya pusat data yang dibangun perusahaan teknologi. Di bawah permukaan laut, kabel serat optik tetap menjadi penghubung utama yang memungkinkan informasi bergerak antarbenua dalam waktu sangat singkat. Ketika AI, komputasi awan, dan layanan digital terus berkembang, persaingan membangun jaringan bawah laut akan semakin penting. Dunia mungkin melihat internet sebagai sesuatu yang tidak berwujud, tetapi fondasi fisiknya sangat nyata, mahal, rumit, dan harus dijaga agar ekonomi digital tetap terhubung.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge &#8211; Entrepreneurship) Hampir setiap foto, pesan singkat, panggilan video, hingga transaksi bisnis lintas negara bergantung pada infrastruktur yang tidak pernah terlihat oleh sebagian besar pengguna internet. Jauh di bawah permukaan laut, ribuan kilometer kabel serat optik menghubungkan benua, membawa arus informasi yang menjadi fondasi ekonomi digital dunia. Tanpa jaringan ini, aktivitas yang terasa begitu sederhana di layar ponsel akan menghadapi hambatan besar, mulai dari komunikasi internasional hingga pengoperasian pusat data dan layanan kecerdasan buatan. Di tengah perlombaan membangun [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":32,"featured_media":220788,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[8039],"tags":[79],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/220787"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/32"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=220787"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/220787\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":220789,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/220787\/revisions\/220789"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/220788"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=220787"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=220787"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=220787"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}