{"id":218476,"date":"2026-07-08T14:44:50","date_gmt":"2026-07-08T07:44:50","guid":{"rendered":"https:\/\/www.blj.co.id\/?p=218476"},"modified":"2026-07-08T16:49:10","modified_gmt":"2026-07-08T09:49:10","slug":"dari-negeri-anggur-tertua-hingga-biara-di-atas-jurang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2026\/07\/08\/dari-negeri-anggur-tertua-hingga-biara-di-atas-jurang\/","title":{"rendered":"Dari Negeri Anggur Tertua hingga Biara di Atas Jurang"},"content":{"rendered":"<p data-start=\"67\" data-end=\"586\">(Business Lounge &#8211; Travel) Memasuki wilayah selatan, Armenia kembali memperlihatkan perubahan lanskap yang begitu kontras. Hutan-hutan lebat perlahan menghilang, berganti dengan perbukitan berbatu berwarna merah kecokelatan yang tampak kering namun memikat. Jalan membelah lembah-lembah sempit yang selama ribuan tahun menjadi jalur perdagangan antara Kaukasus, Persia, dan Timur Tengah. Kawasan ini terasa lebih sunyi, lebih liar, sekaligus menyimpan kisah-kisah yang jauh lebih tua daripada banyak peradaban yang masih bertahan hingga sekarang.<\/p>\n<p data-start=\"588\" data-end=\"941\">Di tengah lembah berbatu itu berdiri Areni, sebuah desa kecil yang namanya sangat dihormati oleh para pencinta anggur. Sekilas, Areni tampak seperti desa pegunungan biasa dengan rumah-rumah sederhana dan kebun anggur yang mengikuti kontur lereng. Namun di balik ketenangannya, kawasan ini menyimpan salah satu penemuan arkeologi paling penting di dunia.<\/p>\n<p data-start=\"943\" data-end=\"1417\">Di dalam Gua Areni, para arkeolog menemukan fasilitas pembuatan anggur tertua yang pernah ditemukan manusia. Usianya diperkirakan lebih dari enam ribu tahun. Di dalam gua tersebut ditemukan alat pemeras anggur, wadah fermentasi, biji anggur, hingga bejana penyimpanan yang menunjukkan bahwa masyarakat di kawasan ini telah mengenal proses pembuatan wine sejak masa prasejarah. Penemuan itu menjadikan Areni sebagai salah satu tempat kelahiran tradisi pembuatan anggur dunia.<\/p>\n<p data-start=\"1419\" data-end=\"1890\">Warisan tersebut tidak berhenti sebagai catatan sejarah. Hingga hari ini, kebun-kebun anggur masih memenuhi lereng di sekitar desa. Banyak kilang anggur keluarga tetap memproduksi wine menggunakan resep dan teknik yang diwariskan dari generasi ke generasi. Beberapa di antaranya bahkan masih menyimpan koleksi wine yang telah berusia puluhan hingga lebih dari seratus tahun. Tradisi yang lahir ribuan tahun lalu masih terus menghidupi masyarakat setempat hingga sekarang.<\/p>\n<p data-start=\"1892\" data-end=\"2243\">Tidak jauh dari Areni, jalan memasuki sebuah ngarai sempit yang diapit tebing-tebing merah menjulang tinggi. Semakin jauh perjalanan berlangsung, suasana menjadi semakin dramatis hingga akhirnya muncul sebuah kompleks biara yang seolah ditempatkan di tengah katedral alami. Itulah Noravank, salah satu mahakarya arsitektur Armenia yang paling memukau.<\/p>\n<p data-start=\"2245\" data-end=\"2609\">Dinding-dinding batu merah yang mengelilingi Noravank berubah warna mengikuti cahaya matahari. Pada pagi hari tampak kemerahan, menjelang sore berubah menjadi jingga keemasan, sementara saat matahari mulai tenggelam seluruh tebing memancarkan warna merah tua yang sangat memikat. Perubahan warna itu membuat Noravank selalu menghadirkan wajah berbeda setiap waktu.<\/p>\n<p data-start=\"2611\" data-end=\"3010\">Kompleks biara yang dibangun pada abad ke-13 ini pernah menjadi pusat kehidupan keagamaan sekaligus kebudayaan di wilayah Syunik. Bangunan yang paling terkenal adalah Gereja Surb Astvatsatsin dengan tangga batu sempit yang menempel di bagian luar bangunan menuju lantai dua. Tangga tersebut menjadi salah satu karya teknik paling berani pada masanya dan hingga kini masih menjadi ciri khas Noravank.<\/p>\n<p data-start=\"3012\" data-end=\"3388\">Noravank juga memiliki hubungan erat dengan Momik, arsitek, pemahat, sekaligus seniman besar Armenia. Berbagai relief batu dan ukiran salib yang masih menghiasi dinding gereja memperlihatkan tingkat ketelitian yang luar biasa. Sulit membayangkan seluruh detail tersebut dikerjakan tanpa peralatan modern, hanya dengan keterampilan tangan yang diwariskan selama bertahun-tahun.<\/p>\n<p data-start=\"3390\" data-end=\"3752\">Perjalanan kemudian berlanjut menuju Jermuk, kota pegunungan yang sejak lama dikenal sebagai kawasan wisata kesehatan. Jalan perlahan menanjak melewati hutan-hutan pinus dan udara berubah semakin dingin. Berbeda dengan kawasan selatan yang kering, Jermuk menghadirkan suasana yang lebih hijau dengan sungai-sungai kecil yang mengalir di antara lereng pegunungan.<\/p>\n<p data-start=\"3754\" data-end=\"4130\">Nama Jermuk sangat identik dengan air mineralnya yang telah dikenal hingga ke berbagai negara. Mata air panas alami mengalir dari dalam pegunungan dan sejak lama dimanfaatkan sebagai tempat terapi kesehatan. Di berbagai sudut kota masih berdiri bangunan-bangunan sanatorium peninggalan masa Soviet yang dahulu menjadi tujuan wisata kesehatan bagi ribuan orang setiap tahunnya.<\/p>\n<p data-start=\"4132\" data-end=\"4506\">Daya tarik utama Jermuk berada tidak jauh dari pusat kota. Sebuah air terjun menjatuhkan air dari tebing tinggi ke dasar ngarai dengan suara yang menggema di seluruh lembah. Saat musim semi, debit air meningkat drastis akibat mencairnya salju di pegunungan. Kabut tipis yang terbentuk di sekitar air terjun membuat kawasan ini terasa sejuk bahkan pada musim panas sekalipun.<\/p>\n<p data-start=\"4508\" data-end=\"4882\">Semakin jauh menuju selatan, suara gemuruh kembali terdengar dari balik pepohonan. Air Terjun Shaki muncul secara tiba-tiba dari sebuah celah sempit di antara bebatuan. Air mengalir deras sebelum jatuh bebas ke dasar lembah, menciptakan percikan yang memenuhi udara. Tidak banyak pembangunan di sekitar kawasan ini sehingga keaslian alamnya masih terjaga dengan sangat baik.<\/p>\n<p data-start=\"4884\" data-end=\"5268\">Perjalanan berikutnya membawa langkah menuju salah satu situs paling misterius di Armenia, Zorats Karer. Hamparan batu-batu basal berdiri membentuk lingkaran dan garis-garis panjang di atas dataran tinggi yang terbuka. Sebagian batu memiliki lubang berbentuk bundar yang menghadap ke arah tertentu. Hingga kini para arkeolog masih memperdebatkan fungsi sebenarnya dari situs tersebut.<\/p>\n<p data-start=\"5270\" data-end=\"5721\">Sebagian ilmuwan meyakini Zorats Karer merupakan observatorium astronomi kuno yang digunakan untuk mengamati pergerakan benda-benda langit. Ada pula yang berpendapat kawasan ini merupakan tempat pemujaan atau kompleks pemakaman masyarakat prasejarah. Apa pun fungsinya, usia situs yang diperkirakan mencapai lebih dari tujuh ribu tahun menunjukkan bahwa wilayah Armenia telah menjadi pusat kehidupan manusia jauh sebelum banyak peradaban besar muncul.<\/p>\n<p data-start=\"5723\" data-end=\"6047\">Tidak jauh dari kota Goris terdapat salah satu kawasan yang paling unik di Armenia, Khndzoresk. Selama berabad-abad masyarakat tinggal di rumah-rumah yang dipahat langsung pada dinding batu. Gua-gua tersebut saling terhubung melalui jalan setapak dan tangga kayu, membentuk sebuah desa yang mampu bertahan hingga abad ke-20.<\/p>\n<p data-start=\"6049\" data-end=\"6416\">Kini desa lama itu telah ditinggalkan, tetapi jejak kehidupannya masih terlihat jelas. Sebuah jembatan gantung sepanjang ratusan meter menghubungkan kedua sisi lembah. Saat melintasinya, jembatan bergoyang perlahan mengikuti embusan angin. Dari atas, ratusan rumah gua tampak menyebar di sepanjang lereng, menghadirkan pemandangan yang sulit ditemukan di tempat lain.<\/p>\n<p data-start=\"6418\" data-end=\"6790\">Perjalanan di Armenia seolah belum lengkap tanpa mengunjungi Tatev. Kompleks biara ini berdiri di tepi jurang sedalam ratusan meter pada ketinggian sekitar 1.600 meter di atas permukaan laut. Selama Abad Pertengahan, Tatev berkembang menjadi salah satu universitas paling penting di Armenia, tempat ribuan pelajar mempelajari filsafat, teologi, seni, dan ilmu pengetahuan.<\/p>\n<p data-start=\"6792\" data-end=\"7221\">Cara paling mengesankan untuk mencapai Tatev adalah menggunakan Wings of Tatev, kereta gantung tanpa henti yang membentang melintasi lembah Vorotan. Selama beberapa menit perjalanan, kabin melayang di atas hutan, sungai, dan tebing curam yang tampak begitu kecil dari ketinggian. Pemandangan yang terbuka dari sepanjang lintasan membuat perjalanan menuju biara menjadi pengalaman yang sama mengesankannya dengan tujuan akhir.<\/p>\n<p data-start=\"7223\" data-end=\"7728\">Sesampainya di Tatev, suasana tenang langsung menyelimuti kompleks batu yang telah berdiri selama berabad-abad. Angin pegunungan berembus melewati halaman gereja, sementara jurang yang mengelilinginya menghadirkan panorama luar biasa ke segala arah. Sulit membayangkan bagaimana para biarawan dahulu membangun pusat pendidikan sebesar ini di lokasi yang begitu terpencil. Justru keterpencilan itulah yang membuat Tatev mampu berkembang sebagai tempat belajar sekaligus pusat spiritual selama berabad-abad.<\/p>\n<p data-start=\"7730\" data-end=\"8108\">Di ujung paling selatan Armenia terdapat Meghri, kota kecil yang hanya berjarak beberapa kilometer dari perbatasan Iran. Lanskap di kawasan ini kembali berubah. Udara terasa lebih hangat, pepohonan mulai menyerupai vegetasi kawasan subtropis, dan kebun delima memenuhi lereng-lereng perbukitan. Meghri memberikan penutup yang sangat berbeda dibandingkan kawasan Armenia lainnya.<\/p>\n<p data-start=\"8110\" data-end=\"8444\">Kota ini tidak ramai, tetapi memiliki karakter yang kuat. Jalan-jalan kecil dipenuhi rumah-rumah batu, kebun buah, dan pasar sederhana yang menjual hasil pertanian lokal. Pengaruh budaya Persia terasa lebih kuat dibandingkan wilayah Armenia lainnya, menciptakan perpaduan budaya yang menarik di kawasan paling selatan negara tersebut.<\/p>\n<p data-start=\"8446\" data-end=\"8905\">Perjalanan melintasi Armenia akhirnya memperlihatkan satu kenyataan yang sulit dibantah. Negeri ini mungkin tidak sebesar negara-negara tetangganya, tetapi hampir setiap wilayah menyimpan kisah yang berbeda. Dari katedral Kristen tertua di dunia, kuil pagan yang masih bertahan, benteng di atas awan, hutan pegunungan, danau yang menyerupai lautan, hingga desa penghasil anggur tertua dalam sejarah manusia, semuanya hadir dalam jarak yang relatif berdekatan.<\/p>\n<p data-start=\"8907\" data-end=\"9243\">Armenia bukan destinasi yang menawarkan kemewahan atau gemerlap kehidupan modern. Daya tariknya justru lahir dari kemampuannya menjaga ingatan. Setiap gereja, setiap batu, setiap lembah, dan setiap jalan pegunungan menyimpan cerita tentang sebuah bangsa yang berkali-kali diuji oleh sejarah, tetapi tidak pernah kehilangan jati dirinya.<\/p>\n<p data-start=\"9245\" data-end=\"9761\" data-is-last-node=\"\" data-is-only-node=\"\">Mungkin itulah alasan mengapa banyak pelancong yang datang ke Armenia selalu membawa pulang lebih dari sekadar foto-foto indah. Mereka membawa pemahaman bahwa ada tempat di dunia di mana masa lalu tidak pernah benar-benar pergi. Ia tetap hidup, menyertai langkah setiap orang yang memilih datang, mendengarkan, dan memberi waktu untuk mengenalnya. Armenia tidak sekadar menawarkan perjalanan menuju sebuah negara, melainkan perjalanan menelusuri salah satu peradaban tertua yang masih terus bertahan hingga hari ini.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge &#8211; Travel) Memasuki wilayah selatan, Armenia kembali memperlihatkan perubahan lanskap yang begitu kontras. Hutan-hutan lebat perlahan menghilang, berganti dengan perbukitan berbatu berwarna merah kecokelatan yang tampak kering namun memikat. Jalan membelah lembah-lembah sempit yang selama ribuan tahun menjadi jalur perdagangan antara Kaukasus, Persia, dan Timur Tengah. Kawasan ini terasa lebih sunyi, lebih liar, sekaligus menyimpan kisah-kisah yang jauh lebih tua daripada banyak peradaban yang masih bertahan hingga sekarang. Di tengah lembah berbatu itu berdiri Areni, sebuah desa kecil [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":32,"featured_media":218493,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[1057],"tags":[13405],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/218476"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/32"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=218476"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/218476\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":218479,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/218476\/revisions\/218479"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/218493"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=218476"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=218476"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=218476"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}