{"id":220305,"date":"2026-09-27T06:31:37","date_gmt":"2026-09-26T23:31:37","guid":{"rendered":"https:\/\/www.blj.co.id\/?p=220305"},"modified":"2026-09-27T06:39:11","modified_gmt":"2026-09-26T23:39:11","slug":"mercedes-benz-merangkul-gen-z-tanpa-kehilangan-identitas","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2026\/09\/27\/mercedes-benz-merangkul-gen-z-tanpa-kehilangan-identitas\/","title":{"rendered":"Mercedes-Benz Merangkul Gen Z Tanpa Kehilangan Identitas"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge &#8211; Entrepreneurship) Mercedes-Benz menghadapi tantangan yang tidak sederhana: bagaimana sebuah merek otomotif yang telah berusia 140 tahun tetap terasa relevan bagi generasi yang baru mulai membentuk preferensi konsumsi, tanpa membuat pelanggan lama merasa bahwa identitas merek tersebut berubah terlalu jauh. Di Amerika Serikat, persoalan ini menjadi bagian penting dari strategi pemasaran yang dipimpin Chief Marketing Officer Mercedes-Benz USA Melody Lee. Pendekatannya tidak sekadar mengejar perhatian anak muda melalui media sosial atau mengikuti setiap tren budaya yang sedang populer. Mercedes-Benz mencoba membangun hubungan jangka panjang dengan generasi berikutnya, sambil tetap menggunakan pemasaran yang lebih langsung untuk mempertahankan pelanggan yang sudah menjadi basis penjualan. <em>The Wall Street Journal<\/em> menggambarkan strategi tersebut sebagai keseimbangan antara performance marketing untuk konsumen yang lebih tua dan cultural marketing untuk menjadikan Mercedes-Benz tetap aspiratif bagi Gen Z serta calon konsumen masa depan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bagi Mercedes-Benz, persoalannya menjadi semakin penting karena usia sebuah merek dapat menjadi kekuatan sekaligus tantangan. Sejarah panjang memberikan kredibilitas, simbol status dan pengenalan nama yang sulit dibangun oleh pendatang baru. Namun, warisan yang terlalu dominan juga berisiko membuat sebuah merek terlihat sebagai bagian dari generasi sebelumnya. Lee mengatakan kepada <em>ABC News<\/em> bahwa ketika bergabung dengan Mercedes-Benz USA pada 2023, salah satu tantangan utamanya adalah menjaga warisan merek sekaligus menghadapi transformasi industri, termasuk perubahan menuju berbagai jenis powertrain. Menurutnya, masa lalu tidak bisa begitu saja dibuang karena justru menjadi fondasi yang membuat Mercedes-Benz memiliki nilai budaya. Tetapi merek juga tidak dapat berhenti di masa lalu jika ingin tetap bertahan selama 140 tahun berikutnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Strategi untuk menjangkau Gen Z karena itu tidak semata-mata dilakukan dengan menjual mobil secara langsung. Mercedes-Benz berusaha masuk ke ruang budaya yang sudah menjadi bagian dari kehidupan generasi muda: olahraga, musik, mode, hiburan, media sosial dan komunitas kreatif. Formula 1 menjadi salah satu aset penting karena menghubungkan sejarah motorsport Mercedes-Benz dengan meningkatnya popularitas olahraga tersebut di Amerika Serikat. Lee juga menempatkan kemitraan budaya dan berbagai pengalaman merek sebagai cara untuk menciptakan asosiasi emosional yang mungkin baru menghasilkan pembelian bertahun-tahun kemudian. <em>Boardroom<\/em> mencatat bahwa Mercedes-Benz melihat Formula 1 bukan hanya sebagai kompetisi olahraga, tetapi sebagai jembatan antara warisan motorsport perusahaan dengan gelombang baru penggemar yang semakin dekat dengan budaya hiburan dan pop culture.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di sisi lain, pendekatan tersebut tidak berarti Mercedes-Benz meninggalkan pelanggan yang sudah ada. Pemasaran untuk kelompok konsumen yang lebih dekat dengan keputusan pembelian tetap penting karena perusahaan harus menjual kendaraan hari ini, bukan hanya membangun mimpi tentang kendaraan yang mungkin dibeli puluhan tahun mendatang. Lee menjelaskan bahwa situs Mercedes-Benz USA menerima lebih dari 30 juta pengunjung per tahun, dengan konsumen datang melalui berbagai jalur, mulai dari iklan tradisional hingga olahraga seperti sepak bola Amerika, golf dan Formula 1. Tantangan berikutnya adalah mengubah perhatian tersebut menjadi minat yang dapat diteruskan kepada dealer. Dengan demikian, pemasaran budaya dan pemasaran berbasis penjualan tidak diposisikan sebagai dua strategi yang saling bertentangan, melainkan sebagai dua tahap dalam perjalanan konsumen.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Yang menarik adalah Mercedes-Benz juga semakin berhati-hati dalam menghadapi perubahan media. Di tengah ledakan TikTok, influencer, video pendek dan berbagai platform digital, merek berusia lebih dari satu abad tersebut tidak ingin sekadar mengejar apa yang sedang ramai. Dalam wawancara dengan <em>TheStreet<\/em>, Lee mengatakan bahwa Mercedes-Benz memilih pendekatan yang lebih selektif dan tidak harus menjadi merek pertama yang mengadopsi setiap tren media. Perusahaan dapat menjadi fast follower ketika sebuah konsep sudah terbukti, sementara keputusan pemasaran tetap disaring melalui standar yang dianggap sesuai dengan sejarah dan posisi Mercedes-Benz. Pendekatan ini menunjukkan bahwa membangun relevansi tidak selalu berarti menjadi yang paling cepat atau paling berisik di internet.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Teknologi juga mengubah cara strategi tersebut dijalankan. Artificial intelligence mulai digunakan untuk membantu Mercedes-Benz membuat berbagai versi materi iklan, menyesuaikan aset untuk platform berbeda dan meningkatkan kemampuan perusahaan dalam menargetkan konsumen berdasarkan minat terhadap model tertentu. Namun Lee menekankan bahwa teknologi tidak menghilangkan kebutuhan terhadap manusia. Untuk merek dengan harga produk yang tinggi, detail visual, pesan dan konteks tetap harus dikontrol dengan hati-hati karena ekspektasi pelanggan terhadap merek mewah juga lebih tinggi. <em>The Atlanta Journal-Constitution<\/em> melaporkan bahwa AI memungkinkan Mercedes-Benz memperbanyak dan menyesuaikan materi pemasaran dengan lebih efisien, tetapi keputusan akhir tetap membutuhkan campur tangan manusia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pendekatan lain terlihat dari cara Mercedes-Benz memperluas representasi budaya dalam aktivitas pemasarannya. Pada 2025, Mercedes-Benz USA menunjuk aktris Lucy Liu sebagai suara resmi untuk kampanye merek di Amerika Serikat. Menurut perusahaan, langkah tersebut dimaksudkan untuk menghadirkan suara yang lebih modern sekaligus tetap terhubung dengan nilai kemewahan dan inovasi Mercedes-Benz. Sebelumnya, Lee juga mengembangkan berbagai aktivitas yang membawa merek lebih dekat dengan komunitas dan budaya tertentu, termasuk acara yang mempertemukan seniman, kreator dan tokoh dari berbagai latar belakang. Bagi Mercedes-Benz, aktivitas semacam ini bukan sekadar kampanye iklan karena tujuannya adalah membangun hubungan sebelum konsumen berada di ruang dealer.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tantangan Mercedes-Benz bukan hanya bagaimana menjual lebih banyak mobil kepada Gen Z. Tantangannya adalah membuat generasi yang belum tentu menjadi pembeli mobil mewah hari ini tetap melihat Mercedes-Benz sebagai sesuatu yang relevan, aspiratif dan layak diingat ketika kemampuan membeli mereka berubah. Lee pernah menggambarkan tujuan jangka panjang tersebut sebagai menjaga agar generasi yang lebih tua tetap membeli Mercedes-Benz, sementara generasi yang lebih muda tumbuh dengan keinginan untuk memilikinya suatu hari nanti. Di antara dua kelompok itu terdapat pekerjaan pemasaran yang jauh lebih panjang daripada sebuah kampanye: mempertahankan sejarah, mengikuti perubahan budaya, menggunakan teknologi, memahami konsumen baru dan tetap menjaga identitas yang membuat sebuah merek berusia 140 tahun dapat dikenali. Dalam industri otomotif yang berubah cepat, Mercedes-Benz sedang mencoba memastikan bahwa warisan bukan menjadi museum, melainkan menjadi fondasi untuk membangun generasi konsumen berikutnya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge &#8211; Entrepreneurship) Mercedes-Benz menghadapi tantangan yang tidak sederhana: bagaimana sebuah merek otomotif yang telah berusia 140 tahun tetap terasa relevan bagi generasi yang baru mulai membentuk preferensi konsumsi, tanpa membuat pelanggan lama merasa bahwa identitas merek tersebut berubah terlalu jauh. Di Amerika Serikat, persoalan ini menjadi bagian penting dari strategi pemasaran yang dipimpin Chief Marketing Officer Mercedes-Benz USA Melody Lee. Pendekatannya tidak sekadar mengejar perhatian anak muda melalui media sosial atau mengikuti setiap tren budaya yang sedang populer. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":32,"featured_media":133853,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[8039,2725],"tags":[3617],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/220305"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/32"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=220305"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/220305\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":220306,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/220305\/revisions\/220306"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/133853"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=220305"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=220305"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=220305"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}