{"id":219412,"date":"2026-08-18T08:14:48","date_gmt":"2026-08-18T01:14:48","guid":{"rendered":"https:\/\/www.blj.co.id\/?p=219412"},"modified":"2026-08-18T08:15:52","modified_gmt":"2026-08-18T01:15:52","slug":"malaysia-menjaga-momentum-pertumbuhan-di-tengah-tekanan-global","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2026\/08\/18\/malaysia-menjaga-momentum-pertumbuhan-di-tengah-tekanan-global\/","title":{"rendered":"Malaysia Menjaga Momentum Pertumbuhan di Tengah Tekanan Global"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge &#8211; Economy) Malaysia memasuki 2026 dengan fondasi ekonomi yang relatif kuat meskipun pertumbuhannya mulai mengalami moderasi setelah kinerja yang sangat baik pada akhir 2025. Berdasarkan laporan McKinsey <em>Southeast Asia Quarterly Economic Review: Divergent Paths Amid Headwinds<\/em>, ekonomi Malaysia tumbuh 5,4% pada kuartal pertama 2026, melambat dari 6,2% pada kuartal sebelumnya. Perlambatan tersebut terutama mencerminkan normalisasi momentum di sejumlah sektor, tetapi ekspor yang kuat dan permintaan domestik yang tetap solid masih menjadi penopang utama. Kinerja kuartal keempat yang kuat membuat pertumbuhan ekonomi Malaysia sepanjang 2025 mencapai 5,2%, sedikit lebih tinggi daripada 5,1% pada 2024 dan bahkan melampaui kisaran proyeksi resmi pemerintah sebesar 4,0% hingga 4,8%. Dengan demikian, persoalan Malaysia pada 2026 bukanlah mempertahankan ekonomi agar tetap tumbuh, melainkan bagaimana menjaga kualitas pertumbuhan ketika tekanan geopolitik, biaya energi, kebijakan perdagangan Amerika Serikat, dan gangguan rantai pasok global semakin kuat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Pertumbuhan masih kuat, tetapi mulai memasuki fase normalisasi<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pertumbuhan 5,4% pada kuartal pertama menunjukkan bahwa Malaysia masih berada dalam posisi yang relatif kuat dibandingkan banyak ekonomi lain di kawasan. Namun, penurunan dari 6,2% pada kuartal sebelumnya menunjukkan bahwa momentum luar biasa pada akhir 2025 mulai berkurang. Bank Negara Malaysia tetap optimistis terhadap prospek ekonomi 2026 dengan dukungan dari permintaan domestik dan ekspor, tetapi pertumbuhan diproyeksikan lebih moderat pada kisaran 4,0% hingga 4,5%. Pemerintah sendiri memperkirakan ekonomi dapat tumbuh sekitar 4% hingga 5% sepanjang 2026. Proyeksi tersebut mencerminkan kombinasi antara kekuatan domestik dan risiko eksternal, terutama ketidakpastian kebijakan tarif Amerika Serikat, kenaikan harga energi, serta gangguan rantai pasok. Malaysia dengan demikian memasuki fase ketika pertumbuhan masih cukup tinggi, tetapi keberhasilannya semakin bergantung pada kemampuan mempertahankan daya saing dan mengelola tekanan dari ekonomi global.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Jasa tetap menjadi fondasi utama ekonomi<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sektor jasa tetap menjadi penggerak terbesar perekonomian Malaysia dengan pertumbuhan 5,6% pada kuartal pertama 2026. Namun, pertumbuhan tersebut juga mengalami moderasi, antara lain karena penjualan kendaraan mulai mendingin setelah berakhirnya pembebasan bea masuk untuk kendaraan listrik. Kondisi ini menunjukkan bahwa konsumsi dan aktivitas jasa masih kuat, tetapi sebagian dorongan yang sebelumnya datang dari kebijakan tertentu mulai berkurang. Meskipun demikian, sektor jasa tetap memiliki posisi strategis karena merupakan pemberi kerja terbesar di Malaysia dan mencakup berbagai kegiatan ekonomi mulai dari perdagangan, transportasi, komunikasi, keuangan, hingga layanan bisnis. Kemampuan sektor ini untuk mempertahankan pertumbuhan akan sangat menentukan apakah perlambatan di sektor-sektor tertentu dapat dikompensasi oleh ekspansi aktivitas jasa yang lebih produktif dan bernilai tambah tinggi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Manufaktur mendapat dorongan dari AI dan data center<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sektor manufaktur Malaysia tumbuh 5,9% pada kuartal pertama 2026, hanya sedikit lebih rendah daripada 6,0% pada kuartal sebelumnya. Ketahanan manufaktur terutama berasal dari meningkatnya permintaan global terhadap produk <em>electrical and electronics (E&amp;E)<\/em>, termasuk komponen yang berkaitan dengan artificial intelligence dan data center. Perkembangan ini menjadi sangat penting karena memperlihatkan perubahan struktur permintaan global yang semakin menguntungkan negara-negara yang memiliki kemampuan memproduksi komponen teknologi. Malaysia memiliki basis industri elektronik yang relatif matang sehingga dapat memanfaatkan ekspansi investasi dan permintaan terkait AI. Pertumbuhan manufaktur juga memberikan efek terhadap sektor lain melalui kebutuhan terhadap logistik, energi, konstruksi, jasa bisnis, dan tenaga kerja terampil. Tantangan berikutnya adalah memastikan bahwa peningkatan permintaan E&amp;E tidak berhenti pada ekspansi produksi, tetapi mendorong Malaysia semakin jauh ke aktivitas bernilai tambah seperti desain, engineering, pengembangan teknologi, dan layanan industri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Ekspor elektronik menjadi kekuatan strategis<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ekspor Malaysia tumbuh 12,7% pada kuartal pertama 2026, meningkat dibandingkan 11,0% pada kuartal keempat 2025. Kinerja tersebut terutama didorong oleh berlanjutnya siklus kenaikan permintaan produk electrical and electronics. Kekuatan ekspor E&amp;E membantu mengimbangi pelemahan pengiriman sejumlah komoditas, termasuk minyak mentah, liquefied natural gas atau LNG, dan produk pertanian. Pada saat yang sama, pertumbuhan impor melambat menjadi 7,7% dari 11,7% pada kuartal sebelumnya, mencerminkan moderasi permintaan terhadap barang modal, barang antara, dan barang konsumsi. Struktur ini menunjukkan bahwa Malaysia semakin memperoleh manfaat dari siklus teknologi global, tetapi juga masih memiliki keterkaitan dengan komoditas. Diversifikasi tersebut menjadi penting karena dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap satu kelompok ekspor, terutama ketika harga komoditas global mengalami perubahan tajam.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>AI mengubah prospek industri Malaysia<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perkembangan artificial intelligence dan pembangunan data center menciptakan peluang baru bagi Malaysia untuk memperkuat posisinya dalam rantai pasok teknologi regional. Permintaan terhadap komponen E&amp;E kelas atas yang berkaitan dengan AI dan data center menjadi salah satu faktor yang menjaga pertumbuhan manufaktur tetap kuat. Ini merupakan perubahan penting karena ekspansi ekonomi digital membutuhkan bukan hanya perangkat keras, tetapi juga infrastruktur pusat data, jaringan komunikasi, sistem kelistrikan, layanan cloud, keamanan siber, dan berbagai jasa pendukung. Malaysia memiliki kesempatan untuk mengembangkan ekosistem yang lebih luas di sekitar investasi tersebut. Namun, peluang tersebut membutuhkan pasokan energi yang andal, infrastruktur digital yang kuat, tenaga kerja dengan keterampilan teknis, serta kebijakan investasi yang mampu mendorong keterkaitan antara perusahaan multinasional dan perusahaan domestik. Jika keterkaitan tersebut berhasil dibangun, investasi teknologi dapat menghasilkan dampak yang jauh lebih besar terhadap produktivitas ekonomi Malaysia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>PMI memberikan sinyal positif sekaligus peringatan<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Indikator manufaktur Malaysia menunjukkan bahwa aktivitas industri masih berada dalam fase ekspansi. Manufacturing PMI mencapai 51,6 pada April 2026, level tertinggi dalam empat tahun. Output meningkat pada laju tercepat sejak Desember 2021, menunjukkan bahwa permintaan teknologi dan aktivitas produksi masih memberikan dorongan yang kuat. Namun, terdapat sisi lain yang perlu diperhatikan karena peningkatan produksi sebagian dipengaruhi oleh langkah perusahaan melakukan <em>safety stocking<\/em> untuk menghadapi potensi gangguan rantai pasok akibat konflik di Timur Tengah. Gangguan tersebut mendorong inflasi biaya input ke level tertinggi dalam 45 bulan dan menyebabkan kepercayaan dunia usaha mulai menurun. Artinya, angka PMI yang positif belum sepenuhnya menggambarkan kondisi permintaan yang sehat dan berkelanjutan karena sebagian aktivitas produksi juga merupakan respons defensif perusahaan terhadap ketidakpastian pasokan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Konsumsi rumah tangga tetap menjadi penyangga<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Permintaan domestik merupakan salah satu kekuatan utama ekonomi Malaysia. Konsumsi swasta tumbuh 4,7% pada kuartal pertama 2026, meskipun melambat cukup jelas dari 5,6% pada kuartal sebelumnya. Ketahanan konsumsi didukung oleh kondisi pasar tenaga kerja yang kuat dan berbagai langkah kebijakan pemerintah. Namun, rumah tangga diperkirakan akan menjadi lebih berhati-hati sepanjang 2026 karena ketidakpastian ekonomi global masih tinggi. Ada kemungkinan konsumen mengalihkan sebagian pengeluaran dari barang tahan lama menuju kebutuhan pokok apabila harga energi dan biaya hidup meningkat. Perubahan perilaku tersebut penting diperhatikan karena konsumsi domestik selama ini menjadi salah satu fondasi pertumbuhan Malaysia. Jika konsumsi tetap stabil, ekonomi memiliki penyangga ketika ekspor menghadapi tekanan, tetapi jika daya beli rumah tangga melemah, perlambatan eksternal dapat lebih cepat diteruskan kepada aktivitas domestik.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Pasar tenaga kerja memberikan kekuatan domestik<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pasar tenaga kerja Malaysia tetap resilien pada kuartal pertama 2026 dengan tingkat pengangguran bertahan pada 2,9%. Jumlah pekerja meningkat 0,1% menjadi 16,8 juta orang, sementara sektor jasa tetap menjadi penyerap tenaga kerja terbesar. Perekrutan juga meningkat di sektor manufaktur, konstruksi, dan pertanian, meskipun jumlah pekerja di sektor pertambangan dan penggalian sedikit menurun. Kondisi pasar tenaga kerja yang relatif kuat memberikan fondasi penting bagi konsumsi rumah tangga karena tingkat pengangguran yang rendah membantu mempertahankan pendapatan dan kepercayaan konsumen. Pada saat yang sama, perubahan struktur ekonomi Malaysia membuat kebutuhan terhadap tenaga kerja juga berubah. Pertumbuhan AI, data center, E&amp;E, digitalisasi, dan otomatisasi membutuhkan keterampilan yang berbeda dari industri konvensional, sehingga peningkatan kualitas tenaga kerja menjadi bagian penting dari strategi pertumbuhan jangka panjang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Inflasi mulai meningkat tetapi masih terkendali<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Inflasi headline Malaysia meningkat menjadi 1,6% pada kuartal pertama 2026 setelah bertahan pada 1,3% selama tiga kuartal berturut-turut. Kenaikan tersebut mencerminkan munculnya tekanan biaya global, terutama akibat konflik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan biaya listrik dan bahan bakar. Namun, tekanan tersebut sebagian diimbangi oleh inflasi inti yang lebih rendah karena kenaikan harga makanan di luar rumah dan biaya sewa mulai melambat. Untuk keseluruhan 2026, inflasi diperkirakan rata-rata berada pada kisaran 1,5% hingga 2,5%. Artinya, Malaysia masih memiliki ruang yang cukup untuk menjaga pertumbuhan tanpa menghadapi tekanan inflasi yang terlalu tinggi. Namun, kenaikan harga energi dan komoditas global tetap menjadi risiko karena dapat meningkatkan biaya produksi, transportasi, dan konsumsi rumah tangga apabila diteruskan ke harga akhir.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Ringgit menunjukkan ketahanan yang kuat<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Salah satu indikator yang menarik dari kondisi ekonomi Malaysia adalah kinerja ringgit. Ringgit menguat 0,5% terhadap dolar AS pada kuartal pertama 2026, meskipun ketegangan di Timur Tengah mendorong investor global mencari aset yang dianggap lebih aman, terutama dolar AS. Kinerja ringgit tersebut didukung oleh momentum pertumbuhan ekonomi Malaysia yang relatif kuat serta arus modal asing yang stabil. Secara kumulatif, ringgit mencatat kenaikan 3,3% terhadap dolar AS sepanjang tahun hingga periode tersebut. Kinerja mata uang ini memberikan keuntungan bagi Malaysia karena membantu mengurangi tekanan inflasi impor dan meningkatkan stabilitas keuangan. Namun, perubahan kebijakan moneter Amerika Serikat dan perkembangan geopolitik tetap dapat meningkatkan volatilitas, sehingga ketahanan ringgit perlu terus didukung oleh fundamental ekonomi dan arus modal yang sehat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Kebijakan moneter menjaga keseimbangan<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bank Negara Malaysia mempertahankan policy rate pada 2,75% selama tiga pertemuan pertama 2026. Kebijakan tersebut mencerminkan upaya menjaga keseimbangan antara mendukung pertumbuhan domestik dan mengantisipasi volatilitas eksternal. Dengan inflasi yang masih relatif rendah dan pertumbuhan ekonomi yang tetap kuat, bank sentral tidak memiliki tekanan besar untuk melakukan perubahan kebijakan secara agresif. Pada saat yang sama, kenaikan harga energi dan komoditas global membuat ruang kebijakan harus digunakan secara hati-hati. Jika inflasi meningkat terlalu cepat, pelonggaran moneter dapat menjadi kurang tepat, sementara jika pertumbuhan melemah akibat tekanan eksternal, kebijakan yang terlalu ketat dapat memperbesar perlambatan. Stabilitas policy rate karena itu menunjukkan bahwa Malaysia masih berada dalam posisi makroekonomi yang relatif seimbang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Investasi asing tetap mengalir<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Malaysia mencatat arus foreign direct investment sebesar 22,8 miliar ringgit atau sekitar US$5,8 miliar pada kuartal pertama 2026, meningkat 6,0% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka tersebut menunjukkan bahwa investor asing masih melihat Malaysia sebagai lokasi investasi yang menarik meskipun lingkungan investasi global semakin berhati-hati. Namun, nilai tersebut lebih rendah dibandingkan kuartal keempat 2025 ketika FDI mencapai 26,6 miliar ringgit dan tumbuh 48,7% secara tahunan. Perlambatan tersebut menunjukkan bahwa Malaysia tetap berhasil mempertahankan arus modal, tetapi momentum investasi tidak lagi sekuat pada akhir 2025. Sektor jasa, terutama information and communication technology atau ICT, menjadi penerima penting investasi, dengan China, Hong Kong, dan Singapura sebagai sumber modal utama.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>FDI mulai bergeser menuju ekonomi digital<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kuatnya arus investasi ke sektor ICT menunjukkan bahwa Malaysia semakin menarik bagi aktivitas ekonomi berbasis teknologi. Perkembangan tersebut sejalan dengan meningkatnya investasi data center dan kebutuhan infrastruktur digital di kawasan. Posisi Malaysia menjadi semakin strategis karena negara ini memiliki basis industri E&amp;E, infrastruktur yang relatif berkembang, serta hubungan perdagangan dan investasi yang kuat dengan negara-negara Asia. Namun, untuk memperoleh manfaat maksimal, Malaysia perlu memastikan bahwa investasi asing tidak hanya menciptakan kapasitas produksi baru, tetapi juga meningkatkan kemampuan perusahaan lokal. Keterlibatan pemasok domestik, transfer teknologi, pengembangan keterampilan, dan peningkatan kapasitas penelitian dapat membuat setiap investasi menghasilkan efek pengganda yang lebih besar terhadap ekonomi. Dengan demikian, keberhasilan Malaysia tidak hanya diukur dari jumlah FDI yang masuk, tetapi dari seberapa besar FDI tersebut meningkatkan produktivitas nasional.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Energi menjadi tantangan baru<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kenaikan harga energi dan gangguan rantai pasok menjadi risiko penting bagi ekonomi Malaysia karena negara ini memiliki sektor manufaktur dan perdagangan yang sangat terintegrasi dengan ekonomi global. Kenaikan biaya energi dapat meningkatkan biaya produksi perusahaan, terutama industri yang membutuhkan listrik dan bahan bakar dalam jumlah besar. Pada saat yang sama, gangguan transportasi dapat meningkatkan biaya logistik dan waktu pengiriman. Tekanan tersebut sudah terlihat dalam peningkatan inflasi biaya input manufaktur ke level tertinggi dalam 45 bulan. Kondisi ini dapat mengurangi margin perusahaan jika kenaikan biaya tidak dapat diteruskan kepada konsumen. Karena itu, daya saing industri Malaysia pada 2026 tidak hanya ditentukan oleh permintaan terhadap E&amp;E, tetapi juga oleh kemampuan perusahaan mengelola energi, logistik, bahan baku, dan rantai pasok dalam lingkungan geopolitik yang semakin tidak pasti.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Malaysia memiliki peluang besar dari ekonomi teknologi<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perkembangan E&amp;E, AI, data center, dan ICT memberikan Malaysia kesempatan untuk memperkuat posisinya dalam peta ekonomi digital Asia. Siklus teknologi global telah meningkatkan permintaan terhadap komponen elektronik dan infrastruktur digital, sementara Malaysia sudah memiliki pengalaman panjang dalam industri elektronik. Keunggulan tersebut dapat menjadi fondasi untuk naik kelas dari sekadar pusat manufaktur menjadi pusat teknologi dan layanan industri bernilai tambah. Namun, proses tersebut membutuhkan investasi berkelanjutan pada pendidikan, penelitian, infrastruktur digital, energi, dan keterampilan. Jika perusahaan Malaysia mampu memasuki lebih banyak bagian dari rantai nilai teknologi, dampaknya terhadap produktivitas dan ekspor akan lebih besar. Sebaliknya, jika Malaysia hanya berperan sebagai lokasi produksi komponen, manfaat ekonomi dari ledakan AI dapat tetap terbatas meskipun nilai ekspornya meningkat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Malaysia perlu memperkuat produktivitas<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan tidak dapat hanya mengandalkan ekspansi jumlah investasi atau peningkatan volume ekspor. Malaysia perlu memastikan bahwa setiap tambahan modal menghasilkan produktivitas yang lebih tinggi. Tantangan tersebut menjadi semakin penting ketika teknologi mengubah kebutuhan industri dan pasar tenaga kerja. AI dan otomatisasi dapat meningkatkan produktivitas perusahaan, tetapi juga dapat mengurangi kebutuhan terhadap jenis pekerjaan tertentu. Karena itu, agenda peningkatan produktivitas harus berjalan bersama peningkatan keterampilan tenaga kerja. Pekerja perlu memperoleh kemampuan digital, teknis, engineering, data, dan manajemen yang sesuai dengan industri masa depan. Pada saat yang sama, perusahaan domestik perlu mendapatkan kesempatan lebih besar untuk masuk ke rantai pasok perusahaan multinasional yang bergerak dalam E&amp;E, data center, ICT, dan sektor teknologi lainnya. Dengan pendekatan tersebut, transformasi teknologi dapat menghasilkan peningkatan produktivitas yang lebih luas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Malaysia menghadapi peluang sekaligus tekanan<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Malaysia memiliki posisi yang relatif kuat untuk menghadapi lingkungan ekonomi global yang semakin tidak pasti. Pertumbuhan GDP masih mencapai 5,4% pada kuartal pertama 2026, ekspor tumbuh 12,7%, manufaktur berkembang 5,9%, pengangguran berada pada 2,9%, inflasi masih rendah pada 1,6%, ringgit menguat, dan FDI tetap tumbuh. Kombinasi tersebut menunjukkan bahwa fondasi ekonomi Malaysia masih solid. Namun, perlambatan dari akhir 2025, meningkatnya biaya input, risiko energi, ketidakpastian tarif Amerika Serikat, serta perlambatan konsumsi menunjukkan bahwa momentum tidak boleh dianggap permanen. Malaysia perlu menggunakan periode pertumbuhan yang masih kuat ini untuk memperkuat kapasitas industri, meningkatkan kualitas investasi, memperluas ekonomi digital, meningkatkan keterampilan tenaga kerja, dan memperkuat ketahanan energi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Menjadikan E&amp;E sebagai pintu menuju ekonomi bernilai tambah tinggi<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Masa depan ekonomi Malaysia akan sangat ditentukan oleh kemampuannya mengubah keunggulan E&amp;E menjadi basis pertumbuhan yang lebih luas. Permintaan global terhadap AI dan data center telah memberikan dorongan baru kepada manufaktur Malaysia, sementara investasi ICT dan arus FDI tetap menunjukkan kepercayaan terhadap prospek negara tersebut. Namun, peluang tersebut harus diikuti dengan peningkatan kemampuan domestik agar manfaat ekonomi tidak berhenti pada ekspor dan investasi fisik. Malaysia perlu memperkuat hubungan antara perusahaan multinasional dan perusahaan lokal, meningkatkan kemampuan tenaga kerja, memperluas riset dan pengembangan, serta memastikan ketersediaan energi dan infrastruktur digital. Jika strategi tersebut berhasil, Malaysia dapat mempertahankan pertumbuhan 4% hingga 5% dalam jangka menengah sekaligus meningkatkan kualitas pertumbuhannya. Dengan fondasi domestik yang kuat dan posisi yang semakin penting dalam rantai pasok teknologi global, tantangan Malaysia pada 2026 bukan lagi mencari sumber pertumbuhan, melainkan memastikan bahwa pertumbuhan tersebut menghasilkan produktivitas, investasi, pekerjaan berkualitas, dan nilai tambah yang semakin besar bagi perekonomian nasional.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge &#8211; Economy) Malaysia memasuki 2026 dengan fondasi ekonomi yang relatif kuat meskipun pertumbuhannya mulai mengalami moderasi setelah kinerja yang sangat baik pada akhir 2025. Berdasarkan laporan McKinsey Southeast Asia Quarterly Economic Review: Divergent Paths Amid Headwinds, ekonomi Malaysia tumbuh 5,4% pada kuartal pertama 2026, melambat dari 6,2% pada kuartal sebelumnya. Perlambatan tersebut terutama mencerminkan normalisasi momentum di sejumlah sektor, tetapi ekspor yang kuat dan permintaan domestik yang tetap solid masih menjadi penopang utama. Kinerja kuartal keempat yang kuat [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":32,"featured_media":190055,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[2512],"tags":[516],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/219412"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/32"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=219412"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/219412\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":219413,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/219412\/revisions\/219413"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/190055"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=219412"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=219412"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=219412"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}