{"id":215570,"date":"2026-03-24T09:33:05","date_gmt":"2026-03-24T02:33:05","guid":{"rendered":"https:\/\/www.blj.co.id\/?p=215570"},"modified":"2026-03-24T09:33:05","modified_gmt":"2026-03-24T02:33:05","slug":"ai-fluency-3-skill-ai-yang-wajib-dicantumkan-profesional-hr-pada-cv","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2026\/03\/24\/ai-fluency-3-skill-ai-yang-wajib-dicantumkan-profesional-hr-pada-cv\/","title":{"rendered":"AI Fluency: 3 Skill AI yang Wajib Dicantumkan Profesional HR pada CV"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge Journal &#8211; Human Resources)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam beberapa tahun terakhir, lanskap Human Resources (HR) mengalami pergeseran yang sangat fundamental. Jika sebelumnya HR identik dengan administrasi, rekrutmen, dan pengelolaan karyawan, kini perannya semakin strategis\u2014didorong oleh satu faktor utama: Artificial Intelligence (AI).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Data menunjukkan bahwa kebutuhan akan AI skills dalam dunia kerja meningkat drastis. Bahkan, sekitar 66% pemimpin bisnis mengaku tidak akan merekrut kandidat tanpa kemampuan AI\u2014temuan ini berasal dari survei global yang dikutip oleh AIHR dalam laporannya mengenai tren keterampilan AI di tempat kerja. Menariknya, sebagian besar perusahaan juga lebih memilih kandidat yang lebih junior tetapi melek AI dibanding yang berpengalaman tanpa kemampuan tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Artinya, AI bukan lagi sekadar \u201cnice to have\u201d, melainkan sudah menjadi baseline competency.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun pertanyaannya:<br \/>\nSkill AI seperti apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh profesional HR?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebelum masuk ke daftar skill, penting untuk memahami satu konsep kunci: AI fluency.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">AI fluency bukan sekadar kemampuan menggunakan <em>tools<\/em> seperti ChatGPT atau software rekrutmen berbasis AI. Lebih dari itu, ini adalah kemampuan yang lebih dalam dan strategis, yaitu memahami kapan AI sebaiknya digunakan, bagaimana membaca dan menginterpretasikan hasilnya, serta bagaimana mengintegrasikannya ke dalam proses pengambilan keputusan di fungsi HR.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam praktiknya, AI fluency mencakup tiga lapisan utama:<\/p>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li>Judgment: mengetahui kapan harus mengandalkan AI dan kapan harus menggunakan intuisi manusia<\/li>\n<li>Interpretation: memahami output AI, termasuk bias atau keterbatasannya<\/li>\n<li>Application: menerjemahkan insight dari AI menjadi keputusan bisnis yang konkret<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dengan kata lain, AI bukanlah pengganti manusia, melainkan <em>decision-support system<\/em> yang memperkuat peran HR sebagai strategic partner.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Beberapa perusahaan global sudah lebih dulu menunjukkan seperti apa AI fluency diterapkan secara nyata.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Misalnya, Unilever menggunakan AI dalam proses rekrutmen awal, termasuk analisis <em>video interview<\/em> dan <em>gamified assessment<\/em>. Namun keputusan akhir tetap berada di tangan manusia. Di sini terlihat jelas bahwa AI digunakan untuk menyaring dan mempercepat proses, sementara aspek seperti <em>cultural fit<\/em> dan potensi jangka panjang tetap dinilai oleh <em>recruiter<\/em>.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Contoh lain datang dari IBM, yang mengembangkan sistem AI untuk memprediksi kemungkinan karyawan akan <em>resign<\/em>. Alih-alih langsung bertindak berdasarkan data tersebut, tim HR IBM menggunakan <em>insight<\/em> itu sebagai dasar untuk melakukan intervensi yang lebih personal, seperti diskusi karier atau penyesuaian peran. Ini menunjukkan bahwa AI tidak menggantikan empati\u2014justru memperkuatnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sementara itu, L&#8217;Or\u00e9al memanfaatkan AI untuk meningkatkan pengalaman kandidat melalui chatbot rekrutmen. Chatbot ini mampu menjawab pertanyaan kandidat secara <em>real-time<\/em>, tetapi tetap dirancang untuk mengarahkan kandidat ke interaksi manusia ketika dibutuhkan. Pendekatan ini mencerminkan keseimbangan antara efisiensi teknologi dan sentuhan humanis.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dari berbagai contoh tersebut, terlihat satu benang merah: perusahaan yang berhasil bukanlah yang paling banyak menggunakan AI, tetapi yang paling cerdas dalam menggunakannya.\u00a0Karena pada akhirnya, AI fluency bukan tentang teknologi\u2014melainkan tentang bagaimana manusia membuat keputusan yang lebih baik dengan bantuan teknologi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam praktiknya, transformasi HR berbasis AI justru selalu dimulai dari fondasi yang sederhana. Ada tiga <em>skill<\/em> inti yang dapat dianggap sebagai titik masuk paling realistis\u2014skill yang bukan hanya mudah dipelajari, tetapi juga memberikan dampak paling cepat dalam pekerjaan sehari-hari.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketiga skill ini bekerja seperti satu kesatuan. Yang satu membantu Anda berinteraksi dengan AI, yang lain membantu Anda memahami hasilnya, dan sisanya memastikan Anda menggunakan tools yang tepat untuk kebutuhan yang tepat.\u00a0Tanpa fondasi ini, penggunaan AI cenderung berhenti di level eksperimen\u2014sekadar mencoba tools tanpa arah yang jelas. Namun dengan ketiganya, HR dapat mulai beralih dari sekadar \u201cmenggunakan AI\u201d menjadi memanfaatkan AI secara strategis.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Inilah tiga skill fundamental yang menjadi \u201ctiket masuk\u201d bagi profesional HR di era AI.<\/p>\n<p><strong>1. Prompt Engineering &#8211; Skill Praktis Harian<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di antara berbagai skill AI, prompt engineering bisa dibilang sebagai fondasi paling dasar\u2014namun juga yang paling sering disalahpahami. Secara sederhana, prompt engineering adalah kemampuan menyusun instruksi yang tepat agar AI\u2014seperti ChatGPT\u2014dapat menghasilkan output yang relevan, akurat, dan sesuai konteks bisnis.\u00a0Namun dalam praktiknya, ini bukan sekadar \u201cbertanya ke AI\u201d. Prompt yang baik harus memiliki:<\/p>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li>konteks yang jelas (posisi, industri, tujuan),<\/li>\n<li>format output yang diinginkan,<\/li>\n<li>serta batasan atau tone yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan.<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tanpa itu, hasil AI cenderung generik, terlalu luas, atau bahkan misleading.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Apa Gunanya untuk HR?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam fungsi HR, prompt engineering berperan besar dalam meningkatkan efisiensi sekaligus kualitas output. Beberapa kegunaan utamanya:<\/p>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li>Mempercepat pekerjaan administratif (job description, kontrak, policy)<\/li>\n<li>Menjaga konsistensi komunikasi HR<\/li>\n<li>Meningkatkan kualitas dokumen HR agar lebih jelas dan profesional<\/li>\n<li>Mengurangi ketergantungan pada template lama yang kaku<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\">Lebih jauh lagi, prompt engineering memungkinkan HR beralih dari sekadar \u201cmengerjakan tugas\u201d menjadi mengkurasi dan mengarahkan output AI.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Contoh Praktis di Dunia Kerja<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">a. Job Description yang Lebih Tajam dan Spesifik<br \/>\nAlih-alih menulis manual dari nol, HR dapat menggunakan prompt seperti:\u00a0\u201cBuatkan job description untuk posisi Digital Marketing Manager di industri FMCG, dengan fokus pada performance marketing dan data analytics. Gunakan tone profesional, maksimal 300 kata, dan sertakan KPI utama.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hasilnya:<\/p>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li>Lebih terstruktur<\/li>\n<li>Lebih relevan dengan kebutuhan bisnis<\/li>\n<li>Bisa langsung digunakan atau hanya perlu sedikit revisi<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\">b. Performance Review yang Lebih Objektif<br \/>\nHR atau manager bisa menggunakan AI untuk merumuskan evaluasi karyawan:\u00a0\u201cBuatkan performance review untuk karyawan dengan kekuatan di teamwork dan komunikasi, tetapi perlu meningkatkan time management. Gunakan tone konstruktif dan tidak terlalu kritis.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hasilnya:<\/p>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li>Feedback lebih balanced<\/li>\n<li>Mengurangi bias emosional<\/li>\n<li>Lebih mudah dikomunikasikan ke karyawan<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\">c. HR Policy yang Mudah Dipahami Karyawan<br \/>\nBanyak kebijakan HR terlalu formal dan sulit dipahami. Dengan prompt engineering:\u00a0\u201cJelaskan kebijakan cuti tahunan perusahaan dalam bahasa sederhana yang mudah dipahami karyawan baru.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hasilnya:<\/p>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li>Lebih ramah dan accessible<\/li>\n<li>Mengurangi pertanyaan berulang dari karyawan<\/li>\n<li>Contoh Nyata di Perusahaan<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perusahaan seperti Unilever mulai mengintegrasikan AI dalam berbagai proses HR, termasuk pembuatan konten <em>employer branding<\/em> dan komunikasi internal. Dalam konteks ini, prompt engineering menjadi kunci agar pesan yang dihasilkan tetap konsisten dengan <em>tone brand<\/em> perusahaan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sementara itu, di Deloitte, penggunaan AI dalam HR consulting juga menekankan pentingnya kualitas input. Konsultan HR tidak hanya menggunakan AI untuk menghasilkan dokumen, tetapi juga merancang prompt yang mampu menghasilkan <em>insight<\/em> yang lebih dalam bagi klien.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kesalahan terbesar dalam menggunakan AI bukan pada <em>tools<\/em>-nya, tetapi pada cara menggunakannya.\u00a0Prompt yang buruk menghasilkan output yang biasa saja. Prompt yang tepat bisa menghasilkan output setara profesional.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di sinilah letak nilai dari prompt engineering: bukan menggantikan pekerjaan HR, tetapi mengangkat kualitas dan kecepatan kerja HR secara signifikan.<\/p>\n<p data-section-id=\"4mhlvw\" data-start=\"134\" data-end=\"151\"><strong>2. AI Literacy &#8211; Skill Berpikir<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"153\" data-end=\"276\">Jika prompt engineering adalah \u201ccara berbicara dengan AI\u201d, maka AI literacy adalah kemampuan memahami cara berpikir AI.\u00a0AI literacy berarti HR tidak hanya menggunakan AI, tetapi juga mengerti:<\/p>\n<ul style=\"text-align: justify;\" data-start=\"351\" data-end=\"470\">\n<li data-section-id=\"1mpyoax\" data-start=\"351\" data-end=\"389\">bagaimana AI menghasilkan jawaban,<\/li>\n<li data-section-id=\"71klz7\" data-start=\"390\" data-end=\"417\">dari mana data berasal,<\/li>\n<li data-section-id=\"1yhtw7b\" data-start=\"418\" data-end=\"470\">serta apa saja keterbatasan dan potensi biasnya.<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"472\" data-end=\"604\">Tanpa pemahaman ini, HR berisiko menerima output AI mentah-mentah\u2014yang bisa berbahaya, terutama dalam keputusan terkait manusia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-section-id=\"adbqzt\" data-start=\"611\" data-end=\"636\">Apa Gunanya untuk HR?<\/p>\n<ul style=\"text-align: justify;\" data-start=\"638\" data-end=\"829\">\n<li data-section-id=\"bzaobg\" data-start=\"638\" data-end=\"689\">Menghindari keputusan berbasis data yang keliru<\/li>\n<li data-section-id=\"1rwlsgg\" data-start=\"690\" data-end=\"761\">Memahami kapan hasil AI bisa dipercaya dan kapan perlu diverifikasi<\/li>\n<li data-section-id=\"woqymm\" data-start=\"762\" data-end=\"829\">Menjaga fairness dalam proses HR (rekrutmen, promosi, evaluasi)<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-section-id=\"1euqvl\" data-start=\"836\" data-end=\"854\">Contoh Praktis: Screening CV dengan AI<br data-start=\"885\" data-end=\"888\" \/>Misalnya HR menggunakan AI untuk menyaring kandidat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"942\" data-end=\"1014\">Tanpa AI literacy:<br \/>\nHR langsung percaya ranking kandidat dari sistem<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1016\" data-end=\"1051\">Dengan AI literacy:<br \/>\nHR bertanya:<\/p>\n<ul style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1052\" data-end=\"1160\">\n<li data-section-id=\"m2tvbt\" data-start=\"1052\" data-end=\"1110\">Apakah algoritma ini bias terhadap universitas tertentu?<\/li>\n<li data-section-id=\"m7hubq\" data-start=\"1111\" data-end=\"1160\">Apakah <em>keyword<\/em> tertentu terlalu diprioritaskan?<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1162\" data-end=\"1229\">Hasilnya:<br \/>\nKeputusan jadi lebih adil dan tidak sekadar \u201cikut mesin\u201d.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-section-id=\"35t2c1\" data-start=\"1236\" data-end=\"1257\">Sebagai contoh,\u00a0<span class=\"hover:entity-accent entity-underline inline cursor-pointer align-baseline\"><span class=\"whitespace-normal\">Amazon<\/span><\/span> pernah menghentikan sistem AI rekrutmen internalnya karena terbukti bias terhadap kandidat perempuan. Kasus ini menjadi pelajaran penting bahwa tanpa AI literacy, teknologi justru bisa memperkuat bias, bukan menghilangkannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-section-id=\"2l0g6t\" data-start=\"1529\" data-end=\"1554\"><strong>3. Ethical AI Practice &#8211; Skill Pengaman<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1556\" data-end=\"1635\">Jika AI literacy adalah \u201cmemahami\u201d, maka ethical AI adalah \u201cmengendalikan\u201d.\u00a0Skill ini berkaitan dengan kemampuan memastikan bahwa penggunaan AI dalam HR tetap:<\/p>\n<ul style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1721\" data-end=\"1782\">\n<li data-section-id=\"6s0vsp\" data-start=\"1721\" data-end=\"1737\">adil (fair),<\/li>\n<li data-section-id=\"3m8wsy\" data-start=\"1738\" data-end=\"1753\">transparan,<\/li>\n<li data-section-id=\"1748rk0\" data-start=\"1754\" data-end=\"1782\">dan tidak diskriminatif.<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1784\" data-end=\"1900\">Dalam konteks HR, ini sangat penting karena setiap keputusan berdampak langsung pada karier dan kehidupan seseorang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam praktiknya, penerapan AI dalam HR bukan hanya soal efisiensi, tetapi juga tentang menjaga integritas proses pengambilan keputusan. Kemampuan ini menjadi penting karena membantu perusahaan mencegah potensi diskriminasi, baik yang berbasis gender, usia, maupun latar belakang tertentu, yang bisa saja muncul dari bias dalam sistem AI.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Lebih dari itu, penggunaan AI yang bertanggung jawab juga berperan dalam menjaga reputasi perusahaan. Di era transparansi saat ini, kesalahan dalam penggunaan teknologi\u2014terutama yang berdampak pada manusia\u2014dapat dengan cepat menjadi sorotan publik dan merusak kepercayaan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada akhirnya, aspek ini juga memastikan bahwa setiap implementasi AI tetap berada dalam koridor regulasi dan prinsip tata kelola yang berlaku, sehingga perusahaan tidak hanya bergerak cepat secara teknologi, tetapi juga tetap aman dan berkelanjutan dalam jangka panjang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-section-id=\"1euqvl\" data-start=\"2084\" data-end=\"2102\">Contoh Praktis<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2104\" data-end=\"2217\">a. AI untuk Interview Analysis<br data-start=\"2138\" data-end=\"2141\" \/>Beberapa tools AI bisa menganalisis ekspresi wajah atau tone suara kandidat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2219\" data-end=\"2296\">Tanpa<em> ethical awareness<\/em>:<br \/>\nHR menggunakan hasilnya sebagai penilaian utama<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2298\" data-end=\"2347\">Dengan <em>ethical AI practice<\/em>:<br \/>\nHR mempertanyakan:<\/p>\n<ul style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2348\" data-end=\"2457\">\n<li data-section-id=\"1i5mnsh\" data-start=\"2348\" data-end=\"2397\">Apakah teknologi ini akurat untuk semua budaya?<\/li>\n<li data-section-id=\"yjdhpg\" data-start=\"2398\" data-end=\"2457\">Apakah kandidat diberi tahu bahwa mereka dinilai oleh AI?<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2459\" data-end=\"2517\">Hasilnya:<br \/>\nProses rekrutmen tetap manusiawi dan transparan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-section-id=\"35t2c1\" data-start=\"2524\" data-end=\"2545\">Sebagai contoh,\u00a0<span class=\"hover:entity-accent entity-underline inline cursor-pointer align-baseline\"><span class=\"whitespace-normal\">IBM<\/span><\/span> secara aktif mengembangkan prinsip AI Ethics dan bahkan menghentikan beberapa teknologi (seperti <em>facial recognition<\/em> untuk tujuan tertentu) karena potensi penyalahgunaan. Pendekatan ini menunjukkan bahwa perusahaan tidak hanya fokus pada kemampuan teknologi, tetapi juga dampaknya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2894\" data-end=\"2909\">Jika dirangkum:<\/p>\n<ul style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2911\" data-end=\"3079\">\n<li data-section-id=\"1gns8ta\" data-start=\"2911\" data-end=\"2970\">Prompt Engineering \u2192 membuat AI bekerja dengan baik<\/li>\n<li data-section-id=\"1haghdk\" data-start=\"2971\" data-end=\"3021\">AI Literacy \u2192 memahami apa yang AI lakukan<\/li>\n<li data-section-id=\"1hxedmr\" data-start=\"3022\" data-end=\"3079\">Ethical AI \u2192 memastikan AI digunakan dengan benar<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3081\" data-end=\"3130\">Ketiganya membentuk fondasi utama bagi HR modern.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3132\" data-end=\"3280\" data-is-last-node=\"\" data-is-only-node=\"\">Karena di era AI, keunggulan bukan lagi pada siapa yang paling cepat mengadopsi teknologi\u2014tetapi pada siapa yang paling bijak menggunakannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"85\" data-end=\"245\">Pada akhirnya, transformasi HR di era AI bukanlah tentang seberapa canggih teknologi yang digunakan, melainkan tentang seberapa siap manusianya beradaptasi.\u00a0AI memang mampu mempercepat proses, menyederhanakan pekerjaan, bahkan memberikan <em>insight<\/em> yang sebelumnya sulit dijangkau. Namun keputusan tetap berada di tangan manusia\u2014pada mereka yang mampu menggabungkan data dengan empati, efisiensi dengan etika, serta teknologi dengan intuisi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"530\" data-end=\"734\">Di titik inilah peran HR justru semakin penting. Bukan lagi sekadar fungsi administratif, melainkan sebagai penjaga keseimbangan antara kemajuan teknologi dan nilai-nilai kemanusiaan dalam organisasi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"736\" data-end=\"890\" data-is-last-node=\"\" data-is-only-node=\"\">Karena pada akhirnya, AI tidak akan menggantikan HR.<br data-start=\"788\" data-end=\"791\" \/>Namun HR yang mampu memahami dan memanfaatkan AI dengan tepat\u2014itulah yang akan memimpin masa depan.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge Journal &#8211; Human Resources) Dalam beberapa tahun terakhir, lanskap Human Resources (HR) mengalami pergeseran yang sangat fundamental. Jika sebelumnya HR identik dengan administrasi, rekrutmen, dan pengelolaan karyawan, kini perannya semakin strategis\u2014didorong oleh satu faktor utama: Artificial Intelligence (AI). Data menunjukkan bahwa kebutuhan akan AI skills dalam dunia kerja meningkat drastis. Bahkan, sekitar 66% pemimpin bisnis mengaku tidak akan merekrut kandidat tanpa kemampuan AI\u2014temuan ini berasal dari survei global yang dikutip oleh AIHR dalam laporannya mengenai tren keterampilan AI [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":26,"featured_media":215571,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[2725,4],"tags":[13024,13025],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/215570"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/26"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=215570"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/215570\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":215576,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/215570\/revisions\/215576"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/215571"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=215570"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=215570"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=215570"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}