{"id":219076,"date":"2026-08-03T10:41:07","date_gmt":"2026-08-03T03:41:07","guid":{"rendered":"https:\/\/www.blj.co.id\/?p=219076"},"modified":"2026-08-03T15:41:46","modified_gmt":"2026-08-03T08:41:46","slug":"argenx-perkuat-portofolio-lewat-akuisisi-forte","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2026\/08\/03\/argenx-perkuat-portofolio-lewat-akuisisi-forte\/","title":{"rendered":"Argenx Perkuat Portofolio Lewat Akuisisi Forte"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"52\" data-end=\"310\"><em data-start=\"52\" data-end=\"310\">(Business Lounge &#8211; Global News) Argenx mengakuisisi Forte Biosciences senilai US$2,2 miliar dengan premi sekitar 41 persen dari harga penutupan saham sebelumnya, memperlihatkan semakin agresifnya perusahaan bioteknologi memburu terapi inovatif untuk memperkuat pertumbuhan jangka panjang.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"312\" data-end=\"981\">Argenx sepakat mengakuisisi Forte Biosciences dalam transaksi senilai sekitar US$2,2 miliar. Penawaran tersebut mencerminkan premi sekitar 41 persen dibandingkan harga penutupan saham Forte pada perdagangan sebelumnya, sebuah nilai yang menunjukkan tingginya keyakinan Argenx terhadap potensi teknologi dan pipeline pengembangan obat milik perusahaan bioteknologi tersebut. Akuisisi ini menjadi bagian dari strategi memperluas portofolio terapi inovatif sekaligus memperkuat posisi Argenx dalam industri biofarmasi global yang semakin kompetitif. <em data-start=\"859\" data-end=\"868\">Reuters<\/em> melaporkan bahwa transaksi tersebut memberikan premi yang signifikan bagi para pemegang saham Forte Biosciences.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"983\" data-end=\"1492\">Mengulas perkembangan tersebut, <em data-start=\"1015\" data-end=\"1026\">Bloomberg<\/em> menjelaskan bahwa akuisisi merupakan salah satu strategi utama perusahaan farmasi dan bioteknologi untuk mempercepat pertumbuhan. Dibandingkan mengembangkan seluruh kandidat obat secara internal yang membutuhkan waktu bertahun-tahun, perusahaan sering memilih membeli pengembang terapi yang telah memiliki hasil penelitian menjanjikan. Langkah ini memungkinkan perusahaan mempercepat diversifikasi portofolio sekaligus memperluas peluang komersialisasi produk baru.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1494\" data-end=\"2000\">Sementara itu, <em data-start=\"1509\" data-end=\"1526\">Financial Times<\/em> menyoroti bahwa tingginya premi dalam transaksi akuisisi umumnya mencerminkan besarnya nilai strategis aset yang dimiliki perusahaan target. Dalam industri bioteknologi, nilai tersebut sering kali berasal dari hak kekayaan intelektual, teknologi penelitian, hasil uji klinis, serta potensi terapi yang masih berada dalam tahap pengembangan. Investor bersedia membayar lebih tinggi apabila prospek jangka panjang dinilai mampu menghasilkan pertumbuhan pendapatan yang besar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2002\" data-end=\"2452\">Menurut <em data-start=\"2010\" data-end=\"2026\">Endpoints News<\/em>, perusahaan bioteknologi menjadi sasaran akuisisi karena banyak di antaranya memiliki inovasi ilmiah yang sangat spesifik tetapi belum memiliki sumber daya yang cukup untuk membawa terapi hingga tahap komersialisasi global. Dengan bergabung bersama perusahaan farmasi yang lebih besar, pengembangan obat dapat dipercepat melalui dukungan pendanaan, kapasitas produksi, serta jaringan distribusi internasional yang lebih luas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2454\" data-end=\"2906\">Sorotan <em data-start=\"2462\" data-end=\"2473\">STAT News<\/em> memperlihatkan bahwa industri biofarmasi kini semakin mengutamakan terapi inovatif berbasis ilmu biologi modern, termasuk pengobatan presisi dan terapi yang menargetkan mekanisme penyakit secara lebih spesifik. Perkembangan ilmu genetika, imunologi, dan biologi molekuler mendorong perusahaan untuk terus mencari kandidat terapi baru yang memiliki potensi memberikan hasil pengobatan lebih baik dibandingkan pendekatan konvensional.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2908\" data-end=\"3398\"><em data-start=\"2922\" data-end=\"2938\">Fierce Biotech<\/em> mencermati bahwa aktivitas merger dan akuisisi di sektor bioteknologi meningkat karena banyak perusahaan farmasi menghadapi berakhirnya masa perlindungan paten sejumlah produk unggulan mereka. Untuk menjaga pertumbuhan jangka panjang, perusahaan membutuhkan sumber pendapatan baru yang berasal dari terapi inovatif. Akuisisi menjadi salah satu cara tercepat untuk memperkuat pipeline penelitian sekaligus mengurangi risiko pengembangan dari tahap paling awal.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3400\" data-end=\"3903\"><em data-start=\"3409\" data-end=\"3425\">BioPharma Dive<\/em> mengemukakan bahwa keberhasilan transaksi seperti ini tidak hanya bergantung pada nilai akuisisi, tetapi juga pada kemampuan mengintegrasikan penelitian, tim ilmiah, dan program pengembangan obat. Banyak perusahaan mempertahankan para peneliti utama dari perusahaan yang diakuisisi agar inovasi yang sedang dikembangkan tetap berjalan sesuai rencana. Integrasi yang efektif menjadi faktor penting dalam menghasilkan nilai tambah dari transaksi bernilai miliaran dolar tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3905\" data-end=\"4399\"><em data-start=\"3915\" data-end=\"3923\">Forbes<\/em> menunjukkan bahwa perusahaan farmasi kini semakin mengalokasikan modal untuk memperoleh teknologi yang berpotensi menghasilkan terapi dengan nilai klinis tinggi. Investor tidak lagi hanya memperhatikan besarnya penjualan saat ini, tetapi juga kekuatan pipeline produk yang akan menentukan pertumbuhan perusahaan dalam lima hingga sepuluh tahun mendatang. Oleh sebab itu, akuisisi perusahaan bioteknologi menjadi bagian penting dari strategi pembangunan bisnis jangka panjang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"4401\" data-end=\"4870\"><em data-start=\"4412\" data-end=\"4427\">The Economist<\/em> menilai bahwa konsolidasi di sektor biofarmasi akan terus meningkat seiring pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan semakin tingginya biaya penelitian. Perusahaan yang memiliki kemampuan finansial kuat cenderung memperluas portofolio melalui akuisisi dibandingkan mengandalkan pengembangan internal semata. Strategi tersebut memungkinkan inovasi ilmiah lebih cepat menjangkau pasar sekaligus meningkatkan efisiensi dalam pengembangan obat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"4872\" data-end=\"5492\" data-is-last-node=\"\" data-is-only-node=\"\"><em data-start=\"4880\" data-end=\"4889\">Reuters<\/em> memperlihatkan bahwa akuisisi Forte Biosciences senilai US$2,2 miliar menjadi langkah strategis Argenx untuk memperkuat portofolio terapi inovatif melalui transaksi dengan premi sekitar 41 persen terhadap harga saham sebelumnya. Kesepakatan tersebut menunjukkan tingginya nilai yang diberikan industri terhadap inovasi bioteknologi dan prospek terapi generasi baru. Perkembangan ini menegaskan bahwa penelitian ilmiah, kekuatan pipeline produk, dan kemampuan mengembangkan pengobatan inovatif akan tetap menjadi faktor utama yang mendorong persaingan serta konsolidasi dalam industri biofarmasi global.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge &#8211; Global News) Argenx mengakuisisi Forte Biosciences senilai US$2,2 miliar dengan premi sekitar 41 persen dari harga penutupan saham sebelumnya, memperlihatkan semakin agresifnya perusahaan bioteknologi memburu terapi inovatif untuk memperkuat pertumbuhan jangka panjang. Argenx sepakat mengakuisisi Forte Biosciences dalam transaksi senilai sekitar US$2,2 miliar. Penawaran tersebut mencerminkan premi sekitar 41 persen dibandingkan harga penutupan saham Forte pada perdagangan sebelumnya, sebuah nilai yang menunjukkan tingginya keyakinan Argenx terhadap potensi teknologi dan pipeline pengembangan obat milik perusahaan bioteknologi tersebut. Akuisisi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":32,"featured_media":219077,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[120],"tags":[13533],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/219076"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/32"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=219076"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/219076\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":219078,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/219076\/revisions\/219078"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/219077"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=219076"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=219076"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=219076"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}