{"id":218944,"date":"2026-07-29T04:12:53","date_gmt":"2026-07-28T21:12:53","guid":{"rendered":"https:\/\/www.blj.co.id\/?p=218944"},"modified":"2026-07-29T08:29:45","modified_gmt":"2026-07-29T01:29:45","slug":"coca-cola-pertahankan-pertumbuhan-lewat-strategi-harga","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2026\/07\/29\/coca-cola-pertahankan-pertumbuhan-lewat-strategi-harga\/","title":{"rendered":"Coca-Cola Pertahankan Pertumbuhan Lewat Strategi Harga"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"60\" data-end=\"336\"><em data-start=\"60\" data-end=\"336\">(Business Lounge &#8211; Global News) Peningkatan penjualan konsentrat, strategi penetapan harga, dan komposisi produk yang lebih menguntungkan mendorong Coca-Cola membukukan pertumbuhan laba dan pendapatan pada kuartal kedua, memperlihatkan ketahanan bisnis minuman global di tengah perubahan perilaku konsumen.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"338\" data-end=\"1098\">Coca-Cola mencatatkan kenaikan laba dan penjualan pada kuartal kedua berkat meningkatnya penjualan konsentrat, penerapan strategi harga yang efektif, serta bauran produk (<em data-start=\"509\" data-end=\"522\">product mix<\/em>) yang memberikan margin lebih tinggi. Kinerja tersebut menunjukkan kemampuan perusahaan mempertahankan pertumbuhan meskipun industri barang konsumsi masih menghadapi tantangan berupa perubahan preferensi konsumen, tekanan biaya, dan dinamika ekonomi di berbagai negara. Hasil ini juga memperlihatkan bahwa kekuatan merek dan jaringan distribusi global tetap menjadi fondasi utama keberhasilan Coca-Cola dalam menjaga profitabilitas. <em data-start=\"956\" data-end=\"965\">Reuters<\/em> melaporkan bahwa peningkatan penjualan konsentrat dan strategi harga menjadi faktor utama yang menopang pertumbuhan laba perusahaan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1100\" data-end=\"1662\">Mengulas perkembangan tersebut, <em data-start=\"1132\" data-end=\"1143\">Bloomberg<\/em> menjelaskan bahwa bisnis Coca-Cola sebagian besar bergantung pada penjualan konsentrat kepada mitra pembotolan yang kemudian memproduksi dan mendistribusikan minuman ke berbagai pasar. Ketika penjualan konsentrat meningkat, perusahaan memperoleh manfaat langsung melalui pertumbuhan pendapatan sekaligus peningkatan efisiensi operasional. Model bisnis tersebut memungkinkan Coca-Cola mempertahankan margin yang relatif kuat dibandingkan perusahaan yang mengelola seluruh proses produksi dan distribusi secara langsung.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1664\" data-end=\"2163\">Sementara itu, <em data-start=\"1679\" data-end=\"1696\">Financial Times<\/em> menyoroti bahwa strategi penetapan harga tetap menjadi instrumen penting bagi perusahaan barang konsumsi global dalam menjaga profitabilitas. Di tengah perubahan biaya produksi dan distribusi, perusahaan harus mampu menyesuaikan harga tanpa mengurangi daya tarik produknya di mata konsumen. Keberhasilan Coca-Cola mempertahankan pertumbuhan menunjukkan bahwa kekuatan mereknya masih memungkinkan perusahaan menerapkan strategi harga secara efektif di berbagai pasar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2165\" data-end=\"2629\">Menurut <em data-start=\"2173\" data-end=\"2190\">Beverage Digest<\/em>, komposisi produk atau <em data-start=\"2214\" data-end=\"2227\">product mix<\/em> memiliki pengaruh besar terhadap kinerja keuangan perusahaan minuman. Penjualan yang lebih besar pada produk dengan margin tinggi akan meningkatkan profitabilitas meskipun volume keseluruhan tidak mengalami lonjakan signifikan. Oleh karena itu, perusahaan terus mengembangkan portofolio produknya agar mampu memenuhi berbagai preferensi konsumen sekaligus menghasilkan nilai ekonomi yang lebih tinggi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2631\" data-end=\"3074\">Sorotan <em data-start=\"2639\" data-end=\"2659\">Food Business News<\/em> memperlihatkan bahwa industri minuman global terus mengalami perubahan seiring meningkatnya permintaan terhadap produk rendah gula, minuman fungsional, air kemasan premium, kopi siap minum, dan berbagai kategori minuman baru. Perusahaan besar seperti Coca-Cola tidak lagi hanya mengandalkan minuman berkarbonasi, tetapi juga memperluas portofolio untuk menjangkau berbagai segmen pasar yang berkembang lebih cepat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3076\" data-end=\"3545\"><em data-start=\"3090\" data-end=\"3099\">Fortune<\/em> mencermati bahwa perusahaan barang konsumsi dengan jaringan distribusi global memiliki kemampuan lebih baik dalam mengelola fluktuasi permintaan antarwilayah. Ketika pertumbuhan di satu pasar melambat, perusahaan masih dapat memperoleh kontribusi dari kawasan lain yang menunjukkan peningkatan konsumsi. Diversifikasi geografis tersebut membantu menjaga stabilitas pendapatan dan mengurangi ketergantungan pada satu negara atau kawasan tertentu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3547\" data-end=\"3968\">Analisis <em data-start=\"3556\" data-end=\"3569\">Morningstar<\/em> mengemukakan bahwa keberhasilan Coca-Cola mempertahankan pertumbuhan laba mencerminkan kekuatan model bisnis berbasis merek global. Loyalitas konsumen terhadap produk-produk utama perusahaan memberikan fleksibilitas dalam mengelola harga dan memperkenalkan inovasi baru. Faktor tersebut menjadi salah satu alasan mengapa perusahaan mampu mempertahankan profitabilitas dalam berbagai siklus ekonomi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3970\" data-end=\"4374\"><em data-start=\"3980\" data-end=\"3988\">Forbes<\/em> menunjukkan bahwa inovasi produk menjadi elemen penting dalam mempertahankan pertumbuhan jangka panjang. Selain memperkuat merek yang telah mapan, perusahaan juga terus mengembangkan kategori minuman baru yang sesuai dengan perubahan gaya hidup masyarakat. Pendekatan tersebut membantu memperluas basis pelanggan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap satu jenis produk tertentu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"4376\" data-end=\"4854\"><em data-start=\"4387\" data-end=\"4402\">The Economist<\/em> menilai bahwa industri barang konsumsi cepat saji semakin mengutamakan keseimbangan antara pertumbuhan volume penjualan dan peningkatan nilai transaksi. Perusahaan tidak hanya mengejar jumlah produk yang terjual, tetapi juga berupaya meningkatkan pendapatan melalui strategi harga, inovasi, dan optimalisasi portofolio produk. Kombinasi faktor tersebut menjadi penentu utama keberhasilan perusahaan dalam menjaga pertumbuhan laba secara berkelanjutan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"4856\" data-end=\"5515\" data-is-last-node=\"\" data-is-only-node=\"\"><em data-start=\"4864\" data-end=\"4873\">Reuters<\/em> memperlihatkan bahwa kenaikan laba dan penjualan Coca-Cola pada kuartal kedua didorong oleh meningkatnya penjualan konsentrat, strategi harga yang efektif, serta komposisi produk yang lebih menguntungkan. Hasil tersebut menunjukkan bahwa perusahaan masih mampu memanfaatkan kekuatan merek, jaringan distribusi global, dan inovasi portofolio untuk mempertahankan pertumbuhan di tengah dinamika industri minuman dunia. Perkembangan ini sekaligus menegaskan bahwa kemampuan mengelola harga, memperkuat merek, dan menyesuaikan produk dengan perubahan preferensi konsumen tetap menjadi faktor utama keberhasilan perusahaan barang konsumsi global.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge &#8211; Global News) Peningkatan penjualan konsentrat, strategi penetapan harga, dan komposisi produk yang lebih menguntungkan mendorong Coca-Cola membukukan pertumbuhan laba dan pendapatan pada kuartal kedua, memperlihatkan ketahanan bisnis minuman global di tengah perubahan perilaku konsumen. Coca-Cola mencatatkan kenaikan laba dan penjualan pada kuartal kedua berkat meningkatnya penjualan konsentrat, penerapan strategi harga yang efektif, serta bauran produk (product mix) yang memberikan margin lebih tinggi. Kinerja tersebut menunjukkan kemampuan perusahaan mempertahankan pertumbuhan meskipun industri barang konsumsi masih menghadapi tantangan berupa [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":32,"featured_media":161155,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[120],"tags":[456],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/218944"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/32"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=218944"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/218944\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":218945,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/218944\/revisions\/218945"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/161155"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=218944"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=218944"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=218944"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}