{"id":219834,"date":"2026-09-03T09:32:28","date_gmt":"2026-09-03T02:32:28","guid":{"rendered":"https:\/\/www.blj.co.id\/?p=219834"},"modified":"2026-09-03T09:32:28","modified_gmt":"2026-09-03T02:32:28","slug":"dari-rugi-ke-profit-bagaimana-victoria-beckham-mengubah-arah-bisnisnya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2026\/09\/03\/dari-rugi-ke-profit-bagaimana-victoria-beckham-mengubah-arah-bisnisnya\/","title":{"rendered":"Dari Rugi ke Profit: Bagaimana Victoria Beckham Mengubah Arah Bisnisnya"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge Journal &#8211; Entrepreneurship)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selama bertahun-tahun, nama Victoria Beckham identik dengan fashion premium, celebrity status, dan ambisi membangun sebuah luxury brand yang berdiri sendiri. Namun, popularitas nama besar ternyata tidak otomatis menghasilkan bisnis yang sehat. Sejak diluncurkan pada 2008, Victoria Beckham Holdings harus melewati perjalanan panjang sebelum akhirnya mencapai profitabilitas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kini, arah bisnis tersebut mulai berubah. Victoria Beckham Holdings mencatat operating profit sebesar \u00a37,3 juta pada 2025, berbalik dari kerugian \u00a31,6 juta pada tahun sebelumnya. Pendapatan juga meningkat 15% menjadi \u00a3129,8 juta, sementara EBITDA melonjak lebih dari lima kali lipat menjadi \u00a312,1 juta. Ini menjadi operating profit pertama perusahaan sejak didirikan 18 tahun lalu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pencapaian tersebut menjadi menarik bukan karena Victoria Beckham akhirnya berhasil menghasilkan uang dari bisnis fashion dan beauty, tetapi karena proses di belakangnya menunjukkan sesuatu yang lebih penting bagi dunia bisnis: brand yang kuat tetap membutuhkan model bisnis yang sehat, disiplin biaya, struktur kepemimpinan yang tepat, dan kemampuan membaca perubahan konsumen.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\">Brand Besar Tidak Selalu Berarti Bisnis Sehat<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kesalahan yang sering terjadi dalam bisnis berbasis brand adalah menganggap <em>brand equity<\/em> sebagai jaminan profitabilitas. Nama besar memang dapat menciptakan perhatian, kredibilitas, dan akses kepada konsumen, tetapi semuanya harus diterjemahkan menjadi produk yang dibeli, margin yang sehat, dan struktur biaya yang mampu menopang pertumbuhan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Victoria Beckham mengalami persoalan tersebut selama bertahun-tahun. Setelah meluncurkan lini fashion pada 2008, perusahaan berkembang ke beauty pada 2019. Namun, ekspansi tersebut tidak serta-merta menghasilkan keuntungan. Pada 2022, bisnis bahkan hampir \u00a354 juta berada dalam kondisi utang, sementara akumulasi kerugian perusahaan selama periode awal bisnis mencapai puluhan juta pound.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Situasi tersebut menunjukkan bahwa membangun luxury brand membutuhkan lebih dari sekadar positioning yang premium. Harga tinggi dan citra eksklusif harus diimbangi dengan economics yang masuk akal. Biaya produksi, inventory, distribusi, retail, marketing, dan pengembangan produk harus dikelola sedemikian rupa sehingga pertumbuhan penjualan benar-benar menghasilkan nilai bagi perusahaan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Karena itu, perubahan paling penting dalam kasus Victoria Beckham bukan hanya bahwa penjualannya meningkat. Perusahaan berhasil mengubah pertumbuhan menjadi profitabilitas. Revenue tumbuh 15% pada 2025, tetapi perubahan pada operating profit jauh lebih signifikan karena perusahaan berhasil berbalik dari rugi \u00a31,6 juta menjadi laba operasi \u00a37,3 juta.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ini merupakan perbedaan penting antara growth dan healthy growth. Bisnis dapat tumbuh dengan cepat tetapi tetap kehilangan uang. Sebaliknya, bisnis yang sehat adalah bisnis yang mampu menemukan titik di mana pertumbuhan, margin, dan biaya bergerak dalam arah yang berkelanjutan.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\">Dari Fashion ke Ekosistem Fashion dan Beauty<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Salah satu perubahan penting dalam perjalanan Victoria Beckham adalah semakin kuatnya bisnis beauty. Menurut Financial Times, beauty kini menyumbang sekitar dua pertiga dari total pendapatan perusahaan. Produk-produk seperti Satin Kajal eyeliner dan Foundation Drops menjadi bagian penting dari pertumbuhan tersebut, sementara bisnis fashion tetap mendapatkan permintaan yang kuat pada tailoring, occasion-wear, dan elevated daywear.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perubahan ini memperlihatkan bagaimana perusahaan mulai membangun model bisnis yang lebih beragam. Fashion tetap menjadi fondasi identitas brand, tetapi beauty memberikan kategori produk dengan peluang pembelian yang berbeda dan dapat menjangkau konsumen dalam frekuensi yang lebih tinggi. Konsumen tidak harus membeli sebuah gaun atau jaket seharga ribuan pound untuk dapat berinteraksi dengan brand Victoria Beckham.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di sinilah positioning premium menjadi lebih menarik. Menjadi premium tidak selalu berarti membuat setiap produk semakin mahal dan semakin eksklusif. Premium juga dapat berarti menciptakan persepsi kualitas, desain, dan aspirasi yang kuat, kemudian menerjemahkannya ke berbagai titik harga dan kategori produk.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hubungan antara fashion dan beauty juga menciptakan efek <em>brand ecosystem<\/em>. Aesthetic yang dibangun melalui fashion dapat diterjemahkan ke dalam beauty, sementara keberhasilan beauty dapat membawa konsumen baru kembali mengenal fashion. Dengan demikian, brand tidak hanya menjual produk individual, tetapi membangun dunia yang dapat dimasuki konsumen melalui berbagai kategori.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Strategi ini juga terlihat dari rencana ekspansi perusahaan. Victoria Beckham Holdings berencana memperluas kehadiran internasional, termasuk melalui flagship store di New York yang menggabungkan fashion, beauty, dan fragrance. Perusahaan juga melihat peluang pertumbuhan di Amerika Serikat dan Timur Tengah serta memperluas kehadiran melalui wholesale.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\">Turnaround Membutuhkan Leadership, Bukan Sekadar Rebranding<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perubahan strategi tidak akan berjalan tanpa perubahan dalam cara bisnis dikelola. Salah satu bagian penting dari turnaround Victoria Beckham adalah penguatan struktur kepemimpinan dengan penunjukan dua CEO yang menangani bisnis secara lebih spesifik: Sybille Darricarr\u00e8re Lunel sebagai CEO fashion dan Lauren Edelman sebagai CEO beauty.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pembagian tersebut menunjukkan bahwa semakin besar sebuah brand, semakin sulit bagi satu figur untuk menangani seluruh kompleksitas bisnis. Fashion dan beauty memang dapat berada di bawah satu identitas brand, tetapi keduanya memiliki karakter konsumen, siklus produk, channel, dan economics yang berbeda. Dengan memberikan fokus kepemimpinan yang lebih spesifik, perusahaan dapat bergerak dengan disiplin yang lebih besar tanpa kehilangan kesatuan visi brand.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di sisi lain, peran Victoria Beckham sendiri tetap penting. Ia tetap menjadi creative director dan wajah utama brand, tetapi keberhasilan bisnis tidak lagi semata-mata bergantung pada celebrity status-nya. Menurut laporan Financial Times, Beckham menilai bahwa setelah bertahun-tahun melewati berbagai kesulitan, brand tersebut mulai dipandang bukan sekadar sebagai proyek seorang selebritas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perubahan persepsi tersebut sebenarnya merupakan aset bisnis yang sangat penting. Celebrity dapat menciptakan <em>awareness<\/em> dengan cepat, tetapi sebuah brand harus membangun alasan yang lebih kuat agar konsumen terus membeli ketika daya tarik selebritas mulai menjadi hal yang biasa. Produk yang konsisten, kualitas, desain, pengalaman konsumen, dan kredibilitas akhirnya menjadi fondasi yang menentukan apakah sebuah celebrity brand dapat berkembang menjadi perusahaan yang memiliki kehidupan sendiri.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\">Pelajaran Turnaround: Profitabilitas Harus Menjadi Bagian dari Brand Strategy<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kasus Victoria Beckham memberikan pelajaran penting bagi perusahaan consumer brand, terutama di tengah pasar luxury yang sedang menghadapi tekanan. Pertumbuhan konsumen kelas atas tidak dapat lagi diasumsikan akan selalu berjalan dengan sendirinya. Konsumen semakin selektif, sementara perusahaan harus berhati-hati dalam menentukan produk mana yang layak dikembangkan, channel mana yang paling efektif, dan seberapa besar biaya yang diperlukan untuk mempertahankan eksistensi brand.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Karena itu, turnaround bukan sekadar melakukan <em>cost cutting<\/em>. Pengurangan biaya memang penting, dan Victoria Beckham Holdings sendiri menyebut disiplin biaya sebagai salah satu faktor pencapaian profitabilitas. Namun, pemotongan biaya tanpa perubahan pada produk, positioning, leadership, dan cara perusahaan menghasilkan pendapatan hanya akan memberikan ruang bernapas sementara. Turnaround yang berkelanjutan membutuhkan perubahan pada economics bisnis secara keseluruhan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam kasus Victoria Beckham, perubahan tersebut terjadi melalui beberapa sisi sekaligus: pertumbuhan fashion dan beauty, fokus pada produk yang memiliki permintaan kuat, pengendalian biaya yang lebih ketat, penguatan struktur manajemen, serta ekspansi ke pasar dan channel yang dinilai memiliki peluang pertumbuhan. Hasilnya mulai terlihat dalam angka: pendapatan meningkat 15%, EBITDA naik lebih dari lima kali lipat, dan perusahaan akhirnya mencatat operating profit setelah bertahun-tahun berada dalam posisi rugi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Yang menarik, perusahaan tidak berhenti setelah mencapai profit pertama. Justru tantangan berikutnya mungkin lebih sulit: bagaimana menjaga profitabilitas ketika kembali melakukan ekspansi. Membuka toko baru, masuk ke pasar internasional, memperluas kategori produk, dan meningkatkan distribusi semuanya membutuhkan investasi. Perusahaan harus memastikan bahwa fase pertumbuhan berikutnya tidak kembali membawa bisnis kepada pola lama\u2014revenue meningkat tetapi biaya tumbuh lebih cepat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di sinilah perbedaan antara turnaround dan recovery menjadi penting. Recovery berarti perusahaan berhasil keluar dari masa sulit. Turnaround yang sebenarnya berarti perusahaan menemukan cara baru untuk menjalankan bisnis secara lebih sehat sehingga masalah yang sama tidak kembali muncul.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Victoria Beckham Holdings belum selesai dengan perjalanan tersebut. Profit pertama adalah sebuah milestone, bukan garis akhir. Namun, pencapaian 2025 menunjukkan bahwa sebuah brand premium dapat mengubah arah ketika kreativitas dan brand equity mulai ditopang oleh disiplin bisnis yang lebih kuat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada akhirnya, pelajaran terbesar dari Victoria Beckham bukanlah bahwa seorang selebritas akhirnya berhasil membangun bisnis fashion yang menguntungkan. Pelajarannya jauh lebih universal: brand dapat membawa konsumen masuk, tetapi hanya model bisnis yang sehat yang dapat membuat mereka bertahan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebuah perusahaan boleh memiliki nama besar, positioning premium, dan perhatian media yang tinggi. Tetapi ketika semua itu tidak diterjemahkan menjadi margin, cash flow, dan profitabilitas, brand tersebut tetap belum menjadi bisnis yang sehat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebaliknya, ketika brand positioning, produk, leadership, cost discipline, dan consumer demand mulai bergerak dalam arah yang sama, bahkan bisnis yang telah bertahun-tahun mengalami kerugian masih memiliki kesempatan untuk melakukan turnaround.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Victoria Beckham mungkin membangun brand dari namanya. Tetapi untuk membuatnya bertahan, ia harus membangun sebuah bisnis.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge Journal &#8211; Entrepreneurship) Selama bertahun-tahun, nama Victoria Beckham identik dengan fashion premium, celebrity status, dan ambisi membangun sebuah luxury brand yang berdiri sendiri. Namun, popularitas nama besar ternyata tidak otomatis menghasilkan bisnis yang sehat. Sejak diluncurkan pada 2008, Victoria Beckham Holdings harus melewati perjalanan panjang sebelum akhirnya mencapai profitabilitas. Kini, arah bisnis tersebut mulai berubah. Victoria Beckham Holdings mencatat operating profit sebesar \u00a37,3 juta pada 2025, berbalik dari kerugian \u00a31,6 juta pada tahun sebelumnya. Pendapatan juga meningkat 15% [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":26,"featured_media":219835,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[8039,2725],"tags":[13715],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/219834"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/26"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=219834"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/219834\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":219836,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/219834\/revisions\/219836"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/219835"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=219834"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=219834"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=219834"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}