{"id":218097,"date":"2026-06-25T17:34:16","date_gmt":"2026-06-25T10:34:16","guid":{"rendered":"https:\/\/www.blj.co.id\/?p=218097"},"modified":"2026-06-25T17:34:41","modified_gmt":"2026-06-25T10:34:41","slug":"starbucks-lakukan-perombakan-manajemen-terbesar-dalam-beberapa-tahun-terakhir","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2026\/06\/25\/starbucks-lakukan-perombakan-manajemen-terbesar-dalam-beberapa-tahun-terakhir\/","title":{"rendered":"Starbucks Lakukan Perombakan Manajemen Terbesar dalam Beberapa Tahun Terakhir"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Businesslounge Journal-Global News) Starbucks tengah menyiapkan perubahan besar dalam sistem pengelolaan gerainya, yang disebut-sebut sebagai transformasi manajemen terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Langkah ini diyakini dapat membantu memperbaiki pengalaman pelanggan saat jam-jam sibuk di pagi hari.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Raksasa kopi tersebut mengumumkan perekrutan secara nasional untuk posisi baru penuh waktu bernama &#8220;coffeehouse coach&#8221;. Peran ini dirancang untuk mengurangi beban kerja para manajer toko sekaligus memberikan dukungan langsung kepada barista yang bekerja di garis depan pelayanan. Starbucks berencana merekrut sekitar 300 coach dalam satu bulan ke depan dan menambah ribuan posisi serupa hingga akhir tahun.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kebijakan ini merupakan bagian dari strategi Starbucks untuk menjadi \u201ctempat kerja terbaik di sektor ritel.\u201d Target tersebut cukup menantang mengingat tingkat pergantian karyawan (turnover) di industri ritel Amerika Serikat tercatat 70 persen lebih tinggi dibandingkan sektor bisnis lainnya, menurut data McKinsey.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Laporan yang sama menunjukkan bahwa tingginya turnover dipicu oleh tingkat stres yang besar akibat banyaknya pesanan yang harus ditangani serta interaksi dengan pelanggan yang terkadang sulit. Keluhan semacam ini juga banyak ditemukan di media sosial dan forum daring. Salah seorang pengguna Reddit yang mengaku bekerja di Starbucks bahkan menyatakan bahwa dirinya memutuskan berhenti karena merasa pekerjaan tersebut menguras mentalnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Meski sekilas tampak sebagai program peningkatan kesejahteraan karyawan, pembentukan posisi coffeehouse coach sebenarnya mencerminkan perubahan operasional yang lebih mendasar. Starbucks menilai model manajemen garis depan yang selama ini diterapkan di banyak perusahaan ritel sudah tidak lagi efektif.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">1. Mengurangi Ketergantungan pada Satu Manajer<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selama bertahun-tahun, toko ritel mengandalkan satu manajer untuk menangani berbagai tugas sekaligus, mulai dari pengelolaan inventaris, kepatuhan terhadap aturan perusahaan, penggajian, penjadwalan karyawan, hingga pembinaan staf saat jam sibuk pagi maupun malam.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dengan rencana memperluas jumlah pemimpin operasional di gerai, Starbucks mengakui bahwa membebankan terlalu banyak tanggung jawab kepada satu orang bukanlah solusi yang efektif dalam lingkungan kerja berintensitas tinggi. Kehadiran pemimpin tambahan di area operasional diharapkan mampu menjaga kualitas layanan tetap konsisten.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">2. Menjadikan Waktu Istirahat Manajer sebagai Indikator Penting<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tingginya tingkat pengunduran diri di lini depan menjadi persoalan yang mahal bagi perusahaan. Ketika seorang manajer mengalami kelelahan dan memilih keluar, hilangnya pengalaman serta pengetahuan kerja sering kali berdampak pada tim di bawahnya, sehingga mendorong lebih banyak karyawan untuk ikut meninggalkan perusahaan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam uji coba yang dilakukan di 62 gerai, Starbucks menemukan bahwa kehadiran coach khusus memungkinkan manajer utama benar-benar beristirahat saat berada di luar jam kerja. Perusahaan kini memandang waktu pemulihan manajer bukan sekadar fasilitas tambahan, melainkan faktor penting dalam menjaga stabilitas operasional.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">3. Membangun Jalur Pengembangan Talenta dari Dalam<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Aspek strategis lainnya adalah menciptakan jalur karier yang lebih jelas bagi karyawan. Posisi coffeehouse coach dirancang sebagai tahapan karier yang dapat diakses para barista, dengan peluang untuk naik menjadi manajer penuh waktu dalam rata-rata dua hingga tiga tahun.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selain menawarkan gaji dasar yang lebih tinggi dan jam kerja yang lebih terjamin, Starbucks menargetkan 90 persen posisi tersebut diisi melalui promosi internal. Pendekatan ini bertujuan membangun ekosistem talenta yang berkelanjutan dari dalam perusahaan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bagi industri jasa secara umum, langkah Starbucks memberikan pelajaran penting bahwa membangun calon pemimpin tidak cukup hanya mengandalkan rekrutmen eksternal. Perusahaan perlu menyediakan jalur pengembangan karier yang jelas agar pekerjaan di garis depan dipandang sebagai profesi dengan prospek jangka panjang.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Businesslounge Journal-Global News) Starbucks tengah menyiapkan perubahan besar dalam sistem pengelolaan gerainya, yang disebut-sebut sebagai transformasi manajemen terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Langkah ini diyakini dapat membantu memperbaiki pengalaman pelanggan saat jam-jam sibuk di pagi hari. Raksasa kopi tersebut mengumumkan perekrutan secara nasional untuk posisi baru penuh waktu bernama &#8220;coffeehouse coach&#8221;. Peran ini dirancang untuk mengurangi beban kerja para manajer toko sekaligus memberikan dukungan langsung kepada barista yang bekerja di garis depan pelayanan. Starbucks berencana merekrut sekitar 300 coach dalam [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":101013,"featured_media":218098,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[120,2725,1050],"tags":[3718,1669],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/218097"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/101013"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=218097"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/218097\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":218100,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/218097\/revisions\/218100"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/218098"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=218097"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=218097"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=218097"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}