{"id":218261,"date":"2026-06-27T18:53:11","date_gmt":"2026-06-27T11:53:11","guid":{"rendered":"https:\/\/www.blj.co.id\/?p=218261"},"modified":"2026-07-01T18:56:49","modified_gmt":"2026-07-01T11:56:49","slug":"pariwisata-jepang-yang-semakin-menawan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2026\/06\/27\/pariwisata-jepang-yang-semakin-menawan\/","title":{"rendered":"Pariwisata Jepang Yang Semakin Menawan"},"content":{"rendered":"<p>(Business Lounge Journal &#8211; Essay on Global)<strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<p><strong>Pembuka dan Posisi Jepang<\/strong><\/p>\n<p>Jepang bukan hanya negara maju dengan teknologi tinggi, tetapi juga salah satu destinasi wisata paling kuat di dunia. Daya tariknya lahir dari kombinasi budaya, keamanan, transportasi yang efisien, dan kemampuan mengemas pengalaman wisata menjadi sesuatu yang rapi, nyaman, dan berkesan. Hasilnya terlihat jelas: pada 2024, Jepang mencatat 35,12 juta kunjungan wisatawan mancanegara, lalu pada 2025 naik menjadi sekitar 42,7 juta.<\/p>\n<p>Kalau dilihat dalam peta destinasi global, Jepang memang belum masuk tiga besar dunia. Namun posisinya tetap sangat kuat karena berada di jajaran 10 besar destinasi wisata dunia. Sementara itu, Indonesia masih berada di luar sepuluh besar global, meski kunjungan wisatawan mancanegara tercatat terus tumbuh dari 12,71 juta pada 2024 menjadi 15,39 juta pada 2025.<\/p>\n<p>Gambaran ini menunjukkan bahwa Jepang berada di kelompok destinasi wisata global dengan daya saing yang sangat tinggi, sedangkan Indonesia masih memiliki ruang yang besar untuk meningkatkan daya tarik dan daya saingnya di tingkat internasional. Perbedaan tersebut bukan semata-mata karena kekayaan objek wisata, tetapi juga karena kemampuan mengelola seluruh ekosistem pariwisata secara konsisten, mulai dari infrastruktur, pelayanan, keamanan, hingga promosi.<\/p>\n<p><strong>Top 10 Destinasi Wisata Dunia<\/strong><\/p>\n<p>Berikut gambaran ringkas destinasi wisata dunia berdasarkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara pada 2024. Data berdasarkan <strong>UN Tourism<\/strong> (Badan Pariwisata PBB).<\/p>\n<table>\n<tbody>\n<tr>\n<td><strong>No<\/strong><\/td>\n<td><strong>Negara<\/strong><\/td>\n<td><strong>Wisatawan 2024<\/strong><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>1<\/td>\n<td>Prancis<\/td>\n<td>100,0 juta<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>2<\/td>\n<td>Spanyol<\/td>\n<td>85,10 juta<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>3<\/td>\n<td>Amerika Serikat<\/td>\n<td>66,50 juta<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>4<\/td>\n<td>Italia<\/td>\n<td>57,25 juta<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>5<\/td>\n<td>Turki<\/td>\n<td>55,20 juta<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>6<\/td>\n<td>Meksiko<\/td>\n<td>42,20 juta<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>7<\/td>\n<td>Inggris<\/td>\n<td>39,20 juta<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>8<\/td>\n<td>Jepang<\/td>\n<td>35,12 juta<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>9<\/td>\n<td>Jerman<\/td>\n<td>34,80 juta<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>10<\/td>\n<td>Yunani<\/td>\n<td>32,70 juta<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<p><strong>Catatan:<\/strong><\/p>\n<p>Pada tahun 2024, Jepang berhasil mengokohkan posisinya di <strong>peringkat ke-8 dunia<\/strong> dengan mencatatkan 35,12 juta kunjungan wisatawan mancanegara, melampaui negara-negara wisata utama Eropa seperti Jerman dan Yunani.<\/p>\n<p>Pada saat artikel ini disusun, data resmi tahun 2025 belum tersedia secara lengkap dan seragam untuk seluruh negara, namun untuk Jepang telah melaporkan sekitar 42,7 juta kunjungan wisatawan mancanegara pada 2025, sedangkan Indonesia menerima sekitar 15,39 juta wisatawan mancanegara.<\/p>\n<p>Lonjakan wisatawan sekitar 21,6% tersebut menunjukkan bahwa Jepang bukan hanya populer, tetapi juga sangat stabil sebagai tujuan wisata global dan daya tariknya terus menguat.<\/p>\n<p>Menariknya, hampir seluruh negara dalam daftar tersebut memiliki satu kesamaan. Mereka tidak hanya memiliki objek wisata yang menarik, tetapi juga membangun ekosistem pariwisata yang matang. Infrastruktur transportasi, keamanan, kemudahan akses, promosi internasional, kualitas pelayanan, serta konsistensi pengalaman wisata menjadi faktor yang sama pentingnya dengan keindahan destinasi itu sendiri.<\/p>\n<p>Sementara itu, Indonesia menerima 12,71 juta wisatawan mancanegara pada 2024 dan meningkat menjadi 15,39 juta pada 2025. Meski masih berada di luar 10 besar dunia, tren pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa Indonesia memiliki potensi yang besar. Tantangannya bukan sekadar menambah jumlah wisatawan, tetapi juga membangun pengalaman wisata yang berkualitas sehingga mampu meningkatkan kunjungan ulang dan memperkuat citra Indonesia sebagai destinasi kelas dunia.<\/p>\n<p><strong>Mengapa Jepang Berhasil Menarik Turis<\/strong><\/p>\n<p>Keberhasilan Jepang tidak muncul tiba-tiba. Negara ini membangun pariwisata dengan fondasi yang sangat rapi: keamanan publik, transportasi yang andal, kebersihan kota, pelayanan yang disiplin, dan destinasi yang sangat beragam. Wisatawan dapat berpindah dari kota metropolitan seperti Tokyo dan Osaka menuju pusat budaya Kyoto, menikmati keindahan alam Hokkaido, maupun mengunjungi desa-desa tradisional tanpa merasa sistem transportasinya rumit atau tidak teratur.<\/p>\n<p>Salah satu kekuatan utama Jepang adalah kemampuannya menggabungkan pengalaman wisata yang modern dan tradisional dalam satu paket. Di satu sisi, wisatawan dapat menikmati pusat perbelanjaan, kuliner, teknologi, dan hiburan kelas dunia. Di sisi lain, mereka juga dapat menikmati kuil-kuil bersejarah, taman, festival budaya, pemandian air panas (onsen), serta lanskap alam yang khas. Kombinasi tersebut membuat Jepang mampu menarik wisatawan dengan minat yang sangat beragam.<\/p>\n<p>Keunggulan Jepang juga terletak pada kualitas infrastruktur transportasinya. Jaringan kereta cepat, kereta lokal, dan transportasi umum darat terintegrasi secara apik dengan rute laut serta penerbangan domestik yang efisien untuk menghubungkan antar-pulau. Semua ini membentuk sebuah <strong>&#8220;Ekosistem Transportasi Terintegrasi&#8221;<\/strong>, sehingga waktu perjalanan menjadi lebih pasti, biaya perjalanan mudah diperkirakan, serta memudahkan wisatawan menjelajahi berbagai daerah dalam waktu yang relatif singkat. Bagi wisatawan, efisiensi seperti ini berarti lebih banyak waktu untuk menikmati destinasi daripada menghadapi kendala perjalanan.<\/p>\n<p>Jepang juga sangat kuat dalam aspek kepraktisan. Negara ini menyediakan informasi multibahasa, peta transportasi yang jelas, serta dukungan digital bagi wisatawan. Salah satunya melalui <strong>Japan Official Travel App<\/strong>, yang menyediakan informasi perjalanan, rute transportasi, hingga informasi keselamatan dalam berbagai bahasa. Digitalisasi ini menunjukkan bahwa pelayanan wisata modern tidak lagi hanya bergantung pada infrastruktur fisik, tetapi juga pada kemudahan memperoleh informasi secara cepat dan akurat.<\/p>\n<p>Soal visa, Jepang juga memiliki sejumlah kebijakan yang memudahkan wisatawan dari negara tertentu. Untuk pemegang e-paspor Indonesia, misalnya, tersedia skema <em>visa exemption registration<\/em> melalui sistem JAVES yang memungkinkan kunjungan singkat tanpa visa konvensional setelah registrasi sesuai ketentuan yang berlaku. Kebijakan seperti ini membantu mengurangi hambatan administratif sehingga perjalanan menjadi lebih praktis.<\/p>\n<p>Selain itu, Jepang juga aktif mempromosikan wisata di luar kota-kota besar. Pemerintah bersama pemerintah daerah dan pelaku industri pariwisata mendorong penyebaran wisatawan ke berbagai wilayah yang belum terlalu padat. Hal ini menunjukkan adanya sinergi antara kebijakan pemerintah pusat dan pemerintah daerah sehingga manfaat ekonomi dari sektor pariwisata tidak hanya terkonsentrasi di Tokyo atau Kyoto, tetapi juga menyebar ke berbagai daerah.<\/p>\n<p>Faktor keamanan juga tidak dapat diabaikan. Jepang dikenal sebagai negara yang nyaman bagi wisatawan karena tingkat keteraturan publik yang tinggi. Kondisi tersebut didukung oleh beberapa faktor, antara lain keberadaan <strong>koban<\/strong> atau pos polisi lingkungan yang tersebar di berbagai kawasan, pemanfaatan sistem pengawasan dan tanggap darurat yang baik, serta budaya masyarakat yang menjunjung tinggi disiplin dan kepatuhan terhadap aturan. Bagi wisatawan, rasa aman memberikan keleluasaan untuk menggunakan transportasi umum, berjalan kaki hingga malam hari di banyak kawasan, serta menjelajahi destinasi secara mandiri. Pengalaman positif inilah yang mendorong banyak wisatawan kembali berkunjung dan merekomendasikan Jepang kepada orang lain.<\/p>\n<p>Faktor lain yang tidak kalah penting adalah peran masyarakat Jepang sendiri. Budaya menghormati tamu (<em>omotenashi<\/em>) telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Di berbagai daerah wisata, masyarakat, pelaku usaha, hingga relawan lokal didorong untuk memberikan pelayanan yang ramah, menjaga kebersihan lingkungan, serta membantu wisatawan apabila mengalami kesulitan. Pemerintah daerah bersama organisasi pariwisata juga secara rutin melakukan sosialisasi kepada pelaku usaha mengenai standar pelayanan, keramahan, serta pentingnya menjaga citra destinasi.<\/p>\n<p>Dengan demikian, pengalaman positif wisatawan tidak hanya dibangun melalui kebijakan pemerintah, tetapi juga melalui partisipasi aktif masyarakat.<\/p>\n<p>Keberhasilan Jepang menunjukkan bahwa daya saing pariwisata tidak dibangun hanya melalui keindahan alam atau banyaknya objek wisata. Yang lebih menentukan adalah kemampuan mengelola seluruh pengalaman wisatawan secara menyeluruh, mulai dari kemudahan akses, keamanan, pelayanan, informasi, hingga konsistensi kualitas di berbagai daerah. Fondasi inilah yang menjadikan Jepang mampu mempertahankan posisinya sebagai salah satu destinasi wisata paling kompetitif di dunia, sekaligus menjadi pelajaran berharga bagi negara-negara lain yang ingin mengembangkan sektor pariwisatanya.<\/p>\n<p><strong>Tantangan Pariwisata Jepang dan Upaya Mengatasinya<\/strong><\/p>\n<p><strong>Overtourism<\/strong><\/p>\n<p>Keberhasilan Jepang menarik puluhan juta wisatawan setiap tahun tidak hanya membawa manfaat ekonomi, tetapi juga menghadirkan tantangan baru. Salah satu yang paling banyak dibahas dalam beberapa tahun terakhir adalah <strong>overtourism<\/strong>, yaitu kondisi ketika jumlah wisatawan yang datang melebihi kapasitas suatu destinasi sehingga mulai mengganggu lingkungan, infrastruktur, maupun kehidupan masyarakat setempat.<\/p>\n<p>Beberapa kota wisata di Jepang, seperti Kyoto, menghadapi lonjakan kunjungan yang sangat tinggi, terutama pada musim bunga sakura dan musim gugur. Kepadatan wisatawan di kawasan kuil, jalan tradisional, dan transportasi umum sering menimbulkan antrean panjang, kemacetan, peningkatan volume sampah, hingga keluhan dari warga lokal. Di sejumlah lokasi, perilaku sebagian wisatawan yang kurang menghormati privasi penduduk juga menjadi perhatian.<\/p>\n<p>Fenomena overtourism sebenarnya bukan hanya terjadi di Jepang. Barcelona di Spanyol menjadi salah satu contoh yang paling sering dibahas. Dalam beberapa tahun terakhir, sebagian warga bahkan melakukan aksi protes karena merasa lonjakan wisatawan telah meningkatkan harga sewa rumah, mempersempit akses terhadap hunian, serta mengganggu kenyamanan kehidupan sehari-hari. Pemerintah kota kemudian mengambil berbagai langkah, mulai dari pembatasan izin akomodasi wisata hingga pengaturan aktivitas pariwisata di kawasan tertentu. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan menarik wisatawan juga harus diimbangi dengan pengelolaan yang baik agar manfaat ekonomi tidak berubah menjadi beban sosial.<\/p>\n<p>Yang menarik, Jepang tidak melihat kondisi tersebut sebagai alasan untuk menghambat pertumbuhan pariwisata. Sebaliknya, pemerintah bersama pemerintah daerah dan pelaku industri berupaya mengelola dampaknya agar manfaat ekonomi tetap dapat diperoleh tanpa mengorbankan kualitas hidup masyarakat maupun kelestarian destinasi wisata.<\/p>\n<p>Salah satu langkah yang ditempuh adalah mendorong penyebaran wisatawan ke daerah-daerah yang masih memiliki kapasitas lebih besar. Berbagai kampanye promosi dilakukan untuk memperkenalkan kota-kota kecil dan destinasi alternatif sehingga arus wisata tidak hanya terkonsentrasi di Tokyo, Kyoto, atau Osaka.<\/p>\n<p>Selain itu, beberapa pemerintah daerah menerapkan kebijakan seperti pajak akomodasi (<em>accommodation tax<\/em>) yang hasilnya digunakan untuk mendukung pengelolaan pariwisata, peningkatan fasilitas publik, serta pelestarian lingkungan dan warisan budaya. Di sejumlah lokasi wisata juga diterapkan pengaturan akses, pembatasan jumlah pengunjung pada waktu tertentu, maupun sistem reservasi untuk mengurangi kepadatan.<\/p>\n<p>Jepang juga aktif mengedukasi wisatawan mengenai etika selama berkunjung. Informasi mengenai tata krama menggunakan transportasi umum, menjaga kebersihan, menghormati privasi masyarakat, hingga aturan di tempat-tempat ibadah disampaikan melalui berbagai media dan platform digital. Pendekatan ini menunjukkan bahwa keberhasilan pariwisata bukan hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga pada kesadaran wisatawan untuk menjadi pengunjung yang bertanggung jawab.<\/p>\n<p><strong>Kekurangan Tenaga Kerja Sektor Pariwisata<\/strong><\/p>\n<p>Selain menghadapi overtourism, Jepang juga menghadapi tantangan berupa kekurangan tenaga kerja (<em>labour shortage<\/em>) di sektor pariwisata. Peningkatan jumlah wisatawan terjadi ketika Jepang sedang mengalami penuaan penduduk dan penurunan jumlah angkatan kerja. Akibatnya, banyak hotel, restoran, perusahaan transportasi, hingga objek wisata mengalami kesulitan memperoleh tenaga kerja dalam jumlah yang memadai.<\/p>\n<p>Untuk mengatasi kondisi tersebut, pemerintah Jepang bersama dunia usaha melakukan berbagai langkah. Di antaranya adalah memperluas pemanfaatan teknologi seperti mesin check-in mandiri di hotel, sistem pemesanan digital, dan otomatisasi layanan untuk mengurangi ketergantungan pada tenaga kerja, seperti penggunaan <em>robot concierge<\/em> di hotel-hotel Jepang atau optimalisasi <em>vending machine<\/em> yang canggih untuk memotong jalur pelayanan restoran.<\/p>\n<p>Jepang juga memperluas penerimaan tenaga kerja asing pada beberapa sektor tertentu, termasuk perhotelan, melalui skema visa kerja yang lebih terbuka dibanding sebelumnya. Di sisi lain, perusahaan-perusahaan pariwisata meningkatkan pelatihan bagi karyawan, memperbaiki kondisi kerja, serta mendorong pemanfaatan tenaga kerja lanjut usia yang masih produktif. Pendekatan ini menunjukkan bahwa tantangan kekurangan tenaga kerja tidak hanya diatasi melalui penambahan pekerja, tetapi juga melalui inovasi, peningkatan produktivitas, dan pengembangan kualitas sumber daya manusia.<\/p>\n<p>Pengalaman Jepang memberikan pelajaran penting bahwa keberhasilan sektor pariwisata tidak cukup diukur dari banyaknya wisatawan yang datang. Sama pentingnya adalah kemampuan mengelola pertumbuhan tersebut agar tetap sejalan dengan daya dukung lingkungan, kenyamanan masyarakat, serta keberlanjutan destinasi wisata. Dengan kata lain, tujuan akhir pembangunan pariwisata bukan sekadar meningkatkan jumlah kunjungan, melainkan menciptakan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan yang dapat dinikmati dalam jangka panjang serta masyarakat lokal menerima manfaat dari pariwisata tersebut.<\/p>\n<p><strong>Pelajaran Yang Dapat Diambil Indonesia<\/strong><\/p>\n<p>Melihat keberhasilan Jepang dalam membangun sektor pariwisatanya, Indonesia dapat mengambil berbagai pelajaran penting. Indonesia memiliki potensi dan modal yang sangat besar untuk menjadi salah satu destinasi wisata unggulan dunia. Kekayaan alam, keberagaman budaya, warisan sejarah, serta keramahan masyarakat merupakan aset yang tidak dimiliki banyak negara. Namun pengalaman Jepang menunjukkan bahwa potensi tersebut perlu didukung oleh pengelolaan yang terencana, konsisten, dan berkelanjutan.<\/p>\n<p>Pelajaran pertama adalah pentingnya membangun <strong>ekosistem pariwisata<\/strong>, bukan hanya mengembangkan destinasi. Keindahan alam akan lebih bernilai apabila didukung oleh &#8220;Ekosistem Transportasi Terintegrasi&#8221; yang mudah diakses, lingkungan yang bersih, keamanan yang terjaga, informasi yang jelas, kemudahan akses dokumen perjalanan (seperti kebijakan visa), serta pelayanan yang berkualitas.<\/p>\n<p>Pengalaman wisatawan dibentuk oleh keseluruhan perjalanan mereka, bukan hanya oleh objek wisata yang dikunjungi.<\/p>\n<p>Pelajaran kedua adalah pentingnya menjaga <strong>konsistensi kualitas pelayanan<\/strong>. Jepang dikenal bukan karena seluruh destinasi wisatanya mewah, tetapi karena wisatawan hampir selalu memperoleh pelayanan yang ramah, tertib, dan dapat diandalkan. Konsistensi seperti ini membangun kepercayaan, meningkatkan kepuasan, dan mendorong wisatawan untuk kembali berkunjung maupun merekomendasikan destinasi kepada orang lain.<\/p>\n<p>Pelajaran ketiga adalah mendorong <strong>pemerataan manfaat ekonomi<\/strong>. Jepang berhasil mengembangkan destinasi di luar kota-kota utama sehingga manfaat pariwisata dapat dirasakan oleh lebih banyak daerah. Indonesia juga memiliki peluang serupa dengan mengembangkan destinasi unggulan di berbagai provinsi, sehingga pertumbuhan sektor pariwisata tidak hanya bertumpu pada beberapa lokasi yang sudah dikenal luas.<\/p>\n<p>Pelajaran keempat adalah menempatkan <strong>keberlanjutan<\/strong> sebagai bagian dari strategi pembangunan. Pertumbuhan jumlah wisatawan memang penting, tetapi harus diimbangi dengan upaya menjaga lingkungan, melestarikan budaya lokal, memperhatikan kenyamanan masyarakat serta memberdayakan masyarakat lokal. Pariwisata yang berkelanjutan akan memberikan manfaat yang lebih besar dibandingkan pertumbuhan yang cepat tetapi mengorbankan kualitas destinasi.<\/p>\n<p>Pelajaran kelima adalah membangun <strong>kolaborasi<\/strong>. Keberhasilan Jepang menunjukkan bahwa pengembangan pariwisata merupakan hasil kerja bersama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, pelaku usaha, komunitas, dan masyarakat. Kolaborasi yang baik memungkinkan setiap pihak mengambil peran sesuai kapasitasnya sehingga tercipta pengalaman wisata yang berkualitas sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas.<\/p>\n<p>Indonesia tentu tidak perlu menjadi &#8220;Jepang kedua&#8221; untuk menjadi destinasi wisata kelas dunia. Setiap negara memiliki karakter, budaya, dan keunggulan yang berbeda. Namun prinsip-prinsip yang diterapkan Jepang\u2014mulai dari pengelolaan yang konsisten, pelayanan yang berkualitas, pembangunan infrastruktur, hingga perhatian terhadap keberlanjutan\u2014merupakan pelajaran berharga yang dapat diadopsi dan diadaptasi sesuai dengan kondisi Indonesia. Dengan potensi yang dimiliki serta komitmen untuk terus melakukan perbaikan, Indonesia memiliki peluang besar untuk memperkuat posisinya sebagai destinasi wisata unggulan di tingkat regional maupun global<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge Journal &#8211; Essay on Global)\u00a0 Pembuka dan Posisi Jepang Jepang bukan hanya negara maju dengan teknologi tinggi, tetapi juga salah satu destinasi wisata paling kuat di dunia. Daya tariknya lahir dari kombinasi budaya, keamanan, transportasi yang efisien, dan kemampuan mengemas pengalaman wisata menjadi sesuatu yang rapi, nyaman, dan berkesan. Hasilnya terlihat jelas: pada 2024, Jepang mencatat 35,12 juta kunjungan wisatawan mancanegara, lalu pada 2025 naik menjadi sekitar 42,7 juta. Kalau dilihat dalam peta destinasi global, Jepang memang belum [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":101080,"featured_media":191720,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[1762],"tags":[13379],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/218261"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/101080"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=218261"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/218261\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":218262,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/218261\/revisions\/218262"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/191720"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=218261"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=218261"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=218261"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}