{"id":219485,"date":"2026-08-24T07:08:48","date_gmt":"2026-08-24T00:08:48","guid":{"rendered":"https:\/\/www.blj.co.id\/?p=219485"},"modified":"2026-08-24T09:12:22","modified_gmt":"2026-08-24T02:12:22","slug":"walmart-mendorong-ambisi-fashion","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2026\/08\/24\/walmart-mendorong-ambisi-fashion\/","title":{"rendered":"Walmart Mendorong Ambisi Fashion"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge &#8211; Global News) Walmart kembali memperkuat ambisinya di bisnis fashion melalui peluncuran merek pakaian baru, <em>Scenario<\/em>, yang ditujukan terutama kepada perempuan lebih muda yang mencari pakaian mengikuti tren dengan harga terjangkau. Sebagian besar produk Scenario akan dijual di bawah US$25, dengan ratusan pilihan yang mencakup blus dengan detail bordir, kemeja denim dengan aksen pintuck, hingga tas berbahan kulit imitasi. Merek ini akan mengambil sebagian ruang yang sebelumnya ditempati Time and Tru, merek pakaian perempuan Walmart yang selama ini lebih banyak menyasar kebutuhan dasar dan konsumen perempuan yang lebih tua. Menurut <em>The Wall Street Journal<\/em>, langkah tersebut merupakan bagian dari upaya terbaru Walmart untuk menjadi destinasi fashion bagi lebih banyak konsumen Amerika sekaligus merebut kembali sebagian pengeluaran apparel yang selama ini mengalir ke peritel lain, termasuk Amazon.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Yang menarik, Walmart tidak mencoba menjadi perusahaan fashion dengan meninggalkan identitas harga murahnya. Justru harga menjadi bagian dari strategi tersebut. Walmart ingin membuktikan bahwa pakaian dengan harga terjangkau tetap dapat memiliki desain yang lebih modern, detail yang lebih menarik, dan citra yang lebih fashionable. Dengan demikian, konsep <em>value<\/em> yang selama ini menjadi kekuatan Walmart diperluas dari sekadar harga rendah menjadi kombinasi antara harga, gaya, kualitas, dan pilihan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Fashion Menjadi Mesin Pertumbuhan Baru<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dorongan Walmart masuk lebih jauh ke fashion datang ketika pertumbuhan bisnisnya mulai menghadapi tekanan. Pada kuartal kedua 2026, pertumbuhan penjualan sebanding Walmart di Amerika Serikat hanya mencapai 2,6%, menjadi yang terlemah dalam lebih dari enam tahun dan berada di bawah ekspektasi analis sebesar 3,8%. Di tengah kondisi tersebut, e-commerce justru tumbuh 24%, menunjukkan bahwa pola belanja konsumen terus bergeser. Reuters mencatat bahwa Walmart tetap menaikkan proyeksi tahunan, tetapi perlambatan penjualan memperlihatkan bahwa perusahaan membutuhkan sumber pertumbuhan baru di luar kategori yang selama ini menjadi kekuatannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Fashion menjadi salah satu kategori yang menarik karena termasuk dalam bisnis nonmakanan yang dapat memberikan margin lebih tinggi dibandingkan sejumlah kebutuhan dasar. <em>The Wall Street Journal<\/em> mencatat bahwa penjualan pakaian dan aksesori Walmart telah tumbuh selama tujuh kuartal berturut-turut. Perusahaan juga menyatakan telah mengambil pangsa pasar dari department store dan peritel apparel khusus. Namun, pada saat yang sama, data pihak ketiga menunjukkan bahwa Amazon masih meningkatkan pangsa penjualannya dalam apparel dengan lebih cepat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dengan kondisi tersebut, Scenario bukan sekadar upaya mempercantik rak pakaian. Walmart sedang mencari cara untuk meningkatkan nilai belanja dari jutaan pelanggan yang sudah datang ke tokonya untuk membeli makanan, kebutuhan rumah tangga, dan berbagai barang sehari-hari. Jika sebagian dari pelanggan tersebut kemudian membeli pakaian di Walmart, perusahaan dapat memperoleh tambahan penjualan tanpa harus sepenuhnya mencari pelanggan baru.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Scenario Bukan Eksperimen yang Berdiri Sendiri<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Peluncuran Scenario merupakan bagian dari perjalanan yang jauh lebih panjang. Walmart telah berulang kali mencoba memperluas bisnis fashion dan mengubah persepsi terhadap pakaian yang dijualnya. Perusahaan memperkenalkan Time and Tru pada 2018 sebagai merek pakaian perempuan dengan pendekatan yang lebih modern. Kemudian hadir Scoop pada 2019 dan Free Assembly pada 2020 untuk menjangkau konsumen yang lebih muda dan lebih memperhatikan tren.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Walmart juga semakin aktif menggunakan kolaborasi untuk membangun kredibilitas fashion. Pada April 2026, misalnya, perusahaan memperkenalkan koleksi terbatas Scoop yang terinspirasi dari <em>The Devil Wears Prada<\/em>. Walmart menggambarkannya sebagai koleksi yang membawa energi fashion kelas atas ke dalam produk yang lebih mudah dijangkau konsumen, dengan penekanan pada desain modern, tren, kualitas, dan nilai.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pendekatan tersebut menunjukkan perubahan cara Walmart memandang kategori ini. Perusahaan tidak lagi sekadar menyebutnya <em>apparel<\/em>, tetapi mulai menggunakan istilah <em>fashion<\/em> secara internal. Walmart juga mendirikan kantor desain fashion di New York yang kini mempekerjakan sekitar 165 desainer, manajer merek, dan digital merchant. Bahkan, perusahaan berencana mulai menjual sweater kasmir dari merek privatnya pada musim gugur tahun ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perubahan tersebut penting karena fashion tidak hanya berkaitan dengan produk yang dijual, tetapi juga kemampuan menciptakan persepsi. Walmart ingin konsumen melihat pakaian yang tersedia di tokonya bukan hanya sebagai pilihan murah, tetapi sebagai produk yang dapat dipertimbangkan ketika mereka ingin tampil lebih modis.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Menggeser Persepsi Konsumen<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Masalah terbesar Walmart dalam fashion bukanlah kemampuan menjual pakaian. Perusahaan memiliki jaringan toko yang sangat luas, basis pelanggan yang besar, sistem distribusi yang kuat, serta kemampuan membeli dan menjual dalam skala yang sulit ditandingi banyak peritel. Tantangannya adalah membuat konsumen <em>ingin<\/em> membeli fashion di Walmart.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selama bertahun-tahun, Walmart lebih identik dengan kaus sederhana, jeans, pakaian dalam, kaus kaki, dan kebutuhan dasar lainnya. Persepsi tersebut menjadi kekuatan ketika konsumen mencari harga murah, tetapi bisa menjadi kelemahan ketika konsumen mencari produk yang lebih trendi. Walmart karena itu harus memperluas definisi tentang apa yang dapat dibeli konsumen di tokonya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut <em>The Wall Street Journal<\/em>, Walmart menemukan bahwa sekitar 80% uang yang dibelanjakan pelanggan Walmart untuk apparel justru dibelanjakan di peritel dengan harga lebih tinggi. Temuan tersebut menjadi dasar penting bagi strategi perusahaan. Artinya, konsumen Walmart sebenarnya bersedia mengeluarkan lebih banyak uang untuk fashion, tetapi selama ini mereka melakukannya di tempat lain.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Inilah peluang yang ingin direbut melalui Scenario. Walmart tidak harus membuat semua konsumennya berubah menjadi pembeli fashion. Perusahaan hanya perlu mengalihkan sebagian pengeluaran fashion yang selama ini keluar dari ekosistem Walmart.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Private Label Tidak Lagi Sekadar Produk Murah<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Strategi tersebut juga mencerminkan perubahan lebih besar dalam industri ritel global. <em>Private label<\/em> tidak lagi hanya dipakai sebagai alternatif murah terhadap merek nasional. Peritel semakin menjadikan merek milik sendiri sebagai instrumen untuk menciptakan identitas, diferensiasi, dan loyalitas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bagi Walmart, perkembangan tersebut sangat penting karena merek privat memberi perusahaan kendali lebih besar atas desain, harga, posisi produk, dan pengalaman konsumen. Walmart dapat menentukan sendiri seperti apa Scenario ingin dipersepsikan, siapa target konsumennya, berapa harga yang dianggap tepat, serta bagaimana produk tersebut ditempatkan di dalam toko dan platform digital.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Strategi ini juga memungkinkan Walmart mengisi ruang pasar yang mungkin tidak sepenuhnya dilayani merek nasional. Scenario, misalnya, dirancang untuk perempuan sekitar usia 35 tahun yang menginginkan detail fashion lebih modern dibandingkan yang selama ini ditawarkan Time and Tru. Desainnya mengarah pada estetika modern-bohemian, dengan penggunaan bahan alami seperti katun serta detail bordir dan pleating.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dengan demikian, Walmart sedang membangun portofolio fashion yang lebih tersegmentasi. Konsumen tidak harus memilih antara pakaian dasar Walmart atau pergi ke peritel fashion lain. Walmart mencoba menyediakan beberapa tingkat pilihan di dalam ekosistemnya sendiri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Amazon Menjadi Lawan yang Berbeda<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Persaingan Walmart dengan Amazon membuat strategi tersebut semakin penting. Kedua perusahaan memiliki keunggulan yang sangat berbeda. Walmart memiliki jaringan toko fisik, skala distribusi, kemampuan menawarkan harga kompetitif, dan basis pelanggan yang sangat besar. Amazon memiliki keunggulan dalam pilihan produk, pencarian digital, personalisasi, data, serta kemampuan menghubungkan konsumen dengan berbagai merek dari satu platform.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Amazon juga terus meningkatkan teknologi untuk membuat pengalaman berbelanja fashion lebih personal. Pada 2026, Amazon memperluas penggunaan AI dalam fashion melalui Rufus dan Amazon Lens. Konsumen dapat meminta rekomendasi berdasarkan kebutuhan tertentu, menemukan kombinasi pakaian, atau mengunggah foto untuk mencari produk dengan gaya yang serupa. Amazon bahkan mengembangkan fitur yang memungkinkan konsumen membuat keseluruhan tampilan dengan mengombinasikan pakaian, sepatu, tas, jam tangan, dan produk kecantikan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ini membuat kompetisi menjadi lebih kompleks. Walmart tidak cukup hanya menawarkan harga murah. Perusahaan harus menciptakan pengalaman yang membuat konsumen menemukan produk yang tepat dan merasa yakin bahwa produk tersebut sesuai dengan gaya mereka.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Amazon dapat menggunakan teknologi untuk menghilangkan hambatan dalam pencarian produk. Walmart dapat menggunakan toko fisiknya untuk menghilangkan hambatan lain: konsumen dapat melihat bahan, mencoba ukuran, memeriksa warna, dan langsung membawa pulang barang. Persaingan keduanya karena itu bukan hanya antara toko fisik dan digital, melainkan antara dua model pengalaman belanja yang berbeda.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>AI dan Masa Depan Fashion Walmart<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Walmart sendiri tidak sepenuhnya berada di luar perkembangan teknologi fashion. Perusahaan sebelumnya telah mengembangkan teknologi <em>virtual try-on<\/em> melalui akuisisi Zeekit, yang memungkinkan konsumen melihat simulasi bagaimana pakaian tertentu terlihat pada tubuh mereka menggunakan kombinasi computer vision dan AI.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa transformasi fashion Walmart memiliki dua sisi. Sisi pertama adalah perubahan produk: lebih modern, lebih trendi, dan lebih tersegmentasi. Sisi kedua adalah perubahan pengalaman: bagaimana konsumen menemukan, mencoba, memilih, dan membeli pakaian.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jika kedua sisi tersebut dapat berjalan bersama, Walmart memiliki peluang untuk menciptakan keunggulan yang cukup unik. Perusahaan dapat menggabungkan kemampuan desain dengan skala produksi, harga rendah dengan teknologi, serta toko fisik dengan pengalaman digital.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Pertaruhan pada Konsumen yang Lebih Muda<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Target konsumen muda menjadi semakin penting dalam strategi ini. Walmart menyadari bahwa mempertahankan pelanggan saat ini tidak cukup untuk memastikan pertumbuhan jangka panjang. Perusahaan perlu membuat generasi konsumen berikutnya merasa bahwa Walmart relevan dengan gaya hidup mereka.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Scenario karena itu bukan hanya tentang perempuan yang berusia sekitar 35 tahun. Ia merupakan bagian dari upaya Walmart mengubah persepsi generasi baru terhadap perusahaan. Jika konsumen muda mulai melihat Walmart sebagai tempat menemukan pakaian yang menarik, maka perubahan tersebut dapat memberikan dampak yang jauh lebih panjang daripada sekadar penjualan satu koleksi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun Walmart juga tidak meninggalkan bisnis pakaian dasarnya. Denise Incandela menegaskan bahwa strategi perusahaan merupakan strategi \u201cdan\u201d: Walmart tetap akan menjual kaus kaki, pakaian dalam, denim, dan kaus sebagai produk dengan volume besar, sembari memperluas pilihan fashion yang lebih trendi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pendekatan tersebut masuk akal. Walmart tidak perlu mengubah seluruh bisnis apparel menjadi fashion premium. Justru kekuatannya adalah kemampuan menggabungkan produk dasar dengan produk yang lebih aspiratif dalam satu ekosistem.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Tekanan Konsumen Membuat Harga Tetap Penting<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Strategi fashion Walmart juga berlangsung ketika konsumen Amerika masih sangat memperhatikan harga. Perlambatan pertumbuhan penjualan terbaru menunjukkan adanya kehati-hatian dalam pengeluaran, terutama ketika biaya bahan bakar dan kebutuhan sehari-hari meningkat. Reuters melaporkan bahwa Walmart bahkan melakukan pemotongan harga pada ribuan produk untuk membantu mendorong permintaan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kondisi tersebut membuat strategi Scenario harus berjalan hati-hati. Walmart ingin meningkatkan persepsi fashion, tetapi tidak boleh kehilangan karakter harga yang membuatnya kuat. Sebagian besar produk Scenario yang berada di bawah US$25 menunjukkan bahwa perusahaan memahami batas tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Inilah salah satu pertaruhan terbesar Walmart: apakah konsumen dapat diyakinkan bahwa pakaian murah tetap bisa fashionable. Jika berhasil, Walmart akan memiliki proposisi yang sangat kuat. Konsumen tidak harus memilih antara gaya dan harga karena keduanya tersedia dalam satu tempat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Bukan Sekadar Menjual Baju<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Yang sedang dilakukan Walmart pada akhirnya jauh lebih besar daripada peluncuran sebuah merek pakaian baru. Scenario merupakan bagian dari transformasi perusahaan untuk memperluas definisi tentang apa yang dapat menjadi sumber pertumbuhan bagi sebuah peritel massal.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selama ini Walmart sangat kuat di makanan dan kebutuhan sehari-hari. Tetapi kategori-kategori tersebut memiliki karakteristik persaingan dan margin yang berbeda. Fashion menawarkan peluang untuk meningkatkan nilai transaksi sekaligus memperkuat hubungan emosional dengan konsumen.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jika berhasil, Walmart tidak perlu menjadi Zara, H&amp;M, atau department store digital. Perusahaan hanya perlu membuat konsumen berpikir bahwa ketika mereka membutuhkan pakaian yang menarik dengan harga terjangkau, Walmart adalah salah satu tempat pertama yang perlu diperiksa. Amazon juga terus mengembangkan keunggulan digitalnya melalui AI, personalisasi, visual search, dan katalog yang luas. Walmart menjawab dengan pendekatan yang berbeda: merek privat, desain, harga, toko fisik, omnichannel, dan skala.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pertarungan antara kedua perusahaan dengan demikian semakin bergerak dari sekadar perang harga menuju perang relevansi. Siapa yang lebih mampu memahami apa yang diinginkan konsumen, menerjemahkannya menjadi produk yang tepat, menawarkan harga yang masuk akal, dan membuat pengalaman belanja terasa mudah akan memiliki peluang lebih besar untuk memenangkan pengeluaran konsumen.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bagi Walmart, fashion adalah kesempatan untuk mengubah persepsi. Bagi Amazon, fashion adalah ruang untuk memperdalam dominasi digital. Dan bagi industri ritel secara keseluruhan, persaingan ini menunjukkan bahwa batas antara supermarket, department store, marketplace, dan perusahaan fashion semakin kabur. Pada akhirnya, Scenario mungkin bukan sekadar merek baru Walmart, melainkan bagian dari upaya yang lebih besar untuk merebut kembali satu hal yang sangat penting dalam bisnis ritel: perhatian dan dompet konsumen.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge &#8211; Global News) Walmart kembali memperkuat ambisinya di bisnis fashion melalui peluncuran merek pakaian baru, Scenario, yang ditujukan terutama kepada perempuan lebih muda yang mencari pakaian mengikuti tren dengan harga terjangkau. Sebagian besar produk Scenario akan dijual di bawah US$25, dengan ratusan pilihan yang mencakup blus dengan detail bordir, kemeja denim dengan aksen pintuck, hingga tas berbahan kulit imitasi. Merek ini akan mengambil sebagian ruang yang sebelumnya ditempati Time and Tru, merek pakaian perempuan Walmart yang selama ini [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":32,"featured_media":210304,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[120],"tags":[1869],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/219485"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/32"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=219485"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/219485\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":219489,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/219485\/revisions\/219489"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/210304"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=219485"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=219485"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=219485"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}