{"id":216677,"date":"2026-05-06T19:57:20","date_gmt":"2026-05-06T12:57:20","guid":{"rendered":"https:\/\/www.blj.co.id\/?p=216677"},"modified":"2026-05-06T19:59:43","modified_gmt":"2026-05-06T12:59:43","slug":"hantavirus-virus-lama-yang-kembali-mengancam-ini-fakta-dan-risiko-terbarunya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2026\/05\/06\/hantavirus-virus-lama-yang-kembali-mengancam-ini-fakta-dan-risiko-terbarunya\/","title":{"rendered":"Hantavirus: Virus Lama yang Kembali Mengancam, Ini Fakta dan Risiko Terbarunya"},"content":{"rendered":"<p>(Business Lounge Journal &#8211; Medicine)<\/p>\n<p>Dalam beberapa hari terakhir, dunia kembali diingatkan akan bahaya penyakit langka namun mematikan: hantavirus. Perhatian global meningkat setelah munculnya wabah di kapal pesiar ekspedisi <em>MV Hondius<\/em> yang berlayar di Samudra Atlantik. Hingga awal Mei 2026, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan sejumlah kasus dengan beberapa kematian, memicu kekhawatiran akan potensi penyebaran yang lebih luas.<\/p>\n<p>Kasus ini menjadi perhatian serius karena terjadi di lingkungan tertutup dengan mobilitas manusia yang tinggi. Beberapa penumpang dilaporkan mengalami gejala pernapasan berat, bahkan membutuhkan perawatan intensif. Lebih mengkhawatirkan, dugaan keterlibatan strain Andes\u2014jenis hantavirus yang langka\u2014memunculkan kemungkinan penularan antarmanusia, sesuatu yang biasanya sangat jarang terjadi pada virus ini.<\/p>\n<h3>Apa Itu Hantavirus?<\/h3>\n<p>Hantavirus adalah kelompok virus yang ditularkan terutama melalui hewan pengerat seperti tikus. Penularan ke manusia biasanya terjadi saat seseorang menghirup partikel yang terkontaminasi urine, kotoran, atau air liur hewan tersebut.<\/p>\n<p>Penyakit ini dapat menyebabkan dua sindrom utama:<\/p>\n<ol>\n<li>Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang paru-paru<\/li>\n<li>Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang memengaruhi ginjal<\/li>\n<\/ol>\n<p>Keduanya bisa berakibat fatal jika tidak ditangani dengan cepat.<\/p>\n<h3>Virus Lama atau Baru?<\/h3>\n<p>Munculnya kasus terbaru membuat banyak orang bertanya: apakah hantavirus adalah virus baru seperti COVID-19 dulu? Jawabannya: <strong>tidak<\/strong>. Hantavirus sebenarnya sudah dikenal sejak lama.<\/p>\n<p>Virus ini pertama kali diidentifikasi pada awal 1950-an saat Perang Korea, ketika ribuan tentara mengalami penyakit misterius yang kemudian dikenal sebagai <em>Korean hemorrhagic fever<\/em>. Nama \u201chantavirus\u201d sendiri berasal dari Sungai Hantan di Korea Selatan, lokasi awal penelitian virus tersebut.<\/p>\n<p>Namun, bentuk yang lebih dikenal secara global\u2014terutama yang menyerang paru-paru (HPS)\u2014baru mendapat perhatian besar pada tahun 1993 setelah wabah di wilayah Four Corners, Amerika Serikat. Sejak saat itu, berbagai jenis hantavirus telah ditemukan di berbagai belahan dunia, dengan karakteristik dan tingkat keparahan yang berbeda-beda.<\/p>\n<p>Artinya, virus ini bukan baru, tetapi kasus-kasusnya sering muncul secara sporadis dan kadang mengejutkan karena tingkat fatalitasnya yang tinggi. Yang berubah saat ini adalah meningkatnya perhatian global serta kemungkinan munculnya varian atau strain tertentu yang memiliki perilaku berbeda, seperti Andes virus yang diduga bisa menular antar manusia.<\/p>\n<h3>Gejala yang Menipu<\/h3>\n<p>Salah satu tantangan terbesar dari hantavirus adalah gejalanya yang awalnya tampak ringan. Pasien biasanya mengalami demam, nyeri otot, kelelahan, dan gejala mirip flu. Namun, dalam beberapa hari, kondisi bisa memburuk drastis menjadi gangguan pernapasan berat akibat penumpukan cairan di paru-paru.<\/p>\n<p>Tingkat kematian hantavirus cukup tinggi, bahkan bisa mencapai 30\u201340% pada beberapa kasus, menjadikannya salah satu penyakit infeksi dengan fatalitas signifikan meski jumlah kasusnya relatif sedikit.<\/p>\n<h3>Kenapa Kasus Terbaru Ini Mengkhawatirkan?<\/h3>\n<p>Wabah di kapal pesiar menunjukkan bagaimana hantavirus dapat menjadi ancaman dalam kondisi tertentu. Biasanya, virus ini tidak mudah menular antar\u00a0 manusia, tetapi dugaan adanya strain Andes membuka kemungkinan berbeda. Selain itu, masa inkubasi yang cukup panjang\u2014hingga beberapa minggu\u2014menyulitkan pelacakan sumber infeksi.<\/p>\n<p>Meski demikian, otoritas kesehatan global menilai risiko bagi masyarakat umum masih tergolong rendah dan kasus ini bersifat terbatas.<\/p>\n<h3>Apakah Indonesia Perlu Waspada?<\/h3>\n<p>Indonesia bukan wilayah asing bagi hantavirus. Virus ini dapat ditemukan di lingkungan dengan populasi tikus tinggi, terutama di area padat penduduk atau dengan sanitasi kurang baik.<\/p>\n<p>Langkah pencegahan sederhana namun penting meliputi menjaga kebersihan lingkungan, menghindari kontak dengan tikus atau sarangnya, serta menggunakan pelindung saat membersihkan area tertutup seperti gudang atau loteng.<\/p>\n<p>Kasus terbaru hantavirus menjadi pengingat bahwa ancaman penyakit zoonosis masih sangat nyata. Meski bukan virus baru, sifatnya yang mematikan membuatnya tetap relevan untuk diwaspadai. Kesadaran, deteksi dini, dan pencegahan tetap menjadi kunci utama dalam menghadapi penyakit ini.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge Journal &#8211; Medicine) Dalam beberapa hari terakhir, dunia kembali diingatkan akan bahaya penyakit langka namun mematikan: hantavirus. Perhatian global meningkat setelah munculnya wabah di kapal pesiar ekspedisi MV Hondius yang berlayar di Samudra Atlantik. Hingga awal Mei 2026, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan sejumlah kasus dengan beberapa kematian, memicu kekhawatiran akan potensi penyebaran yang lebih luas. Kasus ini menjadi perhatian serius karena terjadi di lingkungan tertutup dengan mobilitas manusia yang tinggi. Beberapa penumpang dilaporkan mengalami gejala pernapasan berat, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":48,"featured_media":216678,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[1055,1057],"tags":[13166,871],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/216677"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/48"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=216677"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/216677\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":216679,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/216677\/revisions\/216679"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/216678"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=216677"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=216677"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=216677"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}