{"id":218728,"date":"2026-07-19T21:14:40","date_gmt":"2026-07-19T14:14:40","guid":{"rendered":"https:\/\/www.blj.co.id\/?p=218728"},"modified":"2026-07-19T21:15:29","modified_gmt":"2026-07-19T14:15:29","slug":"sri-lanka-menjaga-momentum-pemulihan-di-tengah-perlambatan-global","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2026\/07\/19\/sri-lanka-menjaga-momentum-pemulihan-di-tengah-perlambatan-global\/","title":{"rendered":"Sri Lanka Menjaga Momentum Pemulihan di Tengah Perlambatan Global"},"content":{"rendered":"<p>(Business Lounge &#8211; Economy) Sri Lanka diproyeksikan tetap berada di jalur pertumbuhan positif meskipun ekonomi global menghadapi perlambatan pada 2026. Dalam <em>Global Economic Prospects<\/em> edisi Juni 2026, Bank Dunia memperkirakan produk domestik bruto (PDB) Sri Lanka tumbuh <strong>3,6 persen pada 2026<\/strong>, setelah mencatat pertumbuhan <strong>5,0 persen pada 2025<\/strong>. Pertumbuhan tersebut diperkirakan meningkat tipis menjadi <strong>3,8 persen pada 2027<\/strong> dan <strong>3,9 persen pada 2028<\/strong>. Proyeksi ini menunjukkan bahwa perekonomian Sri Lanka masih melanjutkan proses pemulihan, meskipun kecepatannya lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.<\/p>\n<p>Penurunan laju pertumbuhan dari 5,0 persen menjadi 3,6 persen mencerminkan kondisi yang juga dialami sebagian besar negara di dunia. Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi global melambat dari <strong>2,9 persen pada 2025<\/strong> menjadi <strong>2,5 persen pada 2026<\/strong>, terutama akibat meningkatnya harga energi, inflasi yang lebih tinggi, serta biaya pembiayaan yang semakin mahal setelah konflik di Timur Tengah. Dengan pertumbuhan 3,6 persen, Sri Lanka masih berada di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi dunia, meskipun lebih rendah dibandingkan rata-rata kawasan Asia Selatan.<\/p>\n<p>Asia Selatan diperkirakan tetap menjadi kawasan dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia pada 2026. Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan kawasan mencapai <strong>6,3 persen<\/strong>, turun dari <strong>7,0 persen pada 2025<\/strong>. Perlambatan tersebut terutama dipengaruhi oleh melemahnya prospek ekonomi global dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik. Meskipun demikian, laju pertumbuhan kawasan masih jauh lebih tinggi dibandingkan kawasan lain seperti Asia Timur dan Pasifik (<strong>4,2 persen<\/strong>), Amerika Latin dan Karibia (<strong>2,2 persen<\/strong>), maupun Eropa dan Asia Tengah (<strong>2,1 persen<\/strong>).<\/p>\n<p>Di dalam kawasan Asia Selatan sendiri, terdapat perbedaan yang cukup besar antarnegara. India tetap menjadi motor utama kawasan dengan proyeksi pertumbuhan <strong>6,6 persen pada 2026<\/strong>, sebelum meningkat menjadi <strong>7,2 persen pada 2027<\/strong> dan <strong>7,0 persen pada 2028<\/strong>. Bhutan diperkirakan tumbuh <strong>7,1 persen<\/strong>, sedangkan Bangladesh mencapai <strong>3,8 persen<\/strong>. Nepal diproyeksikan tumbuh <strong>2,3 persen<\/strong> pada 2026 sebelum kembali meningkat pada tahun-tahun berikutnya. Dalam konteks tersebut, pertumbuhan Sri Lanka sebesar <strong>3,6 persen<\/strong> menempatkannya di kelompok negara dengan pertumbuhan menengah di Asia Selatan, lebih rendah dibandingkan India dan Bhutan, tetapi lebih tinggi dibandingkan Nepal.<\/p>\n<p>Proyeksi hingga 2028 menunjukkan bahwa pertumbuhan Sri Lanka relatif stabil. Setelah mencapai 3,6 persen pada 2026, ekonomi diperkirakan meningkat menjadi 3,8 persen pada 2027 dan 3,9 persen pada 2028. Tidak adanya fluktuasi yang tajam mengindikasikan bahwa Bank Dunia memperkirakan aktivitas ekonomi akan bergerak pada jalur yang lebih stabil dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Stabilitas tersebut juga sejalan dengan proyeksi kawasan Asia Selatan yang diperkirakan meningkat dari <strong>6,3 persen pada 2026<\/strong> menjadi <strong>6,9 persen pada 2027<\/strong>.<\/p>\n<p>Meskipun prospek Sri Lanka tetap positif, pertumbuhan negara tersebut masih berada di bawah rata-rata kawasan Asia Selatan. Selisih antara pertumbuhan Sri Lanka (<strong>3,6 persen<\/strong>) dan rata-rata kawasan (<strong>6,3 persen<\/strong>) mencapai <strong>2,7 poin persentase<\/strong> pada 2026. Kesenjangan tersebut menunjukkan bahwa pemulihan ekonomi Sri Lanka masih berlangsung lebih lambat dibandingkan kawasan secara keseluruhan, yang didorong terutama oleh kinerja India sebagai ekonomi terbesar di Asia Selatan.<\/p>\n<p>Dalam konteks global, perlambatan ekonomi dunia menjadi faktor yang memengaruhi hampir seluruh negara berkembang, termasuk Sri Lanka. Bank Dunia mencatat bahwa meningkatnya harga energi, gangguan perdagangan internasional, inflasi yang lebih tinggi, dan kondisi pembiayaan global yang lebih ketat menyebabkan sekitar dua pertiga negara di dunia mengalami revisi penurunan proyeksi pertumbuhan pada 2026. Negara-negara berkembang menghadapi tantangan berupa meningkatnya biaya impor energi, tingginya suku bunga internasional, serta ketidakpastian perdagangan yang masih berlanjut.<\/p>\n<p>Meskipun demikian, proyeksi Bank Dunia menunjukkan bahwa Sri Lanka tetap mempertahankan pertumbuhan positif sepanjang periode proyeksi hingga 2028. Dibandingkan dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi dunia sebesar <strong>2,5 persen pada 2026<\/strong>, pertumbuhan Sri Lanka sebesar <strong>3,6 persen<\/strong> masih lebih tinggi sekitar <strong>1,1 poin persentase<\/strong>. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun laju pertumbuhannya lebih rendah dibandingkan rata-rata Asia Selatan, Sri Lanka tetap diperkirakan tumbuh lebih cepat dibandingkan ekonomi global secara keseluruhan.<\/p>\n<p>Prospek hingga 2028 juga memperlihatkan pola yang relatif konsisten. Pertumbuhan dunia diperkirakan meningkat menjadi <strong>2,8 persen<\/strong> pada 2027 dan tetap <strong>2,8 persen<\/strong> pada 2028, sedangkan Sri Lanka diproyeksikan tumbuh <strong>3,8 persen<\/strong> dan <strong>3,9 persen<\/strong> pada periode yang sama. Dengan demikian, selisih pertumbuhan antara Sri Lanka dan rata-rata ekonomi dunia diperkirakan tetap berada di atas satu poin persentase selama tiga tahun berturut-turut.<\/p>\n<p>Secara keseluruhan, proyeksi dalam <em>Global Economic Prospects<\/em> Juni 2026 menunjukkan bahwa Sri Lanka memasuki periode pertumbuhan yang lebih moderat namun stabil. Pertumbuhan sebesar <strong>3,6 persen pada 2026<\/strong>, kemudian meningkat menjadi <strong>3,8 persen<\/strong> dan <strong>3,9 persen<\/strong> pada dua tahun berikutnya, menempatkan negara tersebut pada jalur ekspansi ekonomi yang berkelanjutan di tengah perlambatan ekonomi global. Walaupun masih tertinggal dari rata-rata pertumbuhan Asia Selatan, kinerja Sri Lanka diperkirakan tetap berada di atas rata-rata pertumbuhan dunia, sehingga memberikan prospek yang relatif lebih baik dibandingkan banyak negara di kawasan lain.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge &#8211; Economy) Sri Lanka diproyeksikan tetap berada di jalur pertumbuhan positif meskipun ekonomi global menghadapi perlambatan pada 2026. Dalam Global Economic Prospects edisi Juni 2026, Bank Dunia memperkirakan produk domestik bruto (PDB) Sri Lanka tumbuh 3,6 persen pada 2026, setelah mencatat pertumbuhan 5,0 persen pada 2025. Pertumbuhan tersebut diperkirakan meningkat tipis menjadi 3,8 persen pada 2027 dan 3,9 persen pada 2028. Proyeksi ini menunjukkan bahwa perekonomian Sri Lanka masih melanjutkan proses pemulihan, meskipun kecepatannya lebih rendah dibandingkan tahun [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":32,"featured_media":151407,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[2512,2725],"tags":[5377],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/218728"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/32"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=218728"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/218728\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":218729,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/218728\/revisions\/218729"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/151407"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=218728"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=218728"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=218728"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}