{"id":218212,"date":"2026-07-01T17:16:40","date_gmt":"2026-07-01T10:16:40","guid":{"rendered":"https:\/\/www.blj.co.id\/?p=218212"},"modified":"2026-07-01T17:40:44","modified_gmt":"2026-07-01T10:40:44","slug":"as-dorong-kerja-sama-nuklir-sipil-dengan-indonesia-dan-asean","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2026\/07\/01\/as-dorong-kerja-sama-nuklir-sipil-dengan-indonesia-dan-asean\/","title":{"rendered":"AS Dorong Kerja Sama Nuklir Sipil dengan Indonesia dan ASEAN"},"content":{"rendered":"<p>(Business Lounge Journal &#8211; News)<\/p>\n<p>Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta dan Misi AS untuk ASEAN memperkuat dialog energi nuklir sipil dengan Indonesia dan kawasan Asia Tenggara melalui kunjungan Dr. Kelle Barfield, pakar keterlibatan pemangku kepentingan nuklir asal Amerika Serikat, pada 22\u201324 Juni. Kunjungan ini menjadi bagian dari rangkaian pertemuan tingkat tinggi di Indonesia, Singapura, dan Filipina dalam inisiatif <b>Freedom 250: American Leadership in Energy Security<\/b>.<\/p>\n<p>Program tersebut menekankan pentingnya energi nuklir sipil sebagai salah satu pilihan untuk memperkuat ketahanan energi, mendukung pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan kerja bagi komunitas lokal, serta menjaga kualitas udara. Bagi kawasan ASEAN yang kebutuhan listriknya terus meningkat, dialog mengenai nuklir sipil\u2014terutama small modular reactors atau SMR\u2014semakin relevan sebagai bagian dari bauran energi masa depan.<\/p>\n<h2><b>Dialog di Bandung dan Jakarta<\/b><\/h2>\n<p>Kunjungan Dr. Barfield dimulai di Bandung, Jawa Barat, pada 22 Juni. Ia bertemu dengan kalangan akademisi dan peneliti di Institut Teknologi Bandung (ITB), serta peneliti nuklir di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Ia juga berdiskusi dengan pejabat Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mengenai lanskap sumber daya energi Indonesia.<\/p>\n<p>Pada 23 Juni, program berlanjut di Kedutaan Besar AS di Jakarta. Dr. Barfield memimpin diskusi mengenai SMR bersama perusahaan energi Indonesia dan pejabat senior pemerintah, termasuk anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Satya Widya Yudha.<\/p>\n<p>Hari itu ditutup dengan diskusi panel bertajuk <b>\u201cPowering the Future: American Leadership in Clean Nuclear Energy\u201d<\/b> di @america, Pacific Place Mall, Jakarta. Panel tersebut menghadirkan Dr. Barfield, anggota DEN Dr. Ir. Sripeni Inten Cahyani, serta Senior Officer ASEAN Centre for Energy (ACE), Rully Hidayatullah. Lebih dari 100 pemangku kepentingan dari AS, Indonesia, dan ASEAN hadir, termasuk perwakilan pemerintah, BUMN energi, organisasi manajemen energi, sektor SMR, akademisi, serta tokoh muda dan pembuat opini.<\/p>\n<h2><b>Indonesia Tidak Memulai dari Nol<\/b><\/h2>\n<p>Dalam diskusi tersebut, Dr. Barfield menekankan bahwa Indonesia memiliki dasar pengetahuan nuklir yang telah lama dibangun. Indonesia memang belum mengoperasikan pembangkit listrik tenaga nuklir komersial, tetapi laporan nasional Indonesia kepada IAEA mencatat bahwa Indonesia memiliki tiga reaktor riset dan fasilitas fabrikasi bahan bakar yang beroperasi, termasuk TRIGA 2000 di Bandung, Kartini, dan MPR GA Siwabessy.<\/p>\n<p>\u201cIndonesia tidak memulai dari nol. Indonesia memiliki pengalaman puluhan tahun dengan reaktor riset serta SDM dan pengetahuan untuk membangunnya lebih lanjut,\u201d ujar Dr. Barfield. Ia menambahkan bahwa tantangan nuklir bukan hanya soal teknologi atau biaya, tetapi juga dukungan masyarakat. Menurutnya, kerja sama dengan Amerika Serikat dapat memberi nilai tambah karena AS memiliki pengalaman panjang dalam transparansi publik dan pelibatan komunitas lokal terkait manfaat energi nuklir.<\/p>\n<p>Pada 24 Juni, Dr. Barfield juga menggelar diskusi meja bundar dengan media regional yang berbasis di Jakarta. Pembahasan berfokus pada bagaimana negara-negara ASEAN dapat membangun kepercayaan publik ketika menjajaki energi nuklir maju untuk memperkuat ketahanan energi dan memenuhi permintaan listrik yang meningkat.<\/p>\n<h2><b>Nuklir dalam Strategi Energi Amerika Serikat<\/b><\/h2>\n<p>Amerika Serikat memiliki salah satu ekosistem nuklir terbesar di dunia. Departemen Energi AS mencatat bahwa pembangkit nuklir AS menghasilkan hampir 782 miliar kilowatt-jam listrik pada 2024, memasok sekitar seperlima kebutuhan listrik nasional sejak dekade 1990-an, dan didukung 94 reaktor komersial di 28 negara bagian. DOE juga menekankan bahwa pembangkit nuklir tidak menghasilkan emisi gas rumah kaca saat menghasilkan listrik dan memiliki tingkat keandalan yang sangat tinggi.<\/p>\n<p>Di bawah pemerintahan Presiden Donald J. Trump, energi nuklir kembali ditempatkan sebagai bagian penting dari strategi ketahanan energi dan kepemimpinan teknologi Amerika. Pada Januari 2025, Presiden Trump menandatangani perintah eksekutif <b>\u201cUnleashing American Energy\u201d<\/b>, yang menekankan pentingnya energi yang terjangkau, andal, dan melimpah bagi kemakmuran ekonomi serta keamanan nasional AS.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Dorongan itu diperkuat pada Mei 2025 melalui rangkaian kebijakan nuklir yang bertujuan mempercepat pengembangan reaktor maju, memperkuat rantai pasok bahan bakar nuklir, dan memperluas peran AS di pasar nuklir global. Gedung Putih menyatakan bahwa kebijakan AS mencakup pengembangan reaktor Generasi III+, Generasi IV, reaktor modular, dan mikroreaktor, serta target peningkatan kapasitas nuklir Amerika dari sekitar 100 GW pada 2024 menjadi 400 GW pada 2050.<\/p>\n<p>Pemerintahan Trump juga mendorong ekspor teknologi nuklir Amerika melalui diplomasi energi, termasuk upaya mengejar sedikitnya 20 perjanjian kerja sama nuklir sipil baru atau <b>123 Agreements<\/b>, serta memperkuat daya saing pemasok, investor, dan lembaga pembiayaan nuklir Amerika di pasar global. DOE kemudian mencatat langkah lanjutan berupa program percepatan reaktor maju, penguatan bahan bakar nuklir domestik, serta pendanaan miliaran dolar untuk kapasitas pengayaan uranium dan pasokan HALEU.<\/p>\n<h2><b>Peluang bagi ASEAN<\/b><\/h2>\n<p>Bagi ASEAN, kebijakan energi Amerika tersebut dapat memberi dampak positif dalam beberapa arah. Pertama, kawasan ini membutuhkan sumber listrik yang stabil untuk mendukung industrialisasi, pusat data, kendaraan listrik, manufaktur bernilai tambah, dan pertumbuhan kota-kota besar. ACE memperkirakan permintaan listrik ASEAN dapat meningkat dari sekitar 1.200 TWh pada 2022 menjadi 4.300 TWh pada 2050.<\/p>\n<p>Kedua, SMR menawarkan kemungkinan teknologi yang lebih fleksibel dibanding pembangkit nuklir konvensional berskala besar. Bagi negara kepulauan seperti Indonesia dan Filipina, atau negara dengan pusat industri dan kebutuhan listrik yang terus tumbuh, SMR dapat dipertimbangkan sebagai pelengkap energi terbarukan, bukan pengganti tunggal. Nuklir dapat menyediakan daya dasar yang stabil ketika tenaga surya dan angin bersifat intermiten.<\/p>\n<p>Ketiga, kerja sama dengan AS dapat membantu kawasan membangun standar keselamatan, keamanan, nonproliferasi, regulasi, dan komunikasi publik sejak tahap awal. Ini penting karena isu nuklir bukan hanya persoalan teknologi, tetapi juga kepercayaan masyarakat, kesiapan regulator, manajemen limbah, dan transparansi kebijakan.<\/p>\n<p>Kawasan ASEAN sendiri telah menempatkan kerja sama energi sebagai agenda strategis. <b>ASEAN Plan of Action for Energy Cooperation 2026\u20132030<\/b> disahkan sebagai cetak biru kerja sama energi kawasan, dengan tujuan memperkuat konektivitas energi, ketahanan dan resiliensi energi, serta transisi menuju sistem rendah karbon yang inklusif. Dalam konteks ini, dialog nuklir sipil yang aman, transparan, dan berstandar tinggi dapat menjadi salah satu kontribusi penting terhadap masa depan energi ASEAN.<\/p>\n<h2><b>Kemitraan Energi untuk Indo-Pasifik<\/b><\/h2>\n<p>Juru Bicara Kedutaan Besar AS Jamie Ravetz menyatakan bahwa Amerika Serikat bangga bermitra dengan Indonesia dan ASEAN dalam memajukan solusi energi nuklir yang aman, transparan, dan berstandar tinggi. Menurutnya, small modular reactors membuka peluang nyata untuk memperkuat ketahanan energi di kawasan, dan Amerika Serikat siap mendukung masa depan tersebut.<\/p>\n<p>Kunjungan Dr. Barfield memperlihatkan bahwa kerja sama energi Indonesia\u2013AS kini tidak hanya terbatas pada perdagangan energi konvensional atau energi terbarukan, tetapi juga mulai menyentuh diskusi strategis mengenai nuklir sipil generasi baru. Dengan meningkatnya kebutuhan listrik, tekanan dekarbonisasi, dan pentingnya keamanan pasokan energi, dialog seperti ini dapat menjadi pijakan awal bagi kerja sama yang lebih dalam antara Amerika Serikat, Indonesia, dan ASEAN di kawasan Indo-Pasifik.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge Journal &#8211; News) Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta dan Misi AS untuk ASEAN memperkuat dialog energi nuklir sipil dengan Indonesia dan kawasan Asia Tenggara melalui kunjungan Dr. Kelle Barfield, pakar keterlibatan pemangku kepentingan nuklir asal Amerika Serikat, pada 22\u201324 Juni. Kunjungan ini menjadi bagian dari rangkaian pertemuan tingkat tinggi di Indonesia, Singapura, dan Filipina dalam inisiatif Freedom 250: American Leadership in Energy Security. Program tersebut menekankan pentingnya energi nuklir sipil sebagai salah satu pilihan untuk memperkuat ketahanan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":47,"featured_media":218220,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[2725,1049],"tags":[1990,13374],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/218212"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/47"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=218212"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/218212\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":218230,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/218212\/revisions\/218230"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/218220"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=218212"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=218212"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=218212"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}