{"id":218731,"date":"2026-07-20T13:20:58","date_gmt":"2026-07-20T06:20:58","guid":{"rendered":"https:\/\/www.blj.co.id\/?p=218731"},"modified":"2026-07-20T13:21:24","modified_gmt":"2026-07-20T06:21:24","slug":"asean-tetap-menjadi-motor-pertumbuhan-dunia-hingga-2028","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2026\/07\/20\/asean-tetap-menjadi-motor-pertumbuhan-dunia-hingga-2028\/","title":{"rendered":"ASEAN Tetap Menjadi Motor Pertumbuhan Dunia Hingga 2028"},"content":{"rendered":"<p>(Business Lounge &#8211; Essay on Global) Perlambatan ekonomi global pada 2026 tidak mengubah posisi Asia Timur dan Pasifik sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi dunia. Dalam <em>Global Economic Prospects<\/em> (GEP) edisi Juni 2026, Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia hanya mencapai 2,5 persen pada 2026, turun dibandingkan 2,9 persen pada 2025. Perlambatan tersebut dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian geopolitik, gangguan perdagangan internasional, kenaikan harga energi, serta kondisi keuangan global yang tetap ketat. Di tengah situasi tersebut, kawasan East Asia and Pacific (EAP) masih diproyeksikan tumbuh 4,2 persen, atau 1,7 poin persentase lebih tinggi dibandingkan rata-rata pertumbuhan ekonomi dunia. Bahkan pada 2027 dan 2028, pertumbuhan kawasan diperkirakan tetap berada di kisaran 4,3 persen, menunjukkan bahwa Asia Timur dan Pasifik masih menjadi kawasan dengan fundamental ekonomi yang relatif kuat.<\/p>\n<p>ASEAN menjadi salah satu kontributor utama terhadap ketahanan kawasan tersebut. Meskipun setiap negara menghadapi tantangan yang berbeda, seluruh negara ASEAN dalam proyeksi GEP masih mencatat pertumbuhan ekonomi positif sepanjang 2026\u20132028. Namun, laju pertumbuhan mulai menunjukkan perbedaan yang semakin lebar. Pada satu sisi terdapat Vietnam yang diperkirakan tumbuh hampir 7 persen, sementara di sisi lain Thailand hanya diproyeksikan tumbuh di bawah 2 persen. Perbedaan tersebut menggambarkan bahwa struktur ekonomi ASEAN semakin beragam, baik dari sisi daya tahan domestik, ketergantungan terhadap ekspor, maupun kemampuan beradaptasi terhadap perubahan ekonomi global.<\/p>\n<p>Jika diurutkan berdasarkan proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun 2026, Vietnam menempati posisi pertama dengan pertumbuhan 6,8 persen. Indonesia berada di posisi kedua dengan 5,0 persen, diikuti Malaysia 4,4 persen, Kamboja 3,9 persen, Laos 3,8 persen, Filipina 3,7 persen, dan Thailand 1,7 persen. Rentang pertumbuhan antara negara dengan kinerja terbaik dan terendah mencapai 5,1 poin persentase, menunjukkan adanya kesenjangan yang cukup besar dalam kecepatan ekspansi ekonomi di kawasan.<\/p>\n<p>Data tersebut juga menunjukkan bahwa hanya dua negara ASEAN yang mampu tumbuh di atas rata-rata kawasan East Asia and Pacific yang sebesar 4,2 persen, yaitu Vietnam dan Indonesia. Malaysia berada sedikit di atas ambang tersebut dengan 4,4 persen, sedangkan empat negara lainnya masih berada di bawah rata-rata kawasan. Apabila dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi dunia sebesar 2,5 persen, hampir seluruh negara ASEAN masih menunjukkan kinerja yang lebih baik. Hanya Thailand yang diperkirakan tumbuh 0,8 poin persentase lebih rendah dibandingkan rata-rata pertumbuhan global.<\/p>\n<p>Perbedaan tersebut semakin jelas apabila dihitung selisih pertumbuhan masing-masing negara terhadap rata-rata dunia. Vietnam tumbuh 4,3 poin persentase lebih tinggi dibandingkan rata-rata global. Indonesia berada 2,5 poin di atas rata-rata dunia, Malaysia 1,9 poin, Kamboja 1,4 poin, Laos 1,3 poin, Filipina 1,2 poin, sedangkan Thailand berada 0,8 poin di bawah rata-rata dunia. Angka-angka tersebut memperlihatkan bahwa daya saing pertumbuhan ekonomi ASEAN masih relatif kuat, meskipun tidak merata di seluruh negara.<\/p>\n<p>Perubahan dari 2025 ke 2026 juga memberikan gambaran mengenai besarnya tekanan ekonomi global terhadap masing-masing negara. Vietnam diperkirakan melambat dari 8,0 persen menjadi 6,8 persen, atau turun 1,2 poin persentase. Malaysia turun dari 5,2 persen menjadi 4,4 persen, setara penurunan 0,8 poin. Filipina diproyeksikan turun dari 4,4 persen menjadi 3,7 persen, sementara Thailand turun dari 2,4 persen menjadi 1,7 persen, masing-masing mengalami perlambatan sebesar 0,7 poin persentase. Laos mengalami penurunan dari 4,8 persen menjadi 3,8 persen, atau 1,0 poin persentase, sedangkan Kamboja mencatat perlambatan terbesar dari 5,3 persen menjadi 3,9 persen, turun 1,4 poin persentase.<\/p>\n<p>Di antara seluruh negara ASEAN, Indonesia justru menunjukkan perlambatan paling kecil. Pertumbuhan ekonomi hanya turun dari 5,1 persen pada 2025 menjadi 5,0 persen pada 2026, atau berkurang 0,1 poin persentase. Selisih yang sangat kecil tersebut menunjukkan tingkat stabilitas ekonomi yang relatif lebih tinggi dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya. Ketika sebagian besar negara mengalami perlambatan antara 0,7 hingga 1,4 poin persentase, Indonesia hanya mengalami koreksi yang sangat terbatas.<\/p>\n<p>Jika dilihat dari perspektif jangka menengah, pola pertumbuhan masing-masing negara juga berbeda. Vietnam tetap menjadi negara dengan pertumbuhan tertinggi sepanjang periode proyeksi. Setelah mencapai 6,8 persen pada 2026, pertumbuhannya diperkirakan meningkat menjadi 7,1 persen pada 2027 dan 7,4 persen pada 2028. Dengan demikian, rata-rata pertumbuhan Vietnam selama periode 2026\u20132028 mencapai sekitar 7,1 persen, tertinggi di ASEAN.<\/p>\n<p>Indonesia berada pada posisi kedua dengan pola yang jauh lebih stabil. Pertumbuhan diperkirakan sebesar 5,0 persen pada 2026, kemudian meningkat menjadi 5,2 persen pada 2027 dan tetap 5,2 persen pada 2028. Rata-rata pertumbuhan Indonesia selama tiga tahun tersebut mencapai sekitar 5,1 persen, dengan rentang variasi hanya 0,2 poin persentase. Dari sisi stabilitas, Indonesia menjadi negara dengan fluktuasi pertumbuhan paling rendah di ASEAN.<\/p>\n<p>Malaysia memperlihatkan kecenderungan yang berbeda. Setelah tumbuh 4,4 persen pada 2026, ekonomi Malaysia diperkirakan bertahan pada angka yang sama pada 2027 sebelum sedikit melambat menjadi 4,1 persen pada 2028. Hal ini menghasilkan rata-rata pertumbuhan sekitar 4,3 persen selama periode proyeksi. Dibandingkan Indonesia, Malaysia memiliki variasi pertumbuhan yang lebih besar dan kecenderungan perlambatan pada akhir periode proyeksi.<\/p>\n<p>Filipina menunjukkan pola pemulihan yang paling menarik. Setelah hanya tumbuh 3,7 persen pada 2026, ekonomi negara tersebut diperkirakan melonjak menjadi 5,6 persen pada 2027 dan bertahan pada tingkat yang sama pada 2028. Artinya, Filipina diproyeksikan mengalami percepatan pertumbuhan sebesar 1,9 poin persentase hanya dalam satu tahun. Tidak ada negara ASEAN lain yang diperkirakan mengalami peningkatan pertumbuhan sebesar itu dalam periode yang sama.<\/p>\n<p>Kamboja juga diperkirakan mengalami pemulihan bertahap. Pertumbuhan meningkat dari 3,9 persen pada 2026 menjadi 4,9 persen pada 2027 dan 5,1 persen pada 2028. Sebaliknya, Laos diperkirakan relatif stagnan pada kisaran 3,7\u20133,8 persen selama tiga tahun berturut-turut. Thailand memang diproyeksikan membaik dari 1,7 persen menjadi 2,1 persen dan 2,4 persen, namun laju tersebut masih menjadi yang terendah di antara negara-negara ASEAN.<\/p>\n<p>Secara kuantitatif, proyeksi Bank Dunia memperlihatkan bahwa ASEAN tidak bergerak dalam satu kecepatan yang sama. Vietnam menjadi pemimpin pertumbuhan kawasan, Indonesia menjadi ekonomi paling stabil, Filipina diproyeksikan mengalami pemulihan tercepat, sementara Thailand masih menghadapi tantangan pertumbuhan yang relatif berat. Perbedaan tersebut akan menentukan bagaimana kontribusi masing-masing negara terhadap pertumbuhan kawasan Asia Timur dan Pasifik dalam beberapa tahun mendatang.<\/p>\n<p><em>Outlook Ekonomi ASEAN hingga 2028<\/em><\/p>\n<p>Memasuki periode 2026\u20132028, proyeksi Bank Dunia menunjukkan bahwa negara-negara ASEAN tetap menjadi salah satu kelompok ekonomi dengan prospek pertumbuhan terbaik di dunia. Meskipun seluruh negara menghadapi tekanan akibat perlambatan ekonomi global, kenaikan harga energi, dan ketidakpastian geopolitik, hampir seluruh ekonomi ASEAN diproyeksikan mempertahankan pertumbuhan yang berada di atas rata-rata dunia. Namun, laju pertumbuhan masing-masing negara semakin beragam. Sebagian negara diperkirakan mampu mempercepat ekspansi ekonomi, sementara sebagian lainnya masih menghadapi perlambatan yang cukup signifikan.<\/p>\n<p>Salah satu cara untuk melihat prospek tersebut adalah dengan menghitung rata-rata pertumbuhan ekonomi selama periode proyeksi 2026\u20132028. Berdasarkan data GEP, Vietnam menjadi negara dengan rata-rata pertumbuhan tertinggi, yaitu sekitar 7,1 persen per tahun. Angka tersebut berasal dari proyeksi pertumbuhan 6,8 persen pada 2026, 7,1 persen pada 2027, dan 7,4 persen pada 2028. Dengan rata-rata tersebut, Vietnam diperkirakan tumbuh hampir tiga kali lebih cepat dibandingkan rata-rata ekonomi dunia yang diproyeksikan berada pada kisaran 2,5\u20132,8 persen selama periode yang sama. Selain menjadi yang tertinggi di ASEAN, Vietnam juga berada jauh di atas rata-rata kawasan Asia Timur dan Pasifik yang diperkirakan hanya sekitar 4,2\u20134,3 persen.<\/p>\n<p>Indonesia menempati posisi kedua dengan rata-rata pertumbuhan sekitar 5,1 persen selama 2026\u20132028. Meskipun berada di bawah Vietnam, Indonesia menunjukkan karakteristik yang berbeda. Jika Vietnam mencatat pertumbuhan tinggi dengan fluktuasi yang relatif lebih besar, Indonesia justru memiliki pola pertumbuhan yang sangat stabil. Selama tiga tahun proyeksi, pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya bergerak dari 5,0 persen menjadi 5,2 persen, sehingga variasinya hanya 0,2 poin persentase. Stabilitas tersebut merupakan yang terbaik di antara negara-negara ASEAN yang tercakup dalam GEP. Dari sisi ketahanan ekonomi, kondisi ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki kemampuan menjaga momentum pertumbuhan meskipun menghadapi tekanan eksternal yang cukup besar.<\/p>\n<p>Filipina menempati posisi berikutnya dengan rata-rata pertumbuhan sekitar 5,0 persen selama 2026\u20132028. Namun, pola pertumbuhannya berbeda dibandingkan Indonesia. Pada 2026, ekonomi Filipina diperkirakan hanya tumbuh 3,7 persen, tetapi kemudian meningkat tajam menjadi 5,6 persen pada 2027 dan bertahan pada angka yang sama hingga 2028. Dengan demikian, Filipina diproyeksikan mengalami percepatan pertumbuhan sebesar 1,9 poin persentase hanya dalam satu tahun. Tidak ada negara ASEAN lain yang diperkirakan mengalami peningkatan pertumbuhan sebesar itu dalam periode yang sama. Hal ini menunjukkan bahwa Filipina memiliki prospek pemulihan paling cepat setelah tekanan ekonomi global mulai mereda.<\/p>\n<p>Malaysia berada pada kelompok berikutnya dengan rata-rata pertumbuhan sekitar 4,3 persen. Pertumbuhan negara tersebut diperkirakan mencapai 4,4 persen pada 2026 dan 2027 sebelum sedikit melambat menjadi 4,1 persen pada 2028. Dibandingkan dengan rata-rata kawasan Asia Timur dan Pasifik, pertumbuhan Malaysia relatif sejalan. Namun, jika dibandingkan dengan Vietnam maupun Indonesia, laju ekspansi ekonomi Malaysia diperkirakan lebih moderat.<\/p>\n<p>Kamboja memiliki prospek pertumbuhan rata-rata sekitar 4,6 persen selama tiga tahun proyeksi. Setelah melambat menjadi 3,9 persen pada 2026, pertumbuhan diperkirakan meningkat menjadi 4,9 persen pada 2027 dan 5,1 persen pada 2028. Artinya, dalam dua tahun ekonomi Kamboja diperkirakan bertambah 1,2 poin persentase. Kenaikan tersebut menjadikan Kamboja sebagai salah satu negara yang diperkirakan memperoleh kembali momentum pertumbuhan setelah mengalami perlambatan cukup tajam pada 2026.<\/p>\n<p>Sementara itu, Laos diperkirakan mencatat rata-rata pertumbuhan sekitar 3,7 persen selama periode 2026\u20132028. Angka tersebut berasal dari proyeksi 3,8 persen pada 2026, kemudian 3,7 persen pada 2027 dan 2028. Dibandingkan negara ASEAN lainnya, Laos memiliki pola pertumbuhan yang relatif datar. Fluktuasi yang sangat kecil menunjukkan stabilitas, tetapi juga mengindikasikan belum adanya akselerasi pertumbuhan yang signifikan.<\/p>\n<p>Thailand masih menjadi negara dengan prospek pertumbuhan paling rendah di ASEAN. Pertumbuhan diperkirakan hanya mencapai 1,7 persen pada 2026, kemudian meningkat menjadi 2,1 persen pada 2027 dan 2,4 persen pada 2028. Meskipun terdapat tren perbaikan, rata-rata pertumbuhan Thailand selama periode tersebut hanya sekitar 2,1 persen, lebih rendah dibandingkan rata-rata pertumbuhan ekonomi dunia. Selisih rata-rata pertumbuhan Thailand terhadap Vietnam mencapai sekitar 5 poin persentase, sedangkan terhadap Indonesia mencapai sekitar 3 poin persentase. Kesenjangan tersebut menunjukkan bahwa proses pemulihan ekonomi Thailand diperkirakan berlangsung lebih lambat dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya.<\/p>\n<p>Jika dihitung berdasarkan perubahan dari 2025 ke 2026, Kamboja mengalami perlambatan paling besar, yaitu 1,4 poin persentase, diikuti Vietnam 1,2 poin, Laos 1,0 poin, Malaysia 0,8 poin, Filipina dan Thailand masing-masing 0,7 poin, sedangkan Indonesia hanya 0,1 poin. Data tersebut menunjukkan bahwa Indonesia merupakan negara yang paling mampu mempertahankan momentum pertumbuhan ketika ekonomi global mengalami tekanan.<\/p>\n<p>Sebaliknya, jika dihitung berdasarkan perubahan dari 2026 ke 2028, Filipina mencatat pemulihan paling besar dengan kenaikan 1,9 poin persentase. Kamboja berada di posisi kedua dengan kenaikan 1,2 poin, Vietnam meningkat 0,6 poin, Thailand 0,7 poin, Indonesia 0,2 poin, sedangkan Malaysia dan Laos justru mengalami sedikit perlambatan. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa respons masing-masing negara terhadap membaiknya kondisi ekonomi global tidak berlangsung secara seragam.<\/p>\n<p>Apabila dibandingkan dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi dunia yang diproyeksikan berada pada kisaran 2,5\u20132,8 persen, hampir seluruh negara ASEAN masih mempertahankan keunggulan pertumbuhan. Vietnam memiliki keunggulan sekitar 4 poin persentase, Indonesia sekitar 2,3 poin, Filipina sekitar 2 poin, Malaysia sekitar 1,5 poin, Kamboja sekitar 1,8 poin, serta Laos sekitar 1 poin. Thailand menjadi satu-satunya negara yang rata-rata pertumbuhannya berada di bawah rata-rata ekonomi dunia selama periode proyeksi.<\/p>\n<p>Perbandingan dengan kawasan Asia Timur dan Pasifik juga memberikan gambaran yang menarik. Dengan rata-rata kawasan sekitar 4,3 persen, Vietnam berada hampir 3 poin persentase di atas rata-rata kawasan, Indonesia sekitar 0,8 poin di atas rata-rata, sedangkan Malaysia relatif sejajar dengan kawasan. Filipina dan Kamboja bergerak mendekati rata-rata kawasan pada akhir periode proyeksi, sementara Laos dan Thailand masih berada di bawah rata-rata tersebut.<\/p>\n<p>Keseluruhan data tersebut menunjukkan bahwa peta ekonomi ASEAN hingga 2028 akan semakin terbagi ke dalam beberapa kelompok. Vietnam diproyeksikan tetap menjadi pusat pertumbuhan utama kawasan dengan laju ekspansi di atas 7 persen. Indonesia menempati posisi sebagai ekonomi besar yang paling stabil dengan pertumbuhan konsisten di kisaran 5 persen. Filipina diperkirakan menjadi negara dengan akselerasi pertumbuhan tercepat setelah 2026. Malaysia mempertahankan pertumbuhan moderat di atas 4 persen, Kamboja kembali memperoleh momentum ekspansi, Laos tumbuh stabil tetapi belum menunjukkan percepatan yang berarti, sedangkan Thailand masih menghadapi tantangan untuk mengejar ketertinggalannya.<\/p>\n<p>Proyeksi Bank Dunia menegaskan bahwa ASEAN masih akan menjadi salah satu kawasan dengan prospek pertumbuhan paling kuat di dunia. Meskipun terdapat perbedaan kinerja antarnegara, seluruh ekonomi utama di kawasan diperkirakan tetap tumbuh positif hingga 2028. Tantangan ke depan bukan lagi sekadar mempertahankan pertumbuhan, melainkan meningkatkan kualitas pertumbuhan melalui produktivitas, investasi, dan transformasi ekonomi sehingga kesenjangan antarnegara di ASEAN dapat semakin diperkecil.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge &#8211; Essay on Global) Perlambatan ekonomi global pada 2026 tidak mengubah posisi Asia Timur dan Pasifik sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi dunia. Dalam Global Economic Prospects (GEP) edisi Juni 2026, Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia hanya mencapai 2,5 persen pada 2026, turun dibandingkan 2,9 persen pada 2025. Perlambatan tersebut dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian geopolitik, gangguan perdagangan internasional, kenaikan harga energi, serta kondisi keuangan global yang tetap ketat. Di tengah situasi tersebut, kawasan East Asia and Pacific [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":32,"featured_media":119085,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[2512,1762],"tags":[2746],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/218731"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/32"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=218731"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/218731\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":218732,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/218731\/revisions\/218732"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/119085"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=218731"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=218731"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=218731"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}