{"id":218118,"date":"2026-06-26T14:30:45","date_gmt":"2026-06-26T07:30:45","guid":{"rendered":"https:\/\/www.blj.co.id\/?p=218118"},"modified":"2026-06-26T14:30:45","modified_gmt":"2026-06-26T07:30:45","slug":"dijual-toshiba-saat-krisis-kioxia-kini-bernilai-us350-miliar-berkat-ai","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2026\/06\/26\/dijual-toshiba-saat-krisis-kioxia-kini-bernilai-us350-miliar-berkat-ai\/","title":{"rendered":"Dijual Toshiba Saat Krisis, Kioxia Kini Bernilai US$350 Miliar Berkat AI"},"content":{"rendered":"<p>(Business Lounge Journal &#8211; News and Insight)<\/p>\n<p>Selama puluhan tahun, Toshiba dikenal sebagai salah satu ikon industri teknologi Jepang. Perusahaan ini pernah menjadi simbol inovasi dunia melalui bisnis semikonduktor, pembangkit listrik, hingga perangkat elektronik. Namun, krisis besar yang melanda sekitar satu dekade lalu memaksa Toshiba mengambil keputusan yang saat itu terasa menyakitkan: menjual aset-aset terbaiknya demi bertahan hidup. Ironisnya, aset yang dilepas kini justru menjadi bintang utama di era kecerdasan buatan (AI).<\/p>\n<p>Salah satu &#8220;mahkota permata&#8221; yang hilang adalah bisnis memori flash NAND Toshiba, yang kini dikenal sebagai Kioxia. Divisi tersebut dijual pada 2018 sebagai bagian dari restrukturisasi besar setelah Toshiba mengalami kerugian miliaran dolar akibat kegagalan bisnis nuklir di Amerika Serikat.<\/p>\n<p>Saat itu, penjualan Kioxia dianggap sebagai langkah darurat untuk menghindari kebangkrutan. Namun, siapa sangka, ledakan kebutuhan AI beberapa tahun kemudian membuat industri memori menjadi salah satu sektor dengan pertumbuhan tercepat. Kioxia kini diperkirakan memiliki valuasi sekitar US$350 miliar, menjadikannya salah satu perusahaan semikonduktor paling bernilai di dunia.<\/p>\n<h4>AI Mengubah Peta Industri Memori<\/h4>\n<p>Perkembangan AI generatif seperti ChatGPT, Gemini, Claude, hingga berbagai model bahasa besar lainnya menciptakan permintaan luar biasa terhadap pusat data (data center). Selain GPU berperforma tinggi, data center AI membutuhkan kapasitas penyimpanan yang jauh lebih besar dibandingkan dengan server konvensional.<\/p>\n<p>Di sinilah teknologi NAND flash memainkan peran penting. SSD berbasis NAND menawarkan kecepatan baca-tulis tinggi sekaligus efisiensi energi yang dibutuhkan untuk menjalankan beban kerja AI. Kioxia menjadi salah satu pemain utama bersama Samsung, SK hynix, dan Micron dalam memenuhi kebutuhan tersebut.<\/p>\n<p>Fenomena ini menunjukkan bahwa era AI bukan hanya menguntungkan produsen chip pemrosesan seperti Nvidia, tetapi juga perusahaan penyedia memori dan penyimpanan data.<\/p>\n<h4>Bisnis Nuklir yang Dulu Menjadi Beban Kini Menjadi Peluang<\/h4>\n<p>Yang lebih menarik, bukan hanya Kioxia yang menikmati kebangkitan. Bisnis nuklir Amerika Serikat yang dahulu menjadi sumber krisis Toshiba kini juga kembali mendapatkan perhatian investor.<\/p>\n<p>Westinghouse Electric, perusahaan pembangkit nuklir yang dulu menjadi penyebab kerugian besar Toshiba akibat pembengkakan biaya proyek, kini menikmati momentum baru. Ledakan pembangunan pusat data AI membuat kebutuhan listrik melonjak drastis.<\/p>\n<p>Berbeda dengan pembangkit berbahan bakar fosil, energi nuklir mampu menyediakan listrik dalam jumlah besar secara stabil selama 24 jam tanpa emisi karbon yang tinggi. Inilah alasan mengapa banyak perusahaan teknologi mulai melirik energi nuklir sebagai solusi jangka panjang untuk memasok kebutuhan data center AI.<\/p>\n<p>Perubahan ini memperlihatkan betapa cepatnya dinamika industri teknologi. Aset yang dahulu dianggap beban dapat berubah menjadi aset strategis ketika kebutuhan pasar berubah.<\/p>\n<h4>Pelajaran Strategis bagi Dunia Bisnis<\/h4>\n<p>Kisah Toshiba memberikan pelajaran penting bahwa keputusan bisnis sering kali dipengaruhi oleh kondisi jangka pendek, sementara nilai sesungguhnya suatu aset baru terlihat bertahun-tahun kemudian.<\/p>\n<p>Ketika menjual Kioxia, Toshiba tidak memiliki banyak pilihan. Perusahaan membutuhkan dana segar untuk bertahan hidup. Dari sudut pandang manajemen saat itu, keputusan tersebut rasional. Namun, perkembangan AI telah mengubah seluruh lanskap industri semikonduktor.<\/p>\n<p>Fenomena serupa juga terlihat pada energi nuklir. Setelah bertahun-tahun dianggap industri &#8220;senja&#8221;, kini sektor ini kembali memperoleh momentum karena kebutuhan listrik AI yang sangat besar.<\/p>\n<p>Kasus Toshiba mengingatkan bahwa revolusi AI bukan sekadar perlombaan menciptakan model kecerdasan buatan yang lebih canggih. AI sedang membentuk ulang seluruh rantai industri, mulai dari produsen chip, penyedia memori, operator pusat data, hingga perusahaan energi.<\/p>\n<p>Investor yang hanya fokus pada perusahaan AI mungkin melewatkan peluang besar di sektor pendukung yang justru menjadi fondasi ekosistem tersebut. Memori semikonduktor dan energi listrik kini menjadi dua komoditas strategis dalam perlombaan AI global.<\/p>\n<p>Bagi Toshiba sendiri, kisah ini terasa pahit sekaligus ironis. Perusahaan berhasil bertahan dari krisis, tetapi aset-aset yang pernah menjadi kebanggaannya kini berkembang menjadi pemain utama di era AI\u2014di luar kendali perusahaan. Di dunia teknologi, waktu sering kali menjadi penentu apakah sebuah keputusan dianggap sebagai penyelamatan atau kehilangan kesempatan emas.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge Journal &#8211; News and Insight) Selama puluhan tahun, Toshiba dikenal sebagai salah satu ikon industri teknologi Jepang. Perusahaan ini pernah menjadi simbol inovasi dunia melalui bisnis semikonduktor, pembangkit listrik, hingga perangkat elektronik. Namun, krisis besar yang melanda sekitar satu dekade lalu memaksa Toshiba mengambil keputusan yang saat itu terasa menyakitkan: menjual aset-aset terbaiknya demi bertahan hidup. Ironisnya, aset yang dilepas kini justru menjadi bintang utama di era kecerdasan buatan (AI). Salah satu &#8220;mahkota permata&#8221; yang hilang adalah bisnis [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":48,"featured_media":127677,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[2725,1050],"tags":[4227],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/218118"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/48"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=218118"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/218118\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":218119,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/218118\/revisions\/218119"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/127677"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=218118"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=218118"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=218118"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}