{"id":219402,"date":"2026-08-23T09:11:17","date_gmt":"2026-08-23T02:11:17","guid":{"rendered":"https:\/\/www.blj.co.id\/?p=219402"},"modified":"2026-08-24T09:12:59","modified_gmt":"2026-08-24T02:12:59","slug":"menjelajahi-potemkin-stairs-tangga-yang-mengubah-wajah-kota-odesa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2026\/08\/23\/menjelajahi-potemkin-stairs-tangga-yang-mengubah-wajah-kota-odesa\/","title":{"rendered":"Menjelajahi Potemkin Stairs: Tangga yang Mengubah Wajah Kota Odesa"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge Journal &#8211; Culture)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di berbagai belahan dunia, tangga sering kali menjelma lebih dari sekadar sarana melangkah. Roma punya Spanish Steps yang romantis, Rio de Janeiro bangga dengan Selar\u00f3n Steps yang penuh warna, dan Sisilia memikat lewat Scalinata di Santa Maria del Monte. Namun, di Odesa, Ukraina, terdapat satu tangga yang menyimpan alur cerita paling unik: Potemkin Stairs.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\">Lahir dari Kebutuhan Sebuah Kota Pelabuhan<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Lahir bukan sebagai karya seni maupun tempat wisata, tangga monumental ini dibangun antara tahun 1837 hingga 1841 atas perintah Pangeran Mikhail Vorontsov. Kala itu, Odesa sedang berkembang pesat menjadi pusat perdagangan maritim utama di Laut Hitam.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Masalahnya, pusat kota Odesa berdiri anggun di atas tebing tinggi, sementara denyut ekonomi dan pelabuhan berada jauh di bawahnya. Akses jalan yang ada sebelumnya sangat curam, licin, dan tidak memadai untuk mobilitas ribuan pedagang, pelaut, dan pendatang. Potemkin Stairs hadir sebagai jawaban praktis sekaligus megah: sebuah jembatan penghubung yang memeluk dua dunia\u2014kehidupan kota di atas dan riak Laut Hitam di bawah.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\">Trik Visual yang Memukau Mata<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Didesain oleh arsitek Franz Boffo dan Abraham Melnikov serta dibangun oleh insinyur John Upton, tangga ini menyimpan rahasia arsitektur yang jenius. Bagian bawahnya dirancang jauh lebih lebar daripada bagian atas untuk menciptakan ilusi perspektif yang memesona:<\/p>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li>Pandangan dari bawah: Tangga terlihat sangat megah, tinggi, dan seolah tak berujung, membawa Anda menembus langit menuju jantung kota.<\/li>\n<li>Pandangan dari atas: Bentangan landai di antara tangga seakan &#8220;menghilang&#8221;, memperlihatkan lanskap pelabuhan dan hamparan laut lepas secara utuh tanpa terhalang anak tangga.<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dari 200 anak tangga asli (kini tersisa 192 akibat penataan kawasan pelabuhan), setiap pijakannya memberikan pengalaman visual yang berbeda bagi siapa pun yang melintas.<\/p>\n<figure id=\"attachment_219407\" aria-describedby=\"caption-attachment-219407\" style=\"width: 750px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" class=\"wp-image-219407 size-large\" src=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/1280px-\u041f\u043e\u0442\u044c\u043e\u043c\u043a\u0456\u043d\u0441\u044c\u043a\u0456_\u0441\u0445\u043e\u0434\u0438_22-1024x682.jpg\" alt=\"\" width=\"750\" height=\"500\" srcset=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/1280px-\u041f\u043e\u0442\u044c\u043e\u043c\u043a\u0456\u043d\u0441\u044c\u043a\u0456_\u0441\u0445\u043e\u0434\u0438_22-1024x682.jpg 1024w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/1280px-\u041f\u043e\u0442\u044c\u043e\u043c\u043a\u0456\u043d\u0441\u044c\u043a\u0456_\u0441\u0445\u043e\u0434\u0438_22-300x200.jpg 300w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/1280px-\u041f\u043e\u0442\u044c\u043e\u043c\u043a\u0456\u043d\u0441\u044c\u043a\u0456_\u0441\u0445\u043e\u0434\u0438_22-768x512.jpg 768w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/1280px-\u041f\u043e\u0442\u044c\u043e\u043c\u043a\u0456\u043d\u0441\u044c\u043a\u0456_\u0441\u0445\u043e\u0434\u0438_22-360x240.jpg 360w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/1280px-\u041f\u043e\u0442\u044c\u043e\u043c\u043a\u0456\u043d\u0441\u044c\u043a\u0456_\u0441\u0445\u043e\u0434\u0438_22-480x320.jpg 480w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/1280px-\u041f\u043e\u0442\u044c\u043e\u043c\u043a\u0456\u043d\u0441\u044c\u043a\u0456_\u0441\u0445\u043e\u0434\u0438_22-720x480.jpg 720w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/1280px-\u041f\u043e\u0442\u044c\u043e\u043c\u043a\u0456\u043d\u0441\u044c\u043a\u0456_\u0441\u0445\u043e\u0434\u0438_22-1200x800.jpg 1200w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/1280px-\u041f\u043e\u0442\u044c\u043e\u043c\u043a\u0456\u043d\u0441\u044c\u043a\u0456_\u0441\u0445\u043e\u0434\u0438_22-750x500.jpg 750w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/1280px-\u041f\u043e\u0442\u044c\u043e\u043c\u043a\u0456\u043d\u0441\u044c\u043a\u0456_\u0441\u0445\u043e\u0434\u0438_22.jpg 1280w\" sizes=\"(max-width: 750px) 100vw, 750px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-219407\" class=\"wp-caption-text\">Potemkin Stairs; the steps are invisible from the top. Sumber: Wikipedia<\/figcaption><\/figure>\n<h3 style=\"text-align: justify;\">Mengapa Potemkin Stairs Begitu Penting bagi Odesa?<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bagi masyarakat Odesa, Potemkin Stairs bukan sekadar tumpukan batu granit dan batu kapur. Tangga ini adalah simbol identitas dan gerbang utama kota:<\/p>\n<ol style=\"text-align: justify;\">\n<li>Jantung Sejarah Kota: UNESCO mencatat tangga ini sebagai bagian penting dari sumbu sejarah yang menghubungkan pusat Odesa dengan laut. Ia menjadi saksi bisu transformasi Odesa dari kota benteng kecil menjadi metropolis perdagangan internasional yang kosmopolitan.<\/li>\n<li>Ikon Budaya dan Sinema: Nama &#8220;Potemkin&#8221; mendunia berkat film bisu mahakarya Sergei Eisenstein tahun 1925, <em>Battleship Potemkin<\/em>. Adegan legendaris kereta bayi yang meluncur turun menuruni tangga ini mengabadikan Odesa dalam ingatan kolektif dunia.<\/li>\n<li>Garis Kehidupan Warga: Tangga ini menghubungkan denyut ekonomi maritim dengan ruang sosial warga kota, menjadikannya tempat bertemunya berbagai kisah manusia selama hampir dua abad.<\/li>\n<\/ol>\n<h3 style=\"text-align: justify;\">Mengapa Anda Harus Berdiri di Sana?<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mendatangi Potemkin Stairs bukan sekadar soal menghitung anak tangga atau mengambil foto dari kejauhan. Keajaiban sebenarnya terasa saat Anda melangkah dan berhenti di bagian tengahnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Berhentilah sejenak di sana. Rasakan embusan angin Laut Hitam di wajah Anda, serap atmosfer pelabuhan yang hidup di depan, dan rasakan denyut sejarah kota di belakang Anda. Di titik inilah Anda berdiri di jejak yang sama dengan para pelaut abad ke-19, pedagang dunia, hingga para sineas legendaris.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bagi yang ingin menikmati pemandangan tanpa perlu meniti ratusan anak tangga, kereta funikular bersejarah (yang pertama kali beroperasi sejak 1902) di sisinya siap mengantar Anda dengan santai. Baik berjalan kaki maupun naik kereta, Potemkin Stairs siap menyambut Anda untuk menjadi bagian dari kisahnya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge Journal &#8211; Culture) Di berbagai belahan dunia, tangga sering kali menjelma lebih dari sekadar sarana melangkah. Roma punya Spanish Steps yang romantis, Rio de Janeiro bangga dengan Selar\u00f3n Steps yang penuh warna, dan Sisilia memikat lewat Scalinata di Santa Maria del Monte. Namun, di Odesa, Ukraina, terdapat satu tangga yang menyimpan alur cerita paling unik: Potemkin Stairs. Lahir dari Kebutuhan Sebuah Kota Pelabuhan Lahir bukan sebagai karya seni maupun tempat wisata, tangga monumental ini dibangun antara tahun 1837 [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":101075,"featured_media":219408,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[1052],"tags":[13619],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/219402"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/101075"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=219402"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/219402\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":219409,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/219402\/revisions\/219409"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/219408"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=219402"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=219402"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=219402"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}