{"id":217527,"date":"2026-06-11T11:19:19","date_gmt":"2026-06-11T04:19:19","guid":{"rendered":"https:\/\/www.blj.co.id\/?p=217527"},"modified":"2026-06-11T11:53:27","modified_gmt":"2026-06-11T04:53:27","slug":"chef-nouel-catis-sosok-di-balik-dubai-chocolate-viral-yang-mengubah-tren-kuliner-dunia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2026\/06\/11\/chef-nouel-catis-sosok-di-balik-dubai-chocolate-viral-yang-mengubah-tren-kuliner-dunia\/","title":{"rendered":"Chef Nouel Catis, Sosok di Balik Dubai Chocolate Viral yang Mengubah Tren Kuliner Dunia"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge Journal &#8211; Entrepreneurship)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketika dunia kuliner diramaikan oleh fenomena Dubai Chocolate yang viral di berbagai negara, tidak banyak orang mengetahui sosok kreatif di balik kesuksesan tersebut. Chef Nouel Catis, yang dikenal sebagai pencipta resep Dubai Chocolate viral, telah membangun karier dan bisnis kulinernya di Dubai selama hampir dua dekade. Namun bagi Chef Nouel, kesuksesan bukan hanya tentang menciptakan makanan yang viral, melainkan tentang menghadirkan kenangan, budaya, dan pengalaman yang mampu menyentuh hati para pelanggan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam wawancara eksklusif bersama Business Lounge Journal, Chef Nouel berbagi kisah perjalanan hidupnya, filosofi bisnis, hingga pandangannya mengenai masa depan industri kuliner yang semakin dipengaruhi teknologi dan media sosial.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\">Berawal dari Dapur Sang Ibu<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perjalanan Chef Nouel di dunia kuliner ternyata tidak dimulai dari sekolah memasak ternama atau ambisi besar untuk menjadi chef terkenal. Inspirasi tersebut justru lahir dari dapur rumahnya sendiri.\u00a0&#8220;Ibu saya adalah seorang pembuat kue dan juga memiliki restoran. Awalnya saya ingin menjadi dokter atau bekerja di bidang medis. Namun ketika mulai membuat kue, saya merasa sangat bahagia dan begitu terobsesi dengan prosesnya. Saat itulah saya menyadari bahwa tempat saya sebenarnya ada di dapur,&#8221; ungkapnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dukungan penuh dari sang ibu menjadi fondasi penting dalam perjalanan kariernya. Dari kecintaan terhadap memasak itulah lahir berbagai merek kuliner yang kini ia kelola di Dubai, sebuah kota yang dikenal sebagai salah satu pusat kuliner paling kompetitif di dunia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut Chef Noelle, membangun bisnis di Dubai bukanlah perkara mudah. Persaingan yang ketat menuntut setiap pelaku usaha untuk terus menghadirkan sesuatu yang berbeda.\u00a0&#8220;Jika Anda menawarkan sesuatu yang unik dan berbeda kepada pasar, mereka akan selalu memilih Anda,&#8221; katanya.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\">Rahasia di Balik Dubai Chocolate dan Tren Kuliner Berikutnya<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Nama Chef Nouel semakin dikenal secara global setelah Dubai Chocolate menjadi fenomena viral. Menariknya, ia menilai bahwa resep tersebut sebenarnya sangat sederhana.\u00a0Menurutnya, kunci utama bukan terletak pada kerumitan resep, melainkan kualitas bahan yang digunakan. Dubai Chocolate dibuat menggunakan pistachio berkualitas tinggi dan kataifi asli, sejenis adonan tipis khas Timur Tengah yang sering digunakan dalam berbagai dessert tradisional.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun setelah sukses menciptakan salah satu tren kuliner terbesar dalam beberapa tahun terakhir, tantangan yang dihadapi Chef Nouel kini berubah.\u00a0&#8220;Sekarang bukan lagi soal mengikuti tren viral. Tekanannya justru bagaimana saya bisa menciptakan tren viral berikutnya,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketika ditanya mengenai kemungkinan tren selanjutnya, Chef Nouel menyebut Ube atau ubi ungu khas Filipina sebagai kandidat kuat. Ia bahkan tengah menjalankan kampanye untuk memperkenalkan Ube kepada masyarakat Timur Tengah yang masih relatif asing dengan bahan tersebut.\u00a0Bagi Chef Nouel, Dubai merupakan tempat yang unik karena mempertemukan berbagai budaya dalam satu kota. Oleh karena itu, ia melihat peluang besar untuk menjembatani berbagai tradisi kuliner melalui makanan.\u00a0&#8220;Misi saya adalah membuat orang-orang yang belum mengenal Ube memahami apa itu Ube dan akhirnya jatuh cinta padanya.&#8221;<\/p>\n<p><iframe title=\"Chef Nouel: The Man Behind Dubai\u2019s Viral Chocolate\u2026 What\u2019s Next Going Viral?\" width=\"563\" height=\"1000\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/cVFmowoUvM8?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" referrerpolicy=\"strict-origin-when-cross-origin\" allowfullscreen><\/iframe><\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\">Menjadi Viral Tidak Cukup, Autentisitas Tetap Nomor Satu<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di era media sosial, banyak restoran mendapatkan popularitas melalui influencer dan konten digital. Namun Chef Nouel menilai bahwa popularitas semata tidak akan bertahan lama tanpa fondasi yang kuat.\u00a0Menurutnya, tantangan terbesar saat ini adalah membedakan antara popularitas yang autentik dan popularitas yang dibangun secara artifisial.\u00a0&#8220;Ada banyak konten tentang makanan dan influencer yang datang ke suatu tempat lalu mempromosikannya. Tetapi pertanyaan yang harus dijawab adalah, apakah itu tulus dan autentik?&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ia percaya bahwa konsistensi adalah indikator terbaik untuk menilai kualitas sebuah merek. Restoran atau bisnis yang mampu mempertahankan standar kualitasnya dalam jangka panjang biasanya memang dibangun dengan passion yang nyata.\u00a0Pandangan tersebut juga tercermin dalam cara ia memimpin bisnis. Di balik kemewahan citra seorang celebrity chef, terdapat tanggung jawab besar terhadap puluhan karyawan yang menggantungkan hidup pada bisnis yang dijalankannya.\u00a0&#8220;Orang melihat kami tersenyum di depan kamera. Namun setelah kamera dimatikan, kami sibuk memikirkan bagaimana tetap bertahan, berinovasi, dan memastikan tim kami tetap memiliki pekerjaan.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Untuk mempertahankan tim yang solid, Chef Noelle memilih pendekatan pemberdayaan.\u00a0&#8220;Berikan mereka kesempatan mengambil keputusan. Jangan menjadi sosok yang selalu mengontrol. Jadilah kekuatan yang mendukung mereka dari belakang.&#8221;<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\">Pelajaran Bisnis untuk Generasi Baru Entrepreneur<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebagai seorang entrepreneur yang telah melewati berbagai perubahan industri, Chef Nouel melihat bahwa teknologi dan media sosial bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.\u00a0Ia mengingatkan para pelaku usaha agar tidak mengulangi kesalahan perusahaan-perusahaan besar yang gagal beradaptasi terhadap perubahan zaman.\u00a0&#8220;Jika Anda tidak merangkul teknologi dan AI, Anda bisa menjadi seperti Nokia ketika iPhone hadir atau Kodak ketika fotografi digital berkembang.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurutnya, generasi muda, khususnya Gen Z, memiliki ekspektasi yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Mereka selalu mencari sesuatu yang baru dan tidak menyukai stagnasi.\u00a0Karena itu, para entrepreneur harus mampu bergerak cepat tanpa mengorbankan kualitas dan orisinalitas.\u00a0Meski demikian, di tengah perubahan teknologi yang begitu pesat, Chef Nouel tetap memegang tiga nilai utama dalam hidupnya: keluarga, kesehatan, dan kerendahan hati.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Baginya, kesuksesan sejati tidak hanya diukur dari bisnis yang berkembang atau tren yang berhasil diciptakan, tetapi juga dari kemampuan untuk tetap mengingat asal-usul dan menjaga hubungan dengan orang-orang terdekat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketika ditanya mengenai kegagalan, jawabannya sederhana namun penuh makna.\u00a0&#8220;Saya menyambut kegagalan karena itulah satu-satunya cara untuk belajar. Jika Anda tidak pernah mencoba, bagaimana Anda tahu apakah sesuatu akan berhasil atau tidak?&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pesan tersebut menjadi penutup yang tepat dari perjalanan seorang chef yang tidak hanya berhasil menciptakan makanan viral, tetapi juga membangun bisnis yang berakar pada passion, autentisitas, dan keberanian untuk terus berinovasi. Bagi Chef Nouel, masa depan bukanlah sesuatu yang harus ditakuti, melainkan sesuatu yang harus dirangkul dengan pikiran terbuka dan semangat untuk terus berkembang.<\/p>\n<p><iframe title=\"What No One Tells You About Being a Chef in Dubai\" width=\"563\" height=\"1000\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/Lwpkiymbs3I?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" referrerpolicy=\"strict-origin-when-cross-origin\" allowfullscreen><\/iframe><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge Journal &#8211; Entrepreneurship) Ketika dunia kuliner diramaikan oleh fenomena Dubai Chocolate yang viral di berbagai negara, tidak banyak orang mengetahui sosok kreatif di balik kesuksesan tersebut. Chef Nouel Catis, yang dikenal sebagai pencipta resep Dubai Chocolate viral, telah membangun karier dan bisnis kulinernya di Dubai selama hampir dua dekade. Namun bagi Chef Nouel, kesuksesan bukan hanya tentang menciptakan makanan yang viral, melainkan tentang menghadirkan kenangan, budaya, dan pengalaman yang mampu menyentuh hati para pelanggan. Dalam wawancara eksklusif bersama [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":26,"featured_media":217530,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[8039,2725,8425,8067],"tags":[13282],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/217527"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/26"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=217527"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/217527\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":217529,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/217527\/revisions\/217529"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/217530"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=217527"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=217527"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=217527"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}