{"id":218695,"date":"2026-07-16T08:19:25","date_gmt":"2026-07-16T01:19:25","guid":{"rendered":"https:\/\/www.blj.co.id\/?p=218695"},"modified":"2026-07-16T08:19:25","modified_gmt":"2026-07-16T01:19:25","slug":"dari-people-manager-menjadi-ai-manager-evolusi-peran-pemimpin-di-era-agentic-ai","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2026\/07\/16\/dari-people-manager-menjadi-ai-manager-evolusi-peran-pemimpin-di-era-agentic-ai\/","title":{"rendered":"Dari People Manager Menjadi AI Manager: Evolusi Peran Pemimpin di Era Agentic AI"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge Journal &#8211; Human Resources)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selama puluhan tahun, keberhasilan seorang manajer diukur dari kemampuannya memimpin tim, membangun budaya kerja, serta memastikan setiap anggota organisasi mencapai target yang telah ditetapkan. Namun, perkembangan kecerdasan buatan (AI), khususnya <em>agentic AI<\/em> yang mampu menjalankan tugas secara mandiri, mulai mengubah definisi kepemimpinan modern.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam salah satu sesi The Wall Street Journal Leadership Institute, Aaron Levie, CEO Box, menyampaikan bahwa pekerja berbasis pengetahuan (<em>knowledge workers<\/em>) akan mengalami transformasi besar. Di masa depan, banyak profesional tidak hanya bekerja bersama manusia, tetapi juga mengelola sekumpulan AI agent yang mampu melakukan analisis, menyusun laporan, menulis kode, hingga membantu pengambilan keputusan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perubahan ini menandai babak baru dalam dunia manajemen. Seorang pemimpin tidak lagi sekadar mengatur orang, tetapi juga mengorkestrasi kolaborasi antara manusia dan mesin.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\">Dari Mengerjakan Pekerjaan Menjadi Mengarahkan AI<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selama ini, banyak manajer masih terlibat langsung dalam pekerjaan operasional. Mereka menyusun presentasi, memeriksa laporan, membuat analisis, atau menyelesaikan berbagai tugas administratif. Kehadiran AI mengubah pola tersebut.\u00a0AI agent kini mampu mengerjakan sebagian besar pekerjaan rutin dalam hitungan menit. Mulai dari merangkum dokumen, menganalisis data, menyusun strategi awal, hingga membuat berbagai alternatif solusi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Akibatnya, nilai seorang manajer tidak lagi terletak pada seberapa banyak pekerjaan yang dapat ia selesaikan sendiri. Yang menjadi pembeda adalah kemampuannya memberikan arahan yang tepat kepada AI, memastikan konteks bisnis dipahami dengan benar, serta menentukan standar kualitas hasil yang diinginkan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dengan kata lain, keterampilan seperti menyusun <em>prompt<\/em>, mendefinisikan tujuan, menetapkan parameter keberhasilan, dan mengintegrasikan hasil kerja AI ke dalam strategi bisnis akan menjadi kompetensi inti seorang pemimpin.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Manajer masa depan lebih berperan sebagai seorang konduktor orkestra yang memastikan seluruh &#8220;anggota tim&#8221;\u2014baik manusia maupun AI\u2014bekerja secara harmonis menuju tujuan yang sama.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\">Tugas Baru Manajer: Mengevaluasi, Memutuskan, dan Melakukan Coaching<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Meskipun AI mampu menghasilkan berbagai rekomendasi, tanggung jawab akhir tetap berada di tangan manusia. Oleh karena itu, kemampuan berpikir kritis justru menjadi semakin penting.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Peran manajer akan bergeser dari <em>task executor<\/em> menjadi <em>decision orchestrator<\/em>. Mereka harus mampu mengevaluasi apakah hasil yang diberikan AI akurat, bebas bias, relevan dengan kondisi bisnis, serta sesuai dengan nilai dan etika organisasi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di sisi lain, tanggung jawab seorang pemimpin terhadap tim manusia juga tidak berkurang. Justru sebaliknya, ketika AI mengambil alih pekerjaan teknis, pemimpin memiliki lebih banyak ruang untuk menjalankan fungsi yang tidak dapat digantikan teknologi, seperti membangun kepercayaan, mengembangkan talenta, memberikan umpan balik, menyelesaikan konflik, dan menumbuhkan kreativitas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam konteks ini, manajer akan melakukan dua jenis coaching sekaligus. Kepada manusia, mereka membantu meningkatkan kompetensi, motivasi, dan kolaborasi. Kepada AI, mereka terus menyempurnakan instruksi, memberikan konteks baru, memperbaiki proses, dan mengoptimalkan kualitas output agar semakin sesuai dengan kebutuhan organisasi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kemampuan mengelola interaksi antara manusia dan AI inilah yang diperkirakan akan menjadi salah satu pembeda utama pemimpin yang sukses di era digital.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\">Kepemimpinan di Era Agentic AI Menuntut Keterampilan Baru<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Munculnya AI agent tidak berarti peran manajer akan hilang. Sebaliknya, kompleksitas kepemimpinan justru meningkat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pemimpin kini dituntut memahami kapan sebuah pekerjaan lebih efektif dikerjakan manusia, kapan sebaiknya diserahkan kepada AI, serta bagaimana mengombinasikan keduanya agar menghasilkan produktivitas yang lebih tinggi.\u00a0Organisasi pun perlu mulai mempersiapkan para pemimpinnya melalui pengembangan kompetensi baru, seperti <em>AI literacy<\/em>, kemampuan mengevaluasi hasil AI, pemahaman mengenai tata kelola dan etika AI, serta keterampilan mengambil keputusan berbasis data.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada akhirnya, teknologi tidak menghilangkan kebutuhan akan kepemimpinan. Yang berubah adalah fokusnya. Jika dahulu seorang manajer diukur dari kemampuannya mengelola pekerjaan dan orang, maka di era <em>agentic AI<\/em> keberhasilan akan ditentukan oleh kemampuannya mengelola ekosistem kerja yang terdiri atas manusia dan AI secara bersamaan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pemimpin masa depan bukanlah mereka yang paling cepat menyelesaikan pekerjaan, melainkan mereka yang paling mampu memanfaatkan kecerdasan manusia dan kecerdasan buatan untuk menghasilkan keputusan yang lebih baik, inovasi yang lebih cepat, dan nilai yang lebih besar bagi organisasi.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge Journal &#8211; Human Resources) Selama puluhan tahun, keberhasilan seorang manajer diukur dari kemampuannya memimpin tim, membangun budaya kerja, serta memastikan setiap anggota organisasi mencapai target yang telah ditetapkan. Namun, perkembangan kecerdasan buatan (AI), khususnya agentic AI yang mampu menjalankan tugas secara mandiri, mulai mengubah definisi kepemimpinan modern. Dalam salah satu sesi The Wall Street Journal Leadership Institute, Aaron Levie, CEO Box, menyampaikan bahwa pekerja berbasis pengetahuan (knowledge workers) akan mengalami transformasi besar. Di masa depan, banyak profesional tidak [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":26,"featured_media":218696,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[2725,4],"tags":[13449,13448],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/218695"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/26"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=218695"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/218695\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":218697,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/218695\/revisions\/218697"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/218696"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=218695"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=218695"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=218695"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}