{"id":219100,"date":"2026-08-03T19:58:40","date_gmt":"2026-08-03T12:58:40","guid":{"rendered":"https:\/\/www.blj.co.id\/?p=219100"},"modified":"2026-08-03T19:58:40","modified_gmt":"2026-08-03T12:58:40","slug":"jika-kota-bisa-bercerita-dnipro-akan-memulai-kisahnya-dengan-tiga-nama","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2026\/08\/03\/jika-kota-bisa-bercerita-dnipro-akan-memulai-kisahnya-dengan-tiga-nama\/","title":{"rendered":"Jika Kota Bisa Bercerita, Dnipro Akan Memulai Kisahnya dengan Tiga Nama"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge Journal &#8211; Culture)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ada sebuah pertanyaan sederhana yang mungkin jarang terlintas di benak kita ketika melihat nama sebuah kota di peta: apakah kota itu selalu memiliki nama yang sama? Bagi sebagian besar kota, jawabannya mungkin iya. Namun, tidak bagi Dnipro, salah satu kota terbesar di Ukraina. Kota ini pernah dikenal dengan nama Yekaterinoslav, kemudian Dnipropetrovsk, hingga akhirnya menjadi Dnipro seperti yang kita kenal sekarang. Menariknya, setiap nama itu bukan sekadar pergantian administrasi, melainkan penanda sebuah zaman yang berbeda. Seolah-olah, setiap kali sejarah berubah arah, kota ini pun ikut mengenakan identitas baru.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jika benar kota bisa berbicara, mungkin Dnipro tidak akan meminta kita menghafal tahun-tahun penting atau nama para penguasa yang pernah memerintahnya. Ia mungkin hanya akan bercerita bahwa setiap nama yang pernah disandangnya adalah bagian dari perjalanan panjang yang membentuk dirinya hari ini. Dari Yekaterinoslav, yang lahir dari ambisi sebuah kekaisaran, menjadi Dnipropetrovsk pada masa Uni Soviet, hingga akhirnya kembali dikenal sebagai Dnipro, nama yang telah lama hidup di hati masyarakat. Perjalanan itu bukan hanya tentang perubahan nama, tetapi juga tentang bagaimana sebuah kota terus beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan jiwanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jauh sebelum gedung-gedung modern berdiri di tepi Sungai Dnipro, kawasan ini telah menjadi rumah bagi komunitas bangsa Kozak. Mereka memilih menetap di sekitar sungai karena air bukan hanya menjadi sumber kehidupan, tetapi juga jalur perdagangan dan benteng alami yang melindungi permukiman mereka. Sungai Dnipro menghubungkan berbagai wilayah di Eropa Timur, menjadikannya nadi kehidupan yang membawa orang, barang, dan budaya saling bertemu. Dari sanalah, perlahan-lahan tumbuh sebuah kawasan yang kelak berkembang menjadi salah satu kota terpenting di Ukraina.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada akhir abad ke-18, keadaan berubah ketika Kekaisaran Rusia memperluas wilayahnya ke arah selatan. Permaisuri Catherine II, yang lebih dikenal sebagai Catherine the Great, memiliki visi membangun sebuah kota besar sebagai simbol kejayaan kekaisaran di wilayah baru tersebut. Kota itu diberi nama Yekaterinoslav, yang berarti &#8220;Kemuliaan Catherine&#8221;. Nama tersebut bukan sekadar penghormatan kepada sang permaisuri, tetapi juga pernyataan bahwa sebuah era baru telah dimulai. Yekaterinoslav dirancang menjadi kota megah dengan katedral besar, pusat pemerintahan, universitas, dan kawasan perdagangan. Meskipun tidak semua rencana itu berhasil diwujudkan, kota ini tumbuh menjadi pusat penting di kawasan selatan Kekaisaran Rusia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Beberapa dekade kemudian, angin sejarah kembali berembus. Revolusi Rusia mengguncang negeri, Kekaisaran Rusia runtuh, dan Uni Soviet lahir dengan ideologi yang sangat berbeda. Bersamaan dengan perubahan itu, banyak kota diubah namanya untuk mencerminkan semangat pemerintahan baru. Pada tahun 1926, Yekaterinoslav resmi berganti nama menjadi Dnipropetrovsk. Nama tersebut merupakan gabungan dari Dnipro, sungai yang membelah kota, dan nama Hryhorii Petrovskyi, seorang tokoh Bolshevik yang berpengaruh pada masa awal Uni Soviet. Pergantian nama itu mencerminkan bagaimana identitas sebuah kota dapat berubah mengikuti arah politik yang sedang berkuasa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di bawah nama Dnipropetrovsk, kota ini berkembang pesat sebagai salah satu pusat industri terbesar di Uni Soviet. Pabrik-pabrik baja berdiri, industri mesin berkembang, dan berbagai teknologi strategis lahir dari kota ini. Bahkan, Dnipropetrovsk pernah menjadi pusat pengembangan teknologi roket dan antariksa sehingga statusnya sempat menjadi kota tertutup. Selama bertahun-tahun, warga negara asing tidak dapat mengunjunginya tanpa izin khusus. Di balik kehidupan masyarakat yang berjalan seperti biasa, kota ini memegang peran penting dalam perkembangan industri dan teknologi Uni Soviet.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketika Ukraina memperoleh kemerdekaannya pada tahun 1991, nama Dnipropetrovsk tetap dipertahankan. Namun, seiring berjalannya waktu, muncul keinginan untuk membangun identitas nasional yang lebih mencerminkan sejarah dan budaya Ukraina sendiri. Pada tahun 2015, pemerintah Ukraina mengesahkan kebijakan dekomunisasi, yaitu upaya menghapus simbol-simbol yang berkaitan dengan rezim komunis dari ruang publik. Nama kota, jalan, taman, hingga monumen menjadi bagian dari proses tersebut. Karena nama Dnipropetrovsk masih mengandung nama Hryhorii Petrovskyi, parlemen Ukraina akhirnya menetapkan nama baru pada 19 Mei 2016: Dnipro.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menariknya, bagi banyak warga setempat, nama itu sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Jauh sebelum perubahan tersebut disahkan secara resmi, mereka telah terbiasa menyebut kota ini sebagai Dnipro dalam percakapan sehari-hari. Nama itu terasa lebih dekat karena berasal dari Sungai Dnipro, sungai yang telah menghidupi kawasan ini selama berabad-abad. Dalam arti tertentu, keputusan tahun 2016 bukanlah menciptakan nama baru, melainkan mengembalikan nama yang telah lama hidup di tengah masyarakat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ada satu fakta yang sering membuat orang bertanya-tanya. Jika kota ini kini bernama Dnipro, mengapa provinsinya masih bernama Dnipropetrovsk Oblast? Jawabannya ternyata berkaitan dengan sistem hukum Ukraina. Mengubah nama sebuah kota dapat dilakukan melalui keputusan parlemen, tetapi perubahan nama sebuah oblast memerlukan amendemen konstitusi. Karena prosesnya jauh lebih panjang dan kompleks, hingga kini nama provinsinya masih tetap menggunakan nama lama.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada akhirnya, kisah Dnipro mengajarkan bahwa nama sebuah kota bukan sekadar tulisan pada papan penunjuk jalan atau titik di atas peta. Nama adalah cermin dari perjalanan sejarah, pergantian kekuasaan, harapan, bahkan identitas masyarakat yang tinggal di dalamnya. Yekaterinoslav mengingatkan kita pada masa Kekaisaran Rusia, Dnipropetrovsk menjadi saksi era Uni Soviet, sementara Dnipro mencerminkan keinginan Ukraina modern untuk kembali menegaskan jati dirinya melalui nama yang berasal dari sungai yang telah menjadi sumber kehidupan sejak dahulu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mungkin itulah alasan mengapa kisah Dnipro terasa begitu menarik. Tidak banyak kota yang dapat menceritakan perjalanan hidupnya hanya melalui tiga nama. Dan mungkin, jika suatu hari kita berdiri di tepi Sungai Dnipro sambil memandang aliran air yang tenang, kita akan menyadari bahwa yang benar-benar bertahan selama berabad-abad bukanlah nama yang silih berganti, melainkan sungai yang terus mengalir, menyaksikan setiap perubahan zaman tanpa pernah berhenti membawa kehidupan bagi orang-orang di sekitarnya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge Journal &#8211; Culture) Ada sebuah pertanyaan sederhana yang mungkin jarang terlintas di benak kita ketika melihat nama sebuah kota di peta: apakah kota itu selalu memiliki nama yang sama? Bagi sebagian besar kota, jawabannya mungkin iya. Namun, tidak bagi Dnipro, salah satu kota terbesar di Ukraina. Kota ini pernah dikenal dengan nama Yekaterinoslav, kemudian Dnipropetrovsk, hingga akhirnya menjadi Dnipro seperti yang kita kenal sekarang. Menariknya, setiap nama itu bukan sekadar pergantian administrasi, melainkan penanda sebuah zaman yang berbeda. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":101075,"featured_media":218027,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[1052,2725],"tags":[13352],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/219100"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/101075"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=219100"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/219100\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":219101,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/219100\/revisions\/219101"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/218027"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=219100"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=219100"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=219100"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}