{"id":220040,"date":"2026-09-14T05:21:15","date_gmt":"2026-09-13T22:21:15","guid":{"rendered":"https:\/\/www.blj.co.id\/?p=220040"},"modified":"2026-09-14T07:22:43","modified_gmt":"2026-09-14T00:22:43","slug":"kiat-masa-kini-untuk-sukses-di-dunia-kerja","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2026\/09\/14\/kiat-masa-kini-untuk-sukses-di-dunia-kerja\/","title":{"rendered":"Kiat Masa Kini untuk Sukses di Dunia Kerja"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge &#8211; Global News) Dunia kerja sedang memasuki masa yang berbeda dari sebelumnya. Pemutusan hubungan kerja, transformasi kecerdasan buatan, tekanan terhadap manajer, struktur organisasi yang semakin datar, hingga ketidakpastian mengenai arah karier membuat banyak pekerja harus memikirkan kembali cara mereka bertahan dan berkembang. Jalur karier yang dahulu terlihat jelas kini tidak selalu menjamin masa depan. Namun, perubahan tersebut bukan berarti peluang menghilang. Justru, cara seseorang bekerja, berkomunikasi, membangun hubungan dan menunjukkan nilai dirinya menjadi semakin penting.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Salah satu persoalan klasik adalah bagaimana meminta kenaikan gaji ketika perusahaan sedang tidak memberikan kenaikan kepada banyak orang. Jon McNeill, mantan presiden Tesla, menyarankan agar pekerja tidak datang dengan ancaman atau mencoba menggunakan tawaran dari perusahaan lain sebagai alat tekanan. Lebih baik tunjukkan hasil yang sudah diberikan dan keyakinan bahwa kontribusi tersebut dapat terus diperbesar. Bahkan sedikit humor dapat membantu membuat pembicaraan terasa lebih manusiawi. Hubungan dengan atasan sebaiknya tetap dibangun sebagai hubungan profesional jangka panjang, bukan transaksi sesaat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ann Hiatt, yang pernah bekerja langsung dengan Jeff Bezos di Amazon, memiliki pelajaran serupa. Ketika mendapat tawaran dari Microsoft, ia pernah meminta Bezos mencocokkan tawaran tersebut. Belakangan ia menyadari bahwa ia belum menjelaskan dengan baik nilai yang akan diberikan sebagai imbalan atas kenaikan tersebut. Karena itu, pembicaraan mengenai kenaikan gaji sebaiknya dimulai jauh sebelum keputusan dibuat. Enam bulan bahkan satu tahun sebelumnya, pekerja dapat menyampaikan tanggung jawab apa yang ingin diambil dan hasil apa yang akan dibuktikan. Dengan begitu, kenaikan gaji menjadi konsekuensi dari peningkatan kontribusi, bukan sekadar permintaan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Keterbatasan waktu manajer juga menuntut cara berkomunikasi yang lebih efektif. Jika hanya memiliki sepuluh menit, jangan menghabiskannya untuk hal-hal administratif yang sebenarnya bisa dikirim melalui pesan. Datanglah dengan agenda berdasarkan prioritas, bukan urutan kejadian. Setiap pertanyaan sebaiknya sudah disertai usulan jawaban sehingga atasan hanya perlu mengoreksi atau mengambil keputusan. Bagi manajer yang sendiri kewalahan, prinsipnya tidak jauh berbeda: berhenti sejenak dan tanyakan pekerjaan mana yang benar-benar penting. Kesibukan tidak selalu berarti produktivitas apabila energi justru dihabiskan untuk pekerjaan yang salah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bagi seseorang yang menjadi pemimpin sementara, persoalannya adalah bagaimana menggunakan kewenangan secara tepat. Status interim bukan alasan untuk membiarkan masalah menumpuk. Jika ada persoalan serius mengenai kinerja atau struktur organisasi, lebih baik diselesaikan daripada diwariskan kepada pemimpin berikutnya. Di sisi lain, kesempatan bertemu CEO secara tidak sengaja, misalnya di lift, juga tidak perlu dianggap sebagai momen menakutkan. Perkenalkan diri, jelaskan pekerjaan yang sedang dilakukan dan tunjukkan rasa ingin tahu. Percakapan singkat dapat menjadi kesempatan untuk membangun hubungan yang lebih luas di dalam perusahaan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam rapat hybrid, kemampuan terlihat dan dikenali juga semakin penting. Sebelum berbicara, pastikan orang mengetahui siapa Anda. Namun, ketika bekerja dalam pola hybrid, kehadiran fisik tetap memiliki nilai tertentu. Layar komputer membuat seseorang lebih mudah tenggelam di antara peserta lain. Karena itu, kontribusi dalam pertemuan harus disertai kejelasan identitas dan komunikasi yang aktif. Begitu pula dengan pakaian. Tidak ada satu aturan yang cocok untuk seluruh kantor. Lingkungan kerja kreatif mungkin memberi ruang besar untuk individualitas, sementara kantor yang lebih formal membutuhkan pertimbangan berbeda. Prinsip sederhananya adalah memahami lingkungan dan menyesuaikan diri tanpa kehilangan kepribadian.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketika pekerjaan mulai terasa membosankan, solusinya tidak selalu harus pindah perusahaan. Salah satu cara mengembalikan energi adalah membangun hubungan baru dengan rekan kerja yang memiliki keahlian berbeda. Mengajak seseorang minum kopi selama 15 menit, bertukar pengalaman atau membicarakan cara bekerja sama dapat membuka perspektif baru. Bahkan makan siang tanpa menatap layar komputer dapat membuat hubungan antarrekan menjadi lebih dekat. Bagi manajer, menciptakan suasana kerja yang menyenangkan juga bukan pekerjaan tambahan yang tidak penting. Rasa terima kasih, aktivitas sederhana bersama dan kebiasaan menjadi tuan rumah yang baik dapat membuat orang lebih menikmati pekerjaannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Aturan lain yang menarik berkaitan dengan jamuan makan bisnis. Barry McCardel dari Hex mengusulkan agar makan malam kerja tidak berlangsung lebih dari dua jam. Waktu koktail dibatasi, semua orang duduk untuk makan pada waktu yang jelas, makanan pembuka datang bersama-sama, jeda antarkursus tidak terlalu panjang dan hidangan penutup selesai sebelum malam terlalu larut. Gagasannya sederhana: hubungan bisnis tidak harus dibangun melalui pertemuan yang melelahkan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun, perubahan terbesar di tempat kerja datang dari AI. Ketika mesin semakin mampu mengumpulkan fakta dan menghasilkan informasi, manusia tidak lagi cukup hanya menjadi orang yang paling banyak mengetahui sesuatu. Kemampuan mengenali pola, menghubungkan informasi yang terpisah, menilai kredibilitas sumber dan mengambil keputusan menjadi semakin berharga. Kreativitas manusia pun dapat bergeser dari sekadar menghasilkan ide menjadi memilih, mengembangkan dan menyempurnakan ide yang paling bernilai. Hubungan langsung dengan manusia juga berpotensi semakin penting ketika informasi tertulis semakin mudah diproduksi oleh mesin.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Penggunaan AI di tempat kerja juga membutuhkan disiplin. Jika seorang karyawan menyerahkan hasil yang jelas dibuat tanpa pemikiran memadai hanya karena menggunakan AI, masalahnya bukan pada teknologinya, melainkan pada kualitas pekerjaannya. AI seharusnya mempercepat pekerjaan dan memperluas kemampuan manusia, bukan menggantikan proses berpikir. Perubahan berikutnya bahkan sudah bergerak dari era chatbot menuju AI agent yang dapat menjalankan tugas, membaca informasi, menggunakan komputer dan mengambil tindakan atas nama pengguna.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketika teman kehilangan pekerjaan, respons yang diberikan juga perlu lebih manusiawi. Hindari pesan generik seperti \u201cberi tahu kalau saya bisa membantu.\u201d Lebih baik tawarkan bantuan yang konkret, misalnya memperkenalkan kepada seseorang dalam jaringan profesional atau mengajak bertemu untuk membicarakan langkah berikutnya. Jangan hanya menghubungi sekali. Kehilangan pekerjaan tetap merupakan peristiwa yang berarti bagi seseorang, meskipun penyebabnya adalah restrukturisasi perusahaan dan bukan kesalahan pribadi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Rasa iri juga menjadi bagian dari kehidupan profesional, terutama ketika melihat rekan mendapatkan pekerjaan dengan kompensasi luar biasa besar di perusahaan teknologi. Namun, satu kesempatan bukanlah satu-satunya kesempatan. Karier tidak bergerak melalui satu pintu saja. Jaringan, kemampuan dan pengalaman dapat membuka peluang lain yang mungkin tidak terlihat hari ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bagi mereka yang merasa kariernya berhenti di tempat, pekerjaan lama dapat dibuat kembali menarik dengan mencari cara untuk menjadi jauh lebih baik dalam sesuatu yang bernilai bagi perusahaan. Penguasaan kemampuan tertentu secara konsisten dapat membuka ruang untuk tanggung jawab baru, promosi dan kendali yang lebih besar terhadap pekerjaan. Sebaliknya, keputusan untuk keluar sebaiknya dilakukan dengan perhitungan. Scott Galloway menyarankan agar seseorang tidak meninggalkan pekerjaan sebelum memiliki pekerjaan berikutnya. Lebih mudah mencari pekerjaan ketika masih memiliki pekerjaan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Keinginan untuk berubah juga perlu disampaikan kepada atasan. Seorang manajer tidak dapat membantu membawa seseorang menuju tujuan yang tidak pernah diketahuinya. Namun, percakapan tersebut harus dilakukan setelah seseorang menunjukkan kontribusi dan memahami pekerjaannya. Untuk berkembang, mintalah umpan balik yang jelas. Daripada bertanya apakah kinerja sudah baik, gunakan pertanyaan terbuka seperti, \u201cApa yang bisa saya lakukan agar lebih mudah bekerja bersama saya?\u201d Jawaban yang spesifik jauh lebih berguna untuk perkembangan profesional.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mengenali risiko PHK juga menjadi bagian dari strategi karier. Tidak ada metode yang sepenuhnya akurat untuk mengetahui siapa yang akan terkena pemutusan hubungan kerja, tetapi beberapa tanda patut diperhatikan. Tim yang terus kekurangan pendanaan, pekerjaan yang semakin mudah diotomatisasi dan posisi dalam tim yang sangat kecil dapat menjadi sinyal bahwa suatu fungsi sedang dipertimbangkan ulang. Karena itu, pekerja perlu terus memperkuat kemampuan yang sulit digantikan dan relevan dengan kebutuhan perusahaan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bahkan ketika seseorang belum menyukai pekerjaannya, situasi tersebut tidak harus dijalani dengan rasa takut. Memiliki rencana, membangun kemampuan dan memperluas hubungan profesional membuat seseorang memiliki lebih banyak pilihan. Pekerjaan yang tidak ideal dapat menjadi tempat mengumpulkan pengalaman sebelum melangkah ke tahap berikutnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Aturan terpenting dalam dunia kerja baru bukan sekadar menjadi orang yang paling pintar atau paling berpengalaman. Jim Lanzone, CEO Yahoo, menekankan pentingnya kemampuan memimpin melalui pengaruh dan menjadi rekan kerja yang hebat. Dalam setiap kelompok selalu ada orang yang mampu menggerakkan proyek, membuat orang lain bekerja bersama dan memastikan pekerjaan benar-benar berjalan. Mereka tidak selalu memiliki latar belakang yang sama atau jabatan paling tinggi. Namun, kemampuan tersebut mudah dikenali di dalam organisasi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dunia kerja yang berubah membuat kemampuan teknis tetap penting, tetapi tidak lagi cukup. Orang yang mampu menghasilkan nilai, menggunakan AI secara cerdas, memahami manusia, membangun hubungan, mengambil inisiatif, menerima umpan balik dan menggerakkan orang lain akan memiliki posisi yang lebih kuat. Kesuksesan karier semakin sedikit ditentukan oleh seberapa lama seseorang bertahan dalam satu jalur dan semakin banyak ditentukan oleh seberapa besar nilai yang mampu ia ciptakan ketika lingkungan terus berubah.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge &#8211; Global News) Dunia kerja sedang memasuki masa yang berbeda dari sebelumnya. Pemutusan hubungan kerja, transformasi kecerdasan buatan, tekanan terhadap manajer, struktur organisasi yang semakin datar, hingga ketidakpastian mengenai arah karier membuat banyak pekerja harus memikirkan kembali cara mereka bertahan dan berkembang. Jalur karier yang dahulu terlihat jelas kini tidak selalu menjamin masa depan. Namun, perubahan tersebut bukan berarti peluang menghilang. Justru, cara seseorang bekerja, berkomunikasi, membangun hubungan dan menunjukkan nilai dirinya menjadi semakin penting. Salah satu persoalan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":32,"featured_media":200878,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[12255],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/220040"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/32"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=220040"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/220040\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":220041,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/220040\/revisions\/220041"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/200878"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=220040"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=220040"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=220040"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}