{"id":218866,"date":"2026-07-24T17:05:58","date_gmt":"2026-07-24T10:05:58","guid":{"rendered":"https:\/\/www.blj.co.id\/?p=218866"},"modified":"2026-07-24T17:05:58","modified_gmt":"2026-07-24T10:05:58","slug":"desainer-eks-prada-ubah-wajah-gu-merek-saudara-uniqlo-siap-go-global","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2026\/07\/24\/desainer-eks-prada-ubah-wajah-gu-merek-saudara-uniqlo-siap-go-global\/","title":{"rendered":"Desainer Eks Prada Ubah Wajah GU, Merek Saudara Uniqlo Siap Go Global"},"content":{"rendered":"<p class=\"PDq2pG_selectionAnchorContainer\" data-start=\"94\" data-end=\"507\">(Business Lounge Journal &#8211; News)<\/p>\n<p class=\"PDq2pG_selectionAnchorContainer\" data-start=\"94\" data-end=\"507\">Di tengah persaingan industri fesyen yang semakin ketat, merek pakaian asal Jepang GU tengah melakukan transformasi besar untuk memperkuat posisinya di pasar internasional. Brand yang berada di bawah naungan Fast Retailing\u2014perusahaan induk Uniqlo\u2014berupaya membangun identitas yang lebih kuat dengan menghadirkan sentuhan kreatif dari desainer berpengalaman yang pernah berkarier di rumah mode mewah Italia, Prada.<\/p>\n<p data-start=\"509\" data-end=\"916\">Langkah ini menjadi bagian dari strategi GU untuk meningkatkan daya tarik merek di luar Jepang sekaligus memperbaiki profitabilitas di tengah perubahan tren konsumen global. Selama ini GU dikenal sebagai merek yang menawarkan pakaian modis dengan harga lebih terjangkau dibandingkan dengan Uniqlo. Namun, popularitasnya masih jauh tertinggal dari sang &#8220;kakak&#8221;, yang telah memiliki jaringan toko di berbagai negara.<\/p>\n<p data-start=\"918\" data-end=\"1269\">Dengan masuknya sosok kreatif yang memiliki pengalaman panjang di industri fesyen premium, GU berharap mampu menghadirkan koleksi yang tidak hanya mengikuti tren, tetapi juga memiliki karakter desain yang lebih kuat. Pengalaman bekerja di Prada dinilai membawa perspektif baru mengenai keseimbangan antara estetika, kualitas, dan daya tarik komersial.<\/p>\n<p data-start=\"1271\" data-end=\"1550\">Transformasi ini bukan berarti GU akan meninggalkan konsep fesyen terjangkau. Sebaliknya, perusahaan ingin menghadirkan produk yang tetap ramah di kantong, tetapi memiliki nilai desain yang lebih tinggi sehingga mampu menarik konsumen yang semakin selektif dalam memilih pakaian.<\/p>\n<p data-start=\"1552\" data-end=\"1889\">Dalam beberapa tahun terakhir, pasar fesyen global mengalami perubahan signifikan. Konsumen tidak lagi hanya mempertimbangkan harga, tetapi juga desain, kenyamanan, serta identitas merek. Tren media sosial juga membuat siklus mode bergerak jauh lebih cepat, sehingga perusahaan harus mampu merespons perubahan selera dengan lebih lincah.<\/p>\n<p data-start=\"1891\" data-end=\"2207\">Di sinilah GU melihat peluang. Dibandingkan dengan Uniqlo yang identik dengan pakaian basic dan fungsional, GU memiliki ruang yang lebih luas untuk bereksperimen dengan desain yang mengikuti tren terkini. Strategi tersebut diharapkan dapat menarik konsumen muda yang ingin tampil modis tanpa harus mengeluarkan biaya besar.<\/p>\n<p data-start=\"2209\" data-end=\"2471\">Fast Retailing sendiri memandang GU sebagai salah satu mesin pertumbuhan masa depan. Setelah kesuksesan Uniqlo di berbagai negara, perusahaan kini ingin membangun GU menjadi merek global kedua yang mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan grup.<\/p>\n<p data-start=\"2473\" data-end=\"2742\">Meski demikian, tantangan yang dihadapi tidaklah ringan. Di pasar internasional, GU harus bersaing dengan berbagai pemain fast fashion seperti Zara, H&amp;M, Mango, hingga merek digital seperti Shein yang dikenal sangat cepat merespons tren dan menawarkan harga kompetitif.<\/p>\n<p data-start=\"2744\" data-end=\"3039\">Karena itu, diferensiasi menjadi kunci utama. Kehadiran desainer berlatar belakang rumah mode mewah diharapkan mampu memberikan sentuhan yang membedakan GU dari para pesaingnya. Perusahaan ingin menunjukkan bahwa pakaian terjangkau tetap dapat memiliki kualitas desain yang menarik dan berkelas.<\/p>\n<p data-start=\"3041\" data-end=\"3375\">Selain memperkuat koleksi produk, GU juga terus memperluas jaringan toko di berbagai negara Asia dan mulai meningkatkan strategi pemasaran digital untuk membangun pengenalan merek. Kehadiran di media sosial, kolaborasi dengan kreator konten, serta penyempurnaan pengalaman belanja menjadi bagian dari upaya memperluas basis pelanggan.<\/p>\n<p data-start=\"3377\" data-end=\"3663\">Para analis menilai bahwa investasi pada aspek desain merupakan langkah penting bagi perusahaan fesyen yang ingin bertahan dalam persaingan global. Ketika harga semakin mudah dibandingkan dan tren berubah dengan cepat, identitas merek menjadi faktor yang menentukan loyalitas pelanggan.<\/p>\n<p data-start=\"3665\" data-end=\"4065\">Jika strategi ini berhasil, GU berpotensi berkembang dari sekadar merek pendamping Uniqlo menjadi pemain global yang memiliki karakter dan penggemar sendiri. Dengan perpaduan antara harga yang terjangkau, desain yang semakin kuat, serta ekspansi internasional yang agresif, GU berusaha membuktikan bahwa merek Jepang juga mampu bersaing di panggung fesyen dunia tanpa harus meninggalkan identitasnya.<\/p>\n<p class=\"\" data-start=\"4067\" data-end=\"4151\">\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge Journal &#8211; News) Di tengah persaingan industri fesyen yang semakin ketat, merek pakaian asal Jepang GU tengah melakukan transformasi besar untuk memperkuat posisinya di pasar internasional. Brand yang berada di bawah naungan Fast Retailing\u2014perusahaan induk Uniqlo\u2014berupaya membangun identitas yang lebih kuat dengan menghadirkan sentuhan kreatif dari desainer berpengalaman yang pernah berkarier di rumah mode mewah Italia, Prada. Langkah ini menjadi bagian dari strategi GU untuk meningkatkan daya tarik merek di luar Jepang sekaligus memperbaiki profitabilitas di tengah perubahan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":48,"featured_media":218868,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[1049],"tags":[1811,1927],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/218866"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/48"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=218866"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/218866\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":218869,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/218866\/revisions\/218869"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/218868"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=218866"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=218866"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=218866"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}