{"id":219677,"date":"2026-08-28T18:51:38","date_gmt":"2026-08-28T11:51:38","guid":{"rendered":"https:\/\/www.blj.co.id\/?p=219677"},"modified":"2026-08-28T18:51:38","modified_gmt":"2026-08-28T11:51:38","slug":"indonesia-tak-lagi-sekadar-produsen-furnitur-ekosistem-material-hingga-desain-global-mulai-dibangun","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2026\/08\/28\/indonesia-tak-lagi-sekadar-produsen-furnitur-ekosistem-material-hingga-desain-global-mulai-dibangun\/","title":{"rendered":"Indonesia Tak Lagi Sekadar Produsen Furnitur, Ekosistem Material hingga Desain Global Mulai Dibangun"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge Journal &#8211; Event)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Industri furnitur Indonesia memiliki peluang besar untuk berkembang menjadi industri bernilai tambah dengan jangkauan pasar yang lebih luas. Namun, tantangan yang dihadapi bukan semata-mata kemampuan memproduksi furnitur, melainkan bagaimana menghubungkan seluruh rantai nilai industri, mulai dari material, proses manufaktur, teknologi, desain, hingga akses ke pasar global.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa pada 2025 ekspor mebel menempati peringkat kedua subsektor kerajinan dengan kontribusi sekitar 12,2 persen. Angka tersebut menunjukkan pentingnya industri furnitur dalam perekonomian sekaligus memperlihatkan besarnya potensi ekspor yang masih dapat dikembangkan.\u00a0Di sisi lain, di tengah nilai pasar furnitur global yang mencapai ratusan miliar dolar AS per tahun, pangsa Indonesia masih berada di bawah satu persen. Kondisi ini memperlihatkan bahwa ruang pertumbuhan masih terbuka lebar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Persoalannya kemudian bergeser dari sekadar kemampuan menghasilkan produk menjadi bagaimana Indonesia membangun konektivitas rantai nilai yang lebih kuat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Material berkualitas, teknologi produksi, efisiensi manufaktur, desain, standardisasi, hingga akses terhadap buyer internasional perlu bergerak dalam ekosistem yang saling terhubung. Keterlibatan desainer dan pelaku industri kreatif pun semakin penting, bukan hanya pada tahap akhir ketika sebuah produk akan dipasarkan, tetapi sejak proses pengembangan produk.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam konteks tersebut, pameran industri memiliki peran yang semakin strategis. Pameran tidak lagi hanya menjadi tempat untuk memajang produk jadi, tetapi berkembang menjadi ruang pertemuan antara produsen, pemasok material, desainer, teknologi manufaktur, buyer, distributor, dan pasar internasional.\u00a0Pendekatan inilah yang akan diperkuat melalui Indonesia Materials, Manufacturing &amp; Furniture Connect, sebuah platform industri terpadu yang menghubungkan material, proses produksi, furnitur, dan interior dalam satu ekosistem.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mulai 2026, empat pameran dagang akan diselenggarakan secara <em>co-located<\/em> pada 23\u201327 September 2026 di NICE PIK 2 dan JIExpo Kemayoran, Jakarta. Integrasi tersebut ditargetkan menghadirkan sekitar 800 exhibitor dan 15.000 pengunjung, dengan partisipasi dari lebih dari 20 negara.\u00a0Empat platform yang terlibat adalah IFFINA+, interzum jakarta, International Hardware Fair Indonesia, serta IFMAC WOODMAC. Amara Group dan Koelnmesse GmbH mengelola IFFINA+, interzum jakarta dan International Hardware Fair Indonesia, sementara IFMAC WOODMAC diselenggarakan bersama Wakeni.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Integrasi ini memberikan gambaran tentang bagaimana industri furnitur mulai diarahkan untuk bekerja secara lebih terhubung. Desainer dapat melihat pilihan material dan teknologi produksi, produsen memperoleh akses terhadap pemasok serta jaringan pasar, sementara buyer internasional dapat melihat lebih banyak bagian dari rantai industri dalam satu rangkaian acara.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Managing Director dan Regional President Asia Pacific Koelnmesse Pte Ltd, Mathias K\u00fcpper, mengatakan konsep <em>co-location<\/em> dan penyelarasan lintas sektor tersebut merupakan tonggak penting dalam pengembangan platform industri di Indonesia dan kawasan Asia-Pasifik.\u00a0Menurutnya, penyatuan material, manufaktur, dan furnitur dalam satu ekosistem membuka ruang kolaborasi yang lebih relevan antara desain, industri, dan pasar.\u00a0Perubahan tersebut juga relevan dengan perkembangan pasar domestik. Pertumbuhan hunian berukuran kecil, apartemen, serta kebutuhan masyarakat urban menciptakan permintaan terhadap furnitur yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga mampu menjawab keterbatasan ruang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Furnitur modular, ringkas, multifungsi, dan siap dirakit semakin relevan bagi penghuni perkotaan dan <em>first-time homeowners<\/em>. Dengan demikian, desain tidak lagi sekadar berbicara mengenai estetika, tetapi juga mengenai bagaimana sebuah produk dapat beradaptasi dengan ruang dan gaya hidup penggunanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di Jakarta, pasokan apartemen telah melampaui 230.000 unit dengan tingkat hunian mendekati 88 persen. Kondisi ini membuka kebutuhan terhadap sistem furnitur modular, furnitur siap rakit, serta solusi interior yang praktis.\u00a0Peluang lainnya datang dari sektor pariwisata. Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 13,9 juta orang, tumbuh sekitar 19 persen secara tahunan. Pertumbuhan tersebut turut membuka permintaan terhadap furnitur dan interior untuk hotel, vila, serta akomodasi jangka pendek.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam sektor hospitality, desain interior bahkan menjadi bagian dari pengalaman yang ditawarkan sebuah properti. Karena itu, kebutuhan industri tidak berhenti pada furnitur sebagai produk, tetapi juga mencakup kemampuan menghadirkan solusi desain yang sesuai dengan karakter ruang dan kebutuhan pengguna.\u00a0Di sinilah integrasi antara material, manufaktur, furnitur, dan desain menjadi semakin penting.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketua ASMINDO sekaligus kolaborator industri yang terlibat aktif dalam ekosistem IFFINA+, Dedy Rochimat, mengatakan penyelarasan berbagai platform industri tersebut sesuai dengan cara industri furnitur bekerja saat ini. Menurutnya, inisiatif tersebut mendukung pengembangan bisnis sekaligus memperluas akses pasar melalui platform industri yang menyeluruh dari hulu ke hilir.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bagi pelaku usaha kecil dan menengah, integrasi ini juga membuka peluang untuk masuk ke dalam rantai nilai yang lebih luas. Sekitar 50 persen partisipasi pelaku pada IFFINA merupakan UMKM, sehingga platform tersebut tidak hanya ditujukan bagi pemain industri berskala besar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dengan demikian, pengembangan industri furnitur tidak hanya berbicara mengenai peningkatan kapasitas produksi, tetapi juga mengenai kemampuan pelaku industri untuk terhubung dengan ekosistem yang lebih luas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kolaborasi tersebut kemudian diperkuat melalui pendekatan hexahelix, yang melibatkan pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas kreatif, media, dan investor. Keterlibatan berbagai pihak dinilai penting untuk memastikan inovasi dan desain tidak berhenti sebagai gagasan, tetapi dapat diterapkan secara berkelanjutan di sepanjang rantai nilai.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Indonesia Materials, Manufacturing &amp; Furniture Connect juga akan menghadirkan program diskusi, <em>business matching<\/em>, serta forum terkurasi sebagai ruang pertukaran pengetahuan dan inovasi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dengan pendekatan tersebut, masa depan industri furnitur Indonesia tidak lagi hanya ditentukan oleh seberapa banyak produk yang dapat diproduksi. Daya saing akan semakin ditentukan oleh kemampuan Indonesia menghubungkan material, teknologi, manufaktur, desain, kreativitas, dan pasar dalam satu ekosistem.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dari material mentah hingga desain yang siap memasuki pasar global, rantai nilai yang semakin terintegrasi dapat menjadi salah satu jalan bagi industri furnitur Indonesia untuk meningkatkan nilai tambah sekaligus memperbesar jejaknya di pasar internasional.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge Journal &#8211; Event) Industri furnitur Indonesia memiliki peluang besar untuk berkembang menjadi industri bernilai tambah dengan jangkauan pasar yang lebih luas. Namun, tantangan yang dihadapi bukan semata-mata kemampuan memproduksi furnitur, melainkan bagaimana menghubungkan seluruh rantai nilai industri, mulai dari material, proses manufaktur, teknologi, desain, hingga akses ke pasar global. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa pada 2025 ekspor mebel menempati peringkat kedua subsektor kerajinan dengan kontribusi sekitar 12,2 persen. Angka tersebut menunjukkan pentingnya industri furnitur dalam perekonomian [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":36,"featured_media":219678,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[8027],"tags":[13580,13581],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/219677"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/36"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=219677"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/219677\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":219679,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/219677\/revisions\/219679"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/219678"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=219677"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=219677"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=219677"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}