{"id":220464,"date":"2026-10-05T18:03:44","date_gmt":"2026-10-05T11:03:44","guid":{"rendered":"https:\/\/www.blj.co.id\/?p=220464"},"modified":"2026-10-05T18:48:55","modified_gmt":"2026-10-05T11:48:55","slug":"dari-jakarta-ke-colombo-menyusuri-wajah-sri-lanka","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2026\/10\/05\/dari-jakarta-ke-colombo-menyusuri-wajah-sri-lanka\/","title":{"rendered":"Dari Jakarta ke Colombo, Menyusuri Wajah Sri Lanka"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge &#8211; Travel) Perjalanan ke Sri Lanka kali ini dimulai dengan sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu menyenangkan, menunggu pesawat yang terlambat. Rencana awal seharusnya boarding sekitar pukul 14.30, tetapi waktu terus berjalan dan penumpang belum juga dipersilakan naik. Hampir dua jam berlalu. Di sekitar gate, suasana mulai berubah. Sebagian penumpang terlihat gelisah, beberapa mulai bertanya kepada petugas, sementara petugas maskapai tampak sibuk menjawab berbagai pertanyaan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun, dari situ justru terlihat bahwa perjalanan menuju Sri Lanka bukan hanya perjalanan wisata biasa. Banyak penumpang yang menggunakan Colombo sebagai titik transit menuju berbagai tujuan lain. Ada yang hendak menuju Dubai, Pakistan, Maladewa, dan sejumlah negara lainnya. Bagi sebagian orang, penerbangan dengan transit di Colombo menjadi pilihan karena harganya lebih murah dibandingkan penerbangan langsung.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Seorang penumpang yang sempat berbincang menjelaskan bahwa transit di Colombo sering dianggap cukup menarik karena tidak terlalu lama. Dari Jakarta, perjalanan memang menjadi lebih panjang dibandingkan penerbangan langsung, tetapi perbedaan harga menjadi pertimbangan tersendiri. Dari percakapan sederhana di ruang tunggu itu, saya mulai menangkap satu hal: Colombo bukan hanya kota tujuan, tetapi juga semakin penting sebagai simpul perjalanan di kawasan Asia Selatan.<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\">Satu Jam Menunggu, Akhirnya Terbang Juga<\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menunggu pesawat selama hampir satu jam ternyata cukup untuk membuat suasana di gate berubah. Ada yang mulai bosan, ada yang bertanya-tanya mengenai perpindahan gate, dan ada pula yang terlihat mulai panik karena khawatir jadwal perjalanan berikutnya ikut terganggu. Bahkan sempat terjadi perpindahan dari gate 1 ke gate 3, sehingga sebagian penumpang harus kembali mencari informasi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pengalaman pertama menuju Sri Lanka akhirnya dibuka dengan penantian yang cukup panjang. Namun, begitu pesawat akhirnya dipersilakan naik, rasa kesal perlahan hilang. Saya berbicara dengan salah seorang pramugari dan mengatakan bahwa ini merupakan perjalanan pertama saya ke Sri Lanka. Ia tersenyum menyambut percakapan sederhana itu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di dalam pesawat, perjalanan terasa seperti benar-benar memasuki babak baru. Sri Lanka yang selama ini lebih sering saya kenal melalui teh, rempah, kriket, dan gambar-gambar pantai tropis, kini akan saya lihat secara langsung. Rekaman perjalanan ini kemudian membawa saya dari pengalaman sebagai penumpang menjadi seorang pelancong yang mencoba memahami sebuah negeri dari dekat.<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\">Colombo, Kota Transit yang Terus Bertumbuh<\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sesampainya di Sri Lanka, saya berbincang dengan orang-orang yang memiliki pengalaman bekerja dan bepergian antara Sri Lanka dengan negara lain. Dari percakapan tersebut muncul cerita menarik tentang masyarakat Sri Lanka yang banyak bekerja di luar negeri, terutama di kawasan Timur Tengah, Eropa, Amerika Serikat, dan Australia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Salah satu alasannya adalah pendidikan. Sri Lanka dikenal memiliki tradisi pendidikan yang cukup kuat, sehingga banyak orang memiliki keterampilan profesional yang dibutuhkan di luar negeri. Namun, persoalan gaji membuat sebagian lulusan memilih mencari pekerjaan di negara lain. Fenomena ini ternyata memiliki kemiripan dengan Indonesia, ketika sebagian orang yang telah menempuh pendidikan tinggi melihat peluang yang lebih besar di luar negeri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dari cerita tersebut, Sri Lanka terasa seperti sebuah negeri yang sedang berada dalam perjalanan panjang untuk bangkit. Negara ini pernah mengalami konflik berkepanjangan dan krisis ekonomi, tetapi kehidupan sehari-harinya kini menunjukkan energi baru. Jalan-jalan kembali dipenuhi kendaraan, pusat kota bergerak, hotel-hotel baru bermunculan, dan sektor pariwisata terus dikembangkan.<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\">Colombo dan Cerita Kota yang Dibangun dari Laut<\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perjalanan berkeliling Colombo membawa saya melihat kota dari sudut yang berbeda. Salah satu kawasan yang menarik perhatian adalah Port City, sebuah kawasan reklamasi yang dikembangkan dari daratan hasil reklamasi laut. Dalam penjelasan pemandu, kawasan tersebut memiliki luas sekitar 560 acre dan diproyeksikan menjadi salah satu kawasan baru yang akan memberikan wajah berbeda bagi Colombo.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pembangunan kawasan baru tersebut berjalan berdampingan dengan gedung-gedung lama peninggalan kolonial. Di satu sisi terlihat hotel-hotel modern, gedung tinggi, dan pusat bisnis. Di sisi lain masih berdiri bangunan yang menyimpan cerita panjang tentang masa Portugis, Belanda, dan Inggris.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perubahan itu juga terlihat dari perkembangan industri perhotelan. Hotel-hotel besar seperti Cinnamon Life dan ITC Ratnadipa menjadi bagian dari wajah baru Colombo. Kehadiran hotel dengan kapasitas besar sangat berkaitan dengan berkembangnya perjalanan bisnis, konferensi, pameran, dan kegiatan MICE di Sri Lanka. Colombo sedang berusaha menjadi kota yang bukan hanya menarik wisatawan, tetapi juga menarik berbagai pertemuan internasional.<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\">Menyusuri Jejak Kolonial Colombo<\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\">Salah satu hal yang paling menarik dari perjalanan ini adalah bagaimana sejarah kolonial masih terasa kuat di tengah kota modern. Ada bangunan tua, jalan-jalan lama, kawasan pelabuhan, hingga arsitektur yang memperlihatkan pengaruh Portugis, Belanda, dan Inggris. Pemandu menjelaskan bahwa Portugis datang ke Sri Lanka pada awal abad ke-16, kemudian Belanda, dan setelah itu Inggris. Jejak pergantian kekuasaan tersebut masih dapat dilihat di sejumlah kawasan Colombo. Salah satunya adalah Old Parliament yang dibangun pada masa Inggris dengan pengaruh arsitektur Eropa klasik.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bangunan-bangunan tua itu tidak hanya menjadi latar foto. Mereka menjadi semacam arsip terbuka mengenai bagaimana Colombo tumbuh sebagai kota pelabuhan. Di kawasan dekat pelabuhan, dahulu berbagai kebutuhan kapal dan pelaut juga berkumpul. Ada kantor pos, fasilitas perdagangan, toko, hingga berbagai layanan yang dibutuhkan para pendatang. Karena itu, berjalan di Colombo terasa seperti membaca beberapa halaman sejarah sekaligus. Dalam jarak yang tidak terlalu jauh, kita bisa menemukan bangunan kolonial, pelabuhan internasional, pusat perdagangan, gedung pemerintahan, hotel modern, dan kawasan reklamasi baru.<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\">Colombo Fort, Jantung Perdagangan Lama<\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perjalanan kemudian membawa saya menuju Colombo Fort. Kawasan ini memiliki sejarah panjang dan pada awalnya dikembangkan oleh Portugis sebelum kemudian dikuasai Belanda. Nama Fort sendiri berkaitan dengan sistem pertahanan yang pernah dibangun di kawasan tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kini, kawasan itu menjadi bagian penting dari kehidupan Colombo. Pelabuhan yang berada tidak jauh dari kawasan ini membuat aktivitas perdagangan dan perjalanan laut menjadi bagian penting dari denyut kota. Kapal pesiar juga datang membawa wisatawan yang kemudian menghabiskan beberapa hari di Sri Lanka sebelum melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya. Dari sini saya semakin memahami mengapa posisi Colombo begitu penting. Kota ini bukan sekadar ibu kota ekonomi atau pusat bisnis, tetapi juga pintu masuk ke sebuah pulau yang sejak dahulu menjadi persinggahan perdagangan internasional.<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\">Dari Pelabuhan ke Kota yang Multikultural<\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\">Salah satu kesan kuat dari perjalanan di Colombo adalah keberagaman penduduknya. Dalam penjelasan pemandu, Colombo merupakan kota yang sangat multikultural dan multiagama. Berbagai kelompok masyarakat hidup berdampingan dan membentuk karakter kota yang berbeda dari sekadar gambaran Sri Lanka sebagai negara dengan mayoritas penduduk Buddha.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pemandu juga menjelaskan komposisi agama dan komunitas Sri Lanka, termasuk kelompok Buddha, Hindu, Muslim, dan Kristen. Keberagaman tersebut terlihat dalam kehidupan kota, mulai dari bangunan keagamaan, bahasa, makanan, hingga kebiasaan sehari-hari. Bahasa juga menjadi bagian menarik dari perjalanan. Sinhala menjadi salah satu bahasa utama, sementara Tamil juga digunakan secara luas. Ada sejumlah kemiripan kosakata dengan bahasa-bahasa di kawasan Asia Selatan, sesuatu yang menunjukkan betapa panjangnya hubungan budaya di wilayah ini.<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\">Lotus Tower dan Ambisi Colombo Modern<\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\">Salah satu ikon baru yang tidak mungkin dilewatkan adalah Lotus Tower. Menjulang sekitar 350 meter, menara ini menjadi salah satu bangunan paling mencolok di Colombo. Dari kejauhan, bentuknya langsung menarik perhatian dan menjadi penanda visual kota yang sedang berubah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut penjelasan pemandu, pembangunan menara tersebut berkaitan dengan kebutuhan komunikasi setelah Sri Lanka mengalami bencana tsunami besar pada 2004. Saat itu sistem komunikasi mengalami gangguan besar. Gagasan mengenai sebuah menara komunikasi yang mampu membantu menghubungkan wilayah-wilayah di negara tersebut kemudian menjadi bagian dari latar pembangunan Lotus Tower. Kami diberi waktu untuk turun dan berjalan sebentar di sekitar kawasan tersebut. Hanya sekitar 15 menit, tetapi cukup untuk mengambil foto, melihat suasana, dan menikmati pemandangan sekitar. Di tempat seperti ini, perjalanan terasa bukan sekadar berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain, melainkan melihat bagaimana sebuah kota mencoba membangun simbol masa depannya.<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\">Dari Krisis dan Konflik Menuju Kota yang Lebih Terbuka<\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perjalanan di Colombo juga membawa saya pada cerita yang lebih serius tentang masa lalu Sri Lanka. Negara ini pernah mengalami konflik yang berlangsung selama puluhan tahun. Menurut penjelasan pemandu, perang berakhir pada 2009 dan setelah itu proses pembangunan kembali dilakukan secara bertahap.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hal tersebut terasa penting karena Colombo yang terlihat hari ini ternyata tidak selalu seperti ini. Pemandu bercerita bahwa pada masa konflik, perjalanan di dalam kota jauh lebih terbatas. Pemeriksaan kendaraan, barikade, dan berbagai pembatas keamanan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kini, wisatawan dapat bergerak lebih bebas. Jalan-jalan dipenuhi kendaraan, restoran dan hotel berkembang, pusat perbelanjaan bermunculan, dan wisatawan dari berbagai negara datang. Bagi masyarakat lokal, perubahan tersebut bukan sekadar perkembangan sektor pariwisata, tetapi juga tanda bahwa kehidupan telah bergerak melewati masa yang sulit.<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\">Teh, Kayu Manis, dan Batu Mulia<\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jika Sri Lanka disebut, ada beberapa hal yang langsung muncul dalam ingatan banyak orang: teh, kayu manis, dan batu mulia. Ketiganya memiliki tempat penting dalam cerita tentang negeri ini. Pemandu menjelaskan bahwa kayu manis Sri Lanka memiliki karakter aroma dan rasa yang berbeda. Komoditas tersebut bahkan menjadi salah satu barang dagangan penting yang sejak masa lalu menarik perhatian para pedagang asing. Kemudian ada Ceylon Tea, nama yang sudah sangat dikenal di berbagai belahan dunia. Teh menjadi bagian penting dari identitas Sri Lanka dan sejarah ekonominya. Selain teh dan kayu manis, batu mulia juga menjadi salah satu produk yang membuat Sri Lanka dikenal.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketiga komoditas tersebut tidak berdiri sendiri. Mereka merupakan bagian dari sejarah perdagangan panjang Sri Lanka. Posisi pulau ini di jalur perdagangan membuatnya menjadi tempat persinggahan kapal dan pedagang sejak berabad-abad lalu. Pola angin dan musim bahkan membuat kapal-kapal pada masa lampau harus menunggu waktu tertentu sebelum melanjutkan perjalanan.<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\">Kota dengan Warisan Sejarah yang Panjang<\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ada satu hal yang terus muncul selama perjalanan: sejarah Sri Lanka ternyata jauh lebih panjang daripada yang terlihat dari bangunan-bangunan kolonialnya. Dalam penjelasan pemandu, para arkeolog masih menemukan bukti-bukti yang memperluas pemahaman tentang masa lalu pulau tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Cerita mengenai para pendatang dari India pada masa lampau juga menjadi bagian dari narasi sejarah Sri Lanka. Bahkan, menurut penjelasan pemandu, bukti arkeologis menunjukkan adanya jejak kehidupan yang jauh lebih tua dari kisah-kisah sejarah yang selama ini populer. Hal ini membuat Sri Lanka terasa seperti sebuah buku sejarah yang belum selesai ditulis. Setiap tempat memiliki lapisan cerita berbeda. Ada sejarah kuno, kerajaan, perdagangan, kolonialisme, konflik, pembangunan kembali, hingga modernisasi yang sedang berlangsung.<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\">Gratis Berobat dan Bersekolah<\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di tengah perjalanan, saya juga mendapatkan cerita mengenai sistem sosial Sri Lanka. Pemandu menjelaskan bahwa pendidikan dan layanan kesehatan pemerintah memiliki peran penting bagi masyarakat. Pendidikan hingga tingkat universitas negeri dapat diakses secara gratis bagi mereka yang memenuhi persyaratan akademik.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Penjelasan tersebut memberi gambaran lain tentang Sri Lanka yang jarang terlihat dalam brosur perjalanan. Di balik hotel, pantai, pusat perbelanjaan, dan bangunan kolonial, terdapat sebuah masyarakat yang memiliki sistem pendidikan dan kesehatan yang menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari. Perjalanan memang sering kali membuat kita hanya melihat sisi indah sebuah negara. Namun, percakapan dengan orang lokal membuat pengalaman menjadi lebih lengkap. Kita mulai melihat bukan hanya apa yang dijual kepada wisatawan, tetapi juga bagaimana masyarakat setempat menjalani kehidupan mereka.<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\">Independence Square dan Wajah Colombo yang Lebih Elegan<\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perjalanan berlanjut menuju Independence Square dan Independence Arcade. Kawasan ini memberikan suasana yang berbeda. Jika Colombo Fort terasa sangat komersial dan berhubungan erat dengan pelabuhan, Independence Square menghadirkan ruang terbuka, bangunan bersejarah, dan suasana yang lebih tenang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Independence Arcade merupakan bangunan bergaya kolonial yang telah dipugar dan kini digunakan sebagai kawasan komersial. Di sinilah wajah kelas atas Colombo terlihat lebih jelas. Ada berbagai toko dengan merek internasional, restoran, dan ruang publik yang terasa lebih modern. Pemandu menjelaskan bahwa kawasan tersebut berada di bagian Colombo yang banyak dihuni masyarakat kelas atas. Karena biaya sewa dan pajak cukup tinggi, toko-toko di kawasan ini juga menyasar konsumen dengan daya beli lebih tinggi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menariknya, Sri Lanka juga dikenal sebagai salah satu negara yang memproduksi pakaian untuk berbagai merek internasional. Namun, produk tersebut dapat kembali ke Sri Lanka dengan harga yang berbeda setelah melewati rantai perdagangan internasional. Bagi wisatawan, pengalaman berbelanja di Colombo akhirnya menjadi bagian lain dari cerita ekonomi negara ini.<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\">Dari Politik hingga Demonstrasi di Tengah Kota<\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\">Colombo juga memperlihatkan bahwa kehidupan sebuah ibu kota tidak pernah sepenuhnya tenang. Dalam perjalanan, kami sempat melihat adanya ketegangan antara demonstran dan polisi. Menurut penjelasan pemandu, aksi tersebut berkaitan dengan agenda politik dan rencana demonstrasi terhadap pemerintah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bagi wisatawan, pemandangan seperti itu bisa menjadi sesuatu yang mengejutkan. Namun, bagi kota besar, demonstrasi politik merupakan bagian dari dinamika kehidupan masyarakat. Yang menarik adalah bagaimana aktivitas kota tetap berjalan di sekitarnya. Tidak jauh dari situ, perjalanan kembali berlanjut menuju berbagai lokasi wisata dan fasilitas konferensi. Colombo memperlihatkan dua wajah sekaligus, kota dengan sejarah politik yang panjang dan kota yang terus berusaha membangun masa depan ekonomi baru.<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\">Colombo untuk Wisata Bisnis dan MICE<\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\">Salah satu fokus perjalanan ini adalah melihat Colombo bukan hanya sebagai destinasi wisata, tetapi juga sebagai kota untuk kegiatan bisnis, meeting, incentive, conference, and exhibition atau MICE. Salah satu fasilitas penting adalah BMICH atau Bandaranaike Memorial International Conference Hall. Gedung ini digunakan untuk berbagai konferensi, pameran, dan pertemuan dengan jumlah peserta besar. Saat kami berkunjung, sebuah kegiatan besar baru saja selesai sehingga area tersebut masih dalam proses pembersihan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pemandu menjelaskan bahwa Colombo semakin populer sebagai destinasi MICE karena memiliki hotel dengan kapasitas besar, fasilitas konferensi, pusat pameran, serta akses menuju berbagai kawasan wisata. Bahkan sejumlah hotel baru hadir untuk memenuhi kebutuhan rombongan besar dan acara internasional. Dari sisi perjalanan, konsep seperti ini menarik. Seseorang bisa datang ke Colombo untuk mengikuti konferensi, tetapi sekaligus mendapatkan pengalaman wisata. Setelah rapat selesai, perjalanan dapat dilanjutkan ke pusat kota, kawasan sejarah, restoran, pusat belanja, atau bahkan destinasi lain di Sri Lanka.<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\">Colombo yang Sibuk dan Bazar yang Apa Adanya<\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tidak semua bagian Colombo cocok dilalui bus besar. Ada kawasan bazar yang sangat padat, jalan yang sempit, lalu lintas yang sibuk, serta minim tempat parkir. Karena itu, pemandu menyarankan wisatawan yang ingin menjelajah kawasan tersebut menggunakan tuk-tuk.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bazar tersebut dikenal sebagai tempat mencari pakaian dengan harga murah. Suasananya sangat berbeda dari kawasan perbelanjaan kelas atas. Pedagang berteriak menawarkan barang, pengunjung berpindah dari satu toko ke toko lain, dan transaksi berlangsung dengan cepat. Pemandu bahkan menceritakan istilah lokal yang menggambarkan kualitas barang-barang murah di kawasan tersebut. Sebagian produk memang lebih cocok untuk penggunaan sesaat, terutama bagi orang yang membutuhkan pakaian murah atau ingin membeli sesuatu untuk diberikan kepada orang lain. Bagi saya, kawasan seperti ini justru menjadi bagian menarik dari perjalanan. Kota tidak hanya terdiri atas hotel mewah, gedung tinggi, dan pusat belanja modern. Wajah asli sebuah kota sering kali justru terlihat di pasar, jalan kecil, tuk-tuk, dan percakapan antara pedagang dengan pembeli.<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\">Colombo, Kota yang Terus Berubah<\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\">Setelah berkeliling, semakin terlihat bahwa Colombo sedang berada dalam fase perubahan besar. Gedung-gedung baru tumbuh berdampingan dengan bangunan kolonial. Kawasan reklamasi dibangun di dekat pelabuhan lama. Hotel-hotel baru hadir di antara kawasan bersejarah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun, Colombo tidak sepenuhnya meninggalkan masa lalu. Bangunan-bangunan tua tetap dipertahankan. Beberapa di antaranya bahkan dilindungi sebagai bangunan warisan sehingga fasad dan warnanya tidak boleh diubah sembarangan. Di satu sisi ada Lotus Tower yang melambangkan Colombo modern. Di sisi lain ada Old Parliament, Colombo Fort, Dutch Hospital, Independence Square, dan berbagai bangunan kolonial yang mengingatkan bahwa kota ini memiliki perjalanan sejarah yang panjang.<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\">Dari Jakarta hingga Menemukan Colombo<\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perjalanan yang dimulai dari keterlambatan pesawat akhirnya membawa saya pada pengalaman yang jauh lebih luas daripada sekadar mengunjungi sebuah negara baru. Dari ruang tunggu pesawat, percakapan dengan penumpang, hingga perjalanan menggunakan bus mengelilingi Colombo, setiap bagian memberikan cerita tersendiri. Sri Lanka yang terlihat dari perjalanan ini adalah negeri yang sedang bergerak. Pernah mengalami konflik panjang, mengalami krisis, dan menghadapi berbagai tantangan, tetapi perlahan membangun kembali dirinya melalui pariwisata, perdagangan, hotel, pendidikan, dan infrastruktur.Colombo menjadi gambaran paling jelas dari perubahan tersebut. Kota ini memiliki pelabuhan tua, bangunan kolonial, pasar yang ramai, kawasan elite, pusat konferensi, hotel modern, kawasan reklamasi, hingga menara komunikasi yang menjulang tinggi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dan mungkin justru di situlah daya tarik Sri Lanka. Sebuah pulau yang luasnya tidak terlalu besar, tetapi menyimpan begitu banyak cerita. Ada teh dan kayu manis, ada sejarah dan kolonialisme, ada agama dan budaya, ada kriket dan pariwisata, ada masa lalu yang berat sekaligus masa depan yang sedang dibangun. Perjalanan dari Jakarta menuju Colombo akhirnya bukan hanya perjalanan menuju tempat baru. Ia menjadi perjalanan untuk melihat bagaimana sebuah kota dan sebuah negara mencoba menulis bab berikutnya dari sejarahnya sendiri.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge &#8211; Travel) Perjalanan ke Sri Lanka kali ini dimulai dengan sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu menyenangkan, menunggu pesawat yang terlambat. Rencana awal seharusnya boarding sekitar pukul 14.30, tetapi waktu terus berjalan dan penumpang belum juga dipersilakan naik. Hampir dua jam berlalu. Di sekitar gate, suasana mulai berubah. Sebagian penumpang terlihat gelisah, beberapa mulai bertanya kepada petugas, sementara petugas maskapai tampak sibuk menjawab berbagai pertanyaan. Namun, dari situ justru terlihat bahwa perjalanan menuju Sri Lanka bukan hanya perjalanan wisata [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":32,"featured_media":220465,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[2725,1057],"tags":[13825],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/220464"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/32"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=220464"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/220464\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":220471,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/220464\/revisions\/220471"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/220465"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=220464"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=220464"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=220464"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}