{"id":220618,"date":"2026-10-16T00:52:53","date_gmt":"2026-10-15T17:52:53","guid":{"rendered":"https:\/\/www.blj.co.id\/?p=220618"},"modified":"2026-10-16T14:58:16","modified_gmt":"2026-10-16T07:58:16","slug":"strategi-bob-iger-di-tengah-perubahan-walt-disney","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2026\/10\/16\/strategi-bob-iger-di-tengah-perubahan-walt-disney\/","title":{"rendered":"Strategi Bob Iger di Tengah Perubahan Walt Disney"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge &#8211; Strategy) Robert A. Iger, yang dikenal sebagai Bob Iger, merupakan salah satu pemimpin bisnis yang memiliki pengaruh besar dalam perjalanan The Walt Disney Company. Selama memimpin perusahaan hiburan tersebut, ia menghadapi berbagai tantangan, mulai dari memperbarui bisnis animasi, menjaga relevansi merek legendaris, hingga mengelola perubahan organisasi dan mempersiapkan pergantian kepemimpinan. Pengalamannya menunjukkan bahwa memimpin perusahaan besar bukan sekadar meningkatkan pendapatan atau mengawasi kegiatan operasional. Seorang CEO juga harus mampu menentukan arah perubahan, membangun budaya organisasi, dan memastikan perusahaan tetap memiliki kemampuan untuk berkembang di tengah lingkungan bisnis yang terus berubah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam percakapan dengan Nitin Nohria, mantan dekan Harvard Business School, Iger menjelaskan berbagai pelajaran yang diperolehnya selama memimpin Disney. Pembahasannya mencakup cara mengambil keputusan strategis, membangun hubungan dengan karyawan, mengelola kreativitas, serta menjaga kerendahan hati ketika berada di puncak kekuasaan. Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa pengaruh seorang CEO tidak hanya muncul melalui keputusan besar yang diumumkan kepada publik, tetapi juga melalui kebiasaan sehari-hari yang membentuk cara organisasi bekerja. Bagi perusahaan yang ingin bertahan dalam jangka panjang, kepemimpinan harus mampu menghubungkan kebutuhan bisnis saat ini dengan kemampuan untuk menghadapi tantangan masa depan.<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\">Menghidupkan kembali Disney melalui Pixar<\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketika Iger mengambil alih posisi CEO Disney pada 2005, bisnis animasi perusahaan menghadapi persoalan yang cukup serius. Padahal, animasi merupakan salah satu fondasi utama identitas Disney, baik dari sisi komersial maupun persepsi masyarakat terhadap merek tersebut. Iger melihat bahwa masalahnya bukan karena perusahaan sama sekali tidak menyadari kemunduran yang terjadi, melainkan karena organisasi belum menemukan solusi yang cukup efektif untuk mengatasinya. Situasi tersebut membuat Disney berada dalam keadaan stagnan, sementara bisnis yang sangat penting bagi masa depannya membutuhkan pembenahan dengan segera.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Iger kemudian mengambil keputusan strategis untuk mengakuisisi Pixar dan membawa kepemimpinan kreatifnya, termasuk John Lasseter dan Ed Catmull, ke dalam Disney Animation. Langkah ini bukan sekadar transaksi untuk menambah aset perusahaan, melainkan upaya memperoleh kemampuan kreatif dan kepemimpinan yang dibutuhkan untuk memperbaiki bisnis inti. Keputusan tersebut menunjukkan bahwa perusahaan besar tidak selalu dapat menyelesaikan masalah dengan mengandalkan sumber daya dan pendekatan yang sudah dimilikinya. Dalam kondisi tertentu, perubahan membutuhkan keterbukaan terhadap gagasan baru, talenta dari luar, dan kesediaan untuk mengubah cara kerja yang selama ini dianggap biasa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kebangkitan Disney Animation kemudian terlihat melalui keberhasilan film-film seperti <em>Tangled<\/em>, <em>Frozen<\/em>, <em>Moana<\/em>, dan <em>Zootopia<\/em>. Film-film tersebut membantu memperkuat kembali posisi animasi dalam portofolio Disney sekaligus meningkatkan persepsi publik terhadap perusahaan. Pengalaman ini memberikan pelajaran penting bagi pemimpin bisnis bahwa mengenali persoalan hanyalah langkah awal dalam proses perubahan. Pemimpin harus mampu menentukan prioritas, menemukan sumber daya yang tepat, dan mengambil keputusan ketika situasi membutuhkan tindakan cepat. Dalam konteks tersebut, keberanian mengubah pendekatan dapat menjadi faktor yang menentukan apakah perusahaan mampu memperbaiki kinerjanya atau justru terus kehilangan daya saing.<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\">Menghormati warisan tanpa terjebak pada masa lalu<\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">Disney dibangun di atas warisan kreatif Walt Disney yang memiliki pengaruh besar dalam industri hiburan. Namun, menurut Iger, penghormatan yang terlalu berlebihan terhadap masa lalu dapat membuat organisasi kesulitan menerima perubahan. Sebagian orang cenderung menganggap karya, atraksi, dan praktik lama sebagai sesuatu yang harus dipertahankan karena memiliki nilai sejarah. Padahal, perusahaan yang beroperasi dalam industri dinamis harus terus menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi, perubahan selera konsumen, dan munculnya berbagai bentuk hiburan baru.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Iger melihat adanya kontradiksi dalam cara sebagian orang memandang Walt Disney. Sosok tersebut dihormati sebagai inovator, tetapi hasil karyanya terkadang diperlakukan seolah-olah tidak boleh diubah. Menurut Iger, pendekatan tersebut justru tidak sejalan dengan karakter Walt Disney yang selalu mencari kemungkinan baru dan bersedia menantang status quo. Menghormati warisan perusahaan seharusnya berarti mempertahankan semangat yang melahirkan keberhasilan pada masa lalu, bukan membekukan semua hasil karya dalam bentuk yang sama untuk selamanya. Dengan demikian, sejarah dapat menjadi sumber inspirasi bagi inovasi, bukan alasan untuk menolak pembaruan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Prinsip tersebut juga terlihat dalam pengelolaan taman hiburan Disney. Perusahaan terkadang mendapat kritik ketika mengganti atraksi lama yang telah menjadi bagian dari pengalaman pengunjung selama puluhan tahun. Namun, Iger berpendapat bahwa perubahan dapat diperlukan untuk menjaga relevansi dan meningkatkan pengalaman pengunjung. Bagi perusahaan yang telah beroperasi selama puluhan atau ratusan tahun, tantangan kepemimpinan adalah membedakan nilai inti yang harus dipertahankan dari praktik yang perlu diperbarui. Identitas perusahaan tetap penting, tetapi identitas tersebut harus mampu berkembang mengikuti kebutuhan zaman agar tidak berubah menjadi hambatan bagi pertumbuhan.<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\">Membangun budaya perusahaan melalui kolaborasi<\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">Strategi bisnis yang baik tidak akan berjalan optimal apabila budaya organisasi tidak mendukung pelaksanaannya. Iger berusaha membangun lingkungan kerja yang kolaboratif, tempat karyawan dapat menyampaikan pendapat dan memberikan masukan dari berbagai tingkatan organisasi. Menurutnya, tidak semua keputusan harus dibuat secara sepihak oleh pimpinan tertinggi karena banyak gagasan penting justru berasal dari orang-orang yang memahami persoalan operasional secara langsung. Keterbukaan terhadap pandangan yang berbeda juga membantu pemimpin memperoleh informasi yang lebih lengkap sebelum menentukan arah perusahaan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Meskipun demikian, Iger menilai bahwa kolaborasi harus tetap diimbangi dengan kejelasan kewenangan. Seorang CEO perlu mendengarkan berbagai pandangan, tetapi pada akhirnya harus mampu menentukan keputusan dan memastikan organisasi bergerak maju. Jika setiap persoalan terus diperdebatkan tanpa batas waktu, proses pengambilan keputusan dapat menjadi lambat dan menghambat pelaksanaan strategi. Sebaliknya, jika seluruh keputusan dibuat secara sepihak, perusahaan berisiko kehilangan kreativitas dan keterlibatan karyawan. Tantangan kepemimpinan adalah menemukan keseimbangan antara memberikan ruang bagi diskusi dan menggunakan kewenangan ketika keputusan harus segera diambil.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Iger juga menekankan pentingnya aksesibilitas seorang pemimpin. Ia berusaha menghabiskan lebih banyak waktu di dalam perusahaan, berinteraksi dengan karyawan, dan mengurangi kegiatan eksternal yang tidak memberikan kontribusi langsung terhadap pekerjaannya. Kehadiran tersebut memberinya kesempatan untuk memahami organisasi secara lebih dekat sekaligus menunjukkan apresiasi kepada orang-orang yang menjalankan kegiatan bisnis sehari-hari. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa budaya perusahaan tidak hanya dibentuk melalui pernyataan resmi atau dokumen nilai organisasi. Budaya juga berkembang melalui perilaku pemimpin, cara mereka berkomunikasi, dan konsistensi mereka dalam memperlakukan karyawan.<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\">Mengelola waktu sebagai sumber daya strategis<\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bagi seorang CEO, waktu merupakan sumber daya yang sangat terbatas karena tuntutan pekerjaan dapat terus bertambah tanpa diikuti penambahan jumlah jam dalam sehari. Pemimpin perusahaan besar sering diminta menghadiri konferensi, memberikan pidato, mengikuti pertemuan eksternal, dan mewakili perusahaan dalam berbagai kegiatan publik. Meskipun sebagian kegiatan tersebut penting, keterlibatan yang berlebihan dapat mengurangi perhatian terhadap persoalan strategis di dalam organisasi. Iger menyadari risiko ini dan berusaha memastikan bahwa sebagian besar waktunya digunakan untuk kepentingan Disney, terutama pada tahun-tahun awal kepemimpinannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam mengatur waktunya, Iger membedakan tanggung jawab yang memang harus dijalankan CEO dari kegiatan yang dapat didelegasikan. Tanggung jawab utama mencakup pertemuan dengan dewan direksi, pembahasan kinerja keuangan, komunikasi dengan investor, serta hubungan dengan karyawan dan jajaran eksekutif. Ia juga menilai bahwa CEO harus terlibat langsung dalam keputusan yang membutuhkan alokasi modal besar atau berpotensi memengaruhi reputasi dan merek perusahaan secara signifikan. Keputusan-keputusan tersebut memiliki konsekuensi luas sehingga tidak dapat sepenuhnya diserahkan kepada orang lain tanpa pengawasan pimpinan tertinggi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di luar tanggung jawab tersebut, Iger menggunakan pertanyaan sederhana untuk menentukan apakah kehadirannya benar-benar dibutuhkan. Jika keterlibatannya tidak akan memberikan perbedaan berarti, ia memilih mendelegasikan pekerjaan kepada orang yang tepat. Pendekatan ini menunjukkan bahwa delegasi bukanlah bentuk pelepasan tanggung jawab, melainkan cara memastikan pemimpin dapat memusatkan perhatian pada persoalan yang paling penting. Iger juga berusaha menjaga keterlibatannya dalam proses kreatif karena bidang tersebut merupakan bagian dari pekerjaan yang memberinya energi. Baginya, pengelolaan waktu yang efektif bukan hanya soal meningkatkan produktivitas, melainkan memastikan bahwa perhatian seorang CEO diarahkan pada kegiatan yang menciptakan nilai bagi perusahaan.<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\">Kreativitas membutuhkan standar kualitas yang tinggi<\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebagai perusahaan hiburan, Disney sangat bergantung pada kreativitas. Namun, Iger menegaskan bahwa menjadi perusahaan kreatif tidak cukup dengan menghasilkan sebanyak mungkin film, program, atau atraksi. Perusahaan harus selektif dalam memilih gagasan yang layak dikembangkan dan memastikan bahwa sumber daya yang tersedia digunakan untuk menghasilkan karya berkualitas tinggi. Waktu karyawan, dana perusahaan, dan perhatian manajemen merupakan sumber daya yang terbatas sehingga setiap proyek perlu memiliki alasan yang jelas untuk memperoleh dukungan. Dalam pandangannya, jumlah produksi tidak boleh menjadi ukuran utama keberhasilan apabila kualitas justru mengalami penurunan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Iger menerapkan pendekatan yang melibatkan dirinya pada tahap awal proyek-proyek penting. Ia ingin memahami gagasan yang diajukan, alasan proyek tersebut layak memperoleh perhatian, serta potensi yang ingin dicapai oleh tim kreatif. Setelah memperoleh gambaran yang cukup, ia memberikan ruang bagi tim untuk mengembangkan gagasan tersebut sebelum kembali terlibat melalui masukan, kritik, dan saran. Pendekatan ini memungkinkan pemimpin memberikan arah tanpa mengambil alih seluruh proses kreatif. Tim tetap memiliki ruang untuk mengeksplorasi ide, sementara pimpinan memastikan bahwa proyek tersebut memiliki tujuan yang jelas dan memenuhi standar perusahaan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tingkat keterlibatan pemimpin kemudian disesuaikan dengan perkembangan proyek. Jika pekerjaan berjalan baik, Iger secara bertahap mengurangi campur tangan agar tim dapat menyelesaikannya dengan lebih mandiri. Namun, ketika proyek menghadapi persoalan serius atau mulai menyimpang dari harapan, ia bersedia terlibat lebih dalam dan mencurahkan waktunya untuk membantu memperbaiki keadaan. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan dalam organisasi kreatif membutuhkan kemampuan membaca situasi. Terlalu banyak intervensi dapat membatasi kebebasan tim, tetapi keterlibatan yang terlalu sedikit juga dapat membuat masalah berkembang tanpa penanganan yang memadai.<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\">Mengelola kegagalan agar inovasi tetap hidup<\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kreativitas selalu melibatkan ketidakpastian karena tidak semua gagasan akan menghasilkan karya yang berhasil. Iger menilai bahwa budaya kreatif harus menerima kenyataan tersebut dan memahami bahwa kegagalan merupakan bagian dari proses penciptaan sesuatu yang baru. Persoalan sebenarnya bukan sekadar apakah perusahaan mengalami kegagalan, melainkan bagaimana organisasi meresponsnya. Jika setiap kesalahan berujung pada hukuman yang berlebihan, karyawan akan cenderung memilih pendekatan yang aman dan menghindari risiko. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat mengurangi kemampuan perusahaan untuk menghasilkan gagasan yang berbeda dari pesaingnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menerima kegagalan bukan berarti perusahaan harus membiarkan semua kesalahan tanpa evaluasi. Organisasi tetap membutuhkan standar kualitas, pengawasan terhadap penggunaan sumber daya, dan keputusan yang tegas mengenai proyek yang tidak lagi layak dilanjutkan. Namun, proses evaluasi harus membantu perusahaan memahami penyebab kegagalan dan menentukan apa yang dapat diperbaiki. Dengan cara tersebut, kegagalan dapat menjadi sumber pembelajaran tanpa menghancurkan keberanian karyawan untuk mencoba kembali. Bagi perusahaan yang bergantung pada inovasi, kemampuan mengelola kegagalan merupakan bagian penting dari strategi mempertahankan daya saing.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pendekatan ini relevan di luar industri hiburan. Perusahaan teknologi, manufaktur, jasa keuangan, dan berbagai sektor lain juga harus menemukan keseimbangan antara pengendalian risiko dan keberanian melakukan eksperimen. Organisasi yang terlalu takut gagal dapat kehilangan peluang untuk menciptakan produk atau layanan baru. Sebaliknya, perusahaan yang mengambil risiko tanpa pertimbangan dapat membuang modal dan merusak kepercayaan pemangku kepentingan. Tugas pemimpin adalah membangun lingkungan yang memungkinkan eksperimen dilakukan secara bertanggung jawab, dengan tujuan yang jelas dan proses pembelajaran yang dapat diterapkan pada keputusan berikutnya.<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\">Suksesi CEO di tengah ketidakpastian<\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">Salah satu pengalaman penting dalam perjalanan Iger adalah proses pergantian kepemimpinan Disney. Pada 2020, ia mengakhiri masa jabatannya sebagai CEO dan Bob Chapek mengambil alih posisi tersebut. Namun, pada November 2022, Disney mengumumkan bahwa Iger kembali menjadi CEO setelah dewan direksi memutuskan untuk mengganti Chapek. Pengalaman ini memberikan perspektif baru mengenai kompleksitas suksesi, terutama dalam perusahaan besar yang menghadapi perubahan pasar dan tekanan operasional secara bersamaan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Iger mengakui bahwa proses pemilihan penerus sebelumnya mungkin tidak seteliti yang mereka bayangkan. Salah satu alasannya adalah perusahaan merasa telah mengenal kandidat dengan sangat baik karena orang tersebut telah lama bekerja di Disney dan memiliki pengalaman langsung bersama dirinya. Namun, mengenal seseorang dalam lingkungan kerja yang sudah dikenal tidak otomatis menjamin bahwa orang tersebut akan mampu memimpin perusahaan ketika situasinya berubah secara drastis. Proses suksesi perlu menilai bukan hanya rekam jejak, tetapi juga kemampuan kandidat menghadapi tekanan, mengambil keputusan dalam ketidakpastian, dan membangun tim yang efektif.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perubahan lingkungan bisnis juga menjadi pelajaran penting bagi Iger. Proses suksesi sebelumnya berlangsung sebelum pandemi COVID-19, yang kemudian mengubah kondisi operasional banyak perusahaan, termasuk bisnis hiburan dan taman rekreasi. Pengalaman tersebut memperkuat pandangannya bahwa pemimpin masa depan harus mampu mengelola krisis yang dapat muncul berulang kali. Ketahanan mental, stamina, kualitas tim, dan kemampuan menjaga keseimbangan antara optimisme dan realisme menjadi faktor yang perlu diperhitungkan. Pemimpin harus mampu mengakui kenyataan yang sulit tanpa kehilangan kemampuan untuk memberikan arah dan menjaga organisasi tetap bergerak maju.<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\">Mengambil keputusan cepat tanpa kehilangan perspektif jangka panjang<\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketika kembali memimpin Disney, Iger menghadapi situasi yang berbeda dibandingkan masa jabatan pertamanya. Ia kembali dengan kesepakatan untuk menjabat selama dua tahun, sehingga tekanan untuk mengambil tindakan terasa jauh lebih besar. Dalam situasi tersebut, ia harus menentukan apakah akan memusatkan perhatian pada penyelesaian persoalan jangka pendek atau membangun strategi yang dapat memberikan manfaat setelah masa jabatannya berakhir. Tantangan itu menunjukkan bahwa pemimpin yang kembali ke perusahaan dalam keadaan sulit harus mampu bergerak cepat tanpa kehilangan perspektif mengenai masa depan organisasi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Iger menyadari bahwa keterbatasan waktu dapat mendorong seorang CEO menjadi lebih direktif. Diskusi yang biasanya berlangsung panjang mungkin perlu dipersingkat agar perusahaan dapat segera mengambil tindakan. Namun, ia tetap berusaha memberikan ruang bagi kolaborasi dan memastikan bahwa orang-orang yang relevan merasa terlibat dalam proses pengambilan keputusan. Pendekatan ini menunjukkan bahwa kecepatan tidak harus berarti mengabaikan masukan. Pemimpin dapat mempercepat proses dengan memperjelas prioritas, menentukan batas waktu diskusi, dan mengambil keputusan ketika informasi yang tersedia sudah memadai.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tujuan akhirnya bukan sekadar menyelesaikan persoalan selama masa jabatan yang tersisa, melainkan meninggalkan momentum dan arah strategis yang dapat diteruskan oleh penerusnya. Hal ini penting karena keputusan yang hanya berorientasi pada hasil cepat berisiko menimbulkan persoalan baru pada masa mendatang. Perusahaan membutuhkan pemimpin yang mampu mengatasi masalah mendesak sekaligus membangun landasan bagi pertumbuhan berikutnya. Dengan demikian, ukuran keberhasilan seorang CEO tidak hanya ditentukan oleh hasil yang terlihat selama ia menjabat, tetapi juga oleh kondisi organisasi yang ditinggalkannya.<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\">Kapan CEO perlu berbicara mengenai isu sosial dan politik?<\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">CEO perusahaan besar tidak hanya menghadapi tuntutan dari dalam organisasi, tetapi juga menjadi wajah perusahaan di hadapan masyarakat. Dalam lingkungan bisnis modern, pemimpin sering diharapkan memberikan pandangan mengenai berbagai persoalan, mulai dari lingkungan hidup hingga kebijakan imigrasi. Iger mengakui bahwa sikap yang diambil seorang CEO dapat dianggap sebagai pernyataan politik. Namun, ia berpendapat bahwa alasan di balik keputusan tersebut perlu dibedakan dari pandangan politik pribadi pemimpin.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Iger memberikan contoh kepedulian Disney terhadap lingkungan. Menurutnya, isu lingkungan bukan hanya persoalan nilai pribadi, tetapi juga berkaitan dengan keberlanjutan bisnis. Taman hiburan membutuhkan kondisi lingkungan yang layak bagi pengunjung, sementara aset perusahaan di kawasan pesisir dapat menghadapi risiko akibat kenaikan permukaan laut dan perubahan iklim. Ia juga menjelaskan bahwa Disney membutuhkan tenaga kerja berbakat dari berbagai negara sehingga kebijakan imigrasi memiliki hubungan langsung dengan kemampuan perusahaan menarik talenta internasional. Dalam kedua contoh tersebut, ia menekankan hubungan antara persoalan publik dan kepentingan bisnis.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dari perspektif Iger, CEO perlu menjelaskan mengapa perusahaan mengambil suatu posisi dan bagaimana posisi tersebut berkaitan dengan kepentingan organisasi, pemegang saham, serta karyawan. Pendekatan ini tidak berarti perusahaan harus menghindari semua persoalan kontroversial. Sebaliknya, pemimpin perlu memahami konsekuensi dari pernyataannya dan memastikan bahwa keputusan yang diambil memiliki dasar yang jelas. Ketika lingkungan publik semakin sensitif terhadap berbagai isu, kemampuan menjelaskan alasan di balik suatu sikap menjadi bagian penting dari kepemimpinan perusahaan.<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\">Menjaga kerendahan hati di tengah kekuasaan<\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">Memimpin Disney berarti mengelola salah satu merek hiburan paling dikenal di dunia. Popularitas perusahaan membuat CEO-nya hampir tidak mungkin sepenuhnya terhindar dari perhatian publik. Iger memahami bahwa ketenaran dapat menjadi konsekuensi dari jabatan tersebut, terutama ketika perusahaan memiliki hubungan dengan jutaan konsumen di berbagai negara. Namun, ia menekankan pentingnya menjaga jarak antara popularitas perusahaan dan pandangan seseorang terhadap dirinya sendiri. Seorang pemimpin tidak boleh menganggap bahwa keberhasilan organisasi sepenuhnya merupakan hasil dari kehebatan pribadinya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Iger menggambarkan jabatan CEO sebagai sesuatu yang hanya dipinjam untuk sementara waktu. Seorang pemimpin bukan pemilik perusahaan dalam arti personal, melainkan pengelola yang bertanggung jawab menjaga dan mengembangkan organisasi selama masa jabatannya. Prinsipnya adalah menempatkan kepentingan Disney di atas kepentingan pribadi. Cara pandang tersebut membantu pemimpin memahami bahwa perusahaan memiliki sejarah panjang sebelum dirinya datang dan akan tetap berjalan setelah ia pergi. Tanggung jawab seorang CEO adalah memperkuat organisasi, bukan menjadikannya bergantung pada satu figur.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Untuk mempertahankan perspektif tersebut, Iger mengandalkan orang-orang yang berani memberikan masukan jujur. Ia mendorong anggota timnya untuk mengingatkan ketika dirinya mulai terlalu arogan, mengabaikan pendapat, atau memperlakukan orang lain dengan tidak semestinya. Ia juga mengakui pentingnya kehidupan pribadi dalam menjaga keseimbangan dan mengingatkan dirinya bahwa jabatan tidak menghapus tanggung jawab sehari-hari sebagai pasangan maupun orang tua. Pengalaman ini memperlihatkan bahwa kerendahan hati bukan sekadar sifat personal, tetapi juga mekanisme untuk menjaga kualitas pengambilan keputusan dan memastikan pemimpin tetap terhubung dengan kenyataan.<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\">Besarnya tanggung jawab seorang CEO<\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam surat yang disiapkannya untuk penerusnya, Iger menekankan bahwa seorang CEO perlu menyadari besarnya pengaruh yang dimiliki terhadap perusahaan. Disney telah beroperasi selama lebih dari satu abad, tetapi sejarah panjang tersebut tidak menghilangkan kemampuan seorang pemimpin untuk mengubah arah organisasi dengan cepat. Pengaruh itu dapat muncul melalui keputusan strategis, alokasi modal, perubahan prioritas, maupun cara seorang CEO berkomunikasi dengan karyawan. Bahkan, ucapan atau tindakan yang tampaknya sederhana dapat memengaruhi cara seluruh organisasi memahami hal-hal yang dianggap penting.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kesadaran terhadap besarnya pengaruh tersebut seharusnya mendorong pemimpin untuk bertindak lebih bertanggung jawab. Keputusan seorang CEO tidak hanya memengaruhi kinerja keuangan, tetapi juga kehidupan karyawan, hubungan dengan mitra bisnis, dan reputasi perusahaan di mata masyarakat. Karena itu, kewenangan yang besar harus disertai kesediaan untuk mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang. Pemimpin perlu memahami bahwa perubahan yang dilakukannya dapat memberikan dampak jauh melampaui masa jabatan yang dimilikinya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pengalaman Iger di Disney menunjukkan bahwa kepemimpinan yang efektif membutuhkan kemampuan menggabungkan keberanian mengambil keputusan dengan kesadaran terhadap tanggung jawab. CEO harus mampu menentukan arah, tetapi juga mendengarkan orang lain; mendorong inovasi, tetapi tetap menjaga kualitas; serta bertindak cepat, tetapi tidak mengabaikan masa depan. Pada akhirnya, keberhasilan seorang pemimpin bukan hanya ditentukan oleh apa yang berhasil dicapainya selama menjabat. Keberhasilan juga terlihat dari kemampuan organisasi untuk terus berkembang setelah ia meninggalkan posisinya.<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\">Kepemimpinan adalah tentang menyiapkan masa depan<\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perjalanan Bob Iger di Disney memberikan gambaran mengenai kompleksitas memimpin perusahaan besar di tengah perubahan. Pengalamannya memperlihatkan pentingnya memperbaiki bisnis inti, menjaga warisan tanpa menghambat inovasi, membangun budaya kolaboratif, dan memberikan ruang bagi kreativitas. Ia juga menunjukkan bahwa pengelolaan waktu, kemampuan menghadapi krisis, dan proses suksesi merupakan bagian penting dari tanggung jawab seorang CEO. Semua aspek tersebut saling berkaitan karena strategi yang baik membutuhkan organisasi yang mampu melaksanakannya secara konsisten.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bagi perusahaan di berbagai sektor, salah satu pelajaran utama dari pengalaman Iger adalah bahwa masa lalu dapat menjadi sumber kekuatan sekaligus potensi hambatan. Sejarah dan reputasi memberikan identitas yang membedakan perusahaan dari pesaingnya, tetapi keduanya tidak boleh membuat organisasi kehilangan kemampuan untuk menyesuaikan diri. Inovasi membutuhkan keberanian untuk mengevaluasi praktik lama, menerima gagasan baru, dan mengambil risiko yang diperhitungkan. Pada saat yang sama, perubahan harus tetap diarahkan oleh standar kualitas, disiplin dalam penggunaan sumber daya, dan pemahaman yang jelas mengenai tujuan perusahaan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Seorang pemimpin yang baik bukanlah orang yang membuat perusahaan bergantung selamanya pada dirinya. Ia adalah orang yang mampu memperkuat organisasi, mengembangkan orang-orang di dalamnya, dan menyiapkan arah yang dapat diteruskan oleh generasi pemimpin berikutnya. Pengaruh seorang CEO memang dapat mengubah perusahaan dalam waktu singkat, tetapi kualitas kepemimpinan yang sesungguhnya terlihat dari kemampuan membangun keberlanjutan. Dalam konteks itulah, pengalaman Bob Iger menunjukkan bahwa memimpin bukan hanya tentang membawa perusahaan menuju keberhasilan hari ini, melainkan juga memastikan perusahaan memiliki kemampuan untuk menghadapi hari esok.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge &#8211; Strategy) Robert A. Iger, yang dikenal sebagai Bob Iger, merupakan salah satu pemimpin bisnis yang memiliki pengaruh besar dalam perjalanan The Walt Disney Company. Selama memimpin perusahaan hiburan tersebut, ia menghadapi berbagai tantangan, mulai dari memperbarui bisnis animasi, menjaga relevansi merek legendaris, hingga mengelola perubahan organisasi dan mempersiapkan pergantian kepemimpinan. Pengalamannya menunjukkan bahwa memimpin perusahaan besar bukan sekadar meningkatkan pendapatan atau mengawasi kegiatan operasional. Seorang CEO juga harus mampu menentukan arah perubahan, membangun budaya organisasi, dan memastikan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":32,"featured_media":208192,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[19],"tags":[425],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/220618"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/32"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=220618"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/220618\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":220619,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/220618\/revisions\/220619"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/208192"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=220618"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=220618"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=220618"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}