{"id":220552,"date":"2026-10-12T09:50:58","date_gmt":"2026-10-12T02:50:58","guid":{"rendered":"https:\/\/www.blj.co.id\/?p=220552"},"modified":"2026-10-12T09:50:58","modified_gmt":"2026-10-12T02:50:58","slug":"mengapa-ketidakstabilan-ekonomi-global-semakin-sulit-dikendalikan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2026\/10\/12\/mengapa-ketidakstabilan-ekonomi-global-semakin-sulit-dikendalikan\/","title":{"rendered":"Mengapa Ketidakstabilan Ekonomi Global Semakin Sulit Dikendalikan?"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge -Essay on Global) Ekonomi dunia sedang menghadapi persoalan yang jauh lebih kompleks daripada sekadar pelemahan mata uang atau perubahan arah suku bunga bank sentral. Di balik tekanan terhadap rupiah, penguatan dolar Amerika Serikat, dan meningkatnya biaya pembiayaan, terdapat persoalan struktural yang saling berkaitan: akumulasi utang, ketidakseimbangan perdagangan internasional, perlambatan produktivitas, serta semakin dominannya transaksi keuangan dalam pergerakan kapital global. Kombinasi berbagai faktor tersebut membuat perekonomian internasional semakin rentan terhadap guncangan yang dapat menyebar dengan cepat melintasi batas negara.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam situasi seperti ini, negara berkembang menghadapi dilema yang tidak sederhana. Mereka membutuhkan investasi asing untuk mempercepat pembangunan, tetapi pada saat yang sama harus menghadapi arus modal yang dapat berubah arah mengikuti keputusan investor global. Mereka memerlukan suku bunga yang cukup menarik untuk menjaga kepercayaan pasar, tetapi biaya pembiayaan yang tinggi dapat menekan investasi domestik dan pertumbuhan ekonomi. Persoalan tersebut menunjukkan bahwa ketidakstabilan ekonomi internasional bukan sekadar masalah pasar keuangan, melainkan juga menyangkut bagaimana sistem ekonomi global membagi modal, risiko, dan peluang pertumbuhan.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\">Dominasi Dolar dan Dampak Kebijakan Ekonomi Amerika Serikat<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Penguatan dolar Amerika Serikat menjadi salah satu saluran utama yang menyalurkan tekanan ekonomi global ke negara-negara lain. Dalam diskusi ekonomi yang menjadi dasar artikel ini, tekanan terhadap rupiah dibahas bersama dengan pelemahan mata uang negara berkembang lainnya, termasuk rupee India dan peso Filipina. Gambaran tersebut memperlihatkan bahwa tekanan nilai tukar tidak selalu mencerminkan kelemahan domestik suatu negara. Sebagian tekanan dapat berasal dari perubahan kondisi keuangan internasional, terutama ketika imbal hasil aset berdenominasi dolar menjadi lebih menarik dibandingkan instrumen di negara lain.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketika suku bunga dan imbal hasil obligasi Amerika Serikat meningkat, investor memiliki insentif untuk menempatkan dana pada aset yang dianggap menawarkan kombinasi risiko dan keuntungan lebih baik. Arus modal dapat bergeser dari negara berkembang menuju pasar Amerika Serikat, sehingga permintaan terhadap dolar meningkat dan mata uang negara asal investor mengalami tekanan. Negara berkembang kemudian harus menghadapi konsekuensi dari keputusan kebijakan yang sebagian besar ditentukan di luar yurisdiksinya sendiri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Masalahnya menjadi lebih rumit karena Amerika Serikat juga menghadapi kebutuhan pembiayaan pemerintah yang besar. Defisit anggaran mengharuskan pemerintah terus menerbitkan surat utang untuk memenuhi kebutuhan belanja dan membiayai kewajiban yang jatuh tempo. Jika imbal hasil obligasi bertahan tinggi, penerbitan utang baru dan pembiayaan kembali utang lama berpotensi menjadi semakin mahal. Dalam skala global, kebutuhan pembiayaan yang besar dapat meningkatkan persaingan untuk memperoleh dana dan mempertahankan tekanan terhadap tingkat bunga.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bagi Indonesia, pengaruh tersebut terasa melalui nilai tukar, biaya pembiayaan, dan persepsi investor terhadap risiko. Pelemahan rupiah dapat meningkatkan harga barang impor, khususnya komoditas atau bahan baku yang dibeli menggunakan dolar. Jika kenaikan biaya impor diteruskan ke harga jual, tekanan nilai tukar dapat berkembang menjadi inflasi impor. Pada saat yang sama, perusahaan yang memiliki kewajiban dalam valuta asing menghadapi beban pembayaran yang lebih besar dalam rupiah. Karena itu, stabilitas nilai tukar bukan hanya persoalan moneter, tetapi juga berkaitan dengan daya beli masyarakat, kesehatan perusahaan, dan kesinambungan pertumbuhan ekonomi.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\">Dunia Memasuki Periode Suku Bunga Tinggi Lebih Lama<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Salah satu gagasan penting dalam diskusi tersebut adalah kemungkinan berlangsungnya periode <em>higher for longer<\/em>, yakni kondisi ketika suku bunga bertahan tinggi lebih lama daripada yang diharapkan pelaku pasar. Kondisi ini dapat muncul karena kebutuhan pembiayaan pemerintah dan korporasi tetap besar, sementara kemampuan ekonomi menghasilkan pertumbuhan dan tabungan belum tentu meningkat sejalan dengan kebutuhan dana.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam mekanisme pasar keuangan, penerbitan obligasi yang meningkat berarti pasar harus menyerap pasokan surat utang yang lebih besar. Jika permintaan investor tidak bertambah dalam proporsi yang sama, harga obligasi dapat turun dan imbal hasilnya naik. Kenaikan imbal hasil kemudian memengaruhi biaya pendanaan bagi penerbit baru maupun pihak yang harus membiayai kembali utang lama. Dampaknya tidak berhenti pada pemerintah, tetapi juga menjalar ke perusahaan, lembaga keuangan, dan rumah tangga.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Suku bunga yang tinggi memang dapat membantu mengendalikan tekanan inflasi dan mempertahankan daya tarik mata uang. Namun, kebijakan tersebut juga memiliki biaya ekonomi. Perusahaan dapat menunda ekspansi karena biaya modal meningkat, rumah tangga mengurangi pembelian yang dibiayai kredit, dan pemerintah harus menyediakan dana lebih besar untuk membayar bunga. Jika kondisi berlangsung lama, pertumbuhan investasi dan permintaan agregat dapat melemah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Negara berkembang berada dalam posisi yang sulit karena tidak selalu memiliki ruang kebijakan yang luas. Mempertahankan suku bunga rendah ketika tekanan terhadap mata uang meningkat dapat memperbesar risiko arus modal keluar. Sebaliknya, menaikkan suku bunga untuk menjaga daya tarik aset domestik dapat mempermahal kredit dan menekan kegiatan ekonomi. Pilihan kebijakan pada akhirnya bergantung pada kondisi inflasi, struktur utang, cadangan devisa, kredibilitas institusi, serta ketahanan sektor keuangan masing-masing negara.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\">Finansialisasi dan Ketidakseimbangan Ekonomi Dunia<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Persoalan global lainnya adalah meningkatnya peran transaksi keuangan dibandingkan aktivitas ekonomi yang secara langsung mendukung perdagangan dan produksi. Finansialisasi pada dasarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya negatif. Pasar keuangan memungkinkan perusahaan memperoleh modal, investor mengelola risiko, dan pelaku perdagangan internasional melakukan pembayaran lintas mata uang. Sistem keuangan yang berkembang dengan baik merupakan bagian penting dari ekonomi modern.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun, persoalan muncul apabila pertumbuhan transaksi finansial semakin terlepas dari perkembangan sektor produktif. Kapital dapat berpindah dari satu instrumen ke instrumen lain untuk mengejar keuntungan jangka pendek, sementara investasi pada kapasitas produksi, teknologi, dan tenaga kerja tidak berkembang sebanding. Jika pembiayaan terlalu bergantung pada utang dan harga aset terus meningkat tanpa ditopang arus pendapatan yang memadai, sistem keuangan dapat menjadi rentan terhadap perubahan sentimen.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Penggunaan leverage atau dana pinjaman dapat memperbesar keuntungan ketika harga aset meningkat. Akan tetapi, mekanisme yang sama juga memperbesar kerugian ketika harga bergerak berlawanan. Perusahaan dengan utang tinggi dapat mengalami kesulitan ketika pendapatan turun atau biaya pembiayaan naik. Apabila tekanan tersebut terjadi secara bersamaan pada banyak perusahaan atau sektor, penjualan aset untuk memenuhi kewajiban dapat menekan harga lebih jauh dan menciptakan lingkaran tekanan keuangan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketidakseimbangan perdagangan internasional turut memperumit persoalan ini. Dalam diskusi tersebut, Tiongkok dibahas sebagai contoh negara yang selama bertahun-tahun mengandalkan ekspor sebagai salah satu penggerak pertumbuhan, sementara negara lain menjadi pasar bagi produk-produknya. Surplus perdagangan menghasilkan akumulasi pendapatan dari luar negeri yang kemudian dapat ditempatkan kembali pada aset keuangan internasional, termasuk surat utang pemerintah negara lain.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pola tersebut menggambarkan bagaimana arus perdagangan dan arus keuangan saling berhubungan. Negara yang mengalami surplus dapat menjadi pemasok modal bagi negara yang membutuhkan pembiayaan. Namun, hubungan itu juga menciptakan ketergantungan timbal balik. Negara eksportir bergantung pada permintaan pasar luar negeri, sedangkan negara pengimpor dapat bergantung pada aliran modal untuk membiayai defisitnya. Jika pola perdagangan atau keputusan investasi berubah tajam, dampaknya dapat menjalar ke pasar valuta asing, obligasi, dan aktivitas produksi di berbagai negara.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\">Utang Bukan Masalah Utama, Produktivitas dan Institusi Menentukan<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Besarnya utang sering digunakan sebagai indikator untuk menilai risiko ekonomi suatu negara. Rasio utang terhadap produk domestik bruto atau PDB memang penting, tetapi tidak cukup untuk menjelaskan apakah suatu negara akan mengalami krisis. Utang dapat menjadi instrumen yang produktif apabila digunakan untuk membiayai investasi yang meningkatkan kapasitas ekonomi dan menghasilkan pendapatan yang cukup untuk memenuhi kewajiban pada masa depan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Masalah muncul ketika pertumbuhan ekonomi melemah sementara biaya pembayaran utang meningkat. Dalam kondisi seperti itu, pemerintah dan perusahaan dapat menghadapi tekanan karena pendapatan tidak tumbuh secepat kewajiban finansial. Perbandingan antara tingkat bunga dan pertumbuhan ekonomi menjadi relevan untuk memahami dinamika tersebut. Jika biaya utang terus melampaui pertumbuhan pendapatan, mempertahankan keberlanjutan utang akan semakin sulit, terutama apabila tidak ada perbaikan produktivitas atau penyesuaian fiskal yang memadai.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Diskusi tersebut juga menekankan bahwa kapasitas institusi dapat lebih menentukan daripada satu angka rasio utang. Negara dengan tata kelola yang kuat, sistem perpajakan yang efektif, pengelolaan anggaran yang disiplin, serta kemampuan menjalankan proyek secara produktif memiliki peluang lebih baik untuk mengelola kewajibannya. Sebaliknya, negara dengan rasio utang relatif rendah pun dapat menghadapi krisis apabila institusinya lemah, pendapatannya tidak stabil, atau kepercayaan investor terhadap kebijakannya menurun.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Karena itu, perdebatan mengenai batas rasio utang tertentu tidak seharusnya menggantikan penilaian menyeluruh terhadap kualitas pengelolaan ekonomi. Pertanyaan yang lebih penting adalah untuk apa utang digunakan, seberapa besar hasil ekonomi yang dihasilkan, bagaimana kemampuan negara memperoleh pendapatan, dan apakah institusi mampu memastikan bahwa dana digunakan secara efektif. Utang yang membiayai kapasitas produksi memiliki karakter berbeda dari utang yang terus bertambah tanpa menghasilkan sumber pendapatan baru.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\">Perlambatan Produktivitas dan Tantangan Pertumbuhan Global<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pertumbuhan ekonomi dunia juga menghadapi persoalan produktivitas. Dalam diskusi tersebut, perlambatan pertumbuhan Tiongkok digunakan untuk menggambarkan perubahan yang dialami ekonomi besar setelah melewati periode ekspansi yang sangat cepat. Pertumbuhan tinggi pada tahap awal industrialisasi dapat ditopang oleh perpindahan tenaga kerja ke sektor modern, pembangunan infrastruktur, investasi besar, serta ekspansi ekspor. Namun, seiring meningkatnya tingkat pembangunan, mempertahankan laju pertumbuhan yang sama menjadi semakin sulit.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketika produktivitas tidak lagi meningkat secepat sebelumnya, tambahan investasi belum tentu menghasilkan tambahan output dengan besaran yang sama. Jika pemerintah atau perusahaan terus menambah utang untuk mengejar pertumbuhan lama tanpa memperhitungkan penurunan hasil investasi, risiko pembiayaan dapat meningkat. Kondisi tersebut menjadi lebih berat apabila suku bunga global tetap tinggi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perubahan teknologi turut menghadirkan tantangan baru. Kecerdasan buatan dan robotika dapat meningkatkan produktivitas dengan mengurangi biaya dan mempercepat proses produksi. Namun, teknologi yang sama juga dapat menggantikan sebagian pekerjaan, terutama tugas yang bersifat rutin dan mudah distandardisasi. Negara yang mengandalkan tenaga kerja berbiaya rendah sebagai keunggulan utama perlu memikirkan bagaimana meningkatkan keterampilan pekerja agar investasi tidak hanya menciptakan fasilitas produksi yang semakin otomatis, tetapi juga menghasilkan kesempatan kerja bernilai tambah lebih tinggi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dari sudut pandang ekonomi internasional, perkembangan ini dapat mengubah pola investasi lintas negara. Perusahaan multinasional tidak lagi mempertimbangkan upah murah semata, tetapi juga kualitas tenaga kerja, infrastruktur, kepastian hukum, kedekatan dengan pasar, dan kemampuan mengadopsi teknologi. Negara yang gagal meningkatkan produktivitas berisiko kehilangan daya tarik investasi, bahkan apabila memiliki jumlah tenaga kerja yang besar.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\">Indonesia dan Strategi Menghadapi Ketidakpastian Global<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bagi Indonesia, tantangan ekonomi internasional menuntut pendekatan yang lebih luas daripada sekadar menjaga stabilitas rupiah atau merespons pergerakan suku bunga. Stabilitas makroekonomi tetap penting, tetapi harus menjadi fondasi bagi transformasi produktivitas dan penguatan daya saing. Disiplin fiskal diperlukan agar biaya pembayaran utang tidak menggerus ruang belanja pembangunan, sementara kebijakan moneter harus menjaga keseimbangan antara stabilitas harga, nilai tukar, dan pertumbuhan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam diskusi tersebut, keberlanjutan fiskal ditekankan bukan hanya sebagai persoalan besarnya defisit, melainkan kemampuan negara mengelola utang dan membayar kewajibannya tanpa mengorbankan kapasitas ekonomi. Pengawasan terhadap pembayaran bunga dibandingkan penerimaan negara menjadi penting karena kewajiban utang pada akhirnya harus dipenuhi dari pendapatan yang tersedia, bukan semata-mata dari besarnya PDB. Ruang fiskal yang memadai memungkinkan pemerintah menghadapi guncangan tanpa harus mengambil langkah mendadak yang semakin menekan kegiatan ekonomi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Indonesia juga perlu memperkuat kemampuannya menarik investasi asing langsung atau <em>foreign direct investment<\/em> (FDI). Investasi semacam ini dapat membawa modal, teknologi, jaringan pasar, dan kesempatan kerja. Namun, investor membutuhkan kepastian hukum, regulasi yang konsisten, infrastruktur yang memadai, serta kebijakan yang tidak berubah secara sewenang-wenang. Pemerintah perlu bertindak sebagai fasilitator yang menjaga persaingan sehat, bukan sekadar memilih perusahaan atau sektor tertentu sebagai pemenang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Investasi asing juga harus dihubungkan dengan pengembangan industri domestik. Tanpa keterkaitan dengan pemasok lokal, peningkatan keterampilan tenaga kerja, dan transfer teknologi, manfaat investasi berisiko terkonsentrasi pada kegiatan produksi tertentu. Sebaliknya, jika ekosistem usaha berkembang, investasi dapat memperkuat kapasitas ekspor, meningkatkan produktivitas, dan membantu Indonesia mengurangi ketergantungan pada arus modal portofolio yang lebih mudah berbalik arah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada saat yang sama, Indonesia perlu mengembangkan keunggulan komparatif yang sesuai dengan kondisi geografis dan struktur ekonominya. Biaya logistik antarpulau, mobilitas tenaga kerja, kualitas pendidikan, dan skala usaha merupakan faktor yang memengaruhi daya saing. Keunggulan tidak cukup dibangun melalui upah rendah atau kelimpahan sumber daya alam. Negara perlu meningkatkan kualitas sumber daya manusia, memperbaiki konektivitas, memperkuat industri pengolahan, dan menciptakan kondisi yang memungkinkan perusahaan domestik tumbuh menjadi bagian dari rantai nilai global.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\">Dari Reformasi Menuju Transformasi Ekonomi<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketidakpastian global juga menuntut perubahan cara pemerintah merancang kebijakan. Reformasi regulasi penting, tetapi perubahan aturan saja belum tentu menghasilkan transformasi ekonomi. Kebijakan perlu disertai eksperimen yang terukur, evaluasi hasil, dan kesediaan memperbaiki pendekatan apabila hasilnya tidak sesuai harapan. Dalam dunia yang ditandai perubahan teknologi, persaingan geopolitik, dan pergeseran arus modal, kebijakan yang efektif pada masa lalu belum tentu menghasilkan dampak yang sama pada masa depan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kerja sama pemerintah dan sektor swasta dapat menjadi salah satu instrumen untuk memperluas investasi produktif, termasuk di sektor pertanian dan infrastruktur. Pemerintah dapat menyediakan kepastian regulasi, fasilitas dasar, dan kerangka pengawasan, sementara sektor swasta membawa modal, teknologi, serta kemampuan operasional. Model kemitraan semacam ini harus dibangun dengan pembagian risiko yang jelas dan mekanisme akuntabilitas yang kuat agar tidak sekadar memindahkan beban investasi kepada negara.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Transformasi juga membutuhkan dialog yang lebih terbuka antara pembuat kebijakan, ekonom, pelaku usaha, dan masyarakat. Persoalan ekonomi global semakin sulit dipahami hanya melalui satu indikator atau satu model. Nilai tukar, arus modal, produktivitas, teknologi, dan institusi saling memengaruhi dengan cara yang tidak selalu dapat diprediksi secara tepat. Forum dialog yang rutin dapat membantu pemerintah menguji asumsi kebijakan, mempertimbangkan alternatif, dan mengidentifikasi risiko sebelum berkembang menjadi krisis.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dunia tidak sedang menghadapi satu persoalan tunggal, melainkan rangkaian tekanan yang saling memperkuat. Utang yang meningkat, suku bunga yang bertahan tinggi, ketidakseimbangan perdagangan, dan perlambatan produktivitas dapat menciptakan lingkungan ekonomi yang lebih rentan terhadap guncangan. Negara yang mampu bertahan bukan selalu negara dengan utang paling kecil atau mata uang paling kuat, melainkan negara yang memiliki institusi kredibel, produktivitas yang berkembang, dan kapasitas kebijakan untuk beradaptasi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bagi Indonesia, pelajaran terpentingnya adalah bahwa ketahanan terhadap gejolak internasional tidak dapat dibangun hanya melalui intervensi pasar valuta asing atau penyesuaian suku bunga. Ketahanan harus berakar pada ekonomi yang mampu menghasilkan nilai tambah, memperluas basis penerimaan negara, menarik investasi berkualitas, dan meningkatkan kemampuan tenaga kerja. Dalam dunia yang semakin terhubung secara finansial, kekuatan ekonomi nasional pada akhirnya ditentukan oleh kemampuan mengubah modal menjadi produktivitas dan mengubah ketidakpastian menjadi alasan untuk mempercepat transformasi.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge -Essay on Global) Ekonomi dunia sedang menghadapi persoalan yang jauh lebih kompleks daripada sekadar pelemahan mata uang atau perubahan arah suku bunga bank sentral. Di balik tekanan terhadap rupiah, penguatan dolar Amerika Serikat, dan meningkatnya biaya pembiayaan, terdapat persoalan struktural yang saling berkaitan: akumulasi utang, ketidakseimbangan perdagangan internasional, perlambatan produktivitas, serta semakin dominannya transaksi keuangan dalam pergerakan kapital global. Kombinasi berbagai faktor tersebut membuat perekonomian internasional semakin rentan terhadap guncangan yang dapat menyebar dengan cepat melintasi batas negara. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":101029,"featured_media":220138,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[2512,1762],"tags":[13835],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/220552"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/101029"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=220552"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/220552\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":220553,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/220552\/revisions\/220553"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/220138"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=220552"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=220552"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=220552"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}