{"id":220395,"date":"2026-10-01T11:09:04","date_gmt":"2026-10-01T04:09:04","guid":{"rendered":"https:\/\/www.blj.co.id\/?p=220395"},"modified":"2026-10-01T11:09:04","modified_gmt":"2026-10-01T04:09:04","slug":"konjic-bosnia-dan-jepara-indonesia-tradisi-ukir-kayu-menghadapi-tantangan-generasi-muda","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2026\/10\/01\/konjic-bosnia-dan-jepara-indonesia-tradisi-ukir-kayu-menghadapi-tantangan-generasi-muda\/","title":{"rendered":"Konjic Bosnia dan Jepara Indonesia: Tradisi Ukir Kayu Menghadapi Tantangan Generasi Muda"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge Journal &#8211; Foreign Insight)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tradisi ukir kayu tidak hanya berbicara tentang produk, tetapi juga tentang bagaimana sebuah masyarakat menjaga keterampilan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Di Bosnia dan Herzegovina, salah satu tradisi tersebut hidup di Konjic, sebuah kota yang dikenal dengan seni ukir kayunya dan telah mendapatkan pengakuan UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan pada 2017. Sementara di Indonesia, Jepara telah lama dikenal sebagai salah satu pusat industri dan kerajinan mebel serta ukir kayu. Meski berkembang dalam skala yang berbeda, keduanya menghadapi pertanyaan yang sama: bagaimana membuat generasi muda tetap tertarik pada keterampilan tradisional di tengah perubahan zaman?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam wawancara bersama Business Lounge Journal, Duta Besar Bosnia dan Herzegovina untuk Indonesia, H.E. Armin Limo, membagikan pandangannya mengenai tradisi Konjic woodcarving sekaligus pengalamannya melihat perkembangan industri kayu dan kerajinan di Jepara.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\">Konjic Woodcarving, Warisan yang Bertahan Lintas Generasi<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Konjic merupakan sebuah kota di Bosnia dan Herzegovina yang berada tidak jauh dari Sarajevo. Menurut Armin Limo, tradisi ukir kayu di wilayah tersebut telah berlangsung selama berabad-abad dan diwariskan dalam keluarga. Yang membuatnya menarik, tradisi ini berkembang dalam skala yang relatif kecil dibandingkan dengan Jepara.<\/p>\n<blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">Konjic is a small city close to Sarajevo, our capital,&#8221; ujar Armin Limo. Ia menjelaskan bahwa tradisi tersebut memiliki perpaduan pengaruh Ottoman, Mediterania, dan Balkan yang tercermin dalam desain serta motif ukirannya.<\/p>\n<\/blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">Konjic woodcarving secara resmi masuk dalam Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity UNESCO pada 2017. UNESCO menyebut tradisi ini memiliki identitas visual yang khas melalui motif ukiran tangan dan diterapkan antara lain pada furnitur, interior rumah, serta berbagai benda dekoratif. Pengetahuan dan keterampilannya diwariskan terutama melalui pelatihan langsung di workshop dan transmisi antargenerasi dalam keluarga.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bagi masyarakat Konjic, ukiran kayu bukan sekadar keterampilan menghasilkan produk. Tradisi tersebut menjadi bagian dari identitas komunitas dan kehidupan sehari-hari. Bahkan, UNESCO mencatat bahwa praktik ini memiliki fungsi sosial yang lebih luas, termasuk memperkuat rasa kesinambungan dan keterikatan masyarakat terhadap budaya lokal.<\/p>\n<blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">Only two families are involved in that woodcarving,&#8221; kata Armin. Kedua keluarga tersebut mempertahankan keterampilan yang diwariskan dari generasi sebelumnya. Namun, ia menegaskan bahwa tidak ada aturan yang membatasi kegiatan tersebut hanya kepada dua keluarga.<\/p>\n<\/blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dengan demikian, tantangannya bukan karena orang lain tidak diperbolehkan mempelajari atau menjalankan kerajinan tersebut. Persoalannya lebih berkaitan dengan minat dan pilihan generasi muda.<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\">Konjic dan Jepara: Sama-sama Mengukir, Berbeda Skala<\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menariknya, pengalaman Armin Limo di Jepara memberikan perspektif tersendiri mengenai perbedaan kedua tradisi tersebut. Ia pernah berkunjung ke Jepara sebagai tamu pemerintah daerah dan melihat langsung aktivitas industri kayu dan kerajinan di wilayah tersebut.<\/p>\n<blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">I visited your area here, Jepara,&#8221; ujarnya. Menurutnya, skala aktivitas woodcarving di Jepara sangat besar. Ia melihat banyak toko kerajinan, berbagai aktivitas produksi, bahkan sekolah yang secara khusus berkaitan dengan keterampilan mengukir kayu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">That is a huge activity, huge sector,&#8221; katanya menggambarkan pengalamannya di Jepara.<\/p>\n<\/blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perbedaan utama yang ia lihat terdapat pada desain dan skala produksinya. Konjic woodcarving menurutnya lebih bersifat kecil, dekat dengan keluarga dan komunitas, serta memiliki karakter yang lebih intim. Sementara Jepara telah berkembang menjadi sektor industri dengan aktivitas produksi dan pasar yang jauh lebih besar.<\/p>\n<blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">The difference is in design,&#8221; kata Armin ketika ditanya mengenai perbedaan antara ukiran Konjic dan Jepara.<\/p>\n<\/blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">Meski demikian, ia melihat keduanya tetap berada dalam bidang yang sama, yaitu craftsmanship berbasis kayu. Perbedaannya lebih terletak pada karakter desain, skala, dan cara tradisi tersebut berkembang di masing-masing masyarakat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di Konjic, hasil ukiran tidak hanya berupa benda dekoratif. Workshop juga menghasilkan furnitur dan berbagai produk untuk kebutuhan interior. UNESCO mencatat bahwa produk Konjic woodcarving mencakup furnitur dengan ukiran tangan, interior, serta benda-benda dekoratif berukuran lebih kecil.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Karena itu, keberadaan UNESCO tidak berarti kerajinan tersebut menjadi sesuatu yang sepenuhnya terlepas dari kegiatan ekonomi. Sebaliknya, UNESCO menggambarkan Konjic woodcarving sebagai kerajinan yang tetap memiliki nilai ekonomi, sekaligus mempunyai fungsi sosial dan budaya bagi masyarakatnya.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\">Tantangan yang Sama: Generasi Muda Mulai Beralih<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di balik pengakuan UNESCO tersebut, terdapat persoalan yang juga dirasakan oleh banyak tradisi kerajinan di berbagai negara: regenerasi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut Armin, tidak banyak anak muda Bosnia dan Herzegovina yang tertarik meneruskan pekerjaan tradisional seperti woodcarving. Perubahan gaya hidup, perkembangan teknologi dan munculnya jenis pekerjaan baru membuat generasi muda memiliki pilihan yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya.<\/p>\n<blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">Nowadays, young generation, unfortunately, they are not very much into old activities, craftsmanship,&#8221; jelasnya.<\/p>\n<\/blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ia melihat generasi muda kini lebih banyak tertarik pada bidang seperti teknologi informasi dan internet. Dunia kerja yang bergerak cepat juga membuat pekerjaan yang membutuhkan ketelitian, waktu panjang dan proses belajar bertahun-tahun menjadi semakin sulit menarik bagi sebagian anak muda.<\/p>\n<blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">It simply requires dedication and time and skill,&#8221; katanya.<\/p>\n<\/blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">Persoalan ekonomi juga menjadi bagian dari tantangan tersebut. Menurut Armin, pekerjaan kerajinan tradisional membutuhkan waktu dan keterampilan tinggi, tetapi hasil finansialnya belum tentu sebanding dengan ekspektasi generasi muda.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Situasi serupa, menurutnya, juga dapat ditemukan di Jepara. Ia melihat sebagian generasi muda mulai meninggalkan pekerjaan yang berkaitan dengan seni ukir dan wood sculpture karena memilih pekerjaan lain yang dianggap memberikan peluang ekonomi lebih besar.<\/p>\n<blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">People are moving to cities, looking for a better job, to make more money,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<\/blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pelestarian kerajinan tradisional tidak cukup hanya dengan mempertahankan tekniknya. Ada persoalan ekonomi dan regenerasi yang harus diperhatikan agar keterampilan tersebut tetap memiliki masa depan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menariknya, menurut Armin, sektor furnitur di Jepara masih memiliki aktivitas ekonomi yang kuat. Namun, untuk seni ukir tradisional dan wood sculpture, situasinya berbeda.<\/p>\n<blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">For furniture, it&#8217;s still going well, because there is a lot of money here. But for traditional wood carvings, wood sculptures\u2026 not that much,&#8221; katanya.<\/p>\n<\/blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pengalaman Bosnia dan Indonesia tersebut memperlihatkan bahwa tantangan pelestarian kerajinan tradisional ternyata dapat muncul di negara yang memiliki latar budaya dan geografis yang sangat berbeda. Ketika generasi muda memiliki lebih banyak pilihan pekerjaan, sebuah tradisi harus mampu menemukan cara agar keterampilan lama tetap relevan dengan kehidupan ekonomi modern.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bagi Konjic, pengakuan UNESCO memberikan perhatian internasional terhadap tradisi tersebut. Namun, keberlangsungan jangka panjang tetap bergantung pada kemampuan komunitas untuk mewariskan pengetahuan dan keterampilan kepada generasi berikutnya. UNESCO sendiri mencatat bahwa pelatihan perajin muda dan transmisi pengetahuan antargenerasi merupakan bagian penting dari upaya menjaga keberlanjutan Konjic woodcarving.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada akhirnya, kisah Konjic dan Jepara menunjukkan bahwa mempertahankan warisan budaya bukan hanya soal menyimpan teknik lama. Tantangan yang lebih besar adalah membuat keterampilan tersebut tetap memiliki nilai bagi generasi baru\u2014baik sebagai identitas budaya maupun sebagai pekerjaan yang layak secara ekonomi.<\/p>\n<p><iframe title=\"Bosnia vs. Jepara: Two Woodcarving Traditions, One Shared Challenge\" width=\"750\" height=\"422\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/mEkS6XaE9ag?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" referrerpolicy=\"strict-origin-when-cross-origin\" allowfullscreen><\/iframe><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge Journal &#8211; Foreign Insight) Tradisi ukir kayu tidak hanya berbicara tentang produk, tetapi juga tentang bagaimana sebuah masyarakat menjaga keterampilan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Di Bosnia dan Herzegovina, salah satu tradisi tersebut hidup di Konjic, sebuah kota yang dikenal dengan seni ukir kayunya dan telah mendapatkan pengakuan UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan pada 2017. Sementara di Indonesia, Jepara telah lama dikenal sebagai salah satu pusat industri dan kerajinan mebel serta ukir kayu. Meski [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":26,"featured_media":220396,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[8043,2725,1368,8067],"tags":[13814,13815,13816,13817,13818],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/220395"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/26"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=220395"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/220395\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":220397,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/220395\/revisions\/220397"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/220396"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=220395"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=220395"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=220395"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}