{"id":216329,"date":"2026-04-22T10:45:51","date_gmt":"2026-04-22T03:45:51","guid":{"rendered":"https:\/\/www.blj.co.id\/?p=216329"},"modified":"2026-04-22T10:45:51","modified_gmt":"2026-04-22T03:45:51","slug":"the-impossible-job-now-shorter-mengapa-ceo-semakin-cepat-berganti","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2026\/04\/22\/the-impossible-job-now-shorter-mengapa-ceo-semakin-cepat-berganti\/","title":{"rendered":"The Impossible Job, Now Shorter: Mengapa CEO Semakin Cepat Berganti?"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge Journal &#8211; General Management)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menjadi CEO tidak pernah mudah. Namun di tahun 2026, peran ini berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih kompleks\u2014bahkan mendekati mustahil.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut Kurt Strovink dari McKinsey &amp; Company, jumlah isu krusial yang harus ditangani CEO kini melonjak drastis. Jika sebelumnya pemimpin perusahaan cukup fokus pada beberapa prioritas utama, kini \u201ccritical few\u201d itu hampir mencapai dua digit.\u00a0Tekanan ini bukan sekadar soal volume pekerjaan, tetapi juga kompleksitas yang meningkat secara eksponensial. CEO hari ini tidak hanya dituntut memahami bisnis, tetapi juga teknologi, geopolitik, hingga dinamika sosial yang terus berubah. Bahkan, masa jabatan CEO pun mulai memendek\u2014turun dari rata-rata 8,3 tahun pada 2023 menjadi sekitar 7,1 tahun pada 2025\u2014sebuah sinyal bahwa tekanan pada posisi ini semakin sulit dipertahankan dalam jangka panjang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di tengah realitas ini, satu hal menjadi jelas: peran CEO telah berevolusi dari \u201cpengambil keputusan tertinggi\u201d menjadi orkestrator kompleksitas global.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\">AI, Geopolitik, dan Tekanan Publik: Tiga Kekuatan yang Mengubah Kepemimpinan<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Salah satu perubahan paling mendasar datang dari percepatan teknologi, khususnya kecerdasan buatan. AI bukan lagi proyek eksperimental, melainkan agenda utama yang menuntut implementasi skala penuh\u2014mulai dari strategi hingga pengelolaan talenta dan investasi.\u00a0Namun tantangannya tidak berhenti pada adopsi teknologi. CEO juga harus menghadapi pertanyaan etis, risiko penggunaan, hingga bagaimana AI memengaruhi struktur organisasi dan masa depan pekerjaan. Dalam banyak kasus, transformasi ini bukan lagi sekadar inisiatif IT, tetapi menyentuh inti model bisnis.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di saat yang sama, lanskap geopolitik global semakin tidak stabil. Perubahan kebijakan perdagangan, konflik regional, hingga fragmentasi ekonomi global memaksa perusahaan untuk terus menyesuaikan strategi. CEO tidak lagi bisa melihat geopolitik sebagai risiko eksternal semata\u2014mereka harus mengembangkan apa yang disebut sebagai \u201cgeopolitical IQ\u201d dan bahkan menyiapkan strategi untuk dua kemungkinan dunia: yang terbuka dan yang terfragmentasi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menariknya, tekanan ini juga meluas ke ranah publik. CEO kini semakin sering dihadapkan pada pertanyaan: apakah mereka harus mengambil sikap terhadap isu sosial dan politik? Banyak yang, menurut Strovink, merasa seperti \u201ckepala negara\u201d\u2014dipaksa menavigasi ekspektasi publik yang sebelumnya bukan bagian dari peran mereka.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\">Kepemimpinan Baru: Dari Work-Life Balance ke Personal Operating Model<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di tengah semua tuntutan tersebut, tantangan terbesar mungkin justru bersifat personal.\u00a0Peran CEO, seperti yang dikatakan Strovink, adalah satu-satunya pekerjaan yang \u201ctidak bisa dikalahkan dengan kerja keras semata\u201d\u2014karena pada akhirnya, pekerjaan itu akan selalu lebih besar dari kapasitas individu.\u00a0Akibatnya, burnout menjadi risiko nyata. CEO dituntut untuk mengembangkan \u201cpersonal operating model\u201d\u2014cara kerja pribadi yang lebih strategis, selektif, dan berkelanjutan. Ini mencakup bagaimana mereka mengelola energi, mengambil keputusan, hingga menentukan isu mana yang layak mendapat perhatian.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di sisi lain, mereka juga harus memimpin generasi tenaga kerja baru. Milenial dan Gen Z tidak lagi termotivasi semata oleh promosi atau kompensasi, tetapi oleh makna dan purpose. Artinya, CEO tidak hanya membangun bisnis, tetapi juga narasi yang mampu menginspirasi.\u00a0Pada titik ini, kepemimpinan tidak lagi hanya tentang performa, tetapi tentang relevansi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di tengah semua tekanan tersebut, ada satu paradoks yang menarik. Meski menjadi semakin sulit, peran CEO justru memiliki potensi dampak yang lebih besar dari sebelumnya.\u00a0Dalam dunia yang ditandai oleh ketidakpastian dan disrupsi, keputusan seorang CEO tidak hanya menentukan arah perusahaan\u2014tetapi juga dapat memengaruhi industri, bahkan masyarakat secara luas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dan mungkin di situlah esensi kepemimpinan modern berada: bukan pada kemampuan mengendalikan segalanya, tetapi pada keberanian untuk tetap memimpin ketika tidak ada yang benar-benar pasti.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge Journal &#8211; General Management) Menjadi CEO tidak pernah mudah. Namun di tahun 2026, peran ini berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih kompleks\u2014bahkan mendekati mustahil. Menurut Kurt Strovink dari McKinsey &amp; Company, jumlah isu krusial yang harus ditangani CEO kini melonjak drastis. Jika sebelumnya pemimpin perusahaan cukup fokus pada beberapa prioritas utama, kini \u201ccritical few\u201d itu hampir mencapai dua digit.\u00a0Tekanan ini bukan sekadar soal volume pekerjaan, tetapi juga kompleksitas yang meningkat secara eksponensial. CEO hari ini tidak hanya dituntut [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":26,"featured_media":213684,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[17,2725],"tags":[13120],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/216329"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/26"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=216329"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/216329\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":216330,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/216329\/revisions\/216330"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/213684"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=216329"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=216329"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=216329"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}