{"id":215512,"date":"2026-03-20T09:11:33","date_gmt":"2026-03-20T02:11:33","guid":{"rendered":"https:\/\/www.blj.co.id\/?p=215512"},"modified":"2026-03-20T10:18:40","modified_gmt":"2026-03-20T03:18:40","slug":"era-baru-disney-dari-bob-iger-ke-josh-damaro-magic-kingdom-masuk-babak-transformasi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2026\/03\/20\/era-baru-disney-dari-bob-iger-ke-josh-damaro-magic-kingdom-masuk-babak-transformasi\/","title":{"rendered":"Era Baru Disney: Dari Bob Iger ke Josh D\u2019Amaro, \u201cMagic Kingdom\u201d Masuk Babak Transformasi"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge Journal &#8211; Global News)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pergantian kepemimpinan di The Walt Disney Company bukan sekadar rotasi jabatan. Ia adalah penanda perubahan arah, bahkan bisa disebut sebagai ujian besar bagi relevansi salah satu brand paling ikonik di dunia.\u00a0Setelah hampir dua dekade membentuk ulang Disney menjadi raksasa hiburan global, Bob Iger akhirnya resmi menyerahkan tongkat estafet kepada Josh D&#8217;Amaro pada Maret 2026. Transisi ini terjadi di tengah lanskap industri yang jauh lebih kompleks dibanding saat Iger pertama kali memimpin\u2014dari disrupsi digital, tekanan streaming, hingga perubahan perilaku konsumen global.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bob Iger dikenal sebagai arsitek ekspansi Disney. Di bawah kepemimpinannya, Disney mengakuisisi Pixar, Marvel, Lucasfilm, hingga aset 21st Century Fox\u2014membangun \u201cmesin konten\u201d yang mendominasi budaya pop global.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun, Josh D\u2019Amaro datang dari latar belakang yang berbeda. Ia bukan kreator konten, melainkan operator pengalaman. Selama lebih dari dua dekade, kariernya ditempa di sektor taman hiburan\u2014mulai dari Disneyland hingga memimpin divisi Disney Experiences, yang justru menjadi penyumbang pendapatan terbesar perusahaan dalam beberapa tahun terakhir.\u00a0Di sinilah letak pergeseran menarik: dari \u201ccontent empire\u201d menuju \u201cexperience-driven company.\u201d<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\">Taruhan Besar: Menghidupkan Kembali Mesin Disney<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Penunjukan D\u2019Amaro bukan keputusan tanpa alasan. Dalam beberapa tahun terakhir, taman hiburan, resort, dan produk konsumen menjadi mesin keuntungan utama Disney, bahkan melampaui kontribusi bisnis media tradisional.\u00a0Namun, tantangan terbesar justru ada di sisi lain bisnis:<\/p>\n<ul>\n<li>Penurunan TV kabel tradisional<\/li>\n<li>Persaingan sengit dengan platform seperti YouTube dan TikTok<\/li>\n<li>Profitabilitas streaming yang belum stabil<\/li>\n<li>\u201cFranchise fatigue\u201d dari brand besar seperti Marvel dan Star Wars<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\">D\u2019Amaro kini dituntut untuk melakukan sesuatu yang selama ini menjadi kelemahan Disney: menyatukan seluruh ekosistem bisnisnya menjadi satu \u201cflywheel\u201d yang lebih cepat dan terintegrasi\u2014dari film, streaming, taman hiburan, hingga merchandise.\u00a0Dengan kata lain, bukan hanya membuat konten hebat, tetapi memastikan setiap cerita hidup di berbagai platform secara simultan.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\">Kolaborasi Kunci: Kreativitas vs Operasional<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Untuk menyeimbangkan pendekatan operasionalnya, Disney juga mengangkat Dana Walden sebagai President dan Chief Creative Officer\u2014peran baru yang menegaskan pentingnya kreativitas di era baru ini.\u00a0Struktur ini mencerminkan strategi ganda:<\/p>\n<ul>\n<li>D\u2019Amaro \u2192 fokus pada eksekusi, monetisasi, dan pengalaman pelanggan<\/li>\n<li>Walden \u2192 menjaga kualitas storytelling dan pipeline konten<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ini adalah upaya Disney untuk menghindari kesalahan masa lalu, di mana ketidakseimbangan antara bisnis dan kreativitas sempat memicu gejolak internal.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun, tantangan D\u2019Amaro tidak hanya datang dari dalam perusahaan. Ia memimpin Disney di era yang ditandai oleh:<\/p>\n<ul>\n<li>Disrupsi AI dalam industri kreatif<\/li>\n<li>Ketidakpastian geopolitik yang memengaruhi pariwisata<\/li>\n<li>Perubahan drastis dalam cara generasi muda mengonsumsi hiburan<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bahkan, investor mulai mempertanyakan arah Disney setelah performa saham yang stagnan dan biaya besar dalam membangun layanan streaming.\u00a0Artinya, keberhasilan di taman hiburan saja tidak cukup. D\u2019Amaro harus membuktikan bahwa ia mampu membawa \u201cmagic\u201d Disney ke dunia digital yang jauh lebih kompetitif.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\">Dari Magic ke Momentum<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jika Bob Iger membangun kerajaan, maka Josh D\u2019Amaro harus memastikan kerajaan itu tetap relevan.\u00a0Kepemimpinan barunya akan diuji oleh satu pertanyaan sederhana namun krusial: Apakah Disney masih mampu menjadi pusat budaya global di era fragmentasi digital?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jawabannya tidak hanya bergantung pada film blockbuster atau taman hiburan yang megah, tetapi pada kemampuan Disney untuk menyatukan cerita, teknologi, dan pengalaman menjadi satu ekosistem yang hidup.\u00a0Dan di situlah pertaruhan terbesar era baru Disney dimulai.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge Journal &#8211; Global News) Pergantian kepemimpinan di The Walt Disney Company bukan sekadar rotasi jabatan. Ia adalah penanda perubahan arah, bahkan bisa disebut sebagai ujian besar bagi relevansi salah satu brand paling ikonik di dunia.\u00a0Setelah hampir dua dekade membentuk ulang Disney menjadi raksasa hiburan global, Bob Iger akhirnya resmi menyerahkan tongkat estafet kepada Josh D&#8217;Amaro pada Maret 2026. Transisi ini terjadi di tengah lanskap industri yang jauh lebih kompleks dibanding saat Iger pertama kali memimpin\u2014dari disrupsi digital, tekanan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":26,"featured_media":208192,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[120],"tags":[12823,13019],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/215512"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/26"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=215512"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/215512\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":215513,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/215512\/revisions\/215513"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/208192"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=215512"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=215512"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=215512"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}