{"id":219598,"date":"2026-08-26T18:34:33","date_gmt":"2026-08-26T11:34:33","guid":{"rendered":"https:\/\/www.blj.co.id\/?p=219598"},"modified":"2026-08-26T18:34:33","modified_gmt":"2026-08-26T11:34:33","slug":"living-the-war-children-ukraine-peringati-hari-kemerdekaan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2026\/08\/26\/living-the-war-children-ukraine-peringati-hari-kemerdekaan\/","title":{"rendered":"Living the War: Children &#8211; Ukraine Peringati Hari Kemerdekaan"},"content":{"rendered":"<p>(Business Lounge Journal &#8211; News and Insight)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebuah pameran fotografi bertajuk <em>Living the War: Children<\/em> resmi dibuka di Jakarta, menghadirkan kisah anak-anak Ukraina yang masa kanak-kanaknya dibentuk oleh perang. Melalui foto, gambar, dan berbagai kisah yang ditampilkan, pameran ini mengajak pengunjung melihat perang bukan hanya sebagai persoalan geopolitik, tetapi sebagai pengalaman manusia yang secara langsung memengaruhi kehidupan generasi paling rentan: anak-anak.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pembukaan pameran tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan 35 tahun pemulihan kemerdekaan Ukraina. Dalam sambutannya sebagai Charge d&#8217;affaires Kedutaan Ukraina di Indonesia, Yevhenia Shinkarenko, menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Indonesia, khususnya Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, serta Delegasi Uni Eropa atas dukungan dan kerja sama dalam menghadirkan proyek kemanusiaan tersebut di Jakarta.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut Shinkarenko, makna kemerdekaan bagi Ukraina tidak berhenti pada sebuah tanggal atau status politik. Kemerdekaan merupakan hak untuk menentukan masa depan sendiri, berbicara dalam bahasa sendiri, menjaga budaya dan sejarah, memilih jalan yang ingin ditempuh, serta menentukan siapa yang menjadi sahabat dan mitra.<\/p>\n<blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">Independence is much more than a date or a political status,\u201d ujarnya dalam sambutan pembukaan. Ia menekankan bahwa perang yang berlangsung di Ukraina juga menyangkut prinsip yang lebih universal, yakni hak setiap bangsa untuk menentukan masa depannya sendiri tanpa dipaksakan oleh negara lain.<\/p>\n<\/blockquote>\n<h3 style=\"text-align: justify;\">Satu Generasi Tumbuh Bersama Perang<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Salah satu pesan paling kuat dari pameran ini adalah bagaimana perang telah mengubah pengalaman masa kanak-kanak di Ukraina. Anak-anak yang seharusnya mengenal dunia melalui sekolah, permainan, keluarga dan persahabatan, justru tumbuh dengan suara sirene serangan udara, tempat perlindungan dan ledakan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Shinkarenko menggambarkan munculnya satu generasi anak Ukraina yang masa kanak-kanaknya dibentuk oleh perang. Anak-anak yang masih sangat kecil ketika agresi Rusia dimulai kini telah menjadi remaja. Bagi sebagian dari mereka, perpindahan tempat tinggal, pendudukan dan serangan menjadi bagian dari pengalaman hidup sejak usia dini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sementara itu, bagi anak-anak yang berada di wilayah lain Ukraina, kehidupan sebelum invasi skala penuh pada 2022 masih dapat terasa relatif normal. Setelah itu, kehidupan berubah secara drastis.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Seorang anak berusia empat tahun saat ini, misalnya, tidak pernah mengenal kehidupan tanpa perang. Anak yang mulai bersekolah mungkin telah memiliki kenangan tentang tempat perlindungan, sirene serangan udara dan suara ledakan. Bahkan suara-suara yang bagi anak-anak di negara lain merupakan bagian dari kehidupan normal dapat memiliki arti berbeda bagi mereka.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Suara petir dapat mengingatkan pada ledakan. Kembang api dapat terdengar seperti rudal atau sistem pertahanan udara. Ruang bawah tanah dapat berubah menjadi tempat tidur ketika serangan udara terjadi. Sekolah dapat terhenti karena sirene, sementara taman bermain dapat berada tidak jauh dari bangunan yang hancur akibat serangan rudal.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pameran ini memperlihatkan realitas tersebut melalui berbagai gambar yang merekam kehidupan anak-anak di tengah perang. Namun, kisah yang disampaikan bukan semata-mata tentang kehancuran. Di tengah kehilangan, anak-anak tetap bermain, belajar, menggambar dan bermimpi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cResilience\u201d atau ketangguhan mereka memang luar biasa. Namun, Shinkarenko mengingatkan agar ketangguhan tersebut tidak dirayakan secara romantis.\u00a0Tidak seharusnya seorang anak dipaksa menjadi tangguh karena perang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam sambutannya disebutkan bahwa pada Juli tahun ini setidaknya 17 anak Ukraina tewas dan 166 lainnya terluka. Ukraina juga mendokumentasikan lebih dari 20.000 laporan mengenai deportasi dan pemindahan paksa anak-anak Ukraina, sementara sekitar 1,6 juta anak masih berada di bawah kontrol Rusia. Hingga saat ini, 2.470 anak telah berhasil dipulangkan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di balik setiap angka tersebut, terdapat seorang anak, sebuah nama dan sebuah keluarga yang menunggu.<\/p>\n<p><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-219601 aligncenter\" src=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Yevhenia-S-Ukraine-Nat-Day-.jpg\" alt=\"\" width=\"1200\" height=\"675\" srcset=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Yevhenia-S-Ukraine-Nat-Day-.jpg 1200w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Yevhenia-S-Ukraine-Nat-Day--300x169.jpg 300w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Yevhenia-S-Ukraine-Nat-Day--1024x576.jpg 1024w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Yevhenia-S-Ukraine-Nat-Day--768x432.jpg 768w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Yevhenia-S-Ukraine-Nat-Day--750x422.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 1200px) 100vw, 1200px\" \/><\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\">People Are Key: Manusia sebagai Pusat Perdamaian<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pameran <em>Living the War: Children<\/em> juga dikaitkan dengan inisiatif internasional <em>People Are Key<\/em>. Pada 2025, komunitas di 43 kota di 23 negara disebut telah bergabung dalam inisiatif tersebut. Jakarta menjadi salah satu lokasi yang ikut menyuarakan pesan bahwa manusia harus ditempatkan di pusat upaya membangun perdamaian.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pesan tersebut mencakup berbagai kelompok yang terdampak perang, mulai dari tawanan perang, warga sipil yang ditahan secara ilegal, tahanan politik hingga anak-anak Ukraina yang dideportasi dan dipisahkan dari keluarganya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bagi Ukraina, pemulangan anak-anak bukan sekadar persoalan kemanusiaan tambahan. Pemulangan mereka merupakan bagian dari makna perdamaian yang komprehensif, adil dan berkelanjutan.<\/p>\n<blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">Seorang anak tidak dapat menunggu geopolitik,\u201d menjadi salah satu pesan penting dalam sambutan tersebut. Masa kanak-kanak yang hilang tidak dapat begitu saja dikembalikan di kemudian hari.<\/p>\n<\/blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam acara tersebut, pengunjung juga diajak menggunakan kunci atau gantungan kunci sebagai simbol bahwa people are key to peace\u2014manusia adalah kunci bagi perdamaian. Sebuah benda sehari-hari tersebut menjadi pengingat akan orang-orang yang harus kembali ke rumah: tawanan, warga sipil, maupun anak-anak yang terpisah dari keluarganya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Acara kemudian dilanjutkan dengan mengheningkan cipta untuk mengenang warga Ukraina yang kehilangan nyawa dalam perang, termasuk anak-anak yang menjadi korban.<\/p>\n<p><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-219600 aligncenter\" src=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Denis-Chaibi.jpg\" alt=\"\" width=\"1200\" height=\"675\" srcset=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Denis-Chaibi.jpg 1200w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Denis-Chaibi-300x169.jpg 300w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Denis-Chaibi-1024x576.jpg 1024w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Denis-Chaibi-768x432.jpg 768w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Denis-Chaibi-750x422.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 1200px) 100vw, 1200px\" \/><\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\">Dari Jakarta, Sebuah Harapan untuk Anak-Anak<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Meski membawa kisah yang menyakitkan, pameran ini tidak berhenti pada tragedi. Ada harapan bahwa suatu hari anak-anak Ukraina dapat kembali menjalani masa kanak-kanak sebagaimana mestinya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebelum invasi skala penuh, Ukraina masih dapat merayakan Hari Kemerdekaan dengan perayaan besar. Keluarga berkumpul, musik dimainkan, anak-anak memenuhi jalanan dan suasana dipenuhi kegembiraan. Harapan Ukraina adalah agar perayaan seperti itu dapat kembali menjadi kenyataan\u2014tanpa sirene serangan udara yang menghentikan kegembiraan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Harapan tersebut kemudian diperluas menjadi pesan universal.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Setiap anak, di mana pun mereka dilahirkan, berhak memiliki rumah yang aman, keluarga, sekolah, teman, impian dan kebebasan untuk tumbuh tanpa rasa takut. Anak-anak, seperti ditegaskan dalam sambutan tersebut, tidak seharusnya mewarisi perang yang dibuat oleh generasi sebelumnya. Mereka seharusnya mewarisi perdamaian.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Karena itu, meskipun pameran ini berbicara tentang anak-anak yang <em>living the war<\/em>, tujuan akhirnya justru sebaliknya: agar mereka tidak menghabiskan hidup dengan \u201cmenjalani perang\u201d, tetapi dapat menjalani kehidupan mereka.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mereka harus memiliki kesempatan untuk belajar, bermimpi, membangun keluarga dan ikut menentukan masa depan negaranya. Kemerdekaan yang diperjuangkan generasi sebelumnya diharapkan dapat diwariskan dalam bentuk yang lebih aman\u2014sebuah kemerdekaan yang memungkinkan generasi berikutnya hidup dalam damai, tenang dan memiliki keyakinan terhadap masa depan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pesan tersebut juga mendapat penekanan dari Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia, H.E. Denis Chaibi. Ia membandingkan pengalaman anak-anak selama pandemi COVID-19 dengan pengalaman anak-anak yang hidup dalam perang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pandemi membuat banyak anak harus tinggal di rumah, kehilangan interaksi sosial dan mengalami dampak terhadap proses belajar serta perkembangan mereka. Namun, ada satu perbedaan mendasar: masyarakat mengetahui bahwa pandemi pada akhirnya akan berakhir. Bagi anak-anak di Ukraina, perang telah berlangsung selama bertahun-tahun dan ketidakpastian menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perbedaan pengalaman tersebut terlihat dalam hal-hal yang sederhana. Bagi anak-anak di Indonesia, pergi ke sekolah berarti belajar. Bagi anak-anak di Ukraina, sekolah juga berarti mengetahui di mana mereka dapat berlindung. Perjalanan bagi anak-anak Indonesia dapat berarti liburan atau mengunjungi keluarga, sementara bagi anak-anak Ukraina dapat berarti meninggalkan rumah untuk menyelamatkan diri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bahkan suara sirene memiliki arti berbeda. Di Indonesia, anak-anak mungkin menganggapnya sebagai tanda ambulans atau kendaraan polisi. Di Ukraina, sirene dapat menjadi tanda bahwa mereka harus segera mencari keselamatan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Empat setengah tahun dalam kehidupan seorang anak bukanlah waktu yang singkat. Masa tersebut dapat mencakup sebagian besar masa pembentukan seorang anak atau bahkan seluruh masa remajanya. Karena itu, perang bukan hanya menghancurkan bangunan dan infrastruktur, tetapi juga mengambil bagian penting dari pengalaman masa kanak-kanak.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pameran <em>Living the War Children<\/em> pada akhirnya mengajak pengunjung melihat bahwa di balik setiap foto terdapat kehidupan seorang anak. Ada mimpi, keluarga, sekolah, permainan dan masa depan yang seharusnya masih terbuka.\u00a0Dan pesan yang dibawa dari Jakarta menjadi sederhana: setiap anak berhak tumbuh dalam damai.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tidak ada bangsa yang seharusnya kehilangan hak untuk menentukan masa depannya sendiri. Dan tidak ada anak yang seharusnya kehilangan masa kanak-kanaknya karena perang.<\/p>\n<p><iframe title=\"Living the War: Children | 35 Years of Ukraine\u2019s Independence\" width=\"563\" height=\"1000\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/RES0i98zmHY?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" referrerpolicy=\"strict-origin-when-cross-origin\" allowfullscreen><\/iframe><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge Journal &#8211; News and Insight) Sebuah pameran fotografi bertajuk Living the War: Children resmi dibuka di Jakarta, menghadirkan kisah anak-anak Ukraina yang masa kanak-kanaknya dibentuk oleh perang. Melalui foto, gambar, dan berbagai kisah yang ditampilkan, pameran ini mengajak pengunjung melihat perang bukan hanya sebagai persoalan geopolitik, tetapi sebagai pengalaman manusia yang secara langsung memengaruhi kehidupan generasi paling rentan: anak-anak. Pembukaan pameran tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan 35 tahun pemulihan kemerdekaan Ukraina. Dalam sambutannya sebagai Charge d&#8217;affaires Kedutaan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":26,"featured_media":219599,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[2725,1050],"tags":[13653,13654],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/219598"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/26"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=219598"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/219598\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":219602,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/219598\/revisions\/219602"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/219599"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=219598"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=219598"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=219598"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}