{"id":217969,"date":"2026-06-23T08:28:21","date_gmt":"2026-06-23T01:28:21","guid":{"rendered":"https:\/\/www.blj.co.id\/?p=217969"},"modified":"2026-06-24T08:42:58","modified_gmt":"2026-06-24T01:42:58","slug":"membangun-fondasi-operational-risk-management-pengertian-operational-risk-management","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2026\/06\/23\/membangun-fondasi-operational-risk-management-pengertian-operational-risk-management\/","title":{"rendered":"Membangun Fondasi Operational Risk Management \u2013 Pengertian Operational Risk management"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge Journal &#8211; Risk Management)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Pendahuluan<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketika masyarakat mendengar kata <strong>&#8220;risiko&#8221;<\/strong> dalam dunia perbankan, sebagian besar langsung membayangkan kredit macet atau gejolak pasar keuangan. Anggapan tersebut tidak sepenuhnya keliru. Selama bertahun-tahun, kedua jenis risiko itu memang menjadi perhatian utama industri perbankan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun, pengalaman menunjukkan bahwa tidak sedikit kerugian besar justru berasal dari hal-hal yang tampak sederhana. Kesalahan memasukkan data transaksi, lemahnya pengawasan terhadap suatu proses, kegagalan sistem teknologi informasi, penyalahgunaan wewenang oleh pegawai, hingga gangguan operasional akibat bencana alam atau serangan siber dapat menimbulkan dampak finansial yang sangat besar. Dalam banyak kasus, kerugian tersebut bahkan disertai hilangnya kepercayaan masyarakat\u2014aset yang jauh lebih sulit dipulihkan daripada kerugian finansial itu sendiri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sejarah industri keuangan mencatat berbagai contoh yang menunjukkan besarnya dampak risiko operasional. Runtuhnya <strong>Barings Bank<\/strong> akibat lemahnya pengendalian transaksi, berbagai kasus fraud bernilai besar di industri perbankan, maupun gangguan sistem teknologi informasi yang menyebabkan layanan perbankan terhenti, menjadi pengingat bahwa risiko operasional dapat menimbulkan kerugian finansial, sanksi regulator, hingga hilangnya kepercayaan nasabah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di sinilah pentingnya memahami Operational Risk Management (ORM). ORM bukan sekadar seperangkat prosedur atau kewajiban regulasi. Lebih dari itu, ORM merupakan cara berpikir yang membantu organisasi mengenali potensi kegagalan sebelum berubah menjadi kerugian nyata.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Seri artikel ini<\/strong> tidak disusun sebagai kumpulan definisi atau ringkasan regulasi. Tujuan utamanya adalah mengajak pembaca memahami mengapa Operational Risk Management menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari tata kelola perbankan modern, bagaimana konsep tersebut berkembang, serta bagaimana penerapannya dapat memberikan nilai nyata bagi organisasi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perjalanan pembelajaran akan dimulai dari fondasi. Sebelum membahas berbagai metode, kerangka kerja, maupun alat yang digunakan dalam praktik, kita perlu memahami terlebih dahulu alasan mengapa Operational Risk Management menjadi semakin penting dari waktu ke waktu.<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><strong>&#8220;Risk comes from not knowing what you&#8217;re doing.&#8221;<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><strong>\u2013 Warren Buffett<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Warren Buffett adalah salah satu investor paling sukses di dunia. Kutipan ini mengingatkan bahwa risiko sering kali bukan muncul karena ketidakpastian semata, melainkan karena kurangnya pemahaman terhadap aktivitas yang dijalankan. Prinsip tersebut sangat relevan dalam Operational Risk Management, di mana pemahaman terhadap proses bisnis menjadi langkah awal untuk mengelola risiko secara efektif.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><strong>Bab 1<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><strong>Mengapa Operational Risk Semakin Penting<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dunia perbankan telah mengalami perubahan yang sangat cepat dalam dua dekade terakhir. Digitalisasi layanan, perkembangan teknologi informasi, <strong>penggunaan Artificial Intelligence (AI) yang semakin masif<\/strong>, meningkatnya ekspektasi nasabah, serta semakin kompleksnya regulasi telah mengubah cara bank menjalankan operasinya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di masa lalu, sebagian besar aktivitas perbankan dilakukan secara manual. Transaksi diproses melalui dokumen fisik, jumlah kanal layanan masih terbatas, dan interaksi dengan nasabah berlangsung secara langsung di kantor cabang. Kompleksitas operasional relatif lebih mudah dikendalikan karena ruang lingkup aktivitas juga masih terbatas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kondisi tersebut berbeda dengan perbankan saat ini. Dalam hitungan detik, jutaan transaksi dapat diproses melalui berbagai kanal, baik kanal digital maupun cabang. Beragam sistem saling terhubung untuk mendukung layanan selama dua puluh empat jam sehari. Kecepatan memang meningkat, tetapi di saat yang sama potensi kegagalan juga bertambah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Gangguan pada satu sistem dapat memengaruhi layanan di berbagai wilayah. Kesalahan kecil dalam suatu proses dapat menimbulkan dampak berantai terhadap aktivitas lainnya. Ancaman dari luar organisasi, seperti serangan siber, juga menjadi tantangan yang sebelumnya tidak pernah dibayangkan dalam skala sebesar sekarang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Berbagai peristiwa dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa gangguan operasional dapat terjadi bahkan pada institusi keuangan besar yang memiliki teknologi dan pengendalian yang matang. Gangguan layanan digital yang menyebabkan nasabah tidak dapat mengakses rekening atau melakukan transaksi, maupun kasus fraud yang mengakibatkan kerugian finansial dan sanksi regulator, memperlihatkan bahwa risiko operasional merupakan tantangan nyata yang harus dikelola secara berkesinambungan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perubahan ini menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah bank tidak lagi hanya ditentukan oleh kemampuannya menghasilkan keuntungan atau menyalurkan kredit. Keberhasilan sebuah Bank juga ditentukan oleh kemampuannya menjaga proses operasional tetap berjalan secara aman, andal, dan konsisten dan resilien.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Karena itu, Operational Risk Management tidak lagi dipandang sebagai fungsi yang hanya bertugas mencatat insiden atau menyusun laporan. Perannya telah berkembang menjadi bagian penting dalam membantu manajemen memahami di mana titik-titik kerentanan organisasi berada dan bagaimana risiko tersebut dapat dikelola sebelum berubah menjadi kerugian.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perubahan cara pandang ini juga membawa konsekuensi terhadap budaya organisasi. Risiko operasional bukan lagi tanggung jawab satu unit tertentu. Setiap proses bisnis, setiap sistem, dan setiap individu memiliki peran dalam menjaga agar aktivitas operasional berjalan sesuai yang diharapkan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dengan kata lain, Operational Risk Management bukan hanya pekerjaan Unit Manajemen Risiko. Ia merupakan bagian dari cara organisasi bekerja setiap hari.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Seri 1 \u2013 Membangun Fondasi Operational Risk Management &#8211; Memahami Hakikat Operational Risk<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Pendahuluan<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kita telah memahami mengapa Operational Risk Management menjadi semakin penting dalam industri perbankan modern. Perubahan teknologi, digitalisasi layanan, meningkatnya ekspektasi nasabah, serta kompleksitas proses bisnis menjadikan risiko operasional sebagai salah satu perhatian utama dalam pengelolaan bank.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun, memahami pentingnya Operational Risk Management saja belum cukup. Langkah berikutnya adalah memahami apa yang sebenarnya dimaksud dengan <strong>Operational Risk<\/strong>. Tanpa pemahaman yang benar mengenai konsep dasarnya, akan sulit bagi organisasi untuk mengidentifikasi, mengukur, mengendalikan, maupun memantau risiko operasional secara efektif.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Salah satu kesalahpahaman yang masih sering dijumpai adalah anggapan bahwa <strong>Operational Risk hanya menjadi tanggung jawab unit operasional bank<\/strong>. Padahal, istilah <em>operational<\/em> dalam Operational Risk Management tidak merujuk pada nama suatu unit organisasi, melainkan pada <strong>seluruh aktivitas operasional atau proses bisnis<\/strong> yang dijalankan oleh bank.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Setiap unit kerja yang menjalankan suatu proses memiliki potensi menghadapi risiko operasional. Unit bisnis (<em>business function<\/em>) menghadapi risiko dalam proses pemasaran, pemberian kredit, pengelolaan hubungan dengan nasabah, maupun pengembangan produk. Demikian pula unit pendukung (<em>support function<\/em>) seperti sumber daya manusia, teknologi informasi, keuangan, hukum, kepatuhan, pengadaan, hingga manajemen risiko juga menjalankan berbagai proses yang memiliki potensi kegagalan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa <strong>Operational Risk melekat pada seluruh aktivitas organisasi<\/strong>. Selama terdapat proses yang dijalankan, selalu terdapat kemungkinan terjadinya kesalahan, kegagalan, atau gangguan yang perlu dikelola dengan baik. Oleh karena itu, Operational Risk Management bukan hanya menjadi tanggung jawab satu unit tertentu, melainkan merupakan tanggung jawab seluruh unit kerja dalam organisasi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perlu dipahami pula bahwa risiko operasional tidak selalu identik dengan kerugian finansial. Banyak kejadian operasional pada awalnya hanya berupa gangguan proses atau penyimpangan kecil. Namun apabila tidak dikenali dan tidak ditangani sejak dini, kejadian tersebut dapat berkembang menjadi kerugian finansial, gangguan operasional yang lebih luas, pelanggaran terhadap ketentuan regulator, bahkan menurunkan kepercayaan nasabah. Oleh karena itu, memahami hakikat Operational Risk merupakan langkah pertama untuk membangun budaya sadar risiko (<em>risk awareness<\/em>) di seluruh organisasi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Key Takeaway<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Selama suatu unit kerja menjalankan proses, maka pada saat yang sama unit tersebut juga memiliki risiko operasional yang harus dikelola.<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge Journal &#8211; Risk Management) Pendahuluan Ketika masyarakat mendengar kata &#8220;risiko&#8221; dalam dunia perbankan, sebagian besar langsung membayangkan kredit macet atau gejolak pasar keuangan. Anggapan tersebut tidak sepenuhnya keliru. Selama bertahun-tahun, kedua jenis risiko itu memang menjadi perhatian utama industri perbankan. Namun, pengalaman menunjukkan bahwa tidak sedikit kerugian besar justru berasal dari hal-hal yang tampak sederhana. Kesalahan memasukkan data transaksi, lemahnya pengawasan terhadap suatu proses, kegagalan sistem teknologi informasi, penyalahgunaan wewenang oleh pegawai, hingga gangguan operasional akibat bencana alam [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":101080,"featured_media":217973,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[7937],"tags":[13345,78],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/217969"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/101080"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=217969"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/217969\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":217970,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/217969\/revisions\/217970"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/217973"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=217969"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=217969"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=217969"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}