{"id":218141,"date":"2026-06-29T10:44:47","date_gmt":"2026-06-29T03:44:47","guid":{"rendered":"https:\/\/www.blj.co.id\/?p=218141"},"modified":"2026-06-29T10:50:19","modified_gmt":"2026-06-29T03:50:19","slug":"ekuador-tawarkan-kakao-mawar-pisang-dan-udang-berkualitas-untuk-pasar-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2026\/06\/29\/ekuador-tawarkan-kakao-mawar-pisang-dan-udang-berkualitas-untuk-pasar-indonesia\/","title":{"rendered":""},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge Journal &#8211; Foreign Insight)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ekuador menempatkan sejumlah produk agrikultur dan perikanan sebagai bagian penting dari identitas ekspornya di pasar global. Dalam wawancara dengan Business Lounge Journal, Duta Besar Ekuador untuk Indonesia, H.E. Luis Guillermo Arellano Jibaja menyoroti kakao, mawar, pisang, dan udang sebagai produk yang memiliki karakter kuat, kualitas tinggi, serta potensi besar untuk memperkuat hubungan ekonomi dengan Indonesia. Di antara produk-produk tersebut, kakao menjadi komoditas paling dominan dalam perdagangan Ekuador dengan Indonesia, sementara bunga mawar telah dikenal sebagai produk premium dan pisang serta udang memperlihatkan posisi Ekuador sebagai salah satu pemain penting dalam perdagangan pangan dunia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><b>Kakao Ekuador<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam wawancara tersebut, H.E. Luis Guillermo Arellano Jibaja menyampaikan bahwa pasar Indonesia memiliki arti strategis yang tinggi bagi industri kakao Ekuador. Indonesia disebut sebagai salah satu tujuan penting di Asia bagi ekspor kakao Ekuador, terutama karena kebutuhan industri pengolahan di Indonesia tetap besar. Menurutnya, meskipun Indonesia juga merupakan produsen kakao, sektor industri domestik Indonesia membutuhkan pasokan besar untuk mendukung produksi makanan, cokelat, dan konfeksioneri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Data perdagangan memperkuat posisi penting kakao dalam hubungan ekonomi Ekuador dan Indonesia. Pada 2024, ekspor kakao dan produk kakao Ekuador ke Indonesia tercatat sekitar US$436,86 juta. Angka ini membuat kakao menjadi komoditas yang sangat dominan dalam ekspor Ekuador ke Indonesia, dengan porsi sekitar 98,8 persen dari total ekspor Ekuador ke Indonesia pada tahun tersebut. Dalam data resmi Ekuador, kakao juga menjadi salah satu komoditas utama ekspor nonmigas negara tersebut, dengan nilai ekspor sekitar US$3,351 miliar pada 2024 dan volume sekitar 426 ribu ton metrik.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">H.E. Luis menjelaskan bahwa Ekuador memproduksi dua jenis kakao. Salah satunya adalah varietas umum dengan produktivitas tinggi, sementara jenis lainnya adalah kakao Fino de Aroma, yang menurutnya hanya mencakup sekitar 10 persen dari total produksi kakao Ekuador. Fino de Aroma dipandang sebagai produk khusus karena memiliki karakter aroma, rasa, dan intensitas yang khas, terutama ketika diolah menjadi cokelat berkualitas tinggi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Keunikan kakao Ekuador juga berkaitan dengan kondisi geografis negara tersebut. H.E. Luis menyampaikan bahwa Ekuador memiliki empat wilayah utama dan keragaman iklim mikro, sehingga karakter kakao dapat berbeda bergantung pada lokasi produksinya. Dalam penjelasannya, aroma dan rasa Fino de Aroma baru benar-benar dapat dipahami ketika dicicipi, karena perbedaannya muncul dari kombinasi tanah, iklim, dan lokasi produksi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ekuador kini juga tidak hanya ingin dikenal sebagai pengekspor biji kakao. Dalam wawancara tersebut, H.E. Luis menyampaikan bahwa negaranya sedang mengembangkan ekosistem cokelat, dengan harapan industri nasional dan internasional dapat datang, berinvestasi, dan mengolah kakao Ekuador menjadi produk bernilai tambah. Dengan pendekatan ini, kakao tidak hanya menjadi komoditas ekspor mentah, tetapi juga bagian dari strategi industri dan branding Ekuador di pasar global.<\/p>\n<figure id=\"attachment_218144\" aria-describedby=\"caption-attachment-218144\" style=\"width: 750px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" class=\"wp-image-218144 size-large\" src=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Cocoa_Pod\u00b4s_in_Ecuador_South_America-1024x768.jpg\" alt=\"\" width=\"750\" height=\"563\" srcset=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Cocoa_Pod\u00b4s_in_Ecuador_South_America-1024x768.jpg 1024w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Cocoa_Pod\u00b4s_in_Ecuador_South_America-300x225.jpg 300w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Cocoa_Pod\u00b4s_in_Ecuador_South_America-768x576.jpg 768w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Cocoa_Pod\u00b4s_in_Ecuador_South_America-1536x1152.jpg 1536w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Cocoa_Pod\u00b4s_in_Ecuador_South_America-2048x1536.jpg 2048w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Cocoa_Pod\u00b4s_in_Ecuador_South_America-750x563.jpg 750w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Cocoa_Pod\u00b4s_in_Ecuador_South_America-1200x900.jpg 1200w\" sizes=\"(max-width: 750px) 100vw, 750px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-218144\" class=\"wp-caption-text\">Kakao Ekuador (Sumber: Wikipedia\/David Adam Kess)<\/figcaption><\/figure>\n<p style=\"text-align: justify;\"><b>Mawar Ekuador<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selain kakao, H.E. Luis juga menyoroti bunga mawar sebagai salah satu produk unggulan Ekuador. Ia menjelaskan bahwa bunga asal Ekuador dikenal di pasar internasional sebagai produk premium karena ukuran, ketahanan, dan warna yang kuat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Data ekspor menunjukkan bahwa bunga alami merupakan salah satu komoditas nonmigas penting bagi Ekuador. Pada 2024, ekspor bunga alami Ekuador mencapai sekitar US$1,016 miliar, dengan volume sekitar 177 ribu ton metrik. Untuk hubungan dengan Indonesia, data perdagangan 2024 mencatat ekspor Ekuador ke Indonesia pada kategori tanaman hidup, tanaman hias, umbi, akar, dan bunga potong sebesar sekitar US$2,79 juta, yang hampir seluruhnya berupa bunga potong dan kuncup bunga untuk buket.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut H.E. Luis, keunggulan mawar Ekuador berasal dari kombinasi faktor geografis, iklim, dan teknik budidaya. Mawar Ekuador banyak ditanam di kawasan Pegunungan Andes pada ketinggian lebih dari 2.800 meter di atas permukaan laut. Pada ketinggian tersebut, pertumbuhan tanaman berlangsung lebih lambat, sehingga menghasilkan batang yang lebih kuat, kelopak yang lebih tebal, serta bunga dengan tampilan yang lebih kokoh.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ia juga menjelaskan bahwa posisi Ekuador di garis khatulistiwa memberi keuntungan besar bagi budidaya mawar. Tanaman menerima sinar matahari yang relatif stabil sepanjang tahun, sekitar 12 jam setiap hari. Paparan cahaya yang konsisten ini membantu proses fotosintesis dan berkontribusi pada warna bunga yang lebih hidup, lebih intens, dan lebih menarik di pasar internasional.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Faktor tanah juga menjadi bagian dari keunggulan tersebut. Dalam wawancara, H.E. Luis menyebut bahwa mawar Ekuador ditanam di tanah vulkanik yang subur, yang menyediakan nutrisi penting bagi tanaman. Dengan batang yang kuat, warna yang cerah, dan suhu yang stabil, mawar Ekuador dapat memiliki masa simpan yang panjang, sering kali sekitar 10 hingga 15 hari. Ekuador juga memproduksi lebih dari 400 varietas mawar, termasuk mawar multicolor dan berbagai inovasi tampilan lainnya.<\/p>\n<figure id=\"attachment_218146\" aria-describedby=\"caption-attachment-218146\" style=\"width: 750px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" class=\"wp-image-218146 size-large\" src=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Le_Parc_Hotel_Quito_Flowers_of_Ecuador-1024x768.jpg\" alt=\"\" width=\"750\" height=\"563\" srcset=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Le_Parc_Hotel_Quito_Flowers_of_Ecuador-1024x768.jpg 1024w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Le_Parc_Hotel_Quito_Flowers_of_Ecuador-300x225.jpg 300w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Le_Parc_Hotel_Quito_Flowers_of_Ecuador-768x576.jpg 768w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Le_Parc_Hotel_Quito_Flowers_of_Ecuador-1536x1152.jpg 1536w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Le_Parc_Hotel_Quito_Flowers_of_Ecuador-2048x1536.jpg 2048w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Le_Parc_Hotel_Quito_Flowers_of_Ecuador-750x563.jpg 750w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Le_Parc_Hotel_Quito_Flowers_of_Ecuador-1200x900.jpg 1200w\" sizes=\"(max-width: 750px) 100vw, 750px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-218146\" class=\"wp-caption-text\">ellow Rose dari Ekuador (Sumber: Wikipedia\/David Adam Kess)<\/figcaption><\/figure>\n<p style=\"text-align: justify;\"><b>Pisang dan Udang Ekuador<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam wawancara tersebut, H.E. Luis juga menjelaskan bahwa pisang dan udang Ekuador dikenal luas di pasar internasional karena kualitas, rasa, dan karakteristiknya. Keduanya menjadi bagian penting dari kekuatan ekspor Ekuador, terutama dalam sektor pangan dan agribisnis. Ia menekankan bahwa keunggulan tersebut lahir dari kombinasi kondisi alam yang mendukung dan praktik budidaya yang semakin memperhatikan keberlanjutan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Data ekspor menunjukkan posisi kuat dua komoditas ini. Pada 2024, udang merupakan produk ekspor nonmigas terbesar Ekuador, dengan nilai sekitar US$6,992 miliar dan volume sekitar 1,213 juta ton metrik. Sementara itu, pisang menjadi produk ekspor nonmigas kedua, dengan nilai sekitar US$3,656 miliar dan volume sekitar 6,250 juta ton metrik. Angka ini menunjukkan bahwa pisang dan udang bukan hanya produk khas, tetapi juga tulang punggung penting dalam perdagangan luar negeri Ekuador.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Untuk pisang, H.E. Luis menjelaskan bahwa produk Ekuador tumbuh di tanah vulkanik yang subur dan dalam iklim tropis yang relatif stabil. Ia juga menyebut bahwa wilayah produksi pisang Ekuador tidak banyak dipengaruhi badai ekstrem, sehingga kondisi budidayanya mendukung kualitas buah yang konsisten. Pisang Ekuador digambarkan memiliki warna kuning yang cerah dan tekstur yang baik, dengan kebutuhan pestisida dan pupuk yang lebih rendah dibandingkan sejumlah produsen global lainnya karena kondisi agroklimat yang mendukung.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sementara untuk udang, H.E. Luis menyebut Ekuador sebagai eksportir besar udang hasil budidaya. Produk ini menjadi salah satu komoditas yang paling menonjol dalam ekspor Ekuador karena kualitas, rasa, dan daya saingnya di pasar dunia. Dalam perdagangan global, udang Ekuador memiliki posisi penting terutama di pasar besar seperti Asia Timur, Amerika Serikat, dan Eropa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam hubungan langsung dengan Indonesia, data perdagangan 2024 menunjukkan bahwa kontribusi pisang dan udang belum sebesar kakao dan bunga. Ringkasan data ekspor Ekuador ke Indonesia tidak menampilkan kategori pisang sebagai komoditas utama pada 2024, sementara kategori ikan, krustasea, moluska, dan invertebrata air dari Ekuador ke Indonesia tercatat sekitar US$10 ribu. Dengan demikian, pisang dan udang lebih tepat dilihat sebagai kekuatan global Ekuador, sedangkan peluang pengembangan pasar Indonesia masih terbuka ke depan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Melalui kakao, mawar, pisang, dan udang, Ekuador memperlihatkan kekuatan ekspor yang bertumpu pada kualitas alam, kondisi geografis yang khas, serta pengembangan produk bernilai tambah. Bagi Indonesia, produk-produk ini menunjukkan peluang kerja sama yang tidak hanya terbatas pada perdagangan komoditas, tetapi juga dapat berkembang ke industri pengolahan, distribusi, investasi, dan promosi produk premium di pasar Asia Tenggara.<\/p>\n<p><iframe title=\"H.E. Luis Guillermo Arellano Jibaja, Ambassador Ecuador - Inside Ecuador&#039;s World Class Exports\" width=\"750\" height=\"422\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/zqNTSxd_quY?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" referrerpolicy=\"strict-origin-when-cross-origin\" allowfullscreen><\/iframe><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge Journal &#8211; Foreign Insight) Ekuador menempatkan sejumlah produk agrikultur dan perikanan sebagai bagian penting dari identitas ekspornya di pasar global. Dalam wawancara dengan Business Lounge Journal, Duta Besar Ekuador untuk Indonesia, H.E. Luis Guillermo Arellano Jibaja menyoroti kakao, mawar, pisang, dan udang sebagai produk yang memiliki karakter kuat, kualitas tinggi, serta potensi besar untuk memperkuat hubungan ekonomi dengan Indonesia. Di antara produk-produk tersebut, kakao menjadi komoditas paling dominan dalam perdagangan Ekuador dengan Indonesia, sementara bunga mawar telah dikenal [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":47,"featured_media":218142,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[8043,2725],"tags":[13366,7357,13367],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/218141"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/47"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=218141"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/218141\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":218148,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/218141\/revisions\/218148"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/218142"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=218141"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=218141"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=218141"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}