{"id":218279,"date":"2026-07-02T14:32:01","date_gmt":"2026-07-02T07:32:01","guid":{"rendered":"https:\/\/www.blj.co.id\/?p=218279"},"modified":"2026-07-02T14:32:01","modified_gmt":"2026-07-02T07:32:01","slug":"transformasi-digital-museum-jakarta-kini-warisan-budaya-memasuki-era-platform","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2026\/07\/02\/transformasi-digital-museum-jakarta-kini-warisan-budaya-memasuki-era-platform\/","title":{"rendered":"Transformasi Digital Museum Jakarta: Kini Warisan Budaya Memasuki Era Platform"},"content":{"rendered":"<p>(Business Lounge Journal &#8211; News)<\/p>\n<p>Transformasi digital tidak lagi hanya terjadi di dunia perbankan, ritel, atau industri teknologi. Kini, museum pun mulai memasuki era digital. Peluncuran platform &#8220;Koleksi Jakarta&#8221; menjadi salah satu contoh bagaimana transformasi digital dapat mengubah cara masyarakat mengakses, mempelajari, dan berinteraksi dengan warisan budaya.<\/p>\n<p>Didukung oleh Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta melalui program Ambassadors Fund for Cultural Preservation (AFCP), platform Koleksi Jakarta resmi diluncurkan di Museum Sejarah Jakarta pada Selasa, 30 Juni. Platform yang dikembangkan melalui kerja sama antara Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta dan Southeast Asia Museum Services (SEAMS) ini menghadirkan lebih dari 1.400 objek yang telah didigitalisasi serta lebih dari 1.500 koleksi yang telah dikatalogkan dari 11 museum di Jakarta.<\/p>\n<p>Peluncuran ini menandai perubahan penting dalam cara museum menjalankan fungsinya. Selama ini, museum identik dengan ruang fisik yang hanya dapat diakses melalui kunjungan langsung. Namun, melalui digitalisasi, museum mulai bertransformasi menjadi platform pengetahuan yang dapat diakses kapan saja dan dari mana saja.<\/p>\n<p>Melalui Koleksi Jakarta, masyarakat kini dapat menjelajahi berbagai koleksi budaya dalam satu ekosistem digital terpadu. Mulai dari artefak maritim di Museum Bahari, boneka Si Unyil di Museum Wayang, hingga koleksi ondel-ondel di Museum Betawi, semuanya dapat diakses melalui perangkat digital tanpa harus datang langsung ke lokasi museum.<\/p>\n<p>Transformasi ini bukan sekadar memindahkan koleksi ke dalam format digital. Setiap objek yang ditampilkan dilengkapi dengan data katalog yang disusun berdasarkan standar dokumentasi museum internasional yang dikembangkan oleh Getty Conservation Institute. Pendekatan ini memungkinkan museum untuk tidak hanya menyimpan artefak, tetapi juga mengelola pengetahuan secara lebih sistematis dan berkelanjutan.<\/p>\n<p>Koleksi Jakarta merupakan bagian dari inisiatif Koleksi Kita yang dimulai pada tahun 2024. Melalui program tersebut, ribuan koleksi museum telah didokumentasikan, dikatalogkan, dan didigitalisasi sebagai bagian dari upaya modernisasi pengelolaan museum di Indonesia. Dukungan AFCP dalam program ini juga mencerminkan komitmen jangka panjang Amerika Serikat dalam mendukung pelestarian warisan budaya melalui pemanfaatan teknologi.<\/p>\n<p>Juru Bicara Kedutaan Besar Amerika Serikat, Jamie Ravetz, mengatakan bahwa proyek ini menunjukkan bagaimana kolaborasi internasional, inovasi digital, dan praktik terbaik museum dapat memperluas akses publik terhadap warisan budaya sekaligus memperkuat upaya pelestariannya untuk generasi mendatang.<\/p>\n<p>Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, Mochamad Miftahulloh Tamary, menilai bahwa digitalisasi museum menjadi langkah penting dalam memperkuat fungsi museum sebagai pusat pembelajaran. Menurutnya, museum tidak lagi hanya menjadi tempat penyimpanan benda bersejarah, tetapi juga harus mampu menjadi sumber pengetahuan yang relevan bagi masyarakat lokal maupun global.<\/p>\n<p>Peluncuran Koleksi Jakarta juga memiliki makna simbolis karena berlangsung menjelang peringatan 500 tahun Kota Jakarta. Di tengah percepatan transformasi digital di berbagai sektor, digitalisasi museum menunjukkan bahwa pelestarian budaya dan inovasi teknologi bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Sebaliknya, keduanya dapat berjalan beriringan untuk memperluas akses, meningkatkan partisipasi publik, dan menjaga relevansi institusi budaya di era digital.<\/p>\n<p>Bagi banyak institusi budaya di dunia, transformasi digital bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan. Dan melalui Koleksi Jakarta, museum-museum di ibu kota mulai menunjukkan bahwa masa depan pelestarian budaya tidak hanya berada di ruang pamer, tetapi juga di platform digital yang dapat diakses oleh siapa pun, di mana pun.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge Journal &#8211; News) Transformasi digital tidak lagi hanya terjadi di dunia perbankan, ritel, atau industri teknologi. Kini, museum pun mulai memasuki era digital. Peluncuran platform &#8220;Koleksi Jakarta&#8221; menjadi salah satu contoh bagaimana transformasi digital dapat mengubah cara masyarakat mengakses, mempelajari, dan berinteraksi dengan warisan budaya. Didukung oleh Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta melalui program Ambassadors Fund for Cultural Preservation (AFCP), platform Koleksi Jakarta resmi diluncurkan di Museum Sejarah Jakarta pada Selasa, 30 Juni. Platform yang dikembangkan melalui [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":26,"featured_media":218280,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[1052],"tags":[13382],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/218279"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/26"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=218279"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/218279\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":218281,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/218279\/revisions\/218281"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/218280"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=218279"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=218279"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=218279"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}