{"id":218399,"date":"2026-07-07T09:02:43","date_gmt":"2026-07-07T02:02:43","guid":{"rendered":"https:\/\/www.blj.co.id\/?p=218399"},"modified":"2026-07-07T09:02:43","modified_gmt":"2026-07-07T02:02:43","slug":"alibaba-larang-karyawan-gunakan-claude-code-kekhawatiran-soal-backdoor-ai-meningkat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2026\/07\/07\/alibaba-larang-karyawan-gunakan-claude-code-kekhawatiran-soal-backdoor-ai-meningkat\/","title":{"rendered":"Alibaba Larang Karyawan Gunakan Claude Code, Kekhawatiran Soal &#8220;Backdoor&#8221; AI Meningkat"},"content":{"rendered":"<p>(Business Lounge Journal \u2013 Technology)<\/p>\n<p>Persaingan kecerdasan buatan (AI) antara Amerika Serikat dan Tiongkok kembali memasuki babak baru. Raksasa teknologi asal Tiongkok, Alibaba Group, memutuskan melarang seluruh karyawannya menggunakan Claude Code, alat bantu pemrograman berbasis AI milik Anthropic, mulai 10 Juli 2026.<\/p>\n<p>Keputusan tersebut diambil setelah Alibaba menilai Claude Code berpotensi menimbulkan risiko keamanan. Perusahaan khawatir terdapat mekanisme dalam perangkat lunak tersebut yang dapat mengidentifikasi pengguna yang berasal dari Tiongkok atau terhubung dengan perusahaan AI Tiongkok. Sebagai alternatif, Alibaba menginstruksikan para insinyurnya untuk beralih menggunakan Qoder, platform AI coding yang dikembangkan secara internal.<\/p>\n<p>Langkah ini menjadi salah satu contoh bagaimana persaingan AI global kini tidak hanya terjadi pada pengembangan model bahasa besar (large language models\/LLM), tetapi juga merambah ke ekosistem perangkat pendukung, keamanan siber, hingga perlindungan data perusahaan. Seiring meningkatnya investasi AI di berbagai negara, perusahaan teknologi semakin berhati-hati dalam memilih platform AI yang digunakan oleh para karyawannya.<\/p>\n<h3>Dugaan Fitur Tersembunyi Picu Kekhawatiran<\/h3>\n<p>Kontroversi bermula ketika sejumlah pengembang menemukan adanya mekanisme dalam Claude Code yang diduga mampu mendeteksi apakah pengguna berasal dari Tiongkok atau memiliki hubungan dengan perusahaan AI asal negara tersebut. Menurut berbagai laporan, sistem tersebut memanfaatkan sejumlah indikator teknis, seperti zona waktu, konfigurasi proxy, serta lingkungan jaringan pengguna untuk melakukan identifikasi.<\/p>\n<p>Temuan itu memicu spekulasi bahwa fitur tersebut dapat digunakan untuk membatasi akses atau mendeteksi aktivitas pengguna tertentu. Di tengah meningkatnya sensitivitas terhadap keamanan data, kekhawatiran tersebut dengan cepat menyebar di kalangan komunitas pengembang maupun perusahaan teknologi.<\/p>\n<p>Anthropic kemudian memberikan klarifikasi bahwa mekanisme tersebut merupakan bagian dari eksperimen keamanan yang dirancang untuk mencegah penyalahgunaan layanan, termasuk praktik reselling akun dan model distillation\u2014yakni proses menggunakan keluaran model AI canggih untuk melatih model AI lain tanpa izin. Perusahaan menegaskan bahwa fitur tersebut bukanlah &#8220;backdoor&#8221; atau pintu belakang yang memungkinkan pengawasan terhadap pengguna, serta telah dihapus dalam pembaruan perangkat lunak terbaru.<\/p>\n<p>Meski demikian, Alibaba memilih mengambil langkah yang lebih konservatif. Claude Code dikategorikan sebagai perangkat lunak berisiko tinggi dan seluruh produk Anthropic dilaporkan harus dihapus dari lingkungan kerja perusahaan. Kebijakan tersebut sekaligus mempertegas dorongan Alibaba untuk memperluas penggunaan teknologi AI yang dikembangkan secara internal.<\/p>\n<h3>AI Kini Bukan Sekadar Teknologi, tetapi Juga Persaingan Geopolitik<\/h3>\n<p>Larangan terhadap Claude Code muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Anthropic dan Alibaba. Sebelumnya, Anthropic menuduh pihak yang terkait dengan laboratorium AI Qwen milik Alibaba melakukan model distillation dalam skala besar melalui puluhan ribu akun. Teknik tersebut diduga digunakan untuk mempelajari kemampuan model Claude dan meningkatkan performa model AI buatan sendiri. Hingga kini, Alibaba belum memberikan tanggapan resmi atas tuduhan tersebut.<\/p>\n<p>Peristiwa ini menunjukkan bahwa kompetisi AI global kini telah bergeser dari sekadar perlombaan menciptakan model paling canggih menjadi persaingan yang mencakup perlindungan kekayaan intelektual, keamanan data, hingga kontrol atas ekosistem teknologi. Perusahaan AI tidak lagi hanya berlomba meningkatkan kemampuan model, tetapi juga berupaya melindungi teknologi mereka dari potensi penyalahgunaan oleh pesaing.<\/p>\n<p>Bagi perusahaan-perusahaan besar, penggunaan AI kini juga menjadi keputusan strategis yang melibatkan aspek keamanan siber, kepatuhan regulasi, dan risiko geopolitik. Organisasi semakin mempertimbangkan apakah platform AI yang mereka gunakan berasal dari penyedia domestik atau asing, serta bagaimana data perusahaan akan diproses dan dilindungi.<\/p>\n<p>Ke depan, tren ini diperkirakan akan semakin menguat. Amerika Serikat dan Tiongkok sama-sama berupaya membangun ekosistem AI yang lebih mandiri, sehingga perusahaan di kedua negara kemungkinan akan semakin mengandalkan model, perangkat lunak, dan infrastruktur AI buatan dalam negeri. Jika tren tersebut terus berlanjut, dunia AI dapat berkembang menjadi dua ekosistem besar yang berjalan secara paralel, dengan standar, kebijakan, dan teknologi yang semakin berbeda satu sama lain.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge Journal \u2013 Technology) Persaingan kecerdasan buatan (AI) antara Amerika Serikat dan Tiongkok kembali memasuki babak baru. Raksasa teknologi asal Tiongkok, Alibaba Group, memutuskan melarang seluruh karyawannya menggunakan Claude Code, alat bantu pemrograman berbasis AI milik Anthropic, mulai 10 Juli 2026. Keputusan tersebut diambil setelah Alibaba menilai Claude Code berpotensi menimbulkan risiko keamanan. Perusahaan khawatir terdapat mekanisme dalam perangkat lunak tersebut yang dapat mengidentifikasi pengguna yang berasal dari Tiongkok atau terhubung dengan perusahaan AI Tiongkok. Sebagai alternatif, Alibaba menginstruksikan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":26,"featured_media":218400,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[7941],"tags":[2049,13398],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/218399"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/26"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=218399"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/218399\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":218401,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/218399\/revisions\/218401"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/218400"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=218399"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=218399"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=218399"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}