{"id":218714,"date":"2026-07-17T10:13:03","date_gmt":"2026-07-17T03:13:03","guid":{"rendered":"https:\/\/www.blj.co.id\/?p=218714"},"modified":"2026-07-17T10:41:09","modified_gmt":"2026-07-17T03:41:09","slug":"pameran-indias-great-mughals-art-power-and-opulence","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2026\/07\/17\/pameran-indias-great-mughals-art-power-and-opulence\/","title":{"rendered":"Pameran India\u2019s Great Mughals: Art, Power, and Opulence"},"content":{"rendered":"<p>(Business Lounge &#8211; Art) Kekaisaran Mughal, yang kerap dijuluki sebagai <strong>&#8220;perbendaharaan dunia&#8221;<\/strong> dan identik dengan kekayaan, kemewahan, serta kekuasaan yang nyaris tak tertandingi, telah lama menjadi daya tarik bagi para sejarawan maupun pecinta seni. Namun, bahkan menurut standar kemegahan Mughal sekalipun, pameran <strong>&#8220;India\u2019s Great Mughals: Art, Power, and Opulence&#8221;<\/strong> di Virginia Museum of Fine Arts menghadirkan kemewahan yang benar-benar memukau. Pameran ini menampilkan lebih dari 200 koleksi, mulai dari permata dan perhiasan, lukisan serta kaligrafi, benda-benda dekoratif, senjata, karya logam hingga tekstil.<\/p>\n<p>Pameran tersebut diselenggarakan bersama dan sebagian besar mengambil koleksi dari Victoria and Albert Museum di London, yang sebelumnya menjadi lokasi penyelenggaraannya pada 2024\u20132025. Selain itu, pameran juga diperkuat oleh koleksi seni Asia Selatan milik Virginia Museum of Fine Arts (VMFA) serta pinjaman dari sejumlah institusi lainnya. Setelah berakhir di Virginia, pameran ini dijadwalkan berpindah ke Frist Art Museum di Nashville pada awal 2027.<\/p>\n<p>Hadir di Amerika Serikat tepat 500 tahun setelah berdirinya Kekaisaran Mughal oleh seorang pangeran Muslim asal Asia Tengah di India utara, pameran ini berfokus pada <strong>masa keemasan seni Mughal<\/strong>. Periode yang berlangsung antara 1556 hingga 1658 tersebut merupakan masa pemerintahan tiga kaisar berturut-turut: Akbar, putranya Jahangir, dan cucunya Shah Jahan. Pameran disusun secara kronologis berdasarkan masa pemerintahan masing-masing kaisar, dengan suasana galeri yang diperkuat melalui dinding berwarna pekat, alunan musik sitar yang mengalun lembut, serta jendela batu berukir khas India yang dikenal sebagai <em>jali<\/em> untuk membagi ruang-ruang pameran.<\/p>\n<p>Setiap ruangan dipenuhi berbagai karya mewah yang dibuat menggunakan material paling bernilai, dengan banyak di antaranya dipinjam dari koleksi Al-Sabah Collection di Kuwait. Salah satu benda paling mencuri perhatian adalah gagang dan sarung belati bertatahkan lebih dari 2.000 berlian, rubi, dan zamrud yang disusun dalam pola emas yang sangat rumit, berasal dari masa pemerintahan Jahangir. Di sekitarnya dipamerkan pula berbagai perhiasan berukuran lebih kecil, seperti cincin ibu jari bertatahkan permata, yang tetap tampak anggun meski berada di samping karya-karya spektakuler tersebut.<\/p>\n<p>Dua etalase lainnya memamerkan batu-batu mulia yang memancarkan cahaya, termasuk liontin berlian seberat 56,7 karat serta batu spinel kemerahan seukuran buah kenari yang diukir dengan nama-nama para penguasa Islam dan Mughal secara berurutan. Sayangnya, ukiran tersebut cukup sulit dibaca tanpa alat pembesar. Di dekatnya terdapat sebuah lukisan yang menggambarkan Shah Jahan memegang zamrud raksasa dari Kolombia, menjadi bukti luasnya jaringan perdagangan internasional yang berhasil dijangkau Kekaisaran Mughal.<\/p>\n<p>Berbagai wadah elegan dari kristal batu dan batu keras lainnya turut menghiasi pameran. Salah satunya adalah cawan anggur dari batu giok nefrit yang dibuat pada masa Jahangir. Cawan itu dipahat sedemikian halus hingga menyerupai buah labu, dengan dinding yang begitu tipis sehingga tampak tembus cahaya. Di ruang lain, pengunjung dapat menikmati lemari berhias mutiara, aksesori berlapis enamel yang indah, tekstil beludru mewah, hingga pedang besi berukir dengan detail yang mengagumkan.<\/p>\n<p>Salah satu ruang didedikasikan untuk Taj Mahal, mausoleum yang dibangun Shah Jahan bagi istrinya, Mumtaz Mahal, sekaligus monumen paling terkenal dari Kekaisaran Mughal. Meski ruang ini terasa sedikit kurang mengesankan dibanding pengalaman melihat bangunan aslinya secara langsung, gambar-gambar arsitektur dan fragmen marmer bertatahkan motif bunga dari masa pembangunannya memperlihatkan bagaimana pola floral Taj Mahal\u2014yang dirancang untuk menghadirkan gambaran surga di bumi\u2014kemudian menjadi ciri khas seni istana pada masa Shah Jahan.<\/p>\n<p>Di tengah kemewahan yang mendominasi pameran, terdapat sebuah benda sederhana yang mudah luput dari perhatian, yaitu pemberat kain dari batu pualam yang dahulu digunakan untuk menahan hamparan kain penutup lantai istana selama musim panas. Benda seukuran gagang pintu itu dihiasi tatahan bunga dari batu akik merah (<em>carnelian<\/em>), batu akik (<em>agate<\/em>), dan lapis lazuli yang mengingatkan pada dekorasi Taj Mahal. Kehadirannya menunjukkan bahwa bahkan benda-benda fungsional berukuran kecil pun dibuat dengan ketelitian tinggi dan mengikuti gaya artistik yang konsisten di bengkel kerja Kekaisaran Mughal.<\/p>\n<p>Dengan begitu banyak benda yang memikat perhatian, koleksi lukisan cat air dan manuskrip kadang terasa kurang menonjol, meski kualitasnya sangat tinggi. Karya-karya tersebut lebih banyak berfungsi sebagai media naratif yang menggambarkan tokoh-tokoh utama serta kehidupan di lingkungan istana. Salah satunya adalah ilustrasi langka yang memperlihatkan Jahangir sedang memeluk istrinya, Nur Jahan. Sementara itu, sejumlah manuskrip dari masa Akbar menunjukkan bagaimana sang kaisar mengembangkan seni lukis Mughal melalui pendirian bengkel seni khusus. Rasa ingin tahunya terhadap berbagai tradisi budaya juga mendorong penerjemahan naskah Sanskerta seperti <em>Mahabharata<\/em> ke dalam bahasa Persia, lengkap dengan ilustrasi yang indah.<\/p>\n<p>Lukisan-lukisan tersebut sekaligus memperkuat gagasan utama pameran bahwa berbagai bentuk seni Mughal\u2014baik manuskrip bergambar, karpet, maupun karya logam\u2014sangat dipengaruhi oleh estetika dan teknik Persia. Pengaruh tersebut kemudian berpadu dengan tradisi lokal India melalui kolaborasi para seniman Hindu dan Muslim yang bekerja berdampingan di bengkel-bengkel kekaisaran, hingga melahirkan gaya visual Mughal yang khas.<\/p>\n<p>Masuknya karya seni Eropa yang dibawa para diplomat dan misionaris juga memberi pengaruh terhadap perkembangan seni lukis Mughal, terutama dalam menghadirkan penggambaran yang lebih naturalistis. Para pelukis mulai mengadopsi konvensi seni Eropa yang menekankan legitimasi ilahi seorang penguasa. Salah satu contohnya tampak pada potret anumerta Akbar yang digambarkan dengan lingkaran cahaya di kepala dan malaikat kecil bersayap yang melayang di atasnya.<\/p>\n<p>Meskipun pameran ini berupaya menempatkan sejarah Mughal dalam konteks sejarah dunia\u2014misalnya dengan menunjukkan bahwa masa keemasan seni Mughal telah dimulai beberapa dekade sebelum koloni Jamestown berdiri di Virginia\u2014penjelasan historisnya masih terasa kurang mendalam. Keterangan pada dinding memang menyebutkan bahwa bahasa Persia merupakan bahasa resmi kekaisaran yang multietnis, tetapi belum sepenuhnya menjelaskan besarnya pengaruh Kekaisaran Safawi di Persia maupun bagaimana kerajaan-kerajaan Muslim sebelumnya di India utara telah menyebarkan budaya Persia selama berabad-abad sebelum era Mughal. Peta yang disediakan pun hanya bersifat ilustratif dan akan lebih mudah dipahami apabila turut menampilkan batas-batas negara modern.<\/p>\n<p>Terlepas dari sejumlah kekurangan dalam penyajian konteks sejarah, karya-karya mewah yang dipamerkan dalam <strong>&#8220;India\u2019s Great Mughals: Art, Power, and Opulence&#8221;<\/strong> berhasil menggambarkan dengan sangat kuat kecanggihan artistik dan kebudayaan Kekaisaran Mughal. Kemegahan itulah yang membuat warisan Mughal tetap memikat perhatian dunia selama berabad-abad hingga sekarang.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge &#8211; Art) Kekaisaran Mughal, yang kerap dijuluki sebagai &#8220;perbendaharaan dunia&#8221; dan identik dengan kekayaan, kemewahan, serta kekuasaan yang nyaris tak tertandingi, telah lama menjadi daya tarik bagi para sejarawan maupun pecinta seni. Namun, bahkan menurut standar kemegahan Mughal sekalipun, pameran &#8220;India\u2019s Great Mughals: Art, Power, and Opulence&#8221; di Virginia Museum of Fine Arts menghadirkan kemewahan yang benar-benar memukau. Pameran ini menampilkan lebih dari 200 koleksi, mulai dari permata dan perhiasan, lukisan serta kaligrafi, benda-benda dekoratif, senjata, karya logam [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":32,"featured_media":218716,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[1256],"tags":[13454],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/218714"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/32"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=218714"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/218714\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":218717,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/218714\/revisions\/218717"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/218716"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=218714"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=218714"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=218714"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}