{"id":219978,"date":"2026-09-09T16:06:15","date_gmt":"2026-09-09T09:06:15","guid":{"rendered":"https:\/\/www.blj.co.id\/?p=219978"},"modified":"2026-09-09T16:06:15","modified_gmt":"2026-09-09T09:06:15","slug":"tetap-positif-tim-yang-tangguh-dan-adaptif-menjadi-kunci-kesuksesan-bisnis-1","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2026\/09\/09\/tetap-positif-tim-yang-tangguh-dan-adaptif-menjadi-kunci-kesuksesan-bisnis-1\/","title":{"rendered":"Tetap Positif! Tim yang Tangguh dan Adaptif Menjadi Kunci Kesuksesan Bisnis (1)"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Businesslounge Journal-Human Resources) Tim yang memiliki ketangguhan dan mampu beradaptasi cenderung lebih sering meraih keberhasilan dibandingkan tim yang kaku dan enggan berubah. Berikut alasan mengapa kedua karakter tersebut sangat penting bagi kesuksesan bisnis.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Bagaimana meningkatkan ketangguhan dan kemampuan beradaptasi dalam bisnis?<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam kehidupan alam, ketangguhan dan kemampuan beradaptasi merupakan karakter penting untuk bertahan hidup. Ketika Charles Darwin menggunakan istilah \u201csurvival of the fittest\u201d, yang dimaksud bukanlah makhluk hidup yang paling cepat, paling kuat, atau paling cerdas. Istilah tersebut lebih mengacu pada makhluk yang paling mampu menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan tempat mereka berada.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Prinsip yang sama juga berlaku dalam dunia bisnis. Tim yang tangguh dan mudah beradaptasi umumnya memiliki peluang lebih besar untuk berhasil dibandingkan tim yang kaku dan tidak bersedia melakukan perubahan, bahkan ketika kelompok yang lebih kaku tersebut memiliki anggota dengan kemampuan yang lebih unggul. Penelitian dari Johns Hopkins University menunjukkan hal tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Apa yang dimaksud dengan \u201cketangguhan dalam tindakan\u201d?<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam sebuah penelitian, Kathleen Sutcliffe, profesor terkemuka Johns Hopkins Bloomberg yang memiliki keahlian dalam teori organisasi, bersama Michelle Barton, profesor di Boston University, mengamati tim peserta perlombaan ekspedisi. Para peserta harus melewati berbagai medan alam liar, baik melalui jalur darat maupun laut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hasil penelitian menunjukkan bahwa tim yang paling berhasil bukan sekadar mampu bertahan ketika menghadapi kondisi ekstrem. Mereka juga mampu mengubah strategi sesuai tantangan yang muncul dan bahkan memperbaiki cara kerja yang sebelumnya telah mereka lakukan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Peneliti menemukan bahwa tim yang mampu mempertahankan pemahaman bersama mengenai kondisi yang sedang mereka hadapi, termasuk mengetahui posisi dan perkembangan mereka, cenderung dapat mengambil tindakan yang tepat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebaliknya, ketika sebuah tim kehilangan pemahaman terhadap kondisi di sekitarnya, baik yang berasal dari dalam maupun luar kelompok, mereka lebih mudah kehilangan arah. Situasi tersebut dapat membuat mereka mengambil keputusan yang justru memperburuk keadaan, seperti melewati jalur atau titik pemeriksaan, mengambil arah yang salah, atau memaksakan anggota tim yang sudah kelelahan hingga mengalami penurunan kondisi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut para peneliti, karakter tersebut juga memiliki relevansi kuat dalam dunia bisnis, terutama melalui penerapan konsep <strong>drift management<\/strong> dan <strong>meaning management<\/strong>.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Apa itu drift management dan meaning management?<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam perlombaan yang diteliti, kemampuan mengelola perubahan kondisi dan menjaga pemahaman bersama menjadi indikator penting terhadap kinerja tim. Tim yang mampu mengenali perubahan situasi dan memahami makna dari kondisi yang mereka hadapi memiliki posisi yang lebih baik untuk mencapai keberhasilan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Drift management<\/strong> berarti kemampuan untuk terus memperhatikan perubahan lingkungan sekaligus kondisi fisik dan mental anggota tim. Dalam dunia bisnis, perubahan tersebut dapat berupa pergeseran pasar, kondisi kesehatan karyawan, maupun beban kerja individu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pengelolaan perubahan dapat dilakukan dengan mengurangi beban anggota tim yang sedang mengalami kesulitan atau mengatur kembali strategi agar usaha perusahaan sesuai dengan kondisi pasar yang terus berubah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sementara itu, <strong>meaning management<\/strong> berkaitan dengan upaya membangun pola pikir bersama bahwa tim mampu melewati berbagai kesulitan dan mencapai kondisi yang lebih baik. Pendekatan ini membantu karyawan tetap terlibat dalam pekerjaan dan mempertahankan ketangguhan ketika perusahaan menghadapi penurunan kinerja, kuartal bisnis yang buruk, atau perlambatan ekonomi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dengan kata lain, perusahaan perlu membangun budaya yang menumbuhkan keyakinan terhadap kemampuan tim sekaligus tujuan yang ingin dicapai bersama.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Perhatikan kondisi anggota tim<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Memperhatikan kondisi karyawan dan secara rutin berkomunikasi dengan anggota tim merupakan bagian penting dari keberhasilan organisasi. Hal tersebut bisa menjadi lebih menantang ketika perusahaan mengelola tim yang bekerja dari jarak jauh. Namun, komunikasi tetap perlu dilakukan secara konsisten.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perusahaan dapat memanfaatkan berbagai perangkat kolaborasi jarak jauh untuk mengetahui kondisi dan perkembangan tim secara berkala.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Penelitian Sutcliffe dan Barton juga menunjukkan bahwa ketika sebuah tim tidak mampu merespons tantangan dengan cara yang tangguh, bukan hanya hasil kerja yang berpotensi memburuk. Tim tersebut juga menjadi lebih rentan menghadapi berbagai kesulitan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Para peneliti menyimpulkan bahwa tindakan yang dilakukan tim dapat memengaruhi kondisi yang mereka hadapi. Sebaliknya, kondisi tersebut juga memengaruhi tindakan yang mereka ambil. Semakin baik tim memahami lingkungan dan situasinya, semakin besar kemampuan mereka untuk menyesuaikan tindakan, mengambil keputusan yang tepat, serta menghadapi keadaan dengan lebih baik.<\/p>\n<p>(bersambung ke artikel selanjutnya)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Businesslounge Journal-Human Resources) Tim yang memiliki ketangguhan dan mampu beradaptasi cenderung lebih sering meraih keberhasilan dibandingkan tim yang kaku dan enggan berubah. Berikut alasan mengapa kedua karakter tersebut sangat penting bagi kesuksesan bisnis. Bagaimana meningkatkan ketangguhan dan kemampuan beradaptasi dalam bisnis? Dalam kehidupan alam, ketangguhan dan kemampuan beradaptasi merupakan karakter penting untuk bertahan hidup. Ketika Charles Darwin menggunakan istilah \u201csurvival of the fittest\u201d, yang dimaksud bukanlah makhluk hidup yang paling cepat, paling kuat, atau paling cerdas. Istilah tersebut lebih mengacu [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":101013,"featured_media":219979,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[2725,4],"tags":[12631,64,278],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/219978"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/101013"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=219978"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/219978\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":219980,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/219978\/revisions\/219980"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/219979"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=219978"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=219978"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=219978"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}