{"id":220318,"date":"2026-09-28T12:52:30","date_gmt":"2026-09-28T05:52:30","guid":{"rendered":"https:\/\/www.blj.co.id\/?p=220318"},"modified":"2026-09-28T12:52:30","modified_gmt":"2026-09-28T05:52:30","slug":"74-tahun-hubungan-indonesia-jerman-bagaimana-umkm-indonesia-bisa-mendunia-seperti-mittelstand-jerman","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2026\/09\/28\/74-tahun-hubungan-indonesia-jerman-bagaimana-umkm-indonesia-bisa-mendunia-seperti-mittelstand-jerman\/","title":{"rendered":"74 Tahun Hubungan Indonesia\u2013Jerman: Bagaimana UMKM Indonesia Bisa Mendunia seperti Mittelstand Jerman"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge Journal &#8211; Foreign Insight)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hubungan diplomatik Indonesia dan Jerman telah berlangsung selama 74 tahun sejak 1952. Memasuki tahun ke-75 pada 2027, hubungan kedua negara dinilai telah berkembang menjadi kemitraan yang matang dan kuat. Dalam wawancara bersama Business Lounge Journal, Duta Besar Republik Federal Jerman untuk Indonesia, H.E. Ralph Beste, melihat hubungan tersebut memiliki fondasi yang kuat melalui hubungan antarmasyarakat atau <em>people-to-people exchange<\/em>. Meski Indonesia dan Jerman dipisahkan jarak sekitar 11.000 kilometer, hubungan antara masyarakat kedua negara terus berkembang melalui perjalanan, pendidikan, pekerjaan, dan berbagai bentuk pertukaran lainnya.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\">74 Tahun Hubungan Indonesia\u2013Jerman dan Kekuatan People-to-People<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut Ralph Beste, hubungan Indonesia dan Jerman saat ini berada dalam kondisi yang matang dan kuat. Salah satu fondasi terpentingnya adalah hubungan antarmasyarakat yang telah berlangsung dalam waktu panjang. Masyarakat Jerman banyak datang ke Indonesia untuk bepergian dan mengenal Indonesia, sementara masyarakat Indonesia juga datang ke Jerman untuk berwisata, bekerja, maupun menempuh pendidikan. Pertukaran tersebut menciptakan hubungan yang tidak hanya dibangun oleh pemerintah, tetapi juga oleh masyarakat kedua negara.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Beste juga menyinggung pengalaman banyak mahasiswa Indonesia yang pernah belajar di Jerman dan membawa pulang berbagai pengalaman serta gagasan. Salah satu tokoh yang disebutnya adalah Presiden ketiga Indonesia, Prof. B.J. Habibie, yang pernah menempuh pendidikan di Jerman dan kemudian membawa berbagai tradisi serta gagasan Jerman ke Indonesia. Menurut Beste, pengalaman seperti ini menjadi salah satu dasar penting dalam hubungan kedua negara. Namun, ia juga mengakui bahwa jarak geografis yang sangat jauh membuat kedua negara harus terus berupaya menjaga hubungan tersebut tetap dekat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hubungan ekonomi juga menjadi bagian penting dari kemitraan kedua negara. Jerman merupakan ekonomi terbesar di Uni Eropa, sementara Indonesia merupakan salah satu kekuatan ekonomi utama di Asia Tenggara. Beste melihat adanya momentum kuat dalam hubungan kedua negara setelah <em>Jakarta Declaration<\/em> pada 2012. Namun, menurutnya, dunia pada 2026 sudah sangat berbeda dibandingkan ketika deklarasi tersebut dibuat, sehingga kerja sama Indonesia dan Jerman juga perlu melihat perubahan lingkungan global.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\">Perubahan Dunia Mengubah Arah Kerja Sama<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut Beste, terdapat dua perubahan besar yang membuat situasi pada 2026 berbeda dibandingkan 2012, yaitu perubahan iklim dan perkembangan geopolitik. Perubahan iklim kini menjadi salah satu persoalan yang sangat penting bagi keberlangsungan planet, sehingga kerja sama internasional harus semakin memperhatikan bagaimana mengatasi perubahan iklim sekaligus beradaptasi terhadap dampaknya. Hal tersebut membuat isu iklim menjadi semakin penting dalam hubungan internasional. Bagi Indonesia dan Jerman, perubahan tersebut menjadi salah satu bidang yang membuat bentuk kerja sama saat ini berbeda dibandingkan 15 tahun sebelumnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perubahan kedua adalah lingkungan geostrategis yang mengalami perkembangan besar. Beste mengatakan Jerman mengalami dua gelombang invasi Rusia ke Ukraina yang kemudian mendorong perubahan besar dalam cara Jerman melihat lingkungan keamanannya. Indonesia juga menghadapi perubahan lingkungan geostrategis sebagai negara dengan posisi yang semakin penting dalam hubungan internasional. Menurut Beste, semakin banyak negara, termasuk Jerman, yang ingin meningkatkan kerja sama dengan Indonesia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada saat yang sama, Indonesia juga harus berhati-hati dalam menghadapi dunia yang ditandai oleh persaingan kekuatan-kekuatan besar. Beste melihat bahwa Indonesia dan Jerman memiliki pengalaman yang berbeda, tetapi sama-sama menghadapi perubahan dalam lingkungan geostrategis mereka. Karena itu, perubahan geopolitik menjadi salah satu faktor yang memengaruhi hubungan bilateral kedua negara. Bersama dengan isu perubahan iklim, perkembangan tersebut membuat kerja sama Indonesia dan Jerman harus terus menyesuaikan diri dengan kondisi dunia yang berubah.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\">Dari Keterbatasan Sumber Daya ke Kekuatan Industri<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketika membahas kekuatan ekonomi Jerman, Beste mengaitkannya dengan sejarah panjang negara tersebut. Ia menjelaskan bahwa Jerman secara historis merupakan negara yang relatif miskin sumber daya, sehingga harus mengandalkan kemampuan masyarakatnya untuk menciptakan nilai. Menurutnya, Jerman memiliki kekuatan pada batu bara untuk kebutuhan swasembada, tetapi tidak memiliki banyak sumber daya lain yang dapat diandalkan sebagai komoditas ekspor. Kondisi tersebut mendorong Jerman untuk mengembangkan perdagangan, inovasi, pendidikan, dan kemampuan masyarakatnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Beste menekankan bahwa pendidikan menjadi salah satu fondasi penting dalam perkembangan ekonomi Jerman. Selama sekitar 200 tahun, menurutnya, Jerman memberikan perhatian besar terhadap pendidikan, termasuk pengembangan sistem sekolah dan universitas yang mendorong pemikiran kritis serta pendidikan umum. Karena tidak memiliki banyak sumber daya alam untuk bersaing di panggung dunia, Jerman berinvestasi pada kemampuan dan pengetahuan masyarakatnya. Dari sinilah inovasi dan kemampuan industri menjadi bagian penting dari kekuatan ekonomi Jerman.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Investasi juga dilakukan dalam penelitian melalui universitas dan lembaga-lembaga penelitian yang bebas. Menurut Beste, investasi tersebut membantu Jerman menghadapi berbagai keterbatasan, termasuk ketika terjadi kekurangan bahan baku. Ia juga menyoroti kemampuan para insinyur Jerman sebagai salah satu keahlian yang sangat dihargai dalam struktur ekonomi negara tersebut. Prinsipnya adalah bagaimana membuat sesuatu menjadi lebih efisien dibandingkan generasi sebelumnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pendekatan tersebut kemudian terlihat dalam keberadaan <em>Mittelstand<\/em> dan apa yang disebut sebagai <em>hidden champions<\/em>. Beste menyebut terdapat sekitar 1.500 lebih perusahaan kecil dan menengah yang mampu menguasai pasar-pasar khusus di tingkat global. Menurutnya, pengalaman Jerman menunjukkan bahwa ukuran perusahaan tidak selalu menentukan kemampuan sebuah bisnis untuk bersaing di dunia. Bahkan perusahaan keluarga berukuran kecil dapat memiliki daya saing global apabila memiliki inovasi, pandangan jangka panjang, perhatian terhadap pekerja, investasi pada keterampilan tenaga kerja, serta keterbukaan terhadap dunia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Beste menggambarkan perusahaan <em>Mittelstand<\/em> sebagai perusahaan yang tidak semata-mata berorientasi pada keuntungan jangka pendek. Mereka berinvestasi dalam pendidikan dan peningkatan keterampilan tenaga kerja, sekaligus memiliki pandangan yang terbuka terhadap pasar internasional. Meskipun perusahaan mereka mungkin berukuran kecil dan berada di kota-kota kecil di Jerman, para pemimpinnya memiliki wawasan global. Karena itu, pemerintah Jerman juga berupaya membawa para CEO perusahaan <em>hidden champions<\/em> dalam delegasi bisnis ke berbagai negara, termasuk Indonesia, untuk memperkenalkan mereka kepada pasar Indonesia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bagi Indonesia, pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa kekuatan bisnis tidak selalu harus dibangun melalui skala perusahaan yang besar. Perusahaan kecil dan menengah juga dapat memiliki pasar global apabila memiliki inovasi, sumber daya manusia yang terampil, orientasi jangka panjang, dan keterbukaan terhadap dunia. Dalam pandangan Beste, prinsip sederhana yang dapat menggambarkan pendekatan tersebut adalah, \u201cSmall is beautiful.\u201d Kekuatan tersebut menjadi bagian dari pengalaman ekonomi Jerman yang dibangun melalui pendidikan, inovasi, kemampuan manusia, dan keberanian perusahaan untuk melihat pasar jauh melampaui negaranya sendiri.<\/p>\n<p><iframe title=\"74 Years of Indonesia\u2013Germany Ties: How SMEs Can Go Global Like Germany\u2019s Mittelstand\" width=\"750\" height=\"422\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/F_e0qL5ivDo?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" referrerpolicy=\"strict-origin-when-cross-origin\" allowfullscreen><\/iframe><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge Journal &#8211; Foreign Insight) Hubungan diplomatik Indonesia dan Jerman telah berlangsung selama 74 tahun sejak 1952. Memasuki tahun ke-75 pada 2027, hubungan kedua negara dinilai telah berkembang menjadi kemitraan yang matang dan kuat. Dalam wawancara bersama Business Lounge Journal, Duta Besar Republik Federal Jerman untuk Indonesia, H.E. Ralph Beste, melihat hubungan tersebut memiliki fondasi yang kuat melalui hubungan antarmasyarakat atau people-to-people exchange. Meski Indonesia dan Jerman dipisahkan jarak sekitar 11.000 kilometer, hubungan antara masyarakat kedua negara terus berkembang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":26,"featured_media":220319,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[8043,2725,1368,8067],"tags":[7357,13173],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/220318"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/26"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=220318"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/220318\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":220320,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/220318\/revisions\/220320"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/220319"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=220318"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=220318"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=220318"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}