{"id":218636,"date":"2026-07-14T16:57:59","date_gmt":"2026-07-14T09:57:59","guid":{"rendered":"https:\/\/www.blj.co.id\/?p=218636"},"modified":"2026-07-14T16:57:59","modified_gmt":"2026-07-14T09:57:59","slug":"matcha-naik-daun-apakah-era-kopi-akan-berakhir","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2026\/07\/14\/matcha-naik-daun-apakah-era-kopi-akan-berakhir\/","title":{"rendered":"Matcha Naik Daun, Apakah Era Kopi Akan Berakhir?"},"content":{"rendered":"<p>(Business Lounge Journal &#8211; Medicine)<\/p>\n<p>Di tengah menjamurnya kedai matcha dan derasnya promosi gaya hidup sehat di media sosial, muncul pertanyaan yang menarik: apakah kejayaan kopi sebagai minuman paling digemari di dunia mulai terancam?<\/p>\n<p>Pertanyaan itu semakin relevan setelah dua temuan ilmiah terbaru sama-sama memberikan kabar baik. Di satu sisi, sebuah penelitian berskala besar menunjukkan bahwa kopi berkaitan dengan penurunan risiko penyakit hati. Di sisi lain, semakin banyak riset yang menyoroti keunggulan matcha dalam memberikan energi yang lebih stabil sekaligus lebih ramah bagi kualitas tidur.<\/p>\n<p>Sekilas, keduanya tampak seperti rival. Namun, benarkah penggemar kopi akan berbondong-bondong meninggalkan minuman favorit mereka demi semangkuk matcha?<\/p>\n<p>Saya justru melihat arah yang berbeda. Yang akan berubah bukanlah dominasi kopi, melainkan cara masyarakat mengonsumsinya.<\/p>\n<h4>Kopi Masih Menjadi Raja<\/h4>\n<p>Sulit membayangkan kopi kehilangan takhtanya dalam waktu dekat. Alasannya sederhana: kopi telah menjadi bagian dari budaya, ekonomi, bahkan identitas banyak negara.<\/p>\n<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/images.openai.com\/static-rsc-4\/qrhCExwSDyAqyMxLXCzaGMN3VzerxLEfswJ8KPBsWTEGs0EjZ2xIrVea9AMgH9EHQ-13q966mAXN3VJj3zRBHXtM45oPxEaobwwAeN-QeOqoD4FDr8sdk0xfSeVkJGYgR-VDLYiO5X72AVGvQMZlErQYIlvrAUL1FlmDaopfIw8wLLfkvPkjiKk16UVe2jx7?purpose=fullsize\" alt=\"What are 100 Facts or More About Coffee?\n\n   \u2013 CAFELY\" \/><\/p>\n<p>Menurut International Coffee Organization (ICO) dalam <em>Annual Review 2024\/25<\/em>, konsumsi kopi dunia diperkirakan mencapai 175,1 juta kantong (bags) berukuran 60 kilogram pada coffee year 2024\/25. Jumlah tersebut setara sekitar 10,5 juta ton kopi, meningkat 1,4 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pertumbuhan konsumsi terbesar justru terjadi di kawasan Asia dan Oseania, yang mencatat kenaikan permintaan sekitar 7,4 persen.<\/p>\n<p><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter\" src=\"https:\/\/images.openai.com\/static-rsc-4\/_hLCHRkfhh0xx6bAszw70x_aho0bcl-oNMzMe41nOSUk1cLzjgi_SVgT11AmD8YcXGRcFCntA51ayrSPiH31rxtp6WzttWupW3GwSMXz15LByeO_WF-J0r1hoX0W1QCRbvFLEZCl1ouOu-GIuSB_CrCXLIp8nasRKzqKlwcxIv4LhXGMdUTf0OedTmTwL0d8?purpose=fullsize\" alt=\"Global Coffee Production in 2024, by Country - Voronoi\" width=\"508\" height=\"654\" \/><\/p>\n<p>Angka itu menggambarkan betapa besarnya kecintaan dunia terhadap kopi. Di balik setiap cangkir yang disajikan di rumah atau kedai kopi, terdapat rantai ekonomi yang melibatkan jutaan orang.<\/p>\n<p>ICO juga mencatat bahwa industri kopi menjadi sumber penghidupan bagi sekitar 12,5 juta keluarga petani di berbagai negara produsen. Dari Brasil, Vietnam, Kolombia, Ethiopia hingga Indonesia, kopi bukan hanya komoditas ekspor, tetapi juga penopang ekonomi pedesaan.<\/p>\n<p>Dengan skala sebesar itu, rasanya terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa dunia sedang bersiap meninggalkan kopi.<\/p>\n<p><strong>\u00a0Ilmu Pengetahuan Mengangkat Citra Kopi<\/strong><\/p>\n<p>Menariknya, ketika matcha sedang menikmati popularitasnya sebagai minuman &#8220;lebih sehat&#8221;, dunia kedokteran justru kembali mengangkat reputasi kopi.<\/p>\n<p>Penelitian terbaru yang dipimpin Dr. Hyun-Seok Kim dari Cedars-Sinai Medical Center menganalisis 354.957 peserta UK Biobank yang diikuti dalam jangka panjang. Hasilnya cukup mencolok.<\/p>\n<p>Orang yang rutin mengonsumsi kopi memiliki risiko lebih rendah mengalami sirosis, kanker hati (hepatocellular carcinoma), maupun kematian akibat penyakit hati. Bahkan manfaat tersebut terlihat pada peminum kopi tanpa kafein (<em>decaffeinated coffee<\/em>), sehingga para peneliti menduga efek perlindungan tersebut lebih banyak berasal dari kandungan antioksidan dibandingkan dengan kafeinnya sendiri.<\/p>\n<p>Temuan ini memperkuat sederet penelitian sebelumnya yang mengaitkan konsumsi kopi dalam jumlah wajar dengan penurunan risiko diabetes tipe 2, penyakit Parkinson, hingga beberapa penyakit kardiovaskular.<\/p>\n<p>Dengan kata lain, kopi tidak lagi dipandang sekadar minuman yang membuat orang tetap terjaga. Semakin banyak bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa kopi dapat menjadi bagian dari pola makan sehat.<\/p>\n<p><strong>Mengapa Matcha Naik Daun?<\/strong><\/p>\n<p>Kalau begitu, mengapa penjualan matcha terus meningkat?<\/p>\n<p>Jawabannya bukan karena kopi dianggap buruk, melainkan karena kebutuhan konsumen berubah.<\/p>\n<p>Generasi sekarang tidak hanya mengejar produktivitas. Mereka juga mulai memperhatikan kesehatan mental, kualitas tidur, pengelolaan stres, hingga keseimbangan hidup (<em>work-life balance<\/em>).<\/p>\n<p>Di sinilah matcha menawarkan sesuatu yang berbeda.<\/p>\n<p>Tidak seperti kopi yang mengandalkan kafein dalam dosis relatif tinggi, matcha mengandung kombinasi kafein dan <em>L-theanine,<\/em> yaitu asam amino yang membantu meningkatkan gelombang alfa di otak. Efeknya adalah rasa fokus yang tetap tenang (<em>calm alertness<\/em>), tanpa lonjakan energi yang terlalu tajam.<\/p>\n<p>Karena pelepasan energinya berlangsung lebih lambat, banyak orang merasa tidak mengalami <em>energy crash<\/em> beberapa jam setelah mengonsumsi matcha.<\/p>\n<p>Bagi pekerja kreatif, mahasiswa, atau profesional yang membutuhkan konsentrasi panjang tanpa rasa gelisah, karakteristik ini menjadi daya tarik tersendiri.<\/p>\n<h4>Pertarungan yang Sebenarnya Bukan Soal Rasa<\/h4>\n<p>Menurut saya, kita keliru jika melihat fenomena ini sebagai persaingan antara kopi dan matcha.<\/p>\n<p>Yang sedang berubah adalah cara masyarakat memilih minuman sesuai kebutuhan biologisnya.<\/p>\n<p>Pagi hari sebelum presentasi penting?<\/p>\n<p>Espresso mungkin tetap menjadi pilihan karena efeknya cepat dan kuat.<\/p>\n<p>Namun, ketika pekerjaan masih menumpuk pada sore hari, banyak orang mulai berpikir dua kali sebelum memesan secangkir kopi kedua. Mereka sadar bahwa kandungan kafein kopi dapat bertahan berjam-jam di dalam tubuh dan berpotensi mengurangi kualitas <em>deep sleep<\/em> pada malam hari.<\/p>\n<p>Dalam situasi seperti itu, matcha menjadi alternatif yang menarik.<\/p>\n<p>Artinya, yang terjadi bukanlah perpindahan total, melainkan segmentasi konsumsi.<\/p>\n<p>Kopi digunakan ketika tubuh membutuhkan dorongan energi instan.<\/p>\n<p>Matcha dipilih ketika seseorang menginginkan fokus yang lebih stabil tanpa terlalu mengorbankan kualitas tidur.<\/p>\n<h4>Industri Kopi Tidak Akan Tinggal Diam<\/h4>\n<p>Ada satu alasan lagi mengapa saya tidak melihat matcha sebagai ancaman besar.<\/p>\n<p>Industri kopi merupakan salah satu industri pangan paling inovatif di dunia.<\/p>\n<p>Gelombang ketiga (<em>third wave coffee<\/em>) telah mengubah cara orang menikmati kopi. Kini konsumen tidak hanya membeli secangkir minuman, tetapi juga pengalaman, cerita asal-usul biji kopi, metode sangrai, hingga teknik penyeduhan.<\/p>\n<p>Di sisi lain, industri kopi juga terus beradaptasi dengan tren kesehatan.<\/p>\n<p>Kopi rendah asam (<em>low-acid coffee<\/em>), kopi tanpa kafein berkualitas premium, hingga kopi dengan tambahan protein atau kolagen mulai bermunculan.<\/p>\n<p>Artinya, ketika preferensi konsumen berubah, industri kopi juga ikut berubah.<\/p>\n<p><img decoding=\"async\" class=\" wp-image-218637 aligncenter\" src=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Screenshot-2026-07-14-at-16.51.35-300x290.png\" alt=\"\" width=\"246\" height=\"238\" srcset=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Screenshot-2026-07-14-at-16.51.35-300x290.png 300w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Screenshot-2026-07-14-at-16.51.35-768x743.png 768w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Screenshot-2026-07-14-at-16.51.35-750x726.png 750w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Screenshot-2026-07-14-at-16.51.35.png 798w\" sizes=\"(max-width: 246px) 100vw, 246px\" \/><\/p>\n<h4>Matcha Masih Memiliki Tantangan<\/h4>\n<p>Popularitas matcha memang meningkat, tetapi jalan menuju dominasi global masih panjang.<\/p>\n<p>Produksi matcha berkualitas tinggi masih terkonsentrasi di Jepang, terutama di wilayah Uji (Kyoto), Nishio (Aichi), dan beberapa daerah lain. Pasokannya jauh lebih terbatas dibandingkan dengan kopi yang dibudidayakan di lebih dari 70 negara tropis.<\/p>\n<p>Harga matcha premium pun relatif mahal.<\/p>\n<p>Selain itu, cita rasanya yang khas\u2014sedikit pahit, beraroma rumput, dan <em>earthy<\/em>\u2014belum tentu cocok bagi semua orang. Berbeda dengan kopi yang menawarkan spektrum rasa sangat luas, dari cokelat, karamel, buah-buahan hingga floral.<\/p>\n<p>Faktor budaya juga memainkan peran penting. Ritual minum kopi telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di Eropa, Amerika Latin, Timur Tengah, hingga Asia Tenggara selama ratusan tahun. Budaya seperti ini tidak mudah bergeser hanya karena munculnya minuman yang sedang tren.<\/p>\n<h4>Masa Depan: Bukan Kopi atau Matcha, tetapi Kopi dan Matcha<\/h4>\n<p>Saya justru melihat masa depan yang lebih menarik.<\/p>\n<p>Bukan perang antara kopi dan matcha, melainkan kolaborasi keduanya dalam memenuhi kebutuhan konsumen yang semakin sadar akan kesehatan.<\/p>\n<p>Pagi dimulai dengan secangkir kopi untuk membangkitkan energi.<\/p>\n<p>Sore ditemani matcha agar fokus tetap terjaga tanpa mengganggu tidur malam.<\/p>\n<p>Pola konsumsi seperti ini justru semakin mungkin terjadi, terutama di kalangan masyarakat perkotaan yang mulai memahami bahwa tubuh memiliki kebutuhan berbeda pada setiap waktu.<\/p>\n<p>Jadi, akankah penggemar kopi di dunia berpaling ke matcha?<\/p>\n<p>Kemungkinan besar tidak.<\/p>\n<p>Yang akan terjadi adalah sesuatu yang jauh lebih menarik: dunia tidak sedang mengganti kopi dengan matcha, melainkan memperluas pilihan. Kopi tetap mempertahankan posisinya sebagai minuman global dengan konsumsi lebih dari 175 juta kantong per tahun, sementara matcha mengisi ceruk pasar yang mencari energi lebih tenang, fokus yang lebih stabil, dan kualitas tidur yang lebih baik. Pada akhirnya, pemenangnya bukanlah kopi atau matcha, melainkan konsumen yang semakin cerdas memilih minuman sesuai kebutuhan tubuhnya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge Journal &#8211; Medicine) Di tengah menjamurnya kedai matcha dan derasnya promosi gaya hidup sehat di media sosial, muncul pertanyaan yang menarik: apakah kejayaan kopi sebagai minuman paling digemari di dunia mulai terancam? Pertanyaan itu semakin relevan setelah dua temuan ilmiah terbaru sama-sama memberikan kabar baik. Di satu sisi, sebuah penelitian berskala besar menunjukkan bahwa kopi berkaitan dengan penurunan risiko penyakit hati. Di sisi lain, semakin banyak riset yang menyoroti keunggulan matcha dalam memberikan energi yang lebih stabil sekaligus [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":48,"featured_media":179319,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[1055,1050],"tags":[13440],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/218636"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/48"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=218636"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/218636\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":218638,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/218636\/revisions\/218638"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/179319"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=218636"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=218636"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=218636"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}