{"id":219296,"date":"2026-08-11T15:39:48","date_gmt":"2026-08-11T08:39:48","guid":{"rendered":"https:\/\/www.blj.co.id\/?p=219296"},"modified":"2026-08-11T15:40:09","modified_gmt":"2026-08-11T08:40:09","slug":"oktora-seni-menjadi-upaya-merebut-kembali-narasi-sejarah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2026\/08\/11\/oktora-seni-menjadi-upaya-merebut-kembali-narasi-sejarah\/","title":{"rendered":"Oktora: Seni Menjadi Upaya Merebut Kembali Narasi Sejarah"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge Journal &#8211; Art)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebuah bunga dapat menjadi simbol kekuasaan. Sebuah foto lama dapat menyimpan sejarah kolonial yang belum selesai. Bahkan sebuah nama pun dapat menjadi alat untuk menentukan siapa yang berhak mendefinisikan sebuah kenyataan. Gagasan-gagasan inilah yang menjadi benang merah dalam karya-karya Oktora, seniman Indonesia yang kini berkarya antara Melbourne dan Indonesia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Latar belakang Oktora mungkin tidak lazim bagi seorang seniman. Ia menempuh pendidikan hukum di Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), sekaligus belajar seni patung di Institut Teknologi Bandung (ITB). Sejak melanjutkan studi magister di Melbourne pada 2016, ia membangun praktik seni yang melintasi dua negara. Perjalanannya justru mempertemukan dua disiplin yang tampak berbeda: hukum dan seni.<\/p>\n<blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Sebenarnya ada kaitannya,&#8221; ujar Oktora. &#8220;Hukum dan seni sama-sama membahas kehidupan, hanya cara menyampaikannya yang berbeda. Hukum menghasilkan keputusan dan kebijakan, sedangkan seni memberi ruang untuk refleksi yang lebih mendalam.&#8221;<\/p>\n<\/blockquote>\n<h3 style=\"text-align: justify;\">Sulit Dibatasi oleh Satu Medium<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Melihat karya-karya Oktora, pengunjung mungkin akan kesulitan menyebutnya sebagai lukisan, patung, atau instalasi. Ia sendiri mengakui bahwa seni kontemporer semakin sulit dikategorikan.<\/p>\n<blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Bagi saya sekarang lebih tepat disebut berada dalam payung seni rupa,&#8221; katanya.<\/p>\n<\/blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">Salah satu medium yang banyak digunakannya adalah tapestry atau tenun tangan bergaya Barat, teknik yang dipelajarinya secara otodidak ketika mengikuti residensi di Australian Tapestry Workshop. Teknik tradisional Eropa tersebut kemudian dipadukan dengan logam, kain, serta berbagai material lain untuk membangun narasi baru mengenai sejarah Indonesia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pilihan menggunakan teknik Barat bukanlah keputusan estetika semata. Di baliknya terdapat gagasan mengenai dekolonialisasi.<\/p>\n<blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Saya ingin mempelajari Barat, bukan terus-menerus dipelajari oleh Barat,&#8221; ungkapnya.<\/p>\n<\/blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">Salah satu karya yang menjadi pusat perhatian mengangkat kisah Rafflesia arnoldii. Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, bunga raksasa tersebut dikenal melalui nama yang diambil dari Sir Stamford Raffles dan Joseph Arnold.\u00a0Namun bagi Oktora, sejarah bunga itu menyimpan persoalan yang jauh lebih kompleks.\u00a0Ia menjelaskan bahwa masyarakat lokal telah mengenal bunga tersebut jauh sebelum ilmuwan Barat mendokumentasikannya. Bahkan, dalam catatan sejarah sendiri terdapat perdebatan mengenai siapa yang pertama kali &#8220;menemukan&#8221; bunga tersebut. Persoalannya bukan semata-mata penemuan, melainkan siapa yang memiliki kuasa untuk memberi nama.<\/p>\n<blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Menamai bukan hanya soal bahasa. Menamai adalah persoalan kekuasaan. Siapa yang mendefinisikan, dialah yang akhirnya dianggap sebagai pemilik cerita.&#8221;<\/p>\n<\/blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pemikiran itulah yang kemudian menjadi fondasi berbagai karya Oktora. Ia mempertanyakan bagaimana sejarah sering kali ditulis oleh pihak yang memiliki kekuasaan, sementara pengetahuan masyarakat lokal justru terpinggirkan.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\">Memberi Kehormatan kepada Mereka yang Terlupakan<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Isu serupa muncul dalam karya Mona Lisa from Java.\u00a0Karya tersebut berangkat dari sebuah foto arsip kolonial di Leiden yang diberi judul <em>Prostitute from Java<\/em>. Foto itu menampilkan seorang perempuan Jawa dengan dada terbuka, sementara identitasnya direduksi hanya menjadi sebuah label.\u00a0Ketika pertama kali melihat foto tersebut, Oktora mengaku merasakan kesedihan yang mendalam.<\/p>\n<blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Orang ini adalah manusia. Tetapi ia akan terus dikenang dengan judul seperti itu.&#8221;<\/p>\n<\/blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">Melalui proses menenun ulang yang memakan waktu sekitar empat bulan, ia mencoba menghadirkan narasi baru. Teknik tapestry yang pada masa lalu digunakan untuk menggambarkan tokoh-tokoh penting dan figur religius di Eropa dipilih sebagai bentuk penghormatan kepada perempuan anonim tersebut.<\/p>\n<blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Setidaknya sekali dalam hidupnya, saya ingin ia menang,&#8221; ujarnya. &#8220;Saya ingin memberikan cerita baru untuknya.&#8221;<\/p>\n<\/blockquote>\n<h3 style=\"text-align: justify;\">Mengkritisi Cara Kita Melihat Foto<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketertarikan Oktora terhadap arsip kolonial tidak berhenti pada satu karya. Ia banyak mengeksplorasi bagaimana fotografi sejak masa kolonial digunakan sebagai alat klasifikasi, objektifikasi, bahkan legitimasi kekuasaan.\u00a0Salah satu karya favoritnya mengangkat arsip karya seorang ginekolog yang pernah melakukan pengukuran tubuh perempuan Jawa. Menurutnya, gagasan bahwa tubuh manusia dapat diukur dan dikategorikan berdasarkan etnis kemudian berkembang menjadi pendekatan yang digunakan dalam praktik diskriminasi rasial pada era Nazi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Melalui karya-karyanya, Oktora tidak mengajak publik untuk menolak sejarah. Sebaliknya, ia mengajak kita membaca ulang sejarah dengan lebih kritis.<\/p>\n<blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Bagi saya, sekarang kita mengonsumsi ratusan bahkan ribuan foto setiap hari. Jangan sampai kita menjadi kebal. Kita perlu berhenti sejenak dan mempertanyakan kembali apa yang sebenarnya kita lihat.&#8221;<\/p>\n<\/blockquote>\n<h3 style=\"text-align: justify;\">Seni sebagai Ruang Refleksi<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hampir dua dekade berkarya sejak 2007, Oktora mengaku praktik seninya terus berkembang mengikuti fase kehidupannya. Saat ini ia tengah mempersiapkan karya tapestry berskala lebih besar, sebuah proyek yang menurutnya membutuhkan investasi waktu yang panjang.<br \/>\nPercakapan dengan Oktora menunjukkan bahwa seni bukan hanya persoalan keindahan visual. Di tangannya, seni menjadi ruang untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan penting: siapa yang berhak menulis sejarah, siapa yang menentukan makna, dan bagaimana sebuah karya dapat mengembalikan martabat mereka yang selama ini hanya menjadi objek dalam arsip.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di tengah derasnya arus informasi visual, karya-karya Oktora mengingatkan bahwa melihat bukanlah sekadar memandang. Melihat juga berarti memahami, mempertanyakan, dan berani membaca kembali cerita-cerita yang selama ini dianggap sudah selesai.<\/p>\n<p><iframe title=\"Dekolonisasi Lewat Seni - Wawancara Eksklusif dengan Oktora\" width=\"563\" height=\"1000\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/-jtsiSiaifc?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" referrerpolicy=\"strict-origin-when-cross-origin\" allowfullscreen><\/iframe><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge Journal &#8211; Art) Sebuah bunga dapat menjadi simbol kekuasaan. Sebuah foto lama dapat menyimpan sejarah kolonial yang belum selesai. Bahkan sebuah nama pun dapat menjadi alat untuk menentukan siapa yang berhak mendefinisikan sebuah kenyataan. Gagasan-gagasan inilah yang menjadi benang merah dalam karya-karya Oktora, seniman Indonesia yang kini berkarya antara Melbourne dan Indonesia. Latar belakang Oktora mungkin tidak lazim bagi seorang seniman. Ia menempuh pendidikan hukum di Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), sekaligus belajar seni patung di Institut Teknologi Bandung [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":26,"featured_media":219297,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[1256,8027,8067],"tags":[9131,13569],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/219296"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/26"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=219296"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/219296\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":219298,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/219296\/revisions\/219298"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/219297"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=219296"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=219296"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=219296"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}