{"id":219208,"date":"2026-08-06T09:27:32","date_gmt":"2026-08-06T02:27:32","guid":{"rendered":"https:\/\/www.blj.co.id\/?p=219208"},"modified":"2026-08-06T16:34:29","modified_gmt":"2026-08-06T09:34:29","slug":"gilead-tertekan-biaya-riset-meski-penjualan-naik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2026\/08\/06\/gilead-tertekan-biaya-riset-meski-penjualan-naik\/","title":{"rendered":"Gilead Tertekan Biaya Riset Meski Penjualan Naik"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"54\" data-end=\"358\"><em data-start=\"54\" data-end=\"358\">(Business Lounge &#8211; Global News) Gilead Sciences membukukan kerugian pada kuartal kedua akibat meningkatnya pengeluaran penelitian dan pengembangan, meskipun pendapatan bertumbuh berkat penjualan obat HIV. Perusahaan juga menurunkan proyeksi penjualan tahunan Veklury setelah permintaan terhadap terapi Covid-19 tersebut merosot tajam.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"360\" data-end=\"1122\">Gilead Sciences berbalik mencatat kerugian pada kuartal kedua karena meningkatnya biaya penelitian dan pengembangan (<em data-start=\"477\" data-end=\"507\">research and development\/R&amp;D<\/em>), sementara pendapatan tetap meningkat berkat pertumbuhan penjualan portofolio obat HIV. Pada saat yang sama, perusahaan menurunkan proyeksi penjualan tahunan Veklury, terapi Covid-19 miliknya, setelah penjualan produk tersebut anjlok 81 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Hasil tersebut mencerminkan perubahan struktur bisnis Gilead yang semakin bertumpu pada terapi penyakit kronis seiring berkurangnya permintaan terhadap obat Covid-19. <em data-start=\"969\" data-end=\"978\">Reuters<\/em> melaporkan bahwa kenaikan biaya riset dan penurunan tajam penjualan Veklury menjadi faktor utama yang memengaruhi kinerja kuartalan perusahaan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1124\" data-end=\"1644\">Mengulas perkembangan tersebut, <em data-start=\"1156\" data-end=\"1167\">Bloomberg<\/em> menjelaskan bahwa perusahaan farmasi global kini kembali memusatkan perhatian pada pengembangan terapi jangka panjang setelah permintaan terhadap produk terkait pandemi menurun. Selama beberapa tahun terakhir, obat-obatan Covid-19 memberikan kontribusi besar terhadap pendapatan sejumlah perusahaan farmasi. Namun, seiring berakhirnya fase darurat kesehatan global, pertumbuhan bisnis kembali bergantung pada kekuatan portofolio obat untuk penyakit kronis dan terapi inovatif.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1646\" data-end=\"2151\">Sementara itu, <em data-start=\"1661\" data-end=\"1678\">Financial Times<\/em> menyoroti bahwa investasi penelitian dan pengembangan merupakan komponen terbesar dalam strategi pertumbuhan perusahaan biofarmasi. Pengeluaran tersebut memang dapat menekan laba dalam jangka pendek, tetapi menjadi fondasi bagi lahirnya terapi baru yang akan menentukan daya saing perusahaan pada masa mendatang. Investor umumnya menilai belanja riset sebagai indikator komitmen perusahaan terhadap inovasi, meskipun dampaknya terhadap laba tidak selalu langsung terlihat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2153\" data-end=\"2561\">Menurut <em data-start=\"2161\" data-end=\"2177\">Endpoints News<\/em>, terapi HIV tetap menjadi salah satu segmen paling penting dalam industri farmasi karena membutuhkan pengobatan berkelanjutan. Kemajuan penelitian selama beberapa dekade telah menghasilkan obat yang semakin efektif, aman, dan mudah digunakan oleh pasien. Perusahaan yang mampu mempertahankan inovasi di bidang ini memiliki peluang menjaga pertumbuhan pendapatan dalam jangka panjang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2563\" data-end=\"2988\">Sorotan <em data-start=\"2571\" data-end=\"2582\">STAT News<\/em> memperlihatkan bahwa industri biofarmasi saat ini semakin mengarahkan investasi pada terapi berbasis biologi, pengobatan presisi, serta teknologi baru yang mampu meningkatkan efektivitas pengobatan. Perubahan tersebut membuat anggaran penelitian terus meningkat karena pengembangan terapi modern membutuhkan uji klinis yang lebih kompleks serta teknologi yang lebih canggih dibandingkan obat konvensional.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2990\" data-end=\"3440\">Di sisi lain, <em data-start=\"3004\" data-end=\"3019\">Fierce Pharma<\/em> mencermati bahwa penurunan proyeksi penjualan Veklury mencerminkan normalisasi pasar pascapandemi. Ketika jumlah kasus Covid-19 yang memerlukan perawatan intensif terus menurun, permintaan terhadap terapi antivirus ikut berkurang. Fenomena ini dialami oleh banyak perusahaan farmasi yang sebelumnya memperoleh lonjakan pendapatan selama pandemi dan kini harus menyesuaikan strategi bisnis dengan kondisi pasar yang baru.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3442\" data-end=\"3872\"><em data-start=\"3451\" data-end=\"3478\">Pharmaceutical Technology<\/em> mengemukakan bahwa diversifikasi portofolio menjadi faktor penting bagi keberlanjutan perusahaan farmasi. Ketergantungan pada satu produk atau satu area terapi meningkatkan risiko ketika permintaan berubah atau perlindungan paten berakhir. Oleh karena itu, perusahaan terus memperluas penelitian ke berbagai bidang penyakit untuk menjaga stabilitas pertumbuhan pendapatan dalam jangka panjang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3874\" data-end=\"4355\"><em data-start=\"3884\" data-end=\"3892\">Forbes<\/em> menunjukkan bahwa keberhasilan perusahaan farmasi semakin ditentukan oleh kemampuan menyeimbangkan investasi inovasi dengan kinerja keuangan. Belanja penelitian yang besar memang dapat mengurangi laba dalam jangka pendek, tetapi keberhasilan menghasilkan terapi baru akan menciptakan sumber pendapatan yang lebih berkelanjutan. Strategi tersebut menjadi semakin penting ketika produk-produk yang sebelumnya mendominasi pasar mulai mengalami penurunan permintaan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"4357\" data-end=\"4773\"><em data-start=\"4368\" data-end=\"4383\">The Economist<\/em> menilai bahwa industri farmasi global telah memasuki fase transisi dari pertumbuhan berbasis produk pandemi menuju pertumbuhan yang didorong oleh inovasi ilmiah. Perusahaan yang memiliki portofolio terapi kuat, kemampuan penelitian yang berkelanjutan, dan strategi diversifikasi yang matang diperkirakan akan lebih siap menghadapi perubahan pola permintaan layanan kesehatan di masa depan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"4775\" data-end=\"5368\" data-is-last-node=\"\" data-is-only-node=\"\"><em data-start=\"4783\" data-end=\"4792\">Reuters<\/em> memperlihatkan bahwa Gilead Sciences membukukan kerugian akibat meningkatnya biaya penelitian dan pengembangan, meskipun pendapatan tumbuh berkat penjualan obat HIV. Di saat yang sama, penurunan penjualan Veklury sebesar 81 persen mendorong perusahaan memangkas proyeksi penjualan tahunan produk tersebut. Perkembangan ini menunjukkan bahwa industri farmasi kini kembali memasuki era ketika inovasi ilmiah dan kekuatan portofolio terapi menjadi penentu utama pertumbuhan, menggantikan kontribusi luar biasa yang sebelumnya berasal dari produk-produk terkait pandemi Covid-19.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge &#8211; Global News) Gilead Sciences membukukan kerugian pada kuartal kedua akibat meningkatnya pengeluaran penelitian dan pengembangan, meskipun pendapatan bertumbuh berkat penjualan obat HIV. Perusahaan juga menurunkan proyeksi penjualan tahunan Veklury setelah permintaan terhadap terapi Covid-19 tersebut merosot tajam. Gilead Sciences berbalik mencatat kerugian pada kuartal kedua karena meningkatnya biaya penelitian dan pengembangan (research and development\/R&amp;D), sementara pendapatan tetap meningkat berkat pertumbuhan penjualan portofolio obat HIV. Pada saat yang sama, perusahaan menurunkan proyeksi penjualan tahunan Veklury, terapi Covid-19 miliknya, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":32,"featured_media":219209,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[120],"tags":[13556],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/219208"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/32"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=219208"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/219208\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":219210,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/219208\/revisions\/219210"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/219209"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=219208"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=219208"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=219208"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}