{"id":217924,"date":"2026-06-19T20:57:02","date_gmt":"2026-06-19T13:57:02","guid":{"rendered":"https:\/\/www.blj.co.id\/?p=217924"},"modified":"2026-06-19T20:57:02","modified_gmt":"2026-06-19T13:57:02","slug":"telur-vs-daging-tanpa-lemak-energi-protein-dan-kolesterol","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2026\/06\/19\/telur-vs-daging-tanpa-lemak-energi-protein-dan-kolesterol\/","title":{"rendered":"Telur vs Daging Tanpa Lemak:  Energi, Protein, dan Kolesterol"},"content":{"rendered":"<p>(Business Lounge Journal &#8211; Medicine)<\/p>\n<p>Di tengah maraknya informasi kesehatan di media sosial, muncul berbagai klaim menarik tentang makanan yang dianggap paling ideal untuk tubuh. Salah satu yang cukup sering dibahas adalah perbandingan antara telur dan daging tanpa lemak. Ada yang menyebut tubuh manusia sulit mengubah protein daging menjadi energi, sementara kuning telur disebut sebagai sumber bahan bakar yang jauh lebih unggul. Benarkah demikian?<\/p>\n<p>Jawabannya tidak sesederhana itu.<\/p>\n<p>Secara ilmiah, protein dari daging tanpa lemak seperti dada ayam, ikan, atau daging sapi tanpa lemak merupakan salah satu sumber protein berkualitas terbaik yang tersedia. Protein hewani mengandung seluruh asam amino esensial yang dibutuhkan tubuh serta memiliki tingkat penyerapan yang sangat tinggi.<\/p>\n<p>Kesalahpahaman sering muncul karena protein memang bukan sumber energi utama tubuh. Tubuh lebih memilih menggunakan karbohidrat dan lemak sebagai bahan bakar sehari-hari. Namun, hal ini bukan berarti protein dari daging tidak dapat dimanfaatkan sebagai energi. Dalam kondisi tertentu, tubuh mampu mengubah asam amino menjadi glukosa melalui proses yang disebut glukoneogenesis. Dengan kata lain, protein tetap dapat menjadi sumber energi ketika dibutuhkan.<\/p>\n<p>Fungsi utama protein sebenarnya adalah membangun dan memperbaiki jaringan tubuh, termasuk otot, kulit, enzim, hormon, dan berbagai komponen penting lainnya. Itulah sebabnya tubuh &#8220;memprioritaskan&#8221; penggunaan protein untuk pemeliharaan dan perbaikan sel dibandingkan dengan langsung membakarnya sebagai bahan bakar.<\/p>\n<p>Meski demikian, pujian terhadap telur, khususnya kuning telur, memang memiliki dasar ilmiah yang kuat.<\/p>\n<p>Telur sering disebut sebagai salah satu makanan paling padat nutrisi di dunia. Dalam satu butir telur terkandung protein berkualitas tinggi, lemak sehat, vitamin, mineral, dan berbagai senyawa bioaktif yang mendukung kesehatan tubuh.<\/p>\n<p>Kuning telur merupakan sumber kolin yang sangat baik. Nutrisi ini berperan penting dalam fungsi otak, pembentukan membran sel, serta kesehatan hati. Banyak orang bahkan tidak mendapatkan asupan kolin yang cukup dari makanan sehari-hari, sehingga telur menjadi salah satu sumber yang sangat berharga.<\/p>\n<p>Selain itu, kuning telur mengandung lutein dan zeaxanthin, dua antioksidan yang membantu melindungi retina dan makula mata dari kerusakan akibat penuaan maupun paparan cahaya berenergi tinggi. Kandungan vitamin A, D, E, dan K juga menjadikan telur sebagai paket nutrisi yang lengkap.<\/p>\n<p>Keunggulan lain telur adalah kemampuannya membantu menjaga kestabilan gula darah. Karena hampir tidak mengandung karbohidrat, telur tidak menyebabkan lonjakan gula darah yang tajam setelah dikonsumsi. Kombinasi protein dan lemak sehatnya memberikan rasa kenyang lebih lama dan membantu menyediakan energi yang lebih stabil sepanjang hari.<\/p>\n<p>Lalu bagaimana dengan kolesterol?<\/p>\n<p>Selama bertahun-tahun, telur mendapat reputasi buruk karena kandungan kolesterolnya. Namun, penelitian modern menunjukkan bahwa bagi sebagian besar orang sehat, kolesterol dari makanan hanya memiliki pengaruh kecil terhadap kadar kolesterol darah. Tubuh memiliki mekanisme pengaturan alami; ketika asupan kolesterol dari makanan meningkat, hati biasanya akan mengurangi produksi kolesterolnya sendiri.<\/p>\n<p>Karena itu, konsumsi tiga hingga empat butir telur per hari umumnya dianggap aman bagi mayoritas orang sehat. Tentu saja, individu dengan kondisi medis tertentu tetap perlu berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi.<\/p>\n<p>Tidak ada alasan untuk mempertentangkan telur dan daging tanpa lemak. Keduanya merupakan sumber nutrisi berkualitas tinggi yang memiliki fungsi berbeda namun saling melengkapi. Daging tanpa lemak unggul sebagai sumber protein untuk pemeliharaan otot dan jaringan tubuh, sementara telur menawarkan kombinasi unik antara protein, lemak sehat, kolin, dan berbagai mikronutrien penting. Dalam pola makan yang seimbang, keduanya dapat menjadi bagian dari strategi nutrisi yang mendukung energi, kesehatan otak, dan kebugaran jangka panjang.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge Journal &#8211; Medicine) Di tengah maraknya informasi kesehatan di media sosial, muncul berbagai klaim menarik tentang makanan yang dianggap paling ideal untuk tubuh. Salah satu yang cukup sering dibahas adalah perbandingan antara telur dan daging tanpa lemak. Ada yang menyebut tubuh manusia sulit mengubah protein daging menjadi energi, sementara kuning telur disebut sebagai sumber bahan bakar yang jauh lebih unggul. Benarkah demikian? Jawabannya tidak sesederhana itu. Secara ilmiah, protein dari daging tanpa lemak seperti dada ayam, ikan, atau [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":48,"featured_media":215234,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[1055],"tags":[9328,5995],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/217924"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/48"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=217924"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/217924\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":217925,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/217924\/revisions\/217925"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/215234"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=217924"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=217924"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=217924"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}