{"id":220309,"date":"2026-09-24T08:09:54","date_gmt":"2026-09-24T01:09:54","guid":{"rendered":"https:\/\/www.blj.co.id\/?p=220309"},"modified":"2026-09-28T08:18:40","modified_gmt":"2026-09-28T01:18:40","slug":"paper-menagerie-3-kertas-menjadi-ruang-bagi-beragam-cerita-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2026\/09\/24\/paper-menagerie-3-kertas-menjadi-ruang-bagi-beragam-cerita-indonesia\/","title":{"rendered":"Paper Menagerie #3: Kertas Menjadi Ruang bagi Beragam Cerita Indonesia"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge Journal &#8211; Event)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Sejumlah 63 seniman, kolektif, dan peneliti Indonesia menghadirkan ingatan, identitas, sejarah, kritik sosial, dan pengalaman personal melalui medium kertas<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Apa yang dapat diceritakan oleh selembar kertas?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pertanyaan sederhana itu mungkin tidak langsung muncul ketika kita melihat kertas dalam kehidupan sehari-hari. Kertas begitu dekat dengan kehidupan kita\u2014untuk menulis, mencetak, menggambar, mencatat, hingga menyimpan berbagai kenangan. Namun, di tangan seniman, kertas dapat berubah menjadi medium untuk menyampaikan gagasan, pengalaman, ingatan, bahkan kritik terhadap berbagai persoalan kehidupan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pertanyaan itulah yang terasa ketika mengunjungi Paper Menagerie #3: On Equal Grounds, pameran yang diselenggarakan ISA Art di ISA Gallery, lantai dasar Wisma BNI 46, Jakarta.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Berada di salah satu kawasan bisnis yang cukup strategis di Jakarta, keberadaan ISA Gallery menghadirkan pertemuan yang menarik antara dunia bisnis dan seni. Di tengah aktivitas kawasan perkantoran, pengunjung dapat menemukan ruang yang justru mengajak untuk berhenti sejenak, melihat karya, dan menyimak beragam cerita yang dibawa oleh para seniman.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pameran ini berlangsung pada 19 September hingga 27 November 2026, dan menghadirkan karya dari 63 seniman, kolektif, dan peneliti Indonesia.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\">Menyusuri Pameran Bersama Pemandu Muda<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada Press Day, 18 September 2026, saya berkesempatan menyusuri pameran bersama Erica Suwandi, seorang pemandu muda ISA Art. Begitu media partner mulai berkumpul, ia menjelaskan karya-karya yang dipamerkan satu per satu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Yang membuat saya terkesan bukan hanya kelancaran penjelasannya, tetapi juga kemampuannya mengingat begitu banyak karya yang berbeda. Saat berpindah dari satu karya ke karya lainnya, ia dapat menjelaskan nama seniman, judul karya, serta konteks yang berkaitan dengan karya tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Saya kemudian bertanya kepadanya bagaimana ia dapat mengingat begitu banyak informasi tentang 63 peserta pameran.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jawabannya sederhana. Ia mengatakan bahwa sebelum Press Day, ia melakukan hafalan dan simulasi berulang-ulang. Dengan cara itulah ia mempersiapkan diri agar dapat menjelaskan karya-karya tersebut dengan lancar ketika mendampingi pengunjung.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Percakapan singkat itu memberi saya perspektif lain tentang sebuah pameran. Di balik karya-karya yang hadir di ruang galeri, ada pula orang-orang yang mempersiapkan diri agar cerita dan gagasan di balik karya tersebut dapat tersampaikan kepada pengunjung.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dan hari itu, penjelasan Erica, sang pemandu membuat perjalanan menyusuri ruang pamer terasa lebih mudah diikuti, terutama karena jumlah karya dan keragaman pendekatan yang ditampilkan cukup besar.<\/p>\n<div  class=\"lgc-column lgc-grid-parent lgc-grid-50 lgc-tablet-grid-50 lgc-mobile-grid-100 lgc-equal-heights \"><div  class=\"inside-grid-column\"><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-220314\" src=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Paper-Menagerie-3.jpg\" alt=\"\" width=\"650\" height=\"366\" srcset=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Paper-Menagerie-3.jpg 1600w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Paper-Menagerie-3-300x169.jpg 300w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Paper-Menagerie-3-1024x576.jpg 1024w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Paper-Menagerie-3-768x432.jpg 768w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Paper-Menagerie-3-1536x864.jpg 1536w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Paper-Menagerie-3-750x422.jpg 750w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Paper-Menagerie-3-1200x675.jpg 1200w\" sizes=\"(max-width: 650px) 100vw, 650px\" \/><\/div><\/div><div  class=\"lgc-column lgc-grid-parent lgc-grid-50 lgc-tablet-grid-50 lgc-mobile-grid-100 lgc-equal-heights \"><div  class=\"inside-grid-column\"><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-220315\" src=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Paper-Menagerie-2.jpg\" alt=\"\" width=\"650\" height=\"366\" srcset=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Paper-Menagerie-2.jpg 1600w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Paper-Menagerie-2-300x169.jpg 300w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Paper-Menagerie-2-1024x576.jpg 1024w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Paper-Menagerie-2-768x432.jpg 768w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Paper-Menagerie-2-1536x864.jpg 1536w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Paper-Menagerie-2-750x422.jpg 750w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Paper-Menagerie-2-1200x675.jpg 1200w\" sizes=\"(max-width: 650px) 100vw, 650px\" \/><\/div><\/div><div class=\"lgc-clear\"><\/div>\n<h3 style=\"text-align: justify;\">Tiga Perjalanan Paper Menagerie<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam kesempatan berbincang dengan M. Amri Muhammad, Digital Marketing ISA Art, saya memperoleh informasi bahwa <em>Paper Menagerie<\/em> bukanlah pameran yang baru pertama kali digelar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut Amri, <em>Paper Menagerie<\/em> merupakan rangkaian pameran yang telah memasuki penyelenggaraan ketiga. Edisi pertama berlangsung di Jakarta, kemudian berlanjut ke Yogyakarta, dan kini kembali ke Jakarta melalui Paper Menagerie #3: On Equal Grounds.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perjalanan tersebut memperlihatkan bagaimana satu gagasan dapat terus berkembang ketika bertemu dengan seniman, tempat, dan perspektif yang berbeda.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada edisi ketiga ini, keragaman tersebut terasa cukup kuat. Karya yang ditampilkan tidak hadir dalam satu bentuk atau gaya tertentu. Ada cetakan, arsip, kolase, gambar, peta, lukisan, hingga karya tiga dimensi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kertas pun hadir dalam berbagai kemungkinan\u2014sebagai permukaan untuk menggambar dan mencetak, sebagai arsip, sebagai bagian dari konstruksi karya, maupun sebagai material yang dapat dipotong, dilipat, disusun, atau dikombinasikan dengan material lainnya.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\">Dari Motif Aceh hingga Kritik Sosial<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Berjalan dari satu karya ke karya lain, keragaman pendekatan itu segera terlihat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Karya A. D. Pirous, misalnya, membawa jejak visual yang kuat dari Aceh. Motif dan kekayaan warna menjadi bagian penting dalam cara ia mengungkapkan gagasan melalui karya di atas kanvas kertas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di tempat lain, Addy Debil menghadirkan pendekatan yang berbeda. Satire menjadi bahasa yang digunakan untuk melihat berbagai persoalan dalam masyarakat. Karyanya membawa kita pada sebuah \u201carena perjuangan\u201d mengenai distorsi yang terjadi dalam kehidupan sosial.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sementara itu, Adriel Arizon menghadirkan <em>The First Spread<\/em> dan <em>The Last Spread<\/em>, yang dikerjakan dengan pensil warna. Kesan visualnya memperlihatkan bagaimana material yang sederhana dapat menghasilkan eksplorasi artistik yang cukup kuat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ada pula karya Mufti Priyanka yang membawa nuansa protes sosial melalui medium kertas hitam dan putih. Kesederhanaan warna justru memberi ruang bagi pesan yang ingin disampaikan untuk tampil lebih langsung.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Keragaman seperti ini membuat perjalanan di dalam galeri tidak terasa seperti mengikuti satu narasi tunggal. Setiap karya memiliki cara sendiri dalam mengajak pengunjung berhenti, melihat, dan kemudian menafsirkan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><div  class=\"lgc-column lgc-grid-parent lgc-grid-50 lgc-tablet-grid-50 lgc-mobile-grid-100 lgc-equal-heights \"><div  class=\"inside-grid-column\"><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-220313\" src=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Paper-Menagerie-4.jpg\" alt=\"\" width=\"650\" height=\"867\" srcset=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Paper-Menagerie-4.jpg 1200w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Paper-Menagerie-4-225x300.jpg 225w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Paper-Menagerie-4-768x1024.jpg 768w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Paper-Menagerie-4-1152x1536.jpg 1152w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Paper-Menagerie-4-750x1000.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 650px) 100vw, 650px\" \/><\/div><\/div><div  class=\"lgc-column lgc-grid-parent lgc-grid-50 lgc-tablet-grid-50 lgc-mobile-grid-100 lgc-equal-heights \"><div  class=\"inside-grid-column\"><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-220312\" src=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Paper-Menagerie-5.jpg\" alt=\"\" width=\"650\" height=\"867\" srcset=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Paper-Menagerie-5.jpg 1200w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Paper-Menagerie-5-225x300.jpg 225w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Paper-Menagerie-5-768x1024.jpg 768w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Paper-Menagerie-5-1152x1536.jpg 1152w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Paper-Menagerie-5-750x1000.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 650px) 100vw, 650px\" \/><\/div><\/div><div class=\"lgc-clear\"><\/div>\n<h3 style=\"text-align: justify;\">Ingatan yang Menjadi Cerita<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Salah satu gagasan yang terasa dalam pameran ini adalah bagaimana ingatan tidak selalu tersimpan hanya dalam pikiran manusia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ingatan dapat melekat pada benda, tempat, pengalaman, gambar, maupun berbagai fragmen kehidupan yang pernah kita lalui.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Karya Anastasia Astika, <em>Corner Light Shop<\/em>, misalnya, menarik perhatian melalui penggambaran yang begitu detail dan anggun. Ada sebuah cerita yang terasa sedang dibangun melalui sudut ruang dan objek-objek yang ditampilkan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kemudian ada Meliantha Muliawan dengan <em>Fragments of Inheritance<\/em>, yang menggunakan bordir pada Tyvek paper. Material dan teknik yang digunakan membuat karya ini menarik untuk diamati lebih dekat. Ada sesuatu yang terasa personal sekaligus berkaitan dengan gagasan tentang warisan dan fragmen yang ditinggalkan dari satu generasi ke generasi berikutnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Karya Erna Garnasih, <em>Bunga Raya Orange<\/em> dan <em>Alam dalam Harmoni Ungu<\/em>, juga membuat saya cukup lama berhenti di depannya. Warna-warnanya terasa kaya dan hidup, memberikan pengalaman visual yang berbeda dibandingkan karya-karya lain di sekitarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Seniman Jompet Kuswidananto membuat kertas dari bantalan rel kayu bekas jalur lori pabrik gula kolonial, sebuah material yang menyimpan ingatan tentang eksploitasi kolonial Belanda dan kekerasan pada masa pendudukan Jepang yang merenggut nyawa kakeknya. Erica menuturkan lebih jauh bahwa proses pembuatan kertas tersebut menjadi cara untuk melepaskan ingatan dan kehilangan yang tersimpan dalam material tersebut, sekaligus menulis ulang sejarah pada benda yang pernah menjadi bagian dari eksploitasi. Debu besi dari rel yang berkarat tetap tertinggal di permukaan kertas, membawa jejak kehidupan, tenaga kerja, dan kehilangan yang melekat padanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Memperhatikan karya demi karya, maka pada titik tertentu, kita menyadari bahwa sebuah pameran seperti ini tidak hanya meminta kita untuk melihat. Ia juga mengajak kita mengingat pengalaman dan sejarah yang menyertainya.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\">Struktur, Ketelitian, dan Kesunyian<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Beberapa karya justru menarik perhatian melalui ketelitian dan struktur visualnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mujahidin Nurrahman, melalui <em>Form 47.2<\/em> dan <em>Form 47.4<\/em>, menggunakan teknik hand-cutting pada kertas, dipadukan dengan akrilik serta bingkai kayu dan kaca. Detail potongannya sangat teliti. Struktur yang terbentuk terasa modern, simetris, dan terukur.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di sini, kertas bukan lagi sekadar permukaan. Ia menjadi bagian dari konstruksi karya itu sendiri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pendekatan yang jauh lebih sederhana terlihat pada karya Naela Ali, <em>Holding The Quiet<\/em> dan <em>A Shared Silence<\/em>. Karya-karya tersebut menghadirkan figur seorang perempuan dalam suasana hening. Kesederhanaannya justru memberikan ruang bagi pengunjung untuk merasakan suasana yang dibangun oleh karya tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dua pendekatan ini memperlihatkan bagaimana material yang sama dapat menghasilkan pengalaman yang sangat berbeda. Di satu sisi ada struktur yang rumit dan sangat terukur; di sisi lain ada kesederhanaan yang justru menghadirkan keheningan.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\">Ketika Material Menjadi Bagian dari Cerita<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hal lain yang menarik dari <em>Paper Menagerie #3<\/em> adalah keberanian memperluas pengertian tentang apa yang dapat dilakukan dengan kertas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Karya Alexander Sebastianus, <em>A Rock and its Rope<\/em>, misalnya, tidak hanya bergantung pada kertas. Berbagai unsur seperti sedimen, tali, kayu bakar, dan partikel material lainnya menjadi bagian dari karya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pertemuan berbagai material tersebut menunjukkan bahwa kertas dapat berfungsi sebagai titik awal untuk eksplorasi yang lebih luas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hal yang sama terasa dari keseluruhan pameran. Ada karya yang lebih dekat dengan gambar atau cetakan, tetapi ada pula yang berkembang menjadi objek, instalasi, arsip, maupun bentuk tiga dimensi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Karena itu, pengalaman melihat pameran ini tidak berhenti pada pertanyaan \u201capa yang digambar di atas kertas?\u201d, tetapi berkembang menjadi \u201capa yang dapat dilakukan dengan kertas?\u201d<\/p>\n<div  class=\"lgc-column lgc-grid-parent lgc-grid-50 lgc-tablet-grid-50 lgc-mobile-grid-100 lgc-equal-heights \"><div  class=\"inside-grid-column\"><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-220311\" src=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Paper-Menagerie-6.jpg\" alt=\"\" width=\"650\" height=\"1156\" srcset=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Paper-Menagerie-6.jpg 900w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Paper-Menagerie-6-169x300.jpg 169w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Paper-Menagerie-6-576x1024.jpg 576w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Paper-Menagerie-6-768x1365.jpg 768w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Paper-Menagerie-6-864x1536.jpg 864w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Paper-Menagerie-6-750x1333.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 650px) 100vw, 650px\" \/><\/div><\/div><div  class=\"lgc-column lgc-grid-parent lgc-grid-50 lgc-tablet-grid-50 lgc-mobile-grid-100 lgc-equal-heights \"><div  class=\"inside-grid-column\"><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-220310\" src=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Paper-Menagerie-7.jpg\" alt=\"\" width=\"650\" height=\"1156\" srcset=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Paper-Menagerie-7.jpg 900w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Paper-Menagerie-7-169x300.jpg 169w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Paper-Menagerie-7-576x1024.jpg 576w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Paper-Menagerie-7-768x1365.jpg 768w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Paper-Menagerie-7-864x1536.jpg 864w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Paper-Menagerie-7-750x1333.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 650px) 100vw, 650px\" \/><\/div><\/div><div class=\"lgc-clear\"><\/div>\n<h3 style=\"text-align: justify;\">On Equal Grounds: Berbeda Tanpa Harus Diseragamkan<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Keragaman karya tersebut sesungguhnya sejalan dengan gagasan utama <em>On Equal Grounds<\/em>.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pameran ini terinspirasi oleh semangat Bhinneka Tunggal Ika\u2014berbeda-beda tetapi tetap satu. Gagasan tersebut tidak ditempatkan sebagai upaya untuk menghilangkan perbedaan, melainkan sebagai cara menghadirkan berbagai perspektif dalam satu ruang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dengan 63 seniman, kolektif, dan peneliti yang memiliki latar belakang, pengalaman, pendekatan artistik, dan cara melihat yang berbeda, pameran ini memang tidak mudah dibaca melalui satu sudut pandang saja.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Justru di situlah menariknya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Satu karya dapat berbicara tentang ingatan personal. Karya lain membawa kita kepada sejarah atau warisan budaya. Ada yang berbicara tentang lanskap dan lingkungan, sementara karya lainnya menyampaikan kritik sosial atau mengeksplorasi kemungkinan material.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tidak semuanya harus memiliki suara yang sama.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ruang pamer menjadi tempat di mana perbedaan tersebut dapat hadir secara berdampingan.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\">ISA Art dan Upaya Menjaga Jejak<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Satu hal lain yang saya apresiasi dari kunjungan ini adalah perhatian ISA Art terhadap dokumentasi pameran.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Setiap karya yang dipamerkan didokumentasikan, demikian pula profil para seniman, kolektif, dan peneliti yang ikut ambil bagian. Bagi sebuah pameran dengan jumlah peserta yang cukup banyak dan karya yang sangat beragam, dokumentasi semacam ini menjadi bagian penting untuk menjaga jejak pameran.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dokumentasi juga membantu pengunjung memahami bahwa setiap karya memiliki konteks dan perjalanan kreatifnya sendiri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di sisi lain, upaya membawa karya-karya tersebut ke ruang galeri yang berada di kawasan bisnis seperti Wisma BNI 46 juga membuka kemungkinan pertemuan yang lebih luas antara seni dan masyarakat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Seni tidak hanya berada di ruang yang secara khusus dikenal sebagai kawasan seni. Ia dapat hadir di tengah aktivitas kota dan menjumpai orang-orang yang mungkin sebelumnya tidak secara khusus datang untuk mencari pameran.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\">Sebuah Oase Pertemuan di Tengah Jakarta<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Setelah menyusuri ruang pamer dan melihat karya-karya yang begitu beragam, saya merasa <em>Paper Menagerie #3: On Equal Grounds<\/em> menawarkan pengalaman yang lebih luas daripada sekadar melihat eksplorasi terhadap medium kertas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pameran ini mempertemukan ingatan dan pengalaman, sejarah dan masa kini, material dan gagasan, serta berbagai cara seniman, kolektif, dan peneliti melihat lingkungan di sekitarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bagi saya, <em>Paper Menagerie #3: On Equal Grounds<\/em> merupakan sebuah oase pertemuan\u2014ruang yang mempertemukan begitu banyak talenta, gagasan, pengalaman, dan cara melihat Indonesia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u200b&#8221;Paper Menagerie #3: On Equal Grounds&#8221;<br \/>\nISA Art Gallery di Wisma 46, Jakarta<br \/>\n\u200bPeriode Pameran: 19 September \u2013 27 November 2026<br \/>\n\u200bResepsi Pembukaan: 19 September 2026, pukul 15.00 \u2013 19.00 WIB<br \/>\n\u200bHari Pers (Press Day): 18 September 2026, pukul 14.00 \u2013 17.00 WIB<br \/>\n\u200bJam Buka Galeri:<br \/>\n\u200bSelasa \u2013 Sabtu: 11.00 \u2013 18.00 WIB<br \/>\n\u200bTutup pada hari Minggu, Senin, dan Hari Libur Nasional<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge Journal &#8211; Event) Sejumlah 63 seniman, kolektif, dan peneliti Indonesia menghadirkan ingatan, identitas, sejarah, kritik sosial, dan pengalaman personal melalui medium kertas Apa yang dapat diceritakan oleh selembar kertas? Pertanyaan sederhana itu mungkin tidak langsung muncul ketika kita melihat kertas dalam kehidupan sehari-hari. Kertas begitu dekat dengan kehidupan kita\u2014untuk menulis, mencetak, menggambar, mencatat, hingga menyimpan berbagai kenangan. Namun, di tangan seniman, kertas dapat berubah menjadi medium untuk menyampaikan gagasan, pengalaman, ingatan, bahkan kritik terhadap berbagai persoalan kehidupan. Pertanyaan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":101080,"featured_media":220316,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[1256],"tags":[13805,13806],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/220309"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/101080"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=220309"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/220309\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":220317,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/220309\/revisions\/220317"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/220316"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=220309"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=220309"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=220309"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}