{"id":216528,"date":"2026-04-30T12:32:10","date_gmt":"2026-04-30T05:32:10","guid":{"rendered":"https:\/\/www.blj.co.id\/?p=216528"},"modified":"2026-04-30T12:33:57","modified_gmt":"2026-04-30T05:33:57","slug":"common-knowledge-dan-cara-dunia-bergerak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2026\/04\/30\/common-knowledge-dan-cara-dunia-bergerak\/","title":{"rendered":"Common Knowledge dan Cara Dunia Bergerak"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"151\" data-end=\"692\">(Business Lounge &#8211; Ideas) Dalam banyak aspek kehidupan modern, manusia sering kali merasa bahwa keputusan yang diambil adalah hasil pemikiran rasional individu. Namun, jika diamati lebih dalam, banyak tindakan kolektif justru tidak lahir dari apa yang benar-benar diyakini seseorang, melainkan dari apa yang diyakini orang lain tentang keyakinan orang lain. Di titik inilah konsep <em data-start=\"506\" data-end=\"524\">common knowledge<\/em> atau pengetahuan bersama menjadi penting\u2014sebuah gagasan yang dijelaskan secara mendalam oleh <em><span class=\"hover:entity-accent entity-underline inline cursor-pointer align-baseline\"><span class=\"whitespace-normal\">Steven Pinker<\/span><\/span><\/em> dalam berbagai diskusi dan karyanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"694\" data-end=\"1238\">Pengetahuan bersama bukan sekadar sesuatu yang diketahui banyak orang. Ia jauh lebih kompleks. Ini adalah kondisi di mana seseorang tahu sesuatu, orang lain juga tahu, dan yang lebih penting, masing-masing tahu bahwa pihak lain juga mengetahuinya\u2014bahkan hingga berlapis-lapis kesadaran yang tampaknya tak berujung. Dalam praktiknya, manusia tidak perlu memikirkan semua lapisan ini secara eksplisit. Cukup dengan sinyal publik yang jelas\u2014sesuatu yang terlihat, terdengar, atau dialami bersama\u2014maka pengetahuan bersama terbentuk secara otomatis.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1240\" data-end=\"1656\">Fenomena ini menjelaskan banyak hal yang tampak sederhana, seperti mengapa orang di suatu negara mengemudi di sisi kiri jalan, sementara di negara lain di sisi kanan. Tidak ada alasan alamiah mengapa salah satu lebih benar dari yang lain. Namun, koordinasi hanya bisa terjadi jika semua orang melakukan pilihan yang sama. Pengetahuan bersama memungkinkan keseragaman tersebut tanpa perlu diskusi panjang setiap hari.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1658\" data-end=\"2094\">Salah satu ilustrasi paling klasik adalah cerita <em data-start=\"1707\" data-end=\"1734\">The Emperor\u2019s New Clothes<\/em>. Dalam kisah ini, semua orang sebenarnya tahu bahwa sang kaisar tidak mengenakan pakaian. Namun, tidak ada yang berani mengatakannya. Hingga seorang anak kecil berteriak mengungkapkan kenyataan itu di depan umum. Yang berubah bukanlah fakta, melainkan status pengetahuan. Seketika, semua orang tahu bahwa semua orang tahu. Di titik itu, ilusi kolektif runtuh.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2096\" data-end=\"2516\">Dari cerita sederhana ini, terlihat bagaimana pengetahuan bersama dapat membentuk realitas sosial. Banyak hubungan manusia\u2014baik dalam bisnis, pertemanan, maupun percintaan\u2014sebenarnya adalah hasil dari koordinasi yang bergantung pada sinyal publik. Sebuah hubungan dianggap \u201cresmi\u201d bukan hanya karena dua orang sepakat secara pribadi, tetapi karena ada tanda yang terlihat oleh keduanya dan, sering kali, oleh orang lain.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2518\" data-end=\"2871\">Pengetahuan bersama juga memiliki sisi gelap. Dalam beberapa kasus, masyarakat dapat terjebak dalam apa yang disebut sebagai <em data-start=\"2650\" data-end=\"2673\">pluralistic ignorance<\/em>. Ini adalah kondisi di mana tidak ada seorang pun benar-benar percaya pada sesuatu, tetapi setiap orang mengira bahwa orang lain percaya. Akibatnya, semua orang bertindak seolah-olah hal itu benar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2873\" data-end=\"3206\">Contoh klasiknya muncul dalam budaya mahasiswa, di mana banyak individu sebenarnya tidak menyukai kebiasaan ekstrem seperti minum alkohol berlebihan. Namun, mereka tetap melakukannya karena percaya bahwa orang lain menganggapnya keren. Ironisnya, hampir semua orang berpikir demikian, padahal tidak ada yang benar-benar mendukungnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3208\" data-end=\"3552\">Fenomena serupa juga terlihat dalam berbagai konteks sosial dan bahkan kebijakan publik. Dalam beberapa masyarakat, perubahan yang sebenarnya didukung mayoritas tertahan karena kesalahpahaman kolektif tentang apa yang dianggap norma. Ini menunjukkan bahwa persepsi terhadap persepsi orang lain sering kali lebih kuat daripada keyakinan pribadi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3554\" data-end=\"3919\">Dalam dunia ekonomi dan pasar keuangan, konsep ini menjadi semakin relevan. Salah satu contoh yang sering dibahas adalah <em data-start=\"3675\" data-end=\"3701\">Keynesian beauty contest<\/em>, yang diperkenalkan oleh <span class=\"hover:entity-accent entity-underline inline cursor-pointer align-baseline\"><span class=\"whitespace-normal\">John Maynard Keynes<\/span><\/span>. Dalam analogi ini, peserta tidak memilih wajah yang menurut mereka paling cantik, melainkan mencoba menebak wajah mana yang akan dipilih oleh orang lain.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3921\" data-end=\"4213\">Logika ini mencerminkan perilaku investor di pasar saham. Banyak orang membeli aset bukan karena nilai fundamentalnya, tetapi karena mereka percaya bahwa orang lain akan membelinya di masa depan. Ini menciptakan siklus spekulatif yang dapat mendorong harga naik jauh di atas nilai sebenarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"4215\" data-end=\"4570\">Fenomena ini terlihat jelas dalam gelembung aset, termasuk dalam dunia kripto dan saham berbasis tren (<em data-start=\"4318\" data-end=\"4331\">meme stocks<\/em>). Ketika cukup banyak orang percaya bahwa harga akan naik karena orang lain percaya hal yang sama, maka kenaikan itu benar-benar terjadi\u2014setidaknya untuk sementara waktu. Namun, begitu keyakinan itu goyah, pasar dapat runtuh dengan cepat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"4572\" data-end=\"4999\">Pengetahuan bersama juga dimanfaatkan secara strategis dalam dunia pemasaran. Salah satu contoh paling terkenal adalah iklan Apple pada tahun 1984 yang disutradarai oleh <span class=\"hover:entity-accent entity-underline inline cursor-pointer align-baseline\"><span class=\"whitespace-normal\">Ridley Scott<\/span><\/span>. Iklan tersebut hampir tidak menjelaskan produk sama sekali. Tujuannya bukan untuk memberi informasi, melainkan untuk menciptakan kesadaran kolektif bahwa banyak orang sedang memperhatikan produk tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"5001\" data-end=\"5330\">Dengan menayangkannya dalam ajang besar seperti Super Bowl, Apple memastikan bahwa jutaan orang melihat iklan tersebut\u2014dan yang lebih penting, mereka tahu bahwa jutaan orang lain juga melihatnya. Ini menciptakan efek jaringan, di mana orang lebih bersedia membeli produk karena mereka percaya orang lain juga akan menggunakannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"5332\" data-end=\"5698\">Konsep ini juga menjelaskan fenomena seperti kepanikan membeli selama krisis. Pada awal pandemi COVID-19, misalnya, terjadi lonjakan pembelian tisu toilet di berbagai negara. Bukan karena kebutuhan yang meningkat secara drastis, tetapi karena orang percaya bahwa orang lain akan menimbun barang tersebut. Ketakutan akan kekurangan menciptakan kekurangan itu sendiri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"5700\" data-end=\"5974\">Perilaku manusia sering kali menyerupai <em data-start=\"5759\" data-end=\"5769\">bank run<\/em>, di mana deposan menarik uang mereka bukan karena bank bermasalah, tetapi karena mereka takut orang lain akan melakukan hal yang sama. Ketakutan kolektif menjadi kenyataan yang memperkuat dirinya sendiri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"5976\" data-end=\"6291\">Pengetahuan bersama juga memainkan peran penting dalam negosiasi. Dalam banyak situasi, terdapat rentang hasil yang dapat diterima oleh semua pihak. Namun, bagaimana menentukan titik akhir dalam rentang tersebut? Di sinilah muncul konsep <em data-start=\"6214\" data-end=\"6227\">focal point<\/em>, yang diperkenalkan oleh <span class=\"hover:entity-accent entity-underline inline cursor-pointer align-baseline\"><span class=\"whitespace-normal\">Thomas Schelling<\/span><\/span>.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"6293\" data-end=\"6586\">Focal point adalah solusi yang tampak \u201calami\u201d bagi kedua pihak, seperti angka bulat atau pembagian rata. Tidak ada alasan objektif mengapa angka tersebut dipilih, tetapi karena kedua pihak menganggapnya masuk akal dan mengira pihak lain juga berpikir demikian, maka kesepakatan dapat tercapai.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"6588\" data-end=\"6946\">Dalam skala yang lebih besar, pengetahuan bersama juga memengaruhi stabilitas sosial dan politik. Dalam masyarakat dengan kontrol ketat, banyak orang mungkin tidak puas dengan kondisi yang ada. Namun, mereka tidak bertindak karena tidak yakin apakah orang lain akan ikut serta. Ketakutan akan menjadi satu-satunya yang melawan menciptakan kepatuhan kolektif.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"6948\" data-end=\"7225\">Ketika ada momen di mana orang dapat melihat bahwa banyak orang lain juga memiliki pandangan yang sama\u2014misalnya melalui demonstrasi publik\u2014maka perubahan dapat terjadi dengan cepat. Koordinasi massal menjadi mungkin karena pengetahuan bersama terbentuk secara tiba-tiba.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"7227\" data-end=\"7535\">Di era modern, dinamika ini menjadi semakin kompleks dengan fragmentasi media. Jika dulu masyarakat berbagi sumber informasi yang sama, kini informasi tersebar dalam berbagai saluran yang terpisah. Akibatnya, terbentuk beberapa \u201cpengetahuan bersama\u201d yang berbeda di dalam kelompok-kelompok yang berbeda pula.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"7537\" data-end=\"7801\">Hal ini dapat memperkuat polarisasi, karena setiap kelompok merasa bahwa pandangan mereka adalah norma yang berlaku luas. Tanpa adanya sinyal publik yang benar-benar universal, koordinasi sosial menjadi lebih sulit, dan kesalahpahaman kolektif lebih mudah terjadi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"7803\" data-end=\"8155\">Pengetahuan bersama tetap menjadi fondasi dari hampir semua interaksi manusia. Dalam organisasi, keluarga, maupun hubungan pribadi, koordinasi bergantung pada apa yang diketahui bersama. Bahkan dalam hal-hal kecil seperti sopan santun, manusia sering kali memilih untuk tidak mengungkapkan sesuatu secara langsung demi menjaga hubungan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"8157\" data-end=\"8413\">Ungkapan seperti \u201cbisakah kamu mengambilkan garam?\u201d bukanlah pertanyaan literal, melainkan cara halus untuk menghindari kesan memerintah. Ini adalah bentuk \u201ckemunafikan yang baik\u201d\u2014sebuah strategi sosial untuk menjaga keseimbangan hubungan tanpa merusaknya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"8415\" data-end=\"8818\">Konsep pengetahuan bersama menawarkan cara baru untuk memahami dunia. Ia menunjukkan bahwa banyak keputusan manusia tidak hanya didasarkan pada apa yang benar, tetapi pada apa yang diyakini orang lain sebagai benar. Dalam dunia yang semakin terhubung namun terfragmentasi, memahami mekanisme ini menjadi semakin penting\u2014bukan hanya untuk membaca realitas, tetapi juga untuk menavigasinya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge &#8211; Ideas) Dalam banyak aspek kehidupan modern, manusia sering kali merasa bahwa keputusan yang diambil adalah hasil pemikiran rasional individu. Namun, jika diamati lebih dalam, banyak tindakan kolektif justru tidak lahir dari apa yang benar-benar diyakini seseorang, melainkan dari apa yang diyakini orang lain tentang keyakinan orang lain. Di titik inilah konsep common knowledge atau pengetahuan bersama menjadi penting\u2014sebuah gagasan yang dijelaskan secara mendalam oleh Steven Pinker dalam berbagai diskusi dan karyanya. Pengetahuan bersama bukan sekadar sesuatu yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":32,"featured_media":208477,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[5725,2510],"tags":[13145],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/216528"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/32"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=216528"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/216528\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":216529,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/216528\/revisions\/216529"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/208477"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=216528"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=216528"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=216528"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}